← Back to list

Perlawanan Sultan Nuku dari Tidore

Oleh Mr. D

Kumpulan Artikel Omongin Sejarah (KAOS) · 2022-11-12 05:22 · 0 claps · 12.6 min read
#sejarah #sejarah-indonesia #tidore #kerajaan #maluku
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Perlawanan Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore

Gambar 1. Wajah dari Sultan Nuku (Sumber: Ceknricek.com).

Gambar 1. Wajah dari Sultan Nuku (Sumber: Ceknricek.com).

Oleh Mr. D

Wilayah Maluku mendapatkan pengaruh dari agama Islam melalui para pedagang atau mubalig yang berdagang dan menetap di Maluku sejak abad ke-15 (Kutoyo, Sutrisno, 1977). Wilayah yang lebih awal terpengaruh oleh Islam adalah wilayah utara dimana Kesultanan Ternate dan Tidore berada. Namun, dalam masalah penyebaran agama Islam, beberapa ahli mengemukakan beberapa perbedaan pendapat. Terdapat ahli yang menegaskan jika suatu daerah baru terpengaruh oleh agama Islam jika sudah ada yang memeluk agama tersebut baik itu individu lokal atau beberapa orang asing. Lalu ada yang mengatakan harus ada beberapa kelompok atau individu lokal yang menganut agama Islam. Yang terakhir menjelaskan jika harus ada sebuah lembaga yang menaungi penyebaran dari agama Islam tersebut (Thalib, Usman, 2012). Namun yang pasti, agama Islam pada akhirnya tetap masuk dan bahkan menjadi agama yang cukup dominan di wilayah Maluku.

Proses “Islamisasi” di Maluku terbagi menjadi dua bentuk. Pertama, adalah melalui jalur “atas” yang berarti upaya “Islamisasi” dilakukan oleh para pedagang. Kedua, adalah melalui jalur “bawah” yang mereferensikan proses “Islamisasi” melalui kekuasaan dari para penguasa lokal (Thalib, Usman, 2012).

Daya tarik dari pulau Maluku adalah komoditas yang mereka jual yaitu cengkeh dan pala. Hal ini membuat bandar-bandar perniagaan di sana menjadi sangat ramai bahkan sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Maluku. Para pedagang Cina, Arab, dan India menjadi beberapa contoh dari pedagang asing yang telah hadir sebelum terjadinya ekspedisi orang Eropa ke Dunia Timur. Bahkan, beberapa masyarakat di kota-kota utama Maluku telah mampu menguasai dan menggunakan huruf-huruf Arab sebelum mereka diajarkan huruf latin oleh bangsa Portugis (Thalib, Usman, 2012). Terdapat juga laporan Tome Pires jika terdapat penduduk di wilayah Maluku yang masih menganut kepercayaan lokal meski telah hadir beberapa pemukiman muslim seperti di Salamon, Lontar dan Komber (Notosusanto, Nugroho, 1984). Daerah Hitu kerap dianggap sebagai wilayah awal dari penyebaran agama Islam di Maluku sebelum meluas ke wilayah lainnya pada tahun 1500. Hal ini lambat laun mengubah corak sistem politik dan kultural di Maluku yang melahirkan kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore yang menggabungkan hukum syariat Islam dengan hukum adat. Selain itu, pembangunan masjid juga diperluas meski dalam konstruksinya masih memakai model bangunan setempat yaitu memiliki atap yang bersusun (Kutoyo, Sutrisno, 1977).

Sejarah Terbentuknya Kesultanan Tidore dan Masuknya Bangsa Eropa ke Tidore

Sebelum Islam masuk ke wilayah Maluku, Kesultanan Tidore telah berdiri sejak abad ke-11. Menurut beberapa sumber, yang memeluk agama Islam untuk pertama kalinya adalah Raja Ciriati yang leluhurnya merupakan pemeluk agama Syamman, sebuah kepercayaan tradisional di sana. Setelah masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Jamaludin (Rusdiyanto, vol.3, no.1, ). Mualaf-nya Jamaludin ternyata mendapatkan dukungan dari pihak internal kerajaan yang kemudian memfokuskan diri pada pembangunan berbagai madrasah-madrasah di Tidore. Setelah kematiannya, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan Mansyur. Sosok ini yang menerima kedatangan bangsa Eropa untuk pertama kali di Tidore yaitu bangsa Spanyol.

