Kiss the Clown
Kiss the Clown

Lampu taman hiburan itu selalu terlihat paling indah saat malam tiba.
Bianglala raksasa berputar perlahan di tengah kota, memantulkan warna-warni neon ke wajah para pengunjung yang tertawa riang. Musik ceria terdengar dari segala arah—anak-anak berlari sambil membawa balon berbentuk hewan, pasangan muda berjalan berdampingan dengan jemari saling terkait, sementara aroma manisan kapas dan karamel hangus memenuhi udara malam.
Semua terlihat hidup.
Hangat.
Normal.
Namun, di antara seluruh wahana yang berisik dan penuh cahaya itu… ada satu tempat yang selalu dipenuhi antrean perempuan muda.
Sebuah tenda bergaya sirkus tua berdiri sedikit terpisah dari keramaian utama. Lampu-lampu kecil yang menggantung di atasnya berkedip redup, sebagian bahkan hampir mati. Cat merah di dinding tendanya mulai mengelupas, memberi kesan usang dan aneh.
Di bagian atas pintu masuknya, sebuah papan besar menyala merah gelap.
KISS THE CLOWN 10 MENIT — Rp5.000
Murah.
Terlalu murah untuk sesuatu yang terdengar seaneh itu.
Permainannya sederhana.
Hanya dengan lima ribu rupiah, pengunjung bisa masuk ke ruangan kecil di balik tirai sirkus… lalu mencium si badut selama sepuluh menit penuh.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam sana.
Tetapi hal itu terlalu menggiurkan bagi perempuan muda disana.
Orang-orang keluar dengan wajah merah, napas tidak beraturan, kadang gemetar, bahkan beberapa menangis tanpa alasan jelas. Anehnya, tidak ada yang pernah mengeluh.
Tidak ada yang melapor.
Tidak ada yang berhenti datang.
Justru semakin banyak orang penasaran.
Dan di balik meja kayu kecil penuh lampu kuning redup itu, sang pemilik wahana berpenampilan badut duduk sambil memperhatikan kerumunan manusia seperti predator yang sedang memilih mangsa.
Levon.
Laki-laki misterius, tidak banyak orang yang tau mengenai namanya.
Tubuhnya tinggi—terlalu tinggi untuk ukuran badut biasa. Setelan badut hitam-putih yang dikenakannya tampak mahal dan rapi, jauh dari kostum murahan taman hiburan pada umumnya. Beberapa kancing bagian atas sengaja terbuka, memperlihatkan dada bidangnya.
Riasan wajahnya tipis, hanya garis hitam samar di bawah mata dan pulasan merah gelap di bibirnya—cukup untuk memberi kesan menyeramkan tanpa menutupi wajah tampannya.
Matanya selalu terlihat setengah bosan.
Setengah lapar.
Dan malam itu, di tengah antrean panjang perempuan-perempuan penasaran…
ia melihat seseorang yang berbeda.
Seorang gadis berdiri diam di depan papan permainan, menatap tulisan itu terlalu lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang serius.
Gaun putih sederhana, rambut panjang lurus sedikit berantakan tertiup angin malam.
Tatapan yang tidak dipenuhi rasa malu, nafsu, atau kegirangan seperti pengunjung lain.
Melainkan rasa ingin tahu.
Levon tersenyum kecil dari balik riasannya.
“Berikutnya.”
Gadis itu melangkah maju.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Levon berhenti memainkan senyum palsunya.
Tatapannya menetap terlalu lama pada gadis itu.
Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Menarik.”
Pintu ruangan tertutup pelan di belakang setelah perempuan itu masuk ke dalam tenda itu.
Klik!
Bunyi kunci diputar terdengar jelas di ruangan sempit itu.
Seketika, suara taman hiburan di luar menghilang, seolah dunia ramai tadi terputus begitu saja. Yang tersisa hanyalah kesunyian aneh yang membuat tengkuk merinding.
Apa ruangan ini kedap suara? Pikir perempuan itu.
Ruangan itu sempit dan remang-remang. Sebuah lampu merah kecil menggantung di langit-langit, membuat seluruh ruangan terlihat ganjil dan tidak nyaman. Dindingnya dipenuhi cermin-cermin tua dengan noda hitam di sudut-sudutnya.
