30 September di Yogyakarta, 70 Tahun yang Lalu
30 September. Kebanyakan dari kita kemungkinan akan terpikir sebuah peristiwa pada tahun 1965. Apalagi kalau bukan G 30 S? Tanggal paling…
30 September di Yogyakarta, 70 Tahun yang Lalu
30 September. Kebanyakan dari kita mungkin teringat sebuah peristiwa pada tahun 1965. Apalagi kalau bukan G 30 S? Tanggal paling tua di September itu merupakan era peralihan dari masa Soekarno ke masa Soeharto yang diiringi berbagai peristiwa memilukan. Tapi, di sini, kita tidak akan membicarakan peristiwa itu. Mari kita masuk ke lorong “1955” dan masuk ke “pintu” 30 September. Di situ ada hal yang barangkali tidak kita sadari sebelumnya. Tepat satu hari setelah nyoblos dalam pemilu nasional pertama.
Pada hari itu, dua kesebelasan besar di Jawa bagian tengah, PSIM Yogyakarta dan Persis Solo, membentuk tim gabungan. Aku menyimpulkan bahwa dulu, relasi kedua PSIM dan Persis terjalin baik. Sebab sukar membayangkan tim yang saling memusuhi bisa membentuk tim gabungan dengan cepat. Hal ini sungguh kontras ketika memasuki milenium baru yang diwarnai ketegangan kedua suporter.
Kombinasi PSIM/Persis disiapkan untuk meladeni tamu dari Malaya yang sedang mengadakan tur di Jawa. Dari arsip yang kubaca, Malaya membawa nama Persekutuan Bola Sepak Melayu Semenanjung (PBSMS), bukan Football Association of Malaya (FAM). Perlu diketahui juga bahwa saat itu Malaya–cikal bakal Federasi Malaysia–belum merdeka.
Malaya membawa 17 pemain, 5 ofisial, dan 13 pendukung dalam lawatannya ke Indonesia dengan tujuan untuk bersilaturahmi. Merekatkan diri dengan tetangga sekaligus merayakannya dengan sepak bola. Bagaimanapun juga, olahraga ini sudah familiar di Indonesia dan Malaya. Banyak perkumpulan sepak bola yang berdiri di beberapa wilayah. Relasi Indonesia dengan Malaya terbilang harmonis kala itu. Kedatangan mereka juga disambut hangat. Laga PSIM/Persis melawan Malaya terbuka bagi umum. Masyarakat bisa menyaksikan pertandingan kedua kesebelasan dengan membeli tiket. Ada tiga pilihan harga, yakni Rp 6, Rp 8, dan Rp 12.
Dalam menghadapi Malaya ini, tim PSIM dan Persis sempat melakukan seleksi. Memilih mana pemain yang sekiranya layak dipasang. Ada 8 pemain dari Persis dan 19 dari PSIM yang diseleksi. Ofisial dari Persis yaitu Siswanto dan Arman. Sementara ofisial dari PSIM terdiri dari Samhudi, Djawad, Sudiro, dan Sukirman. Untuk menentukan pemain pilihan, dibuatlah pertandingan uji coba yang mempertemukan tim kombinasi PSIM/Persis melawan tim sisa. KR menyebutnya sisa PSIM, sementara Nasional menyebutkan sisa PSIM/Persis. Dari dua kali bertanding tim kombinasi kalah 1-0 dan 2-0. Kemudian ketika melawan PSIS, tim kombinasi juga kalah 3-4. Dari tiga pertandingan itu, tentu hasil itu bukanlah sesuatu yang diinginkan. Tapi waktu persiapan mereka memang tidak panjang.
Pada hari yang telah ditentukan, kedua tim memasuki Stadion Kridosono. Banyak pembesar hadir di stadion yang masuk Kemantren Gondokusuman tersebut. Ada Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) IX, Paku Alam (PA) VIII, Overste Sarbini, Kombespol Sumarsono, dan sebagainya. Sebagai pendahuluan, kesebelasan Malaya dikenalkan dengan Sri Sultan HB IX. Baik Sultan maupun pemain Malaya tampak berjabat tangan. Semacam seremoni singkat.