Rombongan dari Spanyol tersebut membawa berbagai benda-benda yang dipersembahkan kepada sang sultan. Mulai dar jubah, kursi Eropa, kain sutra, linen halus, kain India dengan bordiran emas dan perak dan benda-benda berharga lainnya adalah hadiah bagi Sultan Mansyur. Persembahan ini membuat sang sultan menjadi gembira dan mempersilahkan bangsa Spanyol untuk berdagang dan bermukim di Tidore. Bahkan, ia juga memberitahu ke mereka untuk menganggap wilayah Tidore sebagai wilayah mereka sendiri. Setelah itu, mereka juga dijamu oleh sultan untuk menghadiri makan bersama di istananya bahkan setelah itu ikut membantu proses pendirian kantor dagang orang Spanyol di Tidore (Rusdiyanto, vol.3, no.1, ).

Namun, Kesultanan Tidore ternyata sempat mengajak bangsa Portugis untuk menjalin hubungan kerja sama dengan mereka. Pada saat itu, Tidore sedang berseteru dengan Kesultanan Ternate. Pertentangan keduanya disebabkan oleh niat dari Permaisuri Nukila dari Tidore untuk menyatukan kedua kesultanan tersebut yang akan dipimpin oleh salah satu dari kedua anaknya. Namun, gagasannya ditentang oleh Pangeran Taruwase yang merupakan adik dari Sultan Bayanullah yang merupakan Sultan Ternate yang wafat pada tahun 1511. Akhirnya, perang saudara pun meletus dan Portugis memilih mendukung Pangeran Taruwase. Hasil dari peperangan ini dimenangkan oleh pihak Pangeran Taruwase dengan Portugis yang memakan korban jiwa yaitu Permaisuri Nukila bersama anaknya, Pangeran Hidayat. Meski Taruwase menang, sayangnya Portugis malah menyingkirkannya dan digantikan oleh Pangeran Abu Hayat yang ironisnya memiliki rasa benci terhadap bangsa Portugis. Akhirnya, ia juga disingkirkan dan digantikan oleh Tabariji. Spanyol yang memilih mendukung Tidore akhirnya meninggalkan Maluku pada tahun 1596 karena memilih untuk memfokuskan diri pada pembangunan koloni di Luzon (Widjojo, Muridan, 2013).

Gambar 2. Peta dari Kesultanan Ternate dan Tidore (Sumber gambar: Widjojo, Muridan, 2013)

Gambar 2. Peta dari Kesultanan Ternate dan Tidore (Sumber gambar: Widjojo, Muridan, 2013)

Selain itu, perlawanan terhadap Bangsa Portugis juga dilandasi oleh masalah agama. Hal ini disebabkan karena Portugis sempat melakukan aktivitas misionaris di Tidore yang juga didorong oleh keinginan menguasai Kesultanan Tidore dalam masalah perdagangan. Ini tentunya membuat marah Sultan Tidore saat itu sehingga membuat ia mengobarkan perlawanan terhadap bangsa Portugis (Harun, Yahya, 1995).

Belanda akhirnya mulai memasuki wilayah Maluku pasca mundurnya para pedagang Portugis dari wilayah Antwerp. Pelayaran pertama mereka juga didasarkan oleh ketakutan akan masuknya para pedagang Inggris ke wilayah Maluku. Setelah tiba di sana, Belanda tidak hanya bersaing dengan Spanyol, Portugis maupun Inggris, karena mendapatkan kompetisi juga dari para pedagang Turki, Jawa, Arab, Persia, Gujarat dan bahkan Armenia. Namun, setelah dibentuknya Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur pada tahun 1602, mereka mulai mampu mendominasi wilayah Maluku. Kebebasan yang diberikan kepada VOC melalui Raad van Indie (Dewan Hindia) dan Gubernur Jenderal yang mampu mengambil keputusan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Staten Generaal di Belanda, menjadi faktor utama dari kesuksesan mereka (Widjojo, Muridan, 2013). Mereka ini yang mengusir kekuatan-kekuatan Eropa lainnya termasuk Portugis yang kehilangan Malaka pada tahun 1641.