Pantulan dirinya terlihat asing di sana.
“Nama?”
Suara Levon terdengar dari sudut ruangan.
Perempuan itu menoleh. “Harus aku kasih tau?”
“Jawab saja.”
Perempuan itu mengernyit heran. Setahunya, tidak ada wahana yang membutuhkan nama pengunjung.
“…Evelis.”
Levon menyeringai tipis.
“Levon.”
Perempuan bernama Evelis, menatapnya bingung pada badut laki-laki itu.
Kenapa dia juga memperkenalkan namanya?
Ruangan kembali sunyi.
“Jadi?” Evelis akhirnya bersuara pelan. “Apa memang cuma ciuman?”
Levon tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Evelis lekat-lekat.
Dekat seperti ini, laki-laki itu jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan. Aroma parfum manis bercampur bau metallic samar menempel pada tubuhnya.
Aneh.
Terlalu aneh.
“Takut?” tanyanya pelan.
“Harusnya?”
Levon terkekeh kecil.
Biasanya para pelanggan langsung gugup saat ditatap olehnya. Menunduk, salah tingkah, berusaha terlihat menarik.
Namun perempuan ini berbeda.
Tatapannya lurus.
Tidak gemetar.
Tidak malu.
Dan Levon mulai membencinya karena itu.
Sekaligus tertarik setengah mati.
“Dekat sini,” katanya lirih.
Evelis melangkah maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kini jarak mereka nyaris tidak ada. Evelis bahkan bisa melihat retakan tipis pada riasan putih di wajah Levon.
“Aku harus ngapain?”
“Tidak banyak.”
Levon mengangkat tangannya perlahan.
Jari-jarinya dingin saat menyentuh dagu Evelis. Ibu jarinya mengusap kulit perempuan itu pelan, terlalu pelan hingga membuat bulu kuduk meremang.
“Diam saja,” bisiknya.
Tatapan mereka bertemu.
“Dan jangan melawan.”
Untuk sesaat, ruangan itu terasa terlalu sempit untuk bernapas.
Lalu tanpa peringatan, Levon menciumnya.
Bukan ciuman lembut, namun juga bukan kasar. Ciuman itu terasa lapar seolah ia tidak sedang mencium seseorang, melainkan mencoba memiliki sesuatu yang sudah lama diinginkannya.
Tangan Levon mencengkeram pinggang Evelis erat hingga gadis itu meringis kecil, hembusan nafas keduanya saling menyapu wajah masing-masing
Dan saat laki-laki itu semakin memperdalam ciuman mereka—
Evelis merasakan sesuatu.
Gigi laki-laki itu menggigit kecil lidah Evelis yang membuat perempuan itu tak nyaman.
Awalnya menggigit kecil, sampai pada akhirnya Levon benar-benar menggigit lidah perempuan itu hingga terluka.
“Aw!”
Refleks, Evelis langsung mendorong dada Levon kuat-kuat hingga tubuh mereka terpisah.
Napasnya memburu. Kemudian merasakan bahwa lidahnya sedikit mengeluarkan darah.
Levon diam.
Menatapnya.
Lalu perlahan… tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Evelis melihat sesuatu yang benar-benar salah dari laki-laki tersebut.
Tatapan matanya.
Kosong.
Dingin.
Tidak manusiawi.
“Kau gila? Kau menggigit lidahku?” protes Evelis dengan napas gemetar.
Levon hanya tertawa kecil.
“Itu memang bagian dari permainannya. Tapi biasanya aku melakukan lebih dari itu.”
Tubuh Evelis langsung menegang.
“…Apa?”
“Tapi tenang saja, aku tidak melakukannya padamu. Anggap saja karena kau spesial.” Ucapan dengan senyum yang terlihat aneh bagi Evelis.
Suasana ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Aku mau pergi.”
“Tapi waktunya belum habis.”
“Nggak lucu.”
“Aku nggak bercanda.”
Nada suara Levon berubah.
Tetap tenang.
Justru terlalu tenang.
Dan itu lebih menakutkan daripada bentakan apa pun.
Evelis mulai mundur perlahan menuju pintu keluar. Tangannya buru-buru meraih gagang pintu—
Namun tubuhnya langsung membeku.