Pemain Malaya bersalaman dengan Sri Sultan HB IX (Kedaulatan Rakjat, 3 Oktober 1955)
Setelah seremoni selesai, kedua tim menempati posisi masing-masing. Formasi yang digunakan oleh kedua tim sama, 2-3-5. Di bawah mistar gawang Kombinasi, ada Djanarto. Di depannya ada Sutarto dan Supardjo. Di bagian tengah, berjejer Sumarmo, Suratman, dan Marsam. Di lini depan, tampil Sumadi, Tukidjo, Darmadi, Amir, dan Hirlan. Djanarto dan Suratman merupakan pemain PSIM yang tercatat sebagai mahasiswa UGM. Kalau Djanarto dari Fakultas Sosial dan Politik, maka Suratman dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Dari starting line up, mayoritas diisi pemain PSIM.
S. Djiman bertindak sebagai wasit. Durasi pertandingan lebih pendek dari waktu normal, hanya 2x35 menit. Setelah laga dimulai, Malaya tampil agresif pada permulaan laga. Pemain depan mereka, Abdul Gani, mencetak gol untuk Malaya di menit ke-12. Ketinggalan gol dari tim tamu rupanya memacu semangat PSIM/Persis. Tim Kombinasi kemudian melancarkan serangan balasan. Hirlan dapat dimaksimalkan oleh Sumadi menjadi gol. Kolaborasi dua pemain PSIM ini membuat skor imbang 1-1.
Pada menit 30, Darmadi mencoba merangsek ke pertahanan Malaya. Dalam upaya serangan itu, ia dijatuhkan oleh Ayob. Sang pengadil lapangan memutuskan memberi hadiah pinalti bagi Kombinasi. Sebuah keuntungan sebenarnya. Sayang, Marsam gagal membobol gawang Malaya. Tiga menit berselang, Kombinasi berhasil leading. Kali ini Darmadi, pemain Persis, menjadi aktornya. Skor 2-1 bertahan hingga turun minum.

Pertandingan antara PSIM/Persis melawan Malaya (Kedaulatan Rakjat, 3 Oktober 1955)
Pada babak kedua, terjadi pergantian pemain dari kedua kubu. Dari kubu PSIM/Persis, Suratman dan Tukidjo keluar. Masing-masing diganti oleh Sutomo dan Suharno. Di kubu lawan, Ishak dan Abdul Azis masuk sebagai pemain menggantikan A. Yusuf dan Salim. Pada masa ini, terjadi perubahan yang cukup signifikan. Serangan Malaya terasa semakin berbahaya. Hal ini terbukti ketika Awang Bakar berhasil merobek jala Djanarto melalui sundulan. Skor berubah 2-2. Selepas itu, kedua pihak saling melancarkan serangan untuk menambah pundi-pundi gol. Namun, tidak ada penjaga gawang yang memungut bola dari gawangnya lagi. Pertandingan berakhir imbang 2-2.
Pihak Malaya mengakui bahwa permainan PSIM/Persis cukup bagus sehingga bisa membobol dua kali. Sebelum ke Yogyakarta, rombongan Malaya juga bertanding dengan beberapa tim. Dimulai dengan melawan Sukabumi (3-3), membantai UMS (Jakarta) 6-1, menekuk Maesa 4-1, dan mengalahkan Persibaya 3-2. Setelah dari Yogyakarta, Malaya kembali ke Jakarta untuk menantang Persija. Di laga pamungkas, Malaya tunduk 2-3. Dari tim Perserikatan yang beradu tanding dengan Malaya, hanya PSIM dan Persis yang sepakat membentuk tim kombinasi.
Baiklah, kita sekarang perlu pindah ke “lorong” 2025, tepat 70 tahun kemudian. Pada 2025, PSIM dan Persis akhirnya bertemu lagi di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Tentu dengan situasi yang berbeda. Pada tahun ini, suasana tampak kondusif, setelah suporter kedua tim berdamai tiga tahun lalu. Ini modal penting buat kedua pihak. Kita berharap saja suatu saat PSIM dan Persis bisa membentuk tim kombinasi seperti dulu kala. Untuk lawan, bisa mengontak Kashima Antlers, Boca Juniors, atau lainnya.
Rujukan
Kedaulatan Rakjat, 20 September; 1 Oktober 1955; 3 Oktober 1955 Nasional, 23 September 1955; 26 September 1955; 1 Oktober 1955
메타데이터
- post_id
- e674228cdbd5
- slug
- 30-september-di-yogyakarta-70-tahun-yang-lalu-e674228cdbd5
- url
- https://medium.com/@yogahanindyatama/30-september-di-yogyakarta-70-tahun-yang-lalu-e674228cdbd5
- canonical_url
- https://medium.com/@yogahanindyatama/30-september-di-yogyakarta-70-tahun-yang-lalu-e674228cdbd5
- author_url
- https://medium.com/@yogahanindyatama
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 04:11:30