Kotak Cahaya
Part 1
Kotak Cahaya
Part 1
Sore itu masih sangat melelahkan bagiku, daun rindang dan setengah berguguran merambah dingin. Di antara daun basah karena hujan masih sibuk menyelesaikan kotak cahayaku, tepat di samping gedung laboratorium — Plant Based Genomic. Sesekali berjalan mengitari kotak hitam itu mengecek apakah sudah kering bagian dalamnya atau belum. Cat yang kusemprotkan itu sangat tipis mencoba merata ke semua permukaan bagian dalam kotak. Kotak cahaya itu masih belum kering namun warna putih sudah menutupi hampir semua sisi dan siap untuk dikeringkan. Aku berjalan mengambil handphone-ku yang kuletakkan sedari tadi di pojok tangga menuju basement, mengarah tepat kepadaku. Ya benar, aku sedang merekam diri membuat kotak cahayaku. Sesekali ku putar ulang time lapse tiga puluh detik itu lalu tersenyum setelah mengunggahnya di media sosial. Seolah ingin menunjukkan pada dunia, betapa bekerja kerasnya diriku dengan penelitian ini.
Caption: Tesis (No)Nguli (Yes)
Ding! bunyi notifikasi hapeku langsung terdengar. Ternyata dari dirimu yang membalas dengan segala pertanyaan. “NGAPAINNN??”
Tentu membuat kotak cahayaku! Batinku tanpa membalas langsung. Ah, sungguh menyenangkan ada yang merespon kegilaanku siang itu. Sejenak ku melangkah masuk ke laboratorium setelah meletakkan kotak cahaya untuk mengering dekat pintu keluar. Langkahku gontai menuju tangga, mungkin karena di luar dingin dan seketika hangat menemuiku tiba-tiba. Terlebih aku sedang berpuasa hari itu dan setelah jam tiga sore pun seluruh glukosaku sudah menipis.
Sekelebat bayanganmu menyapa lalu berhenti “Kakak tadi ngapain?” katamu dari ujung tangga. Sejenak ku ubah mimik mukaku yang terlanjur lemas dan lelah, aku tersenyum dan semangat itu muncul seketika. Ah akhirnya bisa sambat dengan bahasa Indonesia. Kapan lagi bisa bilang, “Anjirrlah! Nguli gua tadi!” sahutku bersemangat.
“Terus lu lagi ngapain? Mau ke lab?” tanyaku sembari membersihkan sisa-sisa spray paint di celana.
“Iya nih, tinggal finishing aja,”
“Ikut dong!” sambarku mengikuti langkahmu. Lab (laboratorium) kita kebetulan dalam satu gedung, aku di lantai satu dan kamu di lantai dua.
Beberapa kali kamu mengajakku mengunjungi lab mu jauh sebelum aku mulai masuk lab. Ah, jadi begini, fiuhhh. Biarkan aku memperkenalkanmu pada pembacaku, sebelum cerita ini terlalu jauh dan menyedihkan.
Val, begitulah aku ingin menyebutnya. Val adalah seseorang teman yang kutemui tepat di hari pertama semester duaku. Kami bersekolah master di Australia dan tepat di hari pertama masuk, aku kita dia orang luar sampai dia menyapaku dalam bahasa Indonesia. Sungguh menyenangkan bertemu orang Indonesia di luar negeri. Serasa bertemu saudara sendiri, benar saja Val juga seusia adikku. Selain pintar dia juga sering berbagi cerita, dan kebetulan aku suka mendengarkannya.
Kebetulan itu yang tak kusangka tumbuh menjadi rasa kasihan dan iba, yang sampai hari ini aku tersadar, rasa ini harus diakhiri sebelum semakin berkembang menjadi hal lain yang tak bisa kuatasi sendiri.
Aku mengikutinya ke Lab dan memperhatikan bagaimana ia menyisihkan sampel gelatinnya untuk diproses minggu depan. Sungguh terampil, ah tentu saja hal ini bukan sesuatu yang baru bagiku. Beberapa kali aku masuk lab saat kuliah di Indonesia, bercengkrama dengan curut hingga bakteri labil, juga dengan mesin-mesin yang melatih kesabaran.
Sesekali aku menanggapi ceritanya, dan wajahku tidak berbohong saat aku adore dan admire bagaimana dia bisa membagi waktu belajar dan penelitian dan pekerjaan. Luar biasa, aku sungguh mengagumi tekadnya, sebagai seseorang yang baru pertama kali keluar negeri dan dia sudah lebih dari sekali, jujur aku banyak belajar darinya. Tentang bagaimana bersikap, menentukan pilihan, dan merespon sesuatu. Dengan kata lain aku bersyukur pernah mengenalnya, dan aku sampai sekarang masih senang mendengarkan ceritanya.
