← Back to list

KESETARAAN ATAU DIHORMATI?

“Kesetaraan bukan berarti kita harus jadi sama persis secara biologis, melainkan tentang keadilan ruang, empati terhadap batasan fisik, dan…

Mega manullang · 2026-07-05 08:48 · 0 claps · 3.0 min read
#perempuan #kesetaraan-gender #respect
Open on Medium ↗

KESETARAAN ATAU DIHORMATI?

“Kesetaraan bukan berarti kita harus jadi sama persis secara biologis, melainkan tentang keadilan ruang, empati terhadap batasan fisik, dan rasa hormat yang setara.”

Apakah perempuan dan laki-laki bisa dapat setara, ini selalu menjadi pertanyaan besarku. Aku merupakan perempuan yang menaruh perhatian terhadap isu-isu hak perempuan. Besar di keluarga yang terikat dengan adat istiadat menumbuhkan kesadaranku bahwa, di jaman yang sudah maju ini dengan perkembangan teknologi yang pesat, dunia dengan kecanggihan yang konon katanya dapat mempermudah hidup manusia. Masih terdapat beberapa aturan yang mengikat perempuan dalam mendapatkan kebebasan mereka. seperti dunia kecil yang berada di dunia yang luas ini, mereka masih terbelenggu stigma, aturan , dan stereotip masyarakat.

Namun ini selalu menjadi perdebatan di Internet, para perempuan dan laki-laki saling menyalahkan satu sama lain. Media sosial telah berubah menjadi tempat di mana mereka saling mengadu nasib satu sama lain. Para perempuan sibuk menyalahkan kaum pria, membandingkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, menyalahkan pria untuk semua sistem yang terjadi ini. Para pria juga tidak kalah berisik, mereka menganggap bahwa terlahir sebagai pria merupakan beban yang sangat berat yang harus mereka tanggung. Aku pikir masing-masing dari gender memiliki tuntutan mereka tersendiri.

menurutku ini semua tidak akan menemukan titik penyelesaian jika semua terlalu sibuk menyalahkan satu sama lain. Para perempuan melupakan tujuan awal mereka tergabung dalam suatu komunitas “Feminisme”. Aku tidak ingin menghabiskan waktukmu untuk membenci para pria, menyalahkan mereka atas semua yang terjadi di dunia ini. Pria dengan pemikiran patriarki memang masih sangat sering dijumpai namun perempuan yang mendukung patriarki itu sendiri juga tidak kalah banyak. Anak laki-laki berubah menjadi monster yang selalu menganggap derajat perempuan lebih rendah dari dirinya juga banyak terlahir dari dukungan dan didikan sang ibu. Jika begini aku pun merasa kebingungan rantai mana yang harus diputus untuk menyelesaikan semua ini.

Aku ingin menceritakan pengalamanku, orang tua kami memiliki anak laki-laki dan perempuan. Ayahku selalu mendidik kami dengan pengalaman yang sama. Ketika aku masih kecil aku sering menghabiskan waktuku untuk menemani ayahku memperbaiki mobil atau mesin lainnya di rumah. Keunikannya adalah ketika aku masih kecil aku hafal nama alat-alat bekerja ayahku. Saat dia memperbaiki mesin aku cukup sering menjadi asistennya bekerja. Ayahku akan meminta aku untuk mengambil jenis kunci yang dia butuhkan terkadang aku ikut membantunya bekerja. Tidak hanya itu aku juga ikut bekerja ke kebun, melakukan pekerjaan fisik yang sama dengan saudara laki-lakiku. Menurut ayahku semua anaknya sama saja, anak laki-lakinya ikut membantu pekerjaan domestik dan anak perempuannya juga melakukan pekerjaan yang berat.

Tumbuh dengan pengalaman seperti itu membuatku menyakini bahwa perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. sampai suatu hari aku ingin memajang fotoku di dinding rumah kami. Sehari sebelumnya adikku mengatakan bahwa nanti yang menancapkan pakunya dia saja. Pada awalnya aku mengiyakan tawarannya, namun aku adalah perempuan yang tidak sabaran. Menurutku terlalu lama menunggu dia pulang dari kebun sehingga aku memutuskan untuk melakukannya sendiri. Yang pertama aku lakukan adalah mengambil peralatan yang aku butuhkan di tempat ayahku menyimpan barang-barangnya, namun saat aku bongkar ternyata palu tidak ada sepertinya dipinjam oleh tetanggaku, selanjutnya aku memeriksa apakah ada paku atau tidak. Ternyata paku yang tersedia adalah paku khusus kayu, belajar dari pengalaman yang diberikan ayahku. Aku sangat paham bahwa paku yang aku butuhkan adalah paku khusus tembok, jika aku memaksakan paku khusus kayu maka paku tersebut akan meleyot.

Karena dua bahan alat yang aku butuhkan tidak ada, aku memutuskan untuk pergi ke toko bangunan untuk membelinya. Pergi ke toko bangunan merupakan hal biasa yang aku lakukan. sejak dari kecil ayahku sering menyuruhku ke toko bangunan untuk membeli peralatan yang dia butuhkan. selesai membeli alat yang aku butuhkan aku langsung mengeksekusi kegiatan menancapkan paku tersebut, namun aku terkejut ternyata aku memerlukan belasan kali pukulan hingga paku tersebut benar-benar tertancap sempurna. padahal jika aku ingat kembali adikku hanya memerlukan beberapa kali pukulan dan ayahku mungkin hanya sekitar 3 kali pukulan. sedangkan aku memerlukan belasan bahkan aku sempat berhenti karena tanganku terluka dan kuku pecah.

dari pengalaman ini membuatku merubah tujuanku, aku tidak ingin lagi bersaing dengan para pria. masing-masing dari kedua gender memiliki kapasitas dan kelebihan yang berbeda-beda. standarku yang menganggap perempuan harus sekuat laki-laki mulai runtuh dan berganti dengan pemahan yang baru. Yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar validasi bahwa kita bisa melakukan segalanya sama persis seperti pria, melainkan rasa hormat terhadap kodrat kita sebagai perempuan.

Berikan reward kepada mereka yang bekerja keras namun aku juga berharap bahwa dunia sudah tidak sekeras itu kepada perempuan. Di luar tuntutan pekerjaan dan mimpi-mimpinya, perempuan harus berkompromi dengan siklus bulanan yang sering kali menyiksa tubuh. Dunia kerja juga harusnya bisa lebih empati kepada perempuan yang sedang mengandung. kami para perempuan juga pekerja keras hanya saja kekuatan dan stamina kami tidak sebesar para pria.


메타데이터
post_id
e6d317c68cdb
slug
kesetaraan-atau-dihormati-e6d317c68cdb
url
https://medium.com/@veronikamegamanullang/kesetaraan-atau-dihormati-e6d317c68cdb
canonical_url
https://medium.com/@veronikamegamanullang/kesetaraan-atau-dihormati-e6d317c68cdb
author_url
https://medium.com/@veronikamegamanullang
status
ok
fetched_at
2026-07-20 10:36:32