Terkunci.
Sial.
Ia menoleh cepat.
Levon berdiri beberapa langkah darinya sambil memainkan sebuah kunci kecil di jarinya. Senyum puas terlukis di wajah laki-laki itu.
Orang gila.
Levon berjalan mendekat perlahan hingga punggung Evelis menempel pada pintu.
Tubuh tinggi itu menjebaknya tanpa kesulitan.
“Kenapa buru-buru?” bisiknya pelan di dekat telinga Evelis. “Aku baru mulai tertarik sama kamu.”
Napas Evelis mulai tidak teratur.
Tatapannya bergerak cepat ke seluruh ruangan, mencari jalan keluar lain.
Dan di seberang sana—
Ada pintu lain.
Tanpa pikir panjang, Evelis mendorong tubuh Levon sekuat tenaga lalu berlari ke arah pintu tersebut.
Pintu itu terbuka.
Dan dunia Evelis seakan berhenti sesaat.
Ruangan itu dipenuhi rak-rak besi tua, puluhan botol kaca berjajar rapi di dalamnya, dan di dalam setiap botol ada...
“Lidah…?”
Napasnya tercekat.
“Lidah manusia?!”
Mata Evelis langsung membelalak ngeri.
Beberapa masih tampak segar, beberapa lainnya sudah menghitam.
Tangannya refleks menutup mulut. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.
Tanpa disadari, Levon sudah berdiri tepat di belakangnya.
Tangan laki-laki itu melingkar di pinggang Evelis perlahan, memeluknya erat seperti ular yang sedang membelit mangsa.
“Ternyata kamu berani banget, ya,” bisiknya tajam tepat di telinga perempuan itu.
Namun nada suaranya justru membuat darah Evelis membeku.
Dan untuk pertama kalinya malam ini, akan menjadi malam yang lebih panjang.
“K-kau, kanibal?” Perempuan itu bertanya dengan terbata.
“Bisa dibilang begitu. Kadang aku menyimpan, kadang memakannya.”
Nada Levon terdengar santai. Terlalu santai untuk situasi seburuk ini.
“Lepas,” Suara Evelis terdengar serak, tertahan oleh napasnya yang memburu.
Evelis kembali memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Namun semakin ia melawan, semakin kuat pula lengan Levon melingkar di tubuhnya, seolah takut perempuan itu menghilang jika dilepaskan sedikit saja.
“Awalnya sok berani,” bisik Levon pelan di dekat telinganya. “Sekarang malah gemetar sendiri?”
Hidungnya menyentuh leher Evelis, menghirup aroma tubuh perempuan itu perlahan. Sentuhan kecil itu membuat bulu kuduk Evelis meremang jijik.
“Wangi.”
Dengan gerakan cepat, Levon mengangkat tubuhnya begitu saja lalu menaruhnya di atas kursi tua di tengah ruangan. Kursi itu berdecit pelan saat menerima beban tubuh Evelis.
Sebelum Evelis sempat berdiri, Levon sudah berjongkok dan mengambil tali dari bawah kursi. Jemarinya bergerak tenang, hampir seperti seseorang yang sedang melakukan pekerjaan rutin.
Ia mengikat kedua tangan Evelis lebih dulu, lalu pergelangan kakinya.
Satu simpul.
Dua simpul.
Rapi. Teliti. Menyeramkan.
Evelis terus meronta sambil melempar tatapan penuh kebencian.
“Psikopat!”
“Memang.”
“Kanibal!”
“Aku tahu.”
“Kau sinting?!”
“Iya.”
Jawaban-jawaban itu keluar begitu mudah dari bibir Levon sampai membuat dada Evelis semakin sesak. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada rasa malu. Laki-laki itu bahkan terlihat bangga mengakuinya.
Saat itu juga Evelis merasa kalau manusia di depannya benar-benar berbeda dari orang normal.
Atau mungkin… bahkan sudah tidak pantas disebut manusia.
“Akan aku laporkan semua ini ke polisi.”
“Go ahead.”
Jawabannya terlalu cepat dan tenang.
Levon melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa senti. Hembusan napas hangat laki-laki itu menyapu kulit wajah Evelis, membuat perempuan itu menahan diri agar tidak gemetar.
