← Back to list

Dari Angkringan ke Coffeeshop: Ketika Jogja Belajar Pura-Pura Bahagia

Tentang nongkrong, kelas sosial, dan apa yang diam-diam kita tukar demi sebuah estetika.

Aimanannokoi · 2026-05-09 10:17 · 20 claps · 9.6 min read
#coffee-times-movement #yogjakarta #media-sosial #budaya
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🍳 · Food & Cooking

Dari Angkringan ke Coffeeshop:

Ketika Jogja Belajar Pura-Pura Bahagia

Tentang nongkrong, kelas sosial, dan apa yang diam-diam kita tukar demi sebuah estetika.

Gambar: Hasil perselingkuhan dengan Ai

Gambar: Hasil perselingkuhan dengan Ai

Suatu malam, sekitar jam sepuluh lewat, seorang mahasiswa dari Madura duduk di angkringan pinggir jalan dekat Tugu. Ia memesan segelas kopi jos, kopi hitam yang disemprot bara arang membara sampai mendesis dan sepiring nasi kucing dengan tempe goreng dua biji. Total sebelas ribu rupiah. Di tangannya, buku yang sudah lecek karena terlalu sering dibaca sambil rebahan. Di kepalanya, Tesis yang belum juga kelar di semester ke-enam. dialah aku

Ia tidak sendiri. Di sebelahnya, seorang tukang becak yang baru selesai kerja membuka plastik rokok kreteknya. Di sudut lain, dua mahasiswa berbicara pelan sambil sesekali terkikik. Seorang bapak paruh baya entah profesinya apa, entah asalnya dari mana menyeruput teh dalam diam, menatap jalan raya yang mulai sepi. Tidak ada yang bertanya siapa kamu, dari mana, berapa IPK-mu, dan apakah kamu sudah healing hari ini.

Beberapa meter dari sana, di sebuah coffeeshop kawasan malioboro yang baru buka tiga bulan lalu, seorang mahasiswi duduk di pojok ruangan. Laptopnya menyala. Di layarnya. Instagram. Di mejanya. oat latte dua puluh dua ribu rupiah yang sudah dingin dan setengah diminum, sebuah journal estetik yang belum pernah benar-benar diisi, dan tanaman kaktus kecil yang entah kenapa ada di sana. Kamera belakang HP-nya sudah beberapa kali terarahkan ke suasana sekitar. Ia juga tidak sendiri. Tapi entah kenapa, semua orang di dalam coffeeshop itu terasa sendiri.

Inilah Jogja hari ini, dua dunia yang hidup berdampingan, makin lama makin jauh jaraknya.

I. Jogja Itu Bukan Kota, Itu Janji

Setiap tahun, ribuan anak muda dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Yogyakarta dengan satu narasi yang hampir sama. Jogja itu murah, nyaman, dan enak buat kuliah. Narasi itu diwariskan dari kakak kelas, dari orang tua yang dulu juga kuliah di sini, dari film-film tentang mahasiswa yang hidupnya terasa seperti liburan panjang meskipun sebenarnya bokek.

Dan memang, untuk beberapa waktu, narasi itu terasa benar. Mahasiswa baru turun dari bus atau kereta dengan koper yang terlalu besar dan ekspektasi yang lebih besar lagi. Mereka menemukan bahwa tiga puluh ribu bisa membuat perut kenyang seharian. Bahwa ada warung makan yang buka dua puluh empat jam dengan menu yang tidak pernah berubah sejak tahun sembilan puluhan. Bahwa angkringan di setiap sudut jalan adalah tempat di mana kamu bisa duduk berjam-jam tanpa ada yang mengusir, tanpa minimal order, tanpa musik terlalu keras yang memaksamu berteriak setiap kali bicara.

Jogja bukan hanya kota, Jogja adalah sebuah janji tentang kesederhanaan yang terasa cukup.

Tapi janji itu, seperti banyak janji lain, sedang dalam proses renegosiasi. Dan harga renegosiasi itu tidak dibayar dengan rupiah tapi dengan cara kita bersosialisasi, cara kita memandang diri sendiri, dan cara kita memilih di mana kita ingin dilihat.