“Ini mau dibawa ke Mawson kapan?” tanyaku sembari melihat Val melepaskan gelatin dari cawan patri.
“Besok kamis kayanya,”
“Boleh pegang ga?” tanyaku penasaran dengan lembaran film gelatin itu. Val bilang bisa buat bungkus makanan dan biodegradable walau tidak halal karena ada lemak babinya.
“Inih,” katanya. Aku mengambil sarung tangan, memakainya, dan menyentuh lembaran itu. Wow, luar biasa menyenangkan. Meneliti dan membuat produk baru yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Kakak udah selesai? Habis ini mau pulang?” Val bertanya sembari merapikan peralatan lain.
Aku berpikir dan mungkin aku akan pulang beberapa saat lagi, walau sebenarnya aku sudah selesai tinggal meletakkan kotak cahayaku di dalam FAB Lab. Rasanya aku ingin merenung dulu di taman belakang lab, arboretum tempat favoritku untuk melamun dan memikirkan — nothingness.
Tempat yang dulu aku pernah mengajakmu tapi sepertinya kamu tidak tertarik dengan alam dan jalan-jalan. Mungkin dipikiranmu hanya ada belajar dna bekerja. Aku mengerti, bebanmu jauh lebih dariku saat ini. Aku mengerti, aku tidak mungkin bisa mengajakmu ke tempat yang ingin ku jelajahi. Aku mengerti saat itu mungkin memang kita hanya terikat dan kebetulan bertemu di kotak cahaya ini. Waite campus.
“Bentar lagi balik dah,” jawabku ragu. Aku masih menimbang haruskah aku pulang dan berjalan bersamamu namun sebagian diriku ingin memproses semua kegilaan lab hari ini. Mungkin juga kegilan asumsi dan perasaan kemarin.
“Ya udah, ayo bareng aja!” katamu sembari merapikan tas dan peralatan lainnya. Aku masih ragu dan berpikir akan pulang nanti.
Sesaat kamu berjalan ke ruangan lain, mengembalikan peralatan dan entah apa yang mau kamu lakukan, lalu berkata “Kayaknya aku akan punya pacar deh, Kak!”
Aku yang masih melihat-lihat sekeliling lab, sontak menjawab “Baguslah! Jadi tambah semangat, biar ada yang merhatiin…” kataku sekenanya. Aku tidak benar-benar memikirkan hal itu.
Kuucapkan apapun yang ada pertama di pikiranku. Apapun yang penting kamu bahagia dan bersemangat menjalani hidup. Apapun yang penting kamu bertumbuh menjadi versi terbaikmu. Aku tulus mengatakannya, walau kebetulan aku mungkin merasa nyaman mendengarkan cerita-cerita mu. Belakangan ini, kamu sering bercerita tentang gadis yang baru saja kamu temui di tempat kerjamu. Usianya tak jauh denganku, bedanya dia lebih ada dan bisa mendengarkanmu. Mungkin itu yang kamu butuhkan, Val. Saat ini bekerja dan belajar saja bisa membuatmu gila, sesekali kau butuh jatuh cinta. Dan aku benar, asal dia adalah orang yang membuatmu utuh dan penuh maka bersegeralah.
Mimik wajahku tidak berubah, tetap antusias. Aku ingin mendengarkan kelanjutan ceritamu. Sesaat aku tidak merasakan apapun, jujur saja. Aku bingung, mungkin ini karena gula darahku semakin turun atau perasaanku saja mungkin akan kehilangan teman baik sepertimu. Ah, sungguh aku tidak sedang ingin menjelaskannya sekarang.
“Lah, bukannya kemarin lu jalan ama dia? Itu bukannya udah jadian?” tanyaku mencoba menggali cerita yang sebenarnya bukan urusanku juga.
“Belum dong, Kak. Kan baru pertama kali jalan, nanti kalau cocok baru lanjut,” jelasmu sembari menata entah alat apa lagi.
“Kakak belum pernah pacaran, ya?” tanyamu. Pertanyaan yang membuatku berpikir keras dengan sisa-sisa glukosa dan ATP sore hari.
“Aku nggak ada tenaga buat gituan, Val. Butuh energi banyak dan luar biasa kadang ga ke kontrol,” ujarku setelah berdehem panjang.
“Oh, jadi jalan dulu baru menentukan. Pertimbanganmu panjang juga ya,” kataku mengalihkan bahan.
“Iya, lah. Lumayan akan ada temen ngobrol pas di lab, kemarin ngobrol enam jam sambil aku nge-lab,” jelasmu sambil mengambil tas dan melangkah keluar. Aku mengikuti tanpa berpikir panjang.