“Kalau kau mau kehilangan lidahmu.” lanjutnya dengan tersenyum licik.
Tatapan Evelis langsung berubah.
Levon terkekeh pelan sebelum berjalan menuju ruangannya yang dipenuhi “koleksinya”. Ia mengambil sebuah toples besar berisi cairan keruh dengan lidah didalamnya, yang sudah menghitam.
Evelis refleks menahan napas saat rasa mual menyerang tenggorokannya.
“Kau tahu?” kata Levon pelan sambil mengusap permukaan toples kaca itu penuh kasih sayang. “Yang ini cerewet banget waktu pertama masuk.”
Ia memutar toples itu perlahan.
“Tapi setelah lidahnya hilang…” senyumnya melebar tipis, “dia jadi jauh lebih tenang.”
Evelis menatapnya tidak percaya.
“Kau memotongnya… pakai apa?”
Levon mengangkat matanya.
Lalu tersenyum.
“Mulutku sendiri? Ah tidak, lebih tepatnya gigiku. Setelah berciuman, aku menggigit lidah mereka hingga putus.”
Jantung Evelis serasa berhenti berdetak sesaat.
Perutnya terasa dipelintir hebat.
Orang ini benar-benar tidak waras.
Sementara Levon masih sibuk berbicara tentang “koleksinya” dengan antusias seperti anak kecil yang memamerkan mainan baru, mata Evelis mulai bergerak mengamati ruangan.
Jendela kecil di bagian atas.
Terlalu tinggi… tapi mungkin masih bisa digapai.
Di sudut ruangan, ada linggis tua bersandar di dinding.
Dan di atas nakas belakang Levon, ada gunting.
Beberapa paku kecil yang berserakan di nakas dan lantai, tepat di belakang Laki-laki itu.
Evelis menarik napas pelan. Otaknya mulai menyusun rencana.
Diam-diam ia menggerakkan pergelangan tangannya di balik tubuh. Ternyata ikatan itu tidak cukup kuat. Talinya mulai longgar sedikit demi sedikit.
Bodoh.
Psikopat dengan iq rendah.
Levon terlalu sibuk bercerita sampai tidak sadar.
Beberapa menit kemudian—
Tali di tangan Evelis akhirnya berhasil terlepas, namun ia tetap diam, berpura-pura masih terikat.
“Dan kau tahu? Kemarin dia juga—”
“Kau.” Suara Evelis memotong ucapan Levon.
Laki-laki itu langsung menoleh.
“Apa?”
Evelis menatapnya lama, lalu perlahan mengubah ekspresinya. Tatapannya melembut. Bibirnya sedikit terangkat seolah sedang menggoda.
“Kau mau bermain?”
Levon mengernyit curiga. “Maksudmu?”
“Kau bilang kau suka lidah, kan?” Evelis menjilat bibir bawahnya pelan. “Mari bermain sedikit dengan lidahku.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Levon terlihat benar-benar terdiam.
Tatapannya berubah.
Campuran terkejut dan tidak percaya dengan perubahan perempuan di depannya ini.
Mengapa tiba-tiba perempuan ini menjadi sangat berani? Pikirnya.
“...Kau menggoda ku?”
Evelis menahan rasa jijik dalam dirinya dan tetap mempertahankan ekspresi itu.
Semoga laki-laki ini cukup bodoh untuk terpancing dengan cara yang menjijikan ini.
Levon menggeleng pelan.
“Tidak… aku tidak menginginkan lidahmu.” Suaranya melemah sedikit. “Sudah kubilang, aku tertarik padamu. Aku—”
“Jadi?” Evelis memotong kalimatnya. Perempuan itu terus menatap tajam, penuh rayuan palsu.
“Mendekatlah.”
Dan Levon menyerah.
Ia menaruh toples itu di atas nakas lalu berjalan mendekat perlahan seperti sedang terhipnotis.
Dalam hati, Evelis mencibir.
Idiot.
Levon berjongkok di depannya hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Tangannya naik menyentuh rahang Evelis dengan lembut, terlalu lembut sampai terasa mengerikan.
“Aku tertarik padamu sejak pertama kali melihatmu ikut mengantri.”
