Kena Pelecehan Verbal Saat Jalan, tapi Saya Malah Kasihan dengan Pelaku
Dengan segala resiko yang tidak terelakkan itu, saya sampai membekali diri dengan pengetahuan psikologi untuk memahami mengapa ada manusia…
Kena Pelecehan Verbal Saat Jalan, tapi Saya Malah Kasihan dengan Pelaku

Dengan segala resiko yang tidak terelakkan itu, saya sampai membekali diri dengan pengetahuan psikologi untuk memahami mengapa ada manusia yang mengambil keputusan untuk melakukan pelecehan verbal di ruang terbuka dan motivasi apa yang mendorong perilaku tersebut.
Saya suka berjalan, saya menjadikan aktivitas berjalan sebagai bagian dari rutinitas saya untuk melihat dunia. Saya tidak bermaksud untuk melebih-lebihkan namun banyak yang terjadi selama saya merutinkan berjalan selama tiga tahun terakhir. Berjalan membantu saya menyadari bahwa banyak hal yang terjadi di ruang publik, seperti saat saya perlu “mengalah” untuk jalan di jalan aspal alih-alih di trotoar karena ruang jalannya sudah menjadi halaman bermain anak-anak di kawasan padat pemukiman. Saya juga pernah “mengalah” saat trotoar sudah beralih fungsi sebagai ruang parkir sekaligus tempat istirahat driver ojek online. Jalan juga membantu saya secara tidak sengaja berkoneksi dengan lansia yang kesulitan untuk menemukan lokasi tempat untuk memperbaiki alat bantu dengarnya karena tidak ada pendamping dan transportasi umum yang memadai. Banyak sekali ketimpangan struktural yang bisa saya temui dengan sesi jalan secara individu.
Selain secara individu, jika saya sedang ingin berjalan untuk tujuan rekreasional atau untuk memenuhi kebutuhan sosial saya, saya lebih memilih untuk mengikuti sesi jalan (yang sekarang sudah cukup ramai muncul) dalam lingkup komunitas. Jalan bersama komunitas tentu saja membuat saya lebih aman. Selain saya tidak terlihat “aneh” jalan sendirian, saya mendapat teman ngobrol random yang membahas apa saja hal yang kita temui selama berjalan seperti bangunan unik, tumbuhan kangkung milik warga, hingga kucing yang tidak menaruh rispek apapun kepada manusia yang hendak melangkahinya.
Jika sedang tidak di sebuah kota baru yang ingin saya eksplor dan sedang tidak berjalan dengan komunitas, saya mempunyai rute jalan reguler yang saya lewati setiap sore. Rute itu sudah pas sekali untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental saya karena lintasannya sudah termasuk melewati jalur selokan mataram, pemandangan alam, perumahan, jalan raya, jalur menanjak dan jumlah warga sekitar yang tidak terlalu banyak untuk disapa. Rute ini bisa ditempuh selama satu setengah jam sampai dua jam. Durasi tempuhnya akan lebih lama jika saya mampir dulu untuk memesan es kopi susu di coffee shop yang saya lewati atau jajan jamu keliling sembari mengatur nafas disela basa-basi dengan penjualnya. Rute ini selalu saya gunakan untuk menutup hari setelah bekerja atau aktivitas produktif lainnya di atas jam 5 sore–yang berarti saya baru bisa menempuh jalur ini dengan cahaya matahari yang tersisa pada hari itu. Berjalan dengan cahaya yang terbatas ini tidak menjadi masalah selama tiga tahun terakhir, sampai akhirnya saya berpikir ulang setelah saya tiba-tiba “disapa” oleh pengendara motor saat saya berjalan.
Saat itu saya sedang melintasi jalur jembatan Babarsari yang berada sejajar dengan jembatan yang menyambungkan selokan mataram, dari arah timur ke barat. Bagi teman-teman warga Jogja yang sering melewati daerah SCBD (Seturan, Condongcatur, Babarsari, Depok) pasti sudah tidak asing dengan jembatan ini. Jika sedang melintasi jembatan ini, tidak jarang ditemui beberapa orang yang sedang rappelling dari atas jembatan ke bawah, ke arah daratan yang merupakan pinggiran sungai. Dengan alasan keamanan, saya berjalan di sisi kanan, di sisi yang berlawanan arah dengan pengendara agar lebih waspada dan saling mawas dengan keberadaan satu sama lain–apalagi mengingat jika di jalur itu tidak ada trotoar. Setelah sela lima menit melewati jembatan itu, perhatian saya tertuju kepada motor yang berhenti pada sisi kiri jalan. Berseberangan dengan sisi lajur yang saya lewati. Saat hampir melewati motor itu saya disapa oleh pengendaranya.