“Wow, lama weh. Biasanyakan lu suka nonton drakor (drama korea), asiklah sekarang ada yang nemenin ngobrol,” kataku asal menyahut. Entah bentuk support apa lagi yang bisa kukatakan sebagai seorang teman, dan sekarang aku merasa menjadi kakak yang tidak lebih berpengalaman darimu, karena ya aku belum pernah pacaran.
Alasannya selain karena aku tidak ada energi untuk melakukannya, aku juga tidak ingin mengambil risiko terluka. Bayangkan, menyukai dalam diam saja bisa seterluka itu saat melihat dia bahagia dengan yang lain, apalagi jika aku pernah menjalin hubungan dengan sosok bernama perasaan itu. Ah, bisa habis aku!
Tapi alasan sejujurnya, mungkin hanya akan kutuliskan di sini. Aku mudah jatuh, dan ketika aku jatuh aku sadar aku tidak bisa memilih. Jadi aku ingin menjaga hubungan keseimbangan itu dengan tidak mengamankan benda bernama perasaan ini.
Ah sialan! Lagi-lagi aku menahannya. Menceritakan apa yang sedang kurasa kepadamu, Val. Karena aku tahu tidak semua perasaan itu perlu disambut atau dipupuk sehingga ia tumbuh subur, aku akan memilih benih yang paling aman dan nyaman untuk tumbuh dalam diriku Val, sebagai teman.
“Iya sih, Kak. Diawal sih enak, tapi nggak tahu nanti kalau udah enam bulan. Capek nggak sih?” katamu sembari berjalan turun.
Aku sengaja meninggalkan tasku di ruang sebelah, agar aku bisa ke atas dan mengambilnya lagi. Lalu kubiarkan kau pulang dan berjalan lebih dulu. Agar aku tak mengetahui kelanjutan ceritamu sore itu.
“Kakak beneran udah selesai? Tasnya mana?”
“Kebawah dulu yuk, gampang mah entar itu tas,” ujarku memencet tombol lift menuju bawah. Kamu mempersilahkanku masuk lebih dulu.
“Kakak habis ini beneran pulang?” katamu seolah menangkap ketidakyakinanku, entah pada kalimat yang mana. Atau semuanya?
“Iya nih, mau cek kotak cahaya dulu,” kataku sembari menuju keluar. Tempat di mana aku membiarkan kotak cahayaku mengering seharian. Sudah empat kali aku mengecatnya harusnya sudah kering dan aman.
“Oh jadi ini!” katamu, mengingat story yang kuunggah beberapa saat lalu.
Aku tersenyum melihat hasil karyaku. Kotak cahaya. Kelak ia akan berguna untuk beberapa tahun lagi, semoga saja ia tahan lama.
“Mau kumasukin ke Lab dulu yak,” ujarku kembali ke dalam gedung dan masuk ke lantai satu.
“Sini kubantu,” kamu langsung mengambil bagian yang lain. Sigap dan peka. Luar biasa, pasti (calon) pacarmu nanti bahagia. Atau memang kamu orang yang sopan dan baik hati Val.
Setelah meletakkannya di Lab, aku menuju ke atas untuk mengambil tas. Aku sengaja agar kamu bisa pulang duluan. Kupikir aku sudah tidak ada lagi ruang dan tenaga untuk mendengarkan cerita bahagiamu saat ini. Glukosa perasaanku terbatas.
“Duluan aja, aku masih mau ambil tas,” ujarku sembari menuju lift.
“Oh di atas yak? Yaudah aku ikut,” ujarmu cepat. Dalam pikiranku mungkin kamu masih mau cerita beberapa hal lain. Entah apa, yang pasti aku tahu siapa.
“Eh gimana tadi kelanjutannya,” aku sengaja memancing agar menyelamatkan waktu yang terdiam.
“Kakak kalau sama Jim gimana?” katamu entah bercanda atau apa. Aku melirik bertanya. Jim, adalah supervisorku, dan sejauh yang aku tahu dia gay dan aku juga sudah bercerita banyak tentang partner nya ke kamu Val. Jadi apa maksud dari pertanyaanmu?
“He’s gay, please!” kataku singkat. Mungkin saat itu aku benar-benar tidak ingin mengoceh. Di kejadian aslinya, aku mungkin bercerita hal-hal yang tidak penting kepadamu dengan cepat. Kita berjalan turun menuju pemberhentian bis.
“Kakak bisnya jam berapa?”
“Masih 30 menit kayanya, lu jam berapa?”
