Selendang Gelar Pasca Sidang, Self Reward apa Fear Of Missing Out?
Sudah bertahun-tahun ritual pasca sidang dilakukan. Mana sekarang ada sesi copot duct tape di poster foto baground merah? Gak cukup tuh…
Selendang Gelar Pasca Sidang, Self Reward apa Fear Of Missing Out?
Sudah bertahun-tahun ritual pasca sidang dilakukan. Mana sekarang ada sesi copot duct tape di poster foto baground merah? Gak cukup tuh, kalau cuma pamer gelar, pegang buket, cekrek-cekrek, plus video jedag-jedug sebagai bonus. Nah, sesi itu… biar save momennya agak ramean dikit katanya.
Sampai tulisan ini selesai pun, saya masih jengkel pada bias persepsi tentang ‘selendang gelar di pasca sidang’ yang selalu trending di kalangan mahasiswa semester akhir ini. Pasalnya, itu juga dipahami sebagai self reward yang secara umum disenangi orang dan ujung-ujungnya mengganggu orang lain.
Misal ada yang fobia selendang? Apa mereka tetap harus pakai? Itu satu. Kedua, ini beda sama perayaan wisuda yang terlihat sebagai interval dari rentetan seminar proposal, revisi, sidang, dan revisi lagi. Secara kelembagaan, wajar jika itu dianggap sebagai self reward umum.
Jadi, Pahami Lagi Self Reward
Kalian tahu kan, siklus perkawanan? Ya, semacam khutbah ketidakkompakan atau aksioma yang rasanya nyesek sekaligus geli gitu deh... Parahnya, sampai mau dipinjemin selendang gara-gara gak ikutan pesan? Batin saya, “Saya bukan ga mampu beli bro, tapi lagi ga butuh. Mending beli kopi, buat temenin sesi revisi!”
Kata ‘self’ itu untuk diri sendiri kan? Kalau demi kompak mana self-nya? Harusnya circle reward gak sih? Begitu juga seharusnya dalam perayaan wisuda, meski berkaitan dengan kelembagaan dan cocok jika dicirikan sebagai self reward umum karena gak ada pilihan lain.
Semacam penghargaan dari susah payah menghindari plagiasi dan kebal revisi. Mahasiswi Pontianak bernama mbak Desi sampai nangis loh, saat ditanya soal skripsi di acara *Roadshow* Mata Najwa di Pontianak tahu lalu.
Nyata sih, beban mampus. Dan kalian yang snob, gak usah banyak komen. Mental orang beda-beda. Tapi keliru jika kamu anggap trending sebagai kesepakatan umum, apalagi bilang reward untuk self. Ia kamu, yang kemarin sok tahu!
Sebab Ritual itu, Masuknya Malah Hedonisme
Dengan kata lain konsumtif sebagaimana dibahas Inayatul Laili dalam tulisan berjudul “Maraknya Hedonisme Berkedok Self Reward”. Gimana tidak? Mulai pasca seminar proposal sampai wisuda, itu pengeluaran semua isinya.
Mari berhitung, mulai dari buket di 3 sesi, poster, selempang gelar, balon, bunga, coklat dan kacamata hitam. Belum biaya healing atau hal lebih self lainnya? Self reward seberdempetan itu? Termasuk tren kacamata hitam sebagai simbol dari buta tugas itu?
Bagi saya yang rokok satu batang masih untuk dua moment, mending gak usah. Inget, revisi sidang harus ngeprint lagi. Sebab dimana-mana, hemat jauh lebih baik daripada hanya demi mendapat ucapan selamat dari masyarakat virtual yang jelas ga bakal bantuin revisi pasca sidang.
Atau Bisa Jadi, itu Euforia Akut
Skripsi disidangkan bukan berarti itu memberi kepastian lulus. Masih ada sesi presentasi dan revisi bila perlu. Optimisme penting, tapi dengan menyiapkan itu semua jauh-jauh hari, bukan tidak mungkin seseorang akan kecewa jika justru terhambat di sesi presentasi atau revisi yang lama.
Masalahnya, kebanyakan dari kita itu sudah yakin akan lulus setelah terbit tanggal sidang. Apalagi, katanya gelar akademik itu secara sah bisa dipakai setelah adanya surat keterangan lulus (SKl) dari kampus berdasarkan undang-undang Pendidikan Tinggi No 12/2012, tepat setelah yudisium.
Hemat saya, itu bukan waktu yang tepat buat perayaan. Pamer gak sih masuknya? Malah cenderung meremehkan standarisasi kelulusan Perguruan Tingginya sih… Pantes dong, saya jengkel kalau ditakar waktu dan bentuk reward yang seharusnya self.
Jadi, Lebih ke Fear Of Missing Out.
Astrid Lingkan dalam tulisan “Social Self-Esteem dan Fear of Missing Out Pada Generasi Z Pengguna Media Sosial” kurang lebih berkata begini, “satu distopia teknologi di media sosial itu adalah fear of missing out pada diri senciri, yakni sikap gak mau kalah atau gak mau terlihat ketinggalan hal yang sedang menarik (trending)”. Apalagi ada sesi hasut teman dan nyinyir jika tidak ikutan.
Bisa bisanya lupa kalau sarjana punya beban ideologis? Apa karena banyak sarjana pengangguran, citra kesarjanaan tidak lagi harus dibuktikan relevansi dan eksistensinya? Padahal, kredibilitas karya ilmiah yang dibuat juga lebih penting untuk dipikirkan. Semacam gumam, di bagian mana saja nanti? Seberapa parah dan lama perbaikannya? Serta kira-kira makanan apa saja yang dibutuhkan di suasana pusing itu?
Oke, banyak kok yang serius mengerjakan tugas akhir, dan kepercayaan diri untuk sukses presentasi dengan nilai bagus (lulus) itu ada. Kemudian namanya juga self reward, jadi self mau model apa aja. Mau ikutan tren kek, pamer gelar, atau semacamnya. Tapi dimana-mana, mengerjakan hal-hal yang masih samar dan boros itu tidak baik, lebih-lebih memaksakan diri.
Tulisan Astrid tadi berkesimpulan bahwa self-esteem itu lebih baik dari fear of missing out yang dapat menjadikan kita gak lebih dari pengekor orang lain. Sebab menilai dan mengerti kebutuhan sendiri itu jauh lebih penting daripada kita ikutan hal yang sejatinya tidak kita butuhkan. Semoga saya juga bisa mengamalkan, dan sekian.
메타데이터
- post_id
- e6b02be4f4af
- slug
- selendang-gelar-pasca-sidang-self-reward-apa-fear-of-missing-out-e6b02be4f4af
- url
- https://medium.com/@muqsdm/selendang-gelar-pasca-sidang-self-reward-apa-fear-of-missing-out-e6b02be4f4af
- canonical_url
- https://medium.com/@muqsdm/selendang-gelar-pasca-sidang-self-reward-apa-fear-of-missing-out-e6b02be4f4af
- author_url
- https://medium.com/@muqsdm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29