“Mbak, mau kemana?”, tanyanya setengah berteriak. Pertanyaan seperti ini sudah saya mitigasi sebagai basa-basi dan hanya ingin saya jawab sekenanya.
“Mau jalan aja, Mas. Emang biasa jalan”, tegur saya tanpa berniat untuk menghentikan langkah.
“Oh, jalannya kemana?”
“Di sini aja, Mas. Emang rute jalan”, jawab saya sambil mengamati perawakan pengendara itu. Ia mengendarai motor matik, menenteng helm fullface di tangan kirinya, dan membawa tas carrier di punggungnya. Saya memutuskan berhenti sejenak untuk “menyapa” dan berlaku sebagai warga Jogja yang ramah itu.
“Baliknya nanti mau kemana?”
“Nanti mau ke Maguwo, Mas. Ini emang muter jalurnya”
“Loh, nanti saya baliknya juga mau ke Maguwo loh”, ujarnya dengan logat pendatang.
“Ohiyaya, oh yaudah, Mas. Mari-mari”, jawab saya buru-buru ingin mengakhiri.
Saya memalingkan muka dan melanjutkan langkah kembali. Namun, ternyata pengendara itu refleks memutar gas motor matiknya ke arah yang sama. Ia kembali melanjutkan pembicaraan meskipun saya sudah tidak menaruh perhatian ke sisi seberang jalan.
“Mbaknya sekolah atau udah kerja?”
Sampai di pertanyaan ini saya sudah tidak berminat untuk menjawab karena saya tidak ingin memberikan informasi lebih banyak dan saya sudah memberi gestur untuk mengakhiri percakapan. Namun, ada rasa tidak nyaman untuk tidak menjawab.
“Sekolah”, jawab saya bohong dan lugas.
“Oh, SMP…? SMA..?”
“Kuliah”, jawab saya singkat sambil menahan pandangan untuk tidak memberi kontak mata lebih banyak.
“Oh kuliah…”, tanggap dia kehabisan topik.
“Yaudah, Mbak, bener ya ini saya tinggal…”
“Iya, Mas. Mari”, jawab saya sambil mlipir kenceng ke arah jembatan yang berujung pemukiman dan kos-kosan yang banyak dihuni mahasiswa STIE YKPN atau UPN (Jalan Lawu). Jalan ini jalan alternatif untuk menuju Jalan Seturan.
“Yaampun (pembicaraan) ini beneran udah selesai kan, ya?” Gumam saya dalam hati karena jiwa introvert saya sudah mulai berontak.
Sembari saya melanjutkan jalan, saya mencoba memproses dan mengamini bahwa interaksi seperti itu memang “normal” untuk standar keramahan warga Jogja tapi setelah sudah menanyakan status saya masih sekolah atau kerja, rasanya itu sudah bukan sebuah ekspresi keramahan lagi. Saya mencoba tidak menghiraukan kejadian tersebut dan mengalihkan fokus untuk meregulasi tubuh saya yang mulai keringatan dan gemetaran itu. Sembari saya berusaha untuk mengatur nafas, ternyata telinga saya masih dalam mode waspada. Telinga saya mendeteksi suara motor yang lewat dari arah belakang sebagai tanda bahaya. Intuisi saya mengatakan bahwa ada kemungkinan jika akan ada “motor” yang mendekat lagi ke arah saya. Setelah berlalu beberapa detik, satu motor melintas. Dalam cahaya terbatas saya mengidentifikasi bahwa pengendaranya adalah bapak-bapak tanpa helm dan tanpa bawaan apapun. Satu nafas lega saya hembuskan sebagai tanda bahwa skenario terburuk itu tidak terjadi.
Namun, ternyata kelegaan saya langsung pudar dan bertukar dengan sikap waspada lagi. Perhatian saya refleks tertuju pada cahaya lampu motor yang kali ini benar-benar melambat ke arah sebelah saya. Benar saja, itu adalah pengendara yang sama. Saya mau-tidak mau menaruh perhatian pada kehadiran kendaraan itu.