II. Angkringan: Demokrasi yang Tidak Butuh Manifesto

Angkringan adalah salah satu institusi sosial paling jujur yang pernah ada di Jogja. Ia tidak punya branding. Tidak punya feed Instagram yang konsisten. Tidak punya konsep interior yang didesain oleh seseorang yang pernah workshop di Bali. Yang ada hanya gerobak kayu, lampu remang-remang, beberapa dingklik plastik, dan nasi bungkus kecil yang disebut nasi kucing karena porsinya, kata orang, cukup untuk seekor kucing.

Tapi angkringan bukan tempat orang datang hanya untuk makan. Angkringan adalah apa yang oleh sosiolog Ray Oldenburg disebut sebagai third place — ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja, di mana manusia bisa menjadi manusia tanpa tekanan peran. Bukan sebagai mahasiswa. Bukan sebagai anak dari bapak ibu yang sudah mengorbankan banyak hal. Cukup sebagai manusia yang duduk, minum kopi, dan membiarkan waktu berjalan sedikit lebih lambat.

Di angkringan, perbedaan kelas sosial yang di Indonesia cukup tebal dan sering terasa memalukan untuk diakui cair dengan cara yang hampir ajaib. Mahasiswa UGM duduk di sebelah tukang parkir. Dosen yang lembur duduk di dekat ibu pedagang sayur yang baru tutup lapak. Tidak ada yang saling menilai dari jenis kopi yang dipesan. Semua minum kopi yang sama hitam, manis, dan kalau mau kopi jos tinggal bilang minta arangnya.

Manifesty dan Afif (2018) menyebut ini sebagai ruang sosial demokratis — angkringan adalah satu dari sedikit tempat di Jogja di mana batas kelas benar-benar lebih cair dari yang biasanya kita alami. Dan di situlah yang menarik sekaligus yang kemudian terancam.

Nongkrong di angkringan tidak butuh modal. Tidak butuh penampilan tertentu. Tidak butuh kemampuan memesan minuman dalam bahasa Inggris atau setidaknya bisa pura-pura tidak bingung ketika barista bertanya, “Mau pakai susu oat atau almond?” Kamu bisa datang dengan sandal jepit, rambut berantakan, dan kantong hampir kosong dan tidak ada yang akan memandang kamu berbeda.

III. Malam-Malam yang Tidak Perlu Didokumentasikan

Ada sesuatu yang sangat khas dari obrolan angkringan tengah malam. Topiknya tidak pernah terencana. Bisa mulai dari keluhan tentang kehidupan, after dari lulus studi mau ngapaian, lalu belok ke teori konspirasi tentang Geopolitk, lalu tiba-tiba seseorang bercerita tentang mantan, dan entah bagaimana akhirnya sampai ke pertanyaan: sebenernya hidup itu buat apa, sih? yang dijawab dengan tawa dan diakhiri dengan seseorang memesan kopi tambahan.

Ini bukan ngobrol yang produktif. Tidak menghasilkan apa-apa dalam arti kapitalisme tidak ada networking, tidak ada personal branding, tidak ada konten yang bisa diposting. Tapi ini adalah jenis obrolan yang membuat seseorang merasa tidak sendirian di kota yang masih asing.

Angelianawati (2017) menyebut fenomena ini sebagai shared vulnerability — kerentanan bersama yang membuat orang terbuka satu sama lain. Di angkringan, semua orang secara implisit tahu bahwa tidak ada yang punya terlalu banyak — jadi tidak ada yang perlu pura-pura punya banyak.

Seorang Sarjana Sosiologi Uwin pernah bercerita bahwa di bulan-bulan pertama ia di Jogja, angkringan depan kos-nya adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak merasa seperti orang asing. Penjualnya tidak tahu namanya, tapi selalu tahu ia biasa pesan nasi kucing tempe dua dan kopi hitam satu. “Itu sudah cukup,” katanya. “Rasanya ada yang kenal kamu.” nah, orang ini adalah Temanku.