Belanda akhirnya terlibat konfrontasi langsung dengan Portugis di Maluku pada tahun 1605 setelah merebut benteng mereka di Ambon. Tidak hanya itu, koalisi antara Ternate-Belanda juga melakukan serangan terhadap orang Portugis yang berada di Tidore. Serangan ini dimenangkan oleh mereka karena kekuatan militer Portugis saat itu tidak sebanding dengan Belanda. Namun, Ternate ternyata mendapatkan serangan dari Spanyol yang bergabung dengan Tidore pada tanggal 26 Maret 1606 dan membuat Sultan Said serta pemerintahannya melarikan diri ke Manila. Tapi kesuksean tersebut tak bertahan lama sebab Ternate mendapatkan bantuan dari Belanda yang mendirikan benteng-benteng di berbagai wilayah seperti di Malayu, Tolokku, Takome dan Kalamata. Kontak senjata juga terjadi di antara kedua belah pihak yang salah satunya terjadi di Halmahera pada tahun 1608. Secara keseluruhan, konflik bersenjata tersebut dimenangkan oleh Belanda dan Ternate karena diuntungkan oleh faktor keunggulan persenjataan. Kemenangan ini yang membuat Belanda mampu mengukuhkan kekuasaannya di Maluku setelah mengalahkan Portugis dan Spanyol.

Gambar 3. Foto dari Benteng Tolukko milik Belanda (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Gambar 3. Foto dari Benteng Tolukko milik Belanda (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Tidore lalu menjalin hubungan resmi dengan Belanda pada tahun 1657 saat Sultan Saifuddin mengirimkan surat kepada Simon Cos, Gubernur Belanda di Ternate. Hal ini yang melahirkan kontrak tertulis yang mewajibkan Tidore untuk mendapatkan izin dari Gubernur ketika melakukan pelayaran, menghancurkan semua tanaman cengkeh dan pala yang tumbuh di wilayah mereka serta Sultan Tidore diwajibkan melakukan pembayaran sebesar 3.000 real per tahun (Widjojo, Muridan, 2013). Intervensi Belanda ini yang membuat di kemudian hari lahir seorang tokoh yang akan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Tokoh tersebut kita kenal sekarang dengan nama Sultan Nuku yang dijuluki The Lord of Fortune.

Awal Mula Perseteruan dengan Belanda

Setelah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, Belanda akhirnya mampu menancapkan pengaruhnya di Maluku pasca mengusir Portugis di abad ke-XVI. Namun, mereka ternyata memiliki orientasi yang berbeda dengan Spanyol atau pun Portugis. Hal ini dikarenakan mereka lebih menyempitkan diri pada hal perniagaan saja sehingga tidak terlalu mementingkan misi penyebaran agama. Ini diperjelas dengan data yang menunjukan di antara tahun 1605 sampai 1675, gereja-gereja Belanda tidak memiliki aktivitas intens untuk menyiarkan agama (Luhulima, 1973). Belanda juga memindahkan pusat perdagangan rempah-rempah ke wilayah Maluku Tengah guna menghindari perseteruan dengan pedagang Inggris, Spanyol atau penduduk lokal setempat dari Maluku Utara. Mereka juga memindahkan negeri-negeri dari wilayah gunung ke pantai kecuali pulau Ambon serta menerapkan kebijakan Hongitochten guna memberangus pihak-pihak yang melanggar perjanjian mengenai monopoli rempah-rempah. Dalam memastikan hal tersebut, mereka menggunakan perahu kora-kora yang dilengkapi dengan awaknya yang diambil dari masyarakat lokal dan akan dipimpin oleh gubernur di Ambon (Luhulima, 1973). Hal ini yang menegaskan jika Belanda memang sungguh-sungguh ingin menancapkan dominasinya di wilayah Maluku sejak abad ke-16.