“Mbaknya atlet, ya?”
“Engga, Mas. Emang rutin jalan aja.”, jawab saya tidak nyaman tanpa menghentikan langkah.
Setelah beberapa pertanyaan basa-basi yang jelas-jelas tidak saya minati, akhirnya ia menanyakan pertanyaan “itu”.
“Mbaknya udah punya pacar belum?”
Pertanyaan itu. Pertanyaan yang udah sama sekali bukan tendencies keramahan dan benar-benar membuat saya tidak nyaman. Saya sempat menahan diri untuk tidak menjawab dan menyadari kalau saya punya peluang untuk segera lari ke arah keramaian di Jalan Seturan yang masih berjarak kira-kira 50 meter.
“SAYA UDAH NIKAH”, jawab saya bohong sambil berusaha menenangkan degupan jantung yang semakin cepat dan menaruh perhatian penuh tepat ke depan, ke arah Jalan Seturan.
“Dikit lagi, sumpah dikit lagi” gumam saya dalam hati sambil perlahan menambah kecepatan jalan bercampur keraguan untuk sekalian lari. Saya ragu untuk lari karena ia mengendarai motor. Saya pikir, jika saya lari malah bisa memantik panik dan memberi ia kuasa untuk bisa mengejar–bahkan menyergap tangan saya secara ugal-ugalan.
“Oh, udah nikah… NIKAHNYA SAMA CEWEK YA? AHAHA”
“ — ATAU SAMA COWOK?”
Demi apapun saya udah mules nggak ketulungan. Saya berhenti merespon apapun yang akan keluar dari cangkem-nya. Di detik itu saya sudah nggak bisa menilai itu sebagai bentuk keramahan lagi. Dengan sisa nafas yang masih bisa saya kontrol serta sisa rasionalitas yang masih menjaga kesadaran saya, saya harus menerima jika saya sedang mengalami pelecehan verbal.
“Saya juga udah nikah, Mbak. Nih, nih…”, lanjutnya sambil memberikan gestur menunjukan sesuatu dari smartphone-nya. Saya tidak peduli tetap tidak memberi respon apapun.
“Yaudah mbak, beneran ya saya tinggal ya ini”, setelah melihat saya tidak memberi respon apapun akhirnya ia berhenti di sisa lima langkah terakhir sebelum Jalan Seturan.
Saat saya sudah di jalan dengan keramaian, saya berusaha untuk mengatur nafas dan memutuskan untuk segera mengabari teman terdekat atas kejadian yang saya alami sambil menarik perhatian saya untuk kembali ke realita. Saya memutuskan menyudahi sesi jalan saya dan berhenti di Co*vee untuk mencari tempat aman. Saya perlu berada di tempat yang terlihat oleh orang lain.
Jalan Kaki, Resikonya, dan Bekal Rasa Aman
Saya secara penuh kesadaran sudah menerima resiko yang akan hadir di keberlangsungan kegiatan berjalan saya ini. Resiko “rebutan” ruang publik yang sempat saya jabarkan di awal tulisan ini. Resiko bahwa berjalan dengan aman adalah kemewahan di negara ini karena akomodasi ruang jalan yang tidak layak dan tidak menjadi prioritas utama. Selain itu, resiko untuk mendapati catcalling dari orang dewasa maupun segerombolan bocil, hingga resiko mendapati pelecehan verbal sudah menjadi kesadaran dasar saya untuk memberanikan diri untuk bisa jalan di ruang publik. Dengan segala resiko yang tidak terelakkan itu, saya sampai membekali diri dengan pengetahuan psikologi untuk memahami mengapa ada manusia yang mengambil keputusan untuk melakukan pelecehan verbal di ruang terbuka dan motivasi apa yang mendorong perilaku tersebut. Saya cukup mengamini bahwa mengedukasi diri merupakan bekal protektif untuk meminimalisir guncangan mental yang dapat mengurangi fungsi sosial saya.
Alih-alih mengutuk pelaku-pelaku tersebut dengan “Gila ya, mereka nggak punya otak”, saya lebih suka untuk menaruh rasa penasaran sebagai bahan bakar untuk memberikan penjelasan kepada tubuh dan pikiran saya.