IV. Kemudian Datanglah Coffeeshop

Tidak ada yang tahu persis kapan Jogja mulai penuh dengan coffeeshop. Yang jelas, dalam sepuluh tahun terakhir, proliferasi kedai kopi bergaya dengan interior yang didesain, menu dalam bahasa Inggris, dan musik lo-fi yang seolah diprogram untuk membuat siapapun merasa sedang ada di film indie terjadi dengan kecepatan yang membuat banyak orang kaget. khusunya aku

Kawasan Prawirotaman, Seturan, Condongcatur, Jakal (Jalan Kaliurang), Gejayan, dan sekitar kampus UGM dan UNY sekarang dipenuhi oleh kedai kopi yang kalau kamu tutup matamu sejenak lalu membuka lagi susah dibedakan satu dengan lainnya. Kayu-kayu mentah atau yang sengaja dibuat terkesan mentah. Dinding beton yang kelihatan unfinished tapi sebenarnya di-finish dengan mahal. Tanaman hijau di pojok-pojok. Lampu filamen. Dan tentu saja menu yang ditulis dengan spidol di papan kayu kecil yang menggantung dengan tali rami.

Specialty coffee. Single origin. Pour over. Cold brew. Oat milk. Affogato.

Semua ini terdengar seperti doa dalam bahasa yang tidak semua orang mengerti, tapi semua orang pura-pura mengerti.

Ghazali (2024) mencatat bahwa mayoritas pengunjung coffeeshop di kawasan Seturan bukan datang terutama untuk kopinya. Mereka datang untuk suasananya dan lebih spesifik lagi, untuk kemungkinan diidentifikasi sebagai orang yang berada di suasana itu. Dengan kata lain, mereka datang untuk difoto, atau untuk memfoto. ya sudah barang tentu kamu bisa sepakat dan tidak

V. Laptop, WiFi, dan Kelas Sosial dalam Saku

Ada sesuatu yang perlu kita akui dengan jujur tentang fenomena nongkrong di coffeeshop sambil buka laptop, sebagian besar dari kita tidak benar-benar produktif di sana. Kamu pergi dengan niat mengerjakan skripsi/tesis yang sudah mepet deadline. Kamu memesan kopi. Kamu membuka Google Docs. Kamu menulis satu paragraf.

Lalu kamu buka Instagram.

Empat puluh menit kemudian, kamu masih di Instagram. Tapi laptopmu tetap terbuka, dan dari sudut pandang orang lain yang lewat, kamu terlihat seperti orang yang sedang bekerja keras dengan penuh dedikasi. Performative productivity. Produktivitas sebagai pertunjukan.

Tapi di balik itu ada sesuatu yang lebih dalam. Hapsari dan Wijaya (2024) menyebutnya “lifestyle capitalism” kapitalisme gaya hidup di mana konsumsi sebuah tempat dan suasananya menjadi bagian dari konstruksi identitas sosial. Kamu bukan hanya membeli kopi, kamu membeli hak untuk dilihat sebagai orang yang minum kopi di tempat seperti ini.

Di kota yang punya hierarki sosial kuat, coffeeshop menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan, cara naik kelas secara simbolik dengan biaya yang relatif terjangkau. Dua puluh ribu rupiah untuk duduk di tempat yang sama dengan orang-orang yang kamu anggap “di atas” kamu.

Hasilnya adalah kalkulasi yang menyedihkan sekaligus menggelikan mahasiswa yang kiriman bulanannya delapan ratus ribu memaksakan diri nongkrong di coffeeshop tiga kali seminggu, lalu kehabisan uang di pertengahan bulan dan kembali ke angkringan atau bahkan makan mie instan selama seminggu. Dan yang paling tragis ketika kembali ke angkringan karena bokek, mereka kembali bukan dengan perasaan lega, tapi dengan perasaan malu, seperti turun kelas. Padahal tidak ada yang turun. Yang naik justru harga standar kesenangan.

VI. Dari Obrolan ke Konten

Pergeseran dari angkringan ke coffeeshop bukan hanya soal tempat. Ia adalah cermin dari sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi dalam relasi sosial anak muda Jogja. Di angkringan, interaksi terjadi secara organik dan horizontal. Duduk berdesakan di dingklik plastik secara alamiah membuat jarak sosial runtuh kamu tidak bisa pura-pura tidak melihat orang yang duduk dua puluh sentimeter dari bahumu. Tidak ada agenda. Tidak ada naskah. Hanya dua orang yang kebetulan sama-sama kepanasan dan memilih tempat yang sama untuk duduk.