Tidore yang sebelumnya telah menjalin hubungan dagang dengan Belanda pasca diusirnya Spanyol, kini mulai berbalik melawan Belanda. Hal ini diawali dengan tuntutan Belanda akan ganti rugi akibat dijarahnya kapal-kapal mereka oleh para perompak dari Tidore sebesar 50.000 Ringgit. Namun, Sultan Tidore saat itu yaitu Sultan Djamaluddin, menolak hal tersebut. Alasannya adalah kapal-kapal mereka juga mengalami kerusakan yang sama akibat ulah para perompak tersebut. Akhirnya, hal ini diselesaikan dengan perundingan antara kedua belah pihak dimana Belanda menuntut wilayah Seram Timur sebagai ganti dari uang 50.000 Ringgit (E. Katoppo, 1957). Tuntutan ini mendapatkan penolakan yang keras dari anak Sultan Djamaluddin yaitu Pangeran Nuku. Ia beranggapan tidak dijelaskannya kapan waktu penyerahan daerah tersebut. Namun, sang sultan akhirnya menjelaskan kepada Nuku jika waktu yang diberikan adalah 20 tahun.

Pada akhirnya, Sultan Djamaluddin ditangkap karena dianggap telah melanggar kontrak tertulis mengenai monopoli perdagangan oleh Belanda sebab terdapat orang Inggris bernama Forrest yang membeli bibit-bibit pala dari Tidore. Inggris memang telah cukup lama berada di Maluku tepatnya di Pulau Banda yang lebih suka berbisnis dengan orang Inggris. Alhasil, Sultan Djamaluddin beserta Kaitjil Garomahongi serta Sultan Bacan ditangkap atas perintah dari Gubernur Thomaszen dari Ternate di tahun 1779 (E. Katopopo, 1957). Mereka bertiga diadili di Batavia oleh pemerintah pusat dimana Kaitjil Gaydjira diangkat menjadi wali raja (regent) sementara di Tidore. Penangkapan ini mendapatkan protes keras dari Nuku. Saudara dari Sultan Djamaluddin yaitu Patra Alam lalu diangkat menjadi sultan Tidore yang baru pasca mangkatnya Djamaluddin di Batavia. Nuku memprotes hal ini karena menganggap pengangkatan pamannya adalah bentuk dari kelicikan Belanda agar bisa mengontrol Tidore. Hal ini membuat Patra Alam merasa terancam lalu menyerang rumah Nuku dan saudaranya yang bernama Kamaluddin. Kamaluddin berhasil ditangkap sedangkan Nuku mampu meloloskan diri ke wilayah Patani bersama dengan istri, anak dan beberapa pengikutnya yang setia seperti sekretarisnya yang bernama Ismail (E. Katopopo, 1957). Dari pengasingan tersebut, Nuku mulai membangun siasat untuk merebut kembali Tidore dari tangan pamannya. Namun, Nuku harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik sesuai dengan nasihat almarhum ayahnya. “Nuku, dengarkan baik-baik. Kalau kau mau mengangkat senjata dan melawan Belanda, persiapkan dulu alat-alat senjata dan perlengkapan. Jangan terburu nafsu”.

Meletusnya Perlawanan Melawan Belanda

Setelah tersingkir dari Tidore, Nuku mulai melakukan konsolidasi kekuatannya dengan berbagai cara. Ia memerintahkan anak buahnya untuk memberikan kabar-kabar dari Ternate dan Tidore secepat mungkin agar masuk ke dalam markasnya, membentuk kelompok spionase ke dalam Tidore dan Ternate, menentang segala bentuk kebijakan ekstirpasi, mengutus delegasi ke wilayah Seram Timur dan sekitarnya untuk menjalin aliansi dan membangun benteng yang kuat di wilayah Patani (E. Katopopo, 1957). Peperangan pun mulai berkobar di antara pihak Nuku melawan Patra Alam yang didukung Belanda pada tahun 1781.