“Apa ya yang terjadi di pikiran mereka? Kayanya bagian otak prefrontal cortex mereka belum full-developed, sampai-sampai fungsi eksekutif dalam pengambilan keputusannya masih didorong dari arousal nafsu dan ideologi patriarki yang haus pengakuan. Kasian ya, mereka seakan-akan nggak punya kontrol dari dari otonominya sendiri sampai perlu memproyeksikan insecurity-nya kepada saya yang sedang berjalan dengan kesadaran penuh dari keinginan diri sendiri. Hmm, tapi faktor lingkungan dan teman dekat juga punya banyak peran pendukung sih–setoksik apa ya lingkungan tongkrongan dan tempat tinggalnya sampai memotivasi dia mengambil keputusan untuk merendahkan perempuan demi mendapat sense of self-worth? Apa ya yang membuat mereka sampai menjustifikasi ini sebagai cara untuk berkoneksi dengan manusia lain? Jangan-jangan ini juga masalah struktural ya? Apa yang bisa aku bantu biar ini nggak dilanggengkan?”
Begitulah pendekatan saya untuk memberi ketenangan untuk tubuh saya terhadap ketidaknyamanan yang timbul setiap kali memori tersebut muncul kembali. Edukasi diri menjadi salah satu faktor protektif yang ingin saya pelihara, apalagi saat saya sudah meyakini bahwa saya tidak memiliki kapasitas dukungan sosial secara hukum dan moral yang memihak kepada saya dan memberi efek jera kepada pelaku. Saya akan selalu pesimis–dan dengan statement itu juga saya memutuskan untuk mencari cara atau strategi lain untuk melindungi diri dibalik victim blaming yang akan selalu dilimpahkan kepada perempuan atas caranya berpakaian, berjalan, bahkan bernafas sebagai tanda otonomi tubuhnya yang dianggap “mengundang” itu.
Selain memberikan edukasi pada diri sendiri, salah satu yang bisa diusahakan sebagai mitigasi risiko adalah membentuk support system. Di kehidupan yang menjunjung semangat kolektivisme seperti di Jogja ini, mau tidak mau saya perlu effort untuk berinteraksi dengan keluarga demi memberi pengertian dan menormalisasi bahwa berjalan (sendirian) itu baik untuk kesehatan saya. Saya juga jadi punya urgency untuk berkomunitas dengan grup yang antusias dengan aktivitas berjalan kaki demi mendapatkan rasa aman. Dengan kesadaran membentuk support system ini, saya mau tidak mau harus belajar untuk membentuk dan menjaga dinamika pertemanan yang sehat demi kesejahteraan sosial saya dalam bentuk emotional support.
Setelah kejadian itu, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya memutuskan untuk mengabari teman terdekat untuk memperoleh rasa aman. Dengan pengetahuan saya tentang kesehatan mental yang masih terbatas ini, rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia di situasi yang sifatnya mengganggu atau bikin nggak nyaman. Engaged dengan realita merupakan penanggulangan yang paling penting pada saat itu. Itu adalah manifestasi saya untuk tidak menginternalisasikan pelecehan dalam bentuk apapun dan menghidupi realita pelaku. Agar saya merasa aman saya perlu merasa didengarkan dengan menceritakan kejadian itu secara kronologis sekaligus menceritakan bagaimana dialog pelaku diucapkan serta gerak-gerik yang dilakukan. Itulah salah satu cara untuk memvalidasi apa yang terjadi kepada saya: mencukupkan diri dengan membagikan pengalaman saya–karena apa lagi sih yang bisa diharapkan jika jadi WNI?
메타데이터
- post_id
- e6710d2cab52
- slug
- kena-pelecehan-verbal-saat-jalan-tapi-saya-malah-kasihan-dengan-pelaku-e6710d2cab52
- url
- https://medium.com/@reanugihan/kena-pelecehan-verbal-saat-jalan-tapi-saya-malah-kasihan-dengan-pelaku-e6710d2cab52
- canonical_url
- https://medium.com/@reanugihan/kena-pelecehan-verbal-saat-jalan-tapi-saya-malah-kasihan-dengan-pelaku-e6710d2cab52
- author_url
- https://medium.com/@reanugihan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13