Di coffeeshop, setiap orang punya mejanya sendiri. Ada earphone. Ada laptop. Ada tembok invisible yang dibangun dengan sangat rapi di sekitar setiap individu, yang berkata. aku di sini, tapi tolong jangan ajak aku bicara.

Dan kemudian ada kamera. Ada proses yang terjadi begitu seseorang masuk ke coffeeshop yang bagus, mereka tidak langsung duduk dan memesan. Pertama mereka scan ruangan untuk mencari spot terbaik bukan dari segi kenyamanan, tapi dari segi lighting dan background foto. Lalu duduk. Lalu memesan kopi. Lalu, sebelum kopi diminum, kopi itu difoto. Dari atas. Dari samping. Dengan tangan yang memegang gelas dengan cara tertentu yang terlihat casual tapi sebenarnya dipikir selama beberapa detik. Dan baru setelah semua itu, kopi diminum. Rahmatullah dkk. (2025) menyebut fenomena ini individualisasi ruang publik ruang yang dulu bersifat kolektif dan inklusif perlahan bertransformasi menjadi kumpulan ruang-ruang privat yang berdampingan. Orang-orang ada di tempat yang sama, tapi tidak benar-benar bersama. Obrolan berubah menjadi konten. Kehadiran berubah menjadi penampilan.

VII. Jogja yang Sedang Dijual Kepada Dirinya Sendiri

Ada kata yang dalam lima tahun terakhir sering muncul dalam diskusi akademik dan juga dalam obrolan warung kopi gentrifikasi. Kata yang terdengar seperti diagnosis medis itu menggambarkan proses yang sudah lama terjadi di Jogja dan kini semakin terasa di setiap sudut kota.

Gentrifikasi, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah ketika sebuah kawasan mulai diinvasi oleh bisnis, properti, dan gaya hidup kelas menengah ke atas mendorong keluar penduduk asli yang tidak lagi mampu membayar harga yang meningkat.

Di Jogja, proses ini terjadi dengan cara yang lebih halus dan lebih sulit dilihat. Tidak ada yang mengusir pak Wagiran dari warung angkringannya di Janti secara terang-terangan. Tapi di sebelah warungnya, tumbuh sebuah kedai kopi dengan harga sewa yang naik empat kali lipat dalam tiga tahun. Perlahan, pak Wagiran tidak lagi bisa membayar sewanya. Atau pelanggannya pindah ke coffeeshop sebelah yang “lebih bagus.” Dan warung itu tutup bukan karena pengusiran paksa, tapi karena kalah dalam pertempuran ekonomi yang tidak pernah setara. digantikan oleh kedai kopi, coworking space, dan restoran bergaya yang harganya tiga sampai lima kali lebih mahal. Penduduk lokal yang dulu berdagang di sana tidak hilang mereka bergeser ke kawasan yang lebih ke pinggir, ke jalan-jalan kecil yang belum terjamah modal. Rahmatullah dkk. (2025) mendokumentasikan bahwa dalam satu dekade, jumlah warung makan tradisional dan angkringan di koridor Jalan Kaliurang turun signifikan,

Jogja sedang dijual kepada dirinya sendiri. Ia menjual citra tentang dirinya kota seni, kota budaya, kota mahasiswa, kota yang estetik kepada orang-orang yang mampu membayar harga citra itu. Dan dalam proses itu, Jogja yang asli yang murah, yang ramah tanpa syarat perlahan terkubur di bawah lapisan estetika yang dikurasi dengan sangat hati-hati.

VIII. Semakin Ramai, Semakin Sepi

Ini mungkin bagian yang paling susah ditulis. Tapi perlu dikatakan.

Apakah kita sebagai generasi yang lahir bersamaan dengan internet, yang tumbuh bersama media sosial, yang mengukur pengalaman hidup dari seberapa baik ia bisa dikemas menjadi konten. apakah kita sebenarnya lebih bahagia dari generasi sebelumnya yang nongkrongnya di angkringan tanpa WiFi dan tanpa Instagram?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Tapi ada indikasi yang membuat saya gelisah.