“Kau menyukaiku?”
Levon tidak menjawab.
Tatapannya justru semakin dalam.
“Kalau iya,” lanjut Evelis pelan, “aku bisa jadi partner-mu mengelola wahana ini.”
“Kau—”
“Cium aku kalau kau mau — ”
Tanpa berpikir panjang, Levon langsung mencium bibirnya.
Ciuman itu berbeda dari sebelumnya.
Lebih dalam.
Lebih rakus.
Seolah laki-laki itu benar-benar mempercayainya.
Dan itu kesalahan terbesar Levon.
BRAK!
Evelis mendorong tubuh Levon sekuat tenaga.
Laki-laki itu terjatuh ke belakang dan langsung meringis saat punggung dan tangannya menghantam paku di lantai dan nakas.
“Akh—!”
Tanpa membuang waktu, Evelis menyambar gunting di atas nakas lalu memotong tali di kedua kakinya dengan gerakan tergesa.
Berhasil!
Begitu bebas, ia langsung berlari menuju linggis di sudut ruangan.
Namun sebelum sempat mencapainya— Levon berhasil menangkap pergelangan tangannya.
Tatapan laki-laki itu berubah mengerikan.
Gelap.
Dingin.
Dan penuh kemarahan.
“Pengkhianat.”
Evelis tidak panik.
Dengan gerakan cepat, ia menusukkan gunting yang masih ada di tangannya tepat ke telapak tangan Levon.
“AARGH!”
Gunting itu langsung menancap, dan cengkeraman itu langsung terlepas.
Levon mundur sambil meringis kesakitan, darah menetes dari tangannya ke lantai.
Kesempatan itu langsung digunakan Evelis untuk mengambil linggis. Tanpa ragu, ia mengayunkannya ke arah jendela atas.
PRANGGG!
Kaca pecah berkeping-keping dan linggis itu terlempar keluar.
Suara riuh langsung terdengar dari luar.
“Astaga! Suara apa itu?!”
“Ada kaca pecah!”
“Ada yang tidak beres.”
“TOLONG!” teriak Evelis sekuat tenaga sampai tenggorokannya terasa terbakar. “TOLONG! ADA PEMBUNUH DI SINI—”
Namun sebelum ia selesai berteriak—
Levon membekap mulutnya dari belakang menggunakan tangan berdarahnya.
“Diam!” bentaknya kasar di telinganya. “Berhenti sebelum benar-benar kubunuh!”
“HMPH—!”
Evelis memberontak panik.
Tapi semuanya sudah terlambat bagi Levon.
Karena dari luar…
Terdengar suara orang-orang mulai memasang tangga.
Dan langkah kaki seseorang mulai naik menuju ruangan itu.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak wahana “Kiss the Clown” dibuka… suara tawa di taman hiburan itu berhenti.
Lampu-lampu neon masih berkedip indah di luar sana. Bianglala tetap berputar perlahan. Musik ceria masih terdengar samar di kejauhan.
Namun di balik dinding ruangan sempit yang tersembunyi itu, rahasia paling mengerikan akhirnya terbongkar.
Sementara Levon dipaksa berlutut dengan kedua tangan berlumuran darah, matanya tidak tertuju pada polisi, bukan pula pada orang-orang yang mulai memenuhi ruangan itu.
Tatapannya hanya tertuju pada satu orang.
Evelis.
Tatapan yang masih sama seperti pertama kali mereka bertemu.
Obsesi, cinta yang sakit.
Dan kegilaan yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Sebab bahkan saat tubuhnya diseret menjauh, Levon masih sempat tersenyum kecil ke arah perempuan itu, seolah semua ini belum berakhir.
Dan Evelis sadar…
Ada beberapa monster yang bisa dipenjara, tapi tidak pernah benar-benar berhenti mengintai.
메타데이터
- post_id
- e6e4002ce085
- slug
- kiss-the-clown-e6e4002ce085
- url
- https://medium.com/@titanyavalencys/kiss-the-clown-e6e4002ce085
- canonical_url
- https://medium.com/@titanyavalencys/kiss-the-clown-e6e4002ce085
- author_url
- https://medium.com/@titanyavalencys
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 20:33:08