“Aku ada kapan aja, aku boleh nemenin nunggu nggak?” tanyamu. Aku sudah menduga kamu kelelahan dan butuh teman mendengarkan. Baiklah, lagipula kamu tidak tahu jika aku sedang hampir akan pingsan saat itu. Beberapa kali kamu mengeluh lelah hari ini. Memang pekerjaan lab akan begitu menguras energimu, maka jika kamu menemukan sosok yang bisa merecharge energi akan sangat bagus. Mungkin (calon) pacarmu bisa menjadi pilihan. Atau hal lain entahlah.
“Boleh lah, Lu mau cerita apaan emang?” tanyaku kesekian kali. Ada beberapa orang yang hanya dengan duduk didekatnya bisa menjadi obat dan kita merasa tenang, mungkin hari ini aku bisa menjadi sosok itu buatmu Val, hari ini saja. Terakhir kali.
“Di Islam boleh pacaran ga sih?” tanyamu sembari menunjuk bangku di sebelah plang bus. Aku masih menggenggam erat payungku sedari tadi takutnya hujan tiba-tiba. Rupanya sore ini matahari bersinar sejuk luar biasa, tidak dingin tidak juga panas.
“Nggak boleh si, tapi aku tim yaudah aja,” jawabku benar-benar sekenanya. Val kamu tahu kan kita berbeda keyakinan. Mau sejauh apapu tetap teman adalah yang terbaik, aku tidak tahu arah pertanyaanmu dan sungguh tinggal sedikit glukosa otakku yang kusisakan sore ini hanya untuk mendengarkanmu.
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema-tema aneh dan tidak masuk akan tapi tetap saja, Val adalah seseorang yang pantang menyerah bahkan dengan perasaannya sendiri. Luar biasa anak ini, sekali lagi aku salut, risiko yang tidak bisa kuambil terhadap perasaanku sendiri. Aku masih mendengarkan.
“Kalo usia kakak ada preferensi nggak?”
“Hmmm… bebas si, yang penting klik aja dan yaudah kalau jodoh!” jujur Val, penjelasanku bisa panjang kali lebar jika ditanya perihal itu. Aku sungguh suka menjelaskan, mengamati, dan menelaah perasaan. Tapi soal menjalani itu hal lain yang sampai sekarang aku tidak punya nyali.
Aku mencoba membaca bagaimana kamu menilai sebuah perasaan dan hubungan itu.
“Lu tuh nyari apa sih sebenarnya dalam sebuah hubungan?” tanyaku tanpa aba-aba. Jika sedari tadi kita mengobrolkan perihal hubungan dan perasaan maka kita harus sadar dan tahu apa yang sebenarnyan kita cari dari hal itu. Definisi yang harusnya menjadi pondasi mengapa dan kenapa atau bagaimana kita akan bertindak atas kejadian/risiko apapun kedepannya. Tanpa itu, hati akan mudah diluluhlantahkan kenyataan, Val.
Aku mengingat, kamu tidak banyak mengatakan apapun. Kamu sungguh masih muda dalam hal perasaan dan belum banyak mencari tahu tentang itu bukan? Aku tidak bisa menjadi penunjuk arah perasaanmu, Val. Kamu harus menemukannya sendiri, karena hanya kamu yang tahu dirimu dan apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Aku tidak benar-benar mengingat percakapan sore itu, hingga banyak sekali kalimat yang terputus, mungkin juga karena tidak bermakna. Hanya satu bagian,
“Kalau sama yang lebih muda kakak ada batas ngga?”
“Kalau sama yang 2005 gitu? Kayak pacaran sama anak bachelor? Hehe..!“
Aku menggeleng dan berpikir, mungkin tidak. Terlalu muda.
“Kak, kalau kita berdua pacaran gimana?”
Aku tertawa. Keras! Sialan!! Kenapa aku tertawa! Sungguh itu mungkin pertanyaan konyol yang tidak bisa dijadikan pertanyaan sore itu.
“Yahh diketawain!!” katamu, dua atau tiga kali.
“Apalah Val, pertanyaanmu!” kataku sembari menahan lucu dan entah perasaan apa yang mulai menggelayut dalam hatiku. Aku mencoba memilah memilih benih ini sendiri untuk bisa tumbuh, yang pasti bukan perasaan yang kamu maksud saat itu, Val.
Ah sialan! Benih itu kutaruh mana tadi! Persahabatan rupanya terselip jauh masuk ke dalam. Hilang.
… tbc
메타데이터
- post_id
- e6f2e31c4918
- slug
- kotak-cahaya-e6f2e31c4918
- url
- https://medium.com/@itsdibah/kotak-cahaya-e6f2e31c4918
- canonical_url
- https://medium.com/@itsdibah/kotak-cahaya-e6f2e31c4918
- author_url
- https://medium.com/@itsdibah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 15:33:18