Di angkringan, interaksi sosial lahir dari ketidakmampuan untuk menghindarinya dan dari ketidakmampuan itulah lahir koneksi yang tidak terduga dan seringkali lebih dalam dari yang direncanakan. Di coffeeshop, setiap orang punya pilihan untuk tidak berinteraksi dan kita sering menggunakan pilihan itu. Earphone. Laptop. Notifikasi. Kita bisa berada di ruangan yang sama dengan dua puluh orang dan tidak benar-benar bertemu dengan siapapun.

Maka lahirlah paradoks modern yang paling menyedihkan, semakin banyak tempat untuk berkumpul, semakin sedikit tempat untuk benar-benar bertemu.

Orang-orang di coffeeshop itu tidak selalu sedang bersenang-senang. Banyak yang sedang melarikan diri dari kos yang sempit dan sunyi, dari tugas yang menumpuk, dari kecemasan tentang masa depan yang tidak kunjung jelas. Coffeeshop menawarkan ilusi bahwa kamu bagian dari sesuatu yang lebih besar, bahwa hidupmu terlihat seperti hidup yang layak dijalani. Ilusi itu berharga dua puluh ribu rupiah per gelas.

Dan di balik semua performativitas itu, ada kebutuhan manusia yang tidak pernah benar-benar bisa dipuaskan oleh aesthetics; kebutuhan untuk benar-benar diterima, tanpa syarat, tanpa harga, tanpa perlu menjelaskan siapa dirimu. Angkringan memberikan itu secara gratis. Tanpa aplikasi. Tanpa minimal order.

· · ·

Penutup: Kopi yang Sudah Dingin

Kembali ke mahasiswi di pojok coffeeshop kawasan malioboro tadi. Oat latte-nya sudah benar-benar dingin sekarang. Ia menutup Instagram, lalu membuka Tokopedia sebentar, lalu menutupnya lagi. Ia menatap laptopnya yang layarnya menampilkan dokumen kosong.

Di luar, hujan ringan mulai turun. Kaca coffeeshop berembun. Dari balik kaca itu, jalanan Malioboro terlihat basah dan lengang.

Ia tidak sadar bahwa dua ratus meter dari sana, ada angkringan yang sudah buka sejak sore. Di sana, seseorang sedang tertawa keras karena cerita temannya tentang motor yang mogok di jalan. Di sana, seseorang sedang menghisap rokok sambil diam, menatap asap yang naik perlahan. Di sana, penjual angkringan sedang menyeduh kopi ketujuh malam ini, gerakan tangannya hafal dan tanpa pikir.

Tidak ada yang difoto. Tidak ada yang diposting. Tidak ada yang perlu dikurasi. Tapi di sana, ada kehidupan yang terjadi kehidupan yang berantakan, yang murah, yang tidak photogenic, yang tidak akan menarik followers baru kehidupan yang justru karena itu terasa nyata.

Jogja sedang berubah. Mungkin tidak bisa dicegah. Mungkin tidak perlu dicegah sepenuhnya karena perubahan adalah satu-satunya hal yang lebih pasti dari harga sewa kos yang naik tiap tahun. Tapi di antara semua perubahan itu, ada hal-hal kecil yang layak untuk diingat bahwa kemewahan yang sesungguhnya mungkin bukan kopi single origin dengan pour over yang harganya setara tiga porsi makan siang tapi kemampuan untuk duduk di pinggir jalan, dalam cahaya yang remang, bersama orang-orang yang tidak perlu kamu impress, dan merasa bahwa untuk saat ini, ini sudah cukup.

Bahwa cukup itu sendiri sudah berharga. Sebelum Jogja lupa cara merasa cukup.


메타데이터
post_id
e68a6e13998d
slug
dari-angkringan-ke-coffeeshop-ketika-jogja-belajar-pura-pura-bahagia-e68a6e13998d
url
https://medium.com/@aimanannokoi08/dari-angkringan-ke-coffeeshop-ketika-jogja-belajar-pura-pura-bahagia-e68a6e13998d
canonical_url
https://medium.com/@aimanannokoi08/dari-angkringan-ke-coffeeshop-ketika-jogja-belajar-pura-pura-bahagia-e68a6e13998d
author_url
https://medium.com/@aimanannokoi08
status
ok
fetched_at
2026-07-13 19:15:17