Kemenangan pun mulai berpihak ke pihak Nuku. Ia juga berhasil menawan tentara Belanda yang membuat Belanda marah. Namun, Patra Alam menegaskan jangan sampai menggunakan kekerasan dalam upaya membebaskan tawanan. Nuku juga mengingatkan agar tidak membunuh satu pun tawanan yang ada. Para tawanan tersebut dilepaskan kembali ke Ternate setelah mengalami kerja paksa agar orang Belanda mengetahui pengaruh besar Nuku di di pulau-pulau Papua (E. Katopopo, 1957). Tawanan tersebut juga diperintahkan untuk mengabarkan mengenai niat dari Nuku untuk menyerang wilayah Bacan, Ternate dan Tidore. Ia juga mendapatkan pengakuan dari wilayah Waru, Rarakit, Guliguli, Klimuri, Geser, Gorong dan Tior. Para bajak laut dari Teluk Cenderawasih, Papua sendiri menyatakan keberpihakannya dengan Nuku dalam perjuangan melawan Belanda yang menjadi faktor dari kesuksesan kampanye militernya.

Gambar 4. Penampakan atas dari ibukota Kesultanan Tidore yaitu Soa Sio (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Gambar 4. Penampakan atas dari ibukota Kesultanan Tidore yaitu Soa Sio (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Namun pada tahun 1790, Nuku mendapatkan perlawanan dari Kamaludin, Gubernur Ternate, Ambon dan Banda. Patra Alam ternyata telah digantikan oleh saudaranya Kamaludin karena dianggap telah melanggar kesepakatan dengan Belanda yaitu menjual rempah-rempah tanpa seizin Belanda ke pihak lain. Batavia telah menegaskan bahwa Nuku perlu ditangkap atau dibunuh dengan berbagai cara baik dengan tipu muslihat atau dengan kontak senjata langsung. Tahun 1790 juga menjadi masa-masa sulit bagi Nuku karena selain lawan-lawannya mulai menyatukan kekuatan, wilayah-wilayah yang sebelumnya menyatakan kesetiaannya pada Nuku seperti Weda, Patani, Maba dan Gebe mulai berpihak kepada Belanda. Hal ini dikarenakan terjadi pergantian kepala suku mulai berpihak kepada Kamaludin dan Belanda. Ia juga kehilangan dua orang adiknya, dikhianti oleh bobato-bobatonya, bantuan dari Mindanao yang tidak terlalu mencukupi kebutuhannya serta Inggris yang masih ragu-ragu untuk membantu perjuangannya. Namun, ia pada akhirnya mampu membalikan keadaan pasca meraih kemenangan di Gorong. Kemenangan ini disebabkan oleh basahnya mesiu Belanda karena terkena air hujan serta adanya sambaran kilat dan petir di malam yang gelap. Sontak hal ini membuatnya diberi julukan Tuan Babakat oleh para pengikutnya karena senantiasa dilindungi oleh Tuhan YME (E. Katopopo, 1957).

Pada tahun 1796, Nuku mulai melakukan upaya penyerbuan ke wilayah Maluku Utara. Ia mengirimkan surat kepada Sultan Kamaludin yang kemudian diberikan ke gubernur yang ia tidak baca terlebih dahulu. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Nuku telah bersekutu dengan Inggris yang telah diberikan bantuan amunisi yang lengkap dan mengajak Kamaludin untuk bersekutu dengannya (Widjojo, Muridan, 2013). Hal ini membuat pihak Belanda mulai memperkuat pertahanannya dengan mengirimkan bantuan ke Benteng Kayu Merah dan Benteng Tolukko. Sultan Ternate juga ditangkap oleh Belanda karena dicurigai akan berkhianat ke pihak Nuku. Akhirnya, Belanda mengangkat Pangeran Sarkan dengan gelar Paduka Sri Maha Tuan Sultan Nur Arifin Wahuwa Sayidina Muhidin Sah Kaicil Sarkan untuk menjadi Sultan Ternate yang baru pasca dibuangnya Sultan Aharal. Sebelumnya, 3 pangeran Ternate telah mengirimkan surat untuk mengundang Nuku ke Ternate (Widjojo, Muridan, 2013). Akhirnya, Nuku melakukan serangan terhadap Bacan setelah mendapatkan bantuan dari Inggris yang dilengkapi dengan 50 kapal besar dan kecil. Proses penaklukan ini memakan waktu seminggu dimana pasukan Nuku melakukan pembakaran dan pembunuhan di desa-desa Kristen di sana.

Penaklukan Tidore dan Penyerangan ke Ternate

Setelah itu, Nuku mulai melancarkan kampanye militer ke Tidore yang dilengkapi dengan 70 perahu kora-kora pada tanggal 12 April 1797. Sultan Kamaludin lalu melarikan diri ke Ternate bersama dengan garnisun Belanda. Nuku juga melakukan penjarahan terhadap bubuk-bubuk mesiu di sana dan menghancurkan pos-pos militer Belanda. Selain itu, pada malam harinya, 3 kapal dari Ternate yang berisikan orang Tidore mulai memasuki Tidore untuk bergabung dengan Nuku (E. Katopopo, 1957). Hal ini diperparah dengan pernyataan dari Kamaludin jika para bangsawan Tidore sudah tidak menginginkan ia menjadi sultan dan menghendaki agar Nuku segera diangkat menjadi Sultan Tidore yang baru (Widjojo, Muridan, 2013). Bahkan, Nuku ternyata mendapatkan dukungan dari orang Ternate yaitu Mohammad Arif Bila yang merupakan Perdana Menteri Ternate. Ia akhirnya ditahan karena dicurigai akan memimpin sebuah pemberontakan melawan Belanda pada tahun 1796. Arif Bila juga berperan penting dalam pemberian informasi terhadap Nuku dari Tidore dan kelak ikut bergabung dengannya dalam kampanye militer ke Tidore pada tahun 1797 (Widjojo, Muridan, 2013). Akhirnya, Sultan Nuku diangkat menjadi Sultan Tidore dengan gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Said’ul Djehad Muhamad el Mabus Amirudin Sjah Kaicil Paparangan, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya. Ia juga memecat Kamaludin dari jabatannya sebagai kaicil Tidore karena dianggap telah menjadi kaki tangan dari pihak Belanda serta tidak menunjukan sikap sebagai seorang bangsawan Tidore (E. Katopopo, 1957).

Setelah itu, Sultan Nuku mulai melancarkan serangan balasan ke Ternate pada tahun 1798. Ia mencoba melobi Inggris untuk membantu upaya penyerangan ke Ternate meski pada awalnya tidak mendapatkan jawaban yang tegas. Sambil menunggu balasan, Nuku dan para pedagang keliling Inggris beserta rakyatnya di Halmahera mulai melakukan upaya pemotongan suplai pasokan dari Batavia dan daerah lainnya ke Ternate. Inggris akhirnya menerima ajakan dari Nuku karena ketakutan mereka jika mereka menolak, maka Nuku akan berkoalisi dengan Belanda untuk mengusir mereka dari Maluku. Ternate pun dikepung oleh Inggris dan pasukan Tidore selama 2 bulan sampai akhirnya mereka menyerah pada tanggal 21 Juni. Inggris sangat berterima kasih kepada orang Tidore karena dianggap menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka dalam menyerang Ternate (Widjojo, Muridan, 2013). Akhirnya, ditandatangani sebuah traktat pada tanggal 12 November 1801 dimana Inggris menobatkan Sultan Nuku. Isi traktat tersebut berupa pengakuan dari Inggris jika Nuku telah menjadi sultan yang sah di Tidore, Tidore juga akan menjalin hubungan diplomatik yang harmonis dengan Inggris yang saat itu dibawah pimpinan Raja George III dan Tidore sendiri akan mendapatkan uang sebesar 6.000 Dollar Spanyol per tahun sebagai bentuk pengakuan dari pemerintah Inggris

Namun, traktat tersebut dibatalkan pasca disepakatinya Traktat Amiens pada tahun 1802 dimana Belanda akan kembali lagi ke wilayah Hindia Timur setelah kehilangan wilayah tersebut. Proses pengembalian ini akan dilakukan selama 6 bulan dan membuat status Nuku sebagai sultan yang merdeka menjadi tidak berlaku. Akhirnya, ia kembali menghadapi musuh lamanya. Gubernur Cranssen akhirnya kembali ke Ambon yang merupakan lawan dari Sultan Nuku saat peperangan antara Tidore dan Ternate berlangsung. Hal ini juga ditegaskan dengan sikap Nuku yang masih mengibarkan bendera Inggris di ibukota Tidore yaitu Soa Sio setelah kepergian orang Inggris dari Maluku (Widjojo, Muridan, 2013).

Namun, Sultan Nuku akhirnya mengirimkan surat ke Gubernur Cranssen yang berisi jika ia meminta maaf soal sikapnya yang mengibarkan bendera Inggris di Tidore. Meski demikian, ia meminta berbagai syarat berupa dipulihkannya kerajaan Jailolo, diberikan status yang lebih tinggi bagi Tidore, penduduk Makian dan ribuan penduduk Ternate dipersilahkan untuk memilih rajanya sendiri serta ia meminta uang sebesar 8.000 Rix-Dollar yang lebih besar dari yang diterima Ternate. Syarat-syarat ini kemudian dibahas pada tanggal 20 Agustus 1803 oleh Belanda (Widjojo, Muridan, 2013). Cranssen merasa keberatan pada poin: “Hak memilih bagi masyarakat Makian”, tetapi memberikan amnesti kepada Nuku dan bangsawan Tidore lainnya. Namun, Cranssen ternyata digantikan oleh Goldbach yang menginginkan peningkatan hubungan di antara kedua pihak dan mengajak Nuku untuk menemuinya di Benteng Kayu Merah. Pertemuan ini sayangnya mengalami kegagalan karena terjadi badai yang membuat Goldbach dan Nuku jatuh sakit. Setelah itu, upaya negosiasi antara keduanya kerap mengalami jalan buntu walaupun Gubernur Jenderal Siberg sempat menyurati Nuku yang berisi ajakan untuk bersahabat meski tuntutannya tidak dikabulkan.

Gambar 5. Kuburan Sultan Nuku (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Gambar 5. Kuburan Sultan Nuku (Sumber: Widjojo, Muridan, 2013).

Nuku juga membela sikap Jailolo yang melancarkan serangan pada wilayah Ternate demi merebut kembali wilayah mereka yang dikuasai oleh Ternate pada tahun 1551. Nuku menegaskan jika Belanda tidak perlu ikut campur soal hal tersebut karena ini bukan masalah mereka. Ia juga menolak intervensi yang dilakukan oleh Belanda dalam urusan internal Tidore yang bertentangan dengan adat di sana seperti pengangkatan ketua oleh Belanda.

Sultan Nuku akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 14 November 1805. Ia lalu digantikan oleh Pangeran Zainal Abidin (Widjojo, Muridan, 2013). Setelah itu, Tidore mulai mengalami kemunduran setelah sempat berjaya di era pemerintahan Sultan Nuku.

Referensi

E. Katoppo. (1957). Nuku. Bandung: Kilatmaju Bina Budaya.

Kutoyo, Sutrisno (ed), dkk. 1977. Sejarah Daerah Maluku. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Luhulima. (1973). Bunga Rampai Sejarah Maluku. Jakarta: Lembaga Penelitian Sejarah Maluku.

Notosusanto, Nugroho, dkk. (1984). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusdiyanto. (Juni 2018). Kesultanan Ternate dan Tidore. Journal of Islam and Plurality Vol. 3, No.1. Manado: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.

Thalib, Usman. (2012). Sejarah Masuknya Islam di Maluku. Ambon: BPSNT Ambon.

Yahya, Harun. (1995). Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI & XVII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera.

Widjojo, Muridan. (2013). Pemberontakan Nuku. Depok: Komunitas Bambu.


메타데이터
post_id
e7510cdbd567
slug
perlawanan-sultan-nuku-dari-tidore-e7510cdbd567
url
https://medium.com/@podkeskaos/perlawanan-sultan-nuku-dari-tidore-e7510cdbd567
canonical_url
https://medium.com/@podkeskaos/perlawanan-sultan-nuku-dari-tidore-e7510cdbd567
author_url
https://medium.com/@podkeskaos
status
ok
fetched_at
2026-07-26 11:53:40