CUITAN CENDEKIA: Yang Dikangenin dari IC Selama Liburan
Kata mereka tentang apa yang dirindukan
CUITAN CENDEKIA: Yang Dikangenin dari IC Selama Liburan
Liburan terasa terlalu cepat berlalu dan dengan waktu yang terlalu singkat, apa lagi jika dibandingkan dengan padatnya kegiatan dalam satu semester. Akan tetapi, bukan berarti tidak ada yang bisa dirindukan dari MANICS selama waktu jauh dari kampus ini.
Kalau ditanya, “apa yang kamu kangenin dari IC selama liburan ini?” Jawabannya …
“Perpustakaan yang lengkap banget itu, si.”
Kalau di rumah, baru sebentar saja, bacaan sudah habis semuanya. Beda kalau di IC, kelar baca buku langsung aja ke perpus, koleksinya melimpah ruah! Kita tidak akan kehabisan pilihan buku untuk dipinjam di sana, dari ensiklopedia hingga novel remaja, semuanya ada. Belum lagi tempatnya, duh, harus hati-hati agar tidak terbawa ke alam mimpi, saking nyamannya. — Syams XI-7
“Yang ga sepatutnya dikangenin, huru hara sibuknya.”
Tension buat terus produktif dan sibuk tuh rasanya ga bakalan ditemuin kalo keluar dari lingkungan IC. Lama-lama kamu gak akan kuat jadi orang pengangguran, kamu bakal terbiasa buat nikmatin perasaan ‘kesulitan belajar’ yang jadi sumber stress tiap harinya karena kamu ngerasa butuh keberadaan pressure itu. — Firda XI-2

Foto oleh Syauqi XI-4
“Yang paling berkesan.”
Baru kemarin MATSAMA, eh, udah kelas sebelas aja. Aduh, sedikit-sedikit tugas, organisasi, tugas lagi, lho, kok sumatif, organisasi lagi, begitu terus. Itu yang ada di pikiran orang-orang jika diminta membayangkan hal-hal apa saja yang akan terjadi di kelas sebelas. Padahal, kelas sebelas bisa menjadi masa yang paling asyik dan waktu untuk mengenal diri sendiri dan lingkungan sekitar lebih dekat.
Jadwal memang terlampau padat, tapi di dalamnya ada jutaan kesenangan. Senang untuk beradaptasi, senang mempelajari banyak hal baru, senang mencoba, atau bahkan senang karena sekadar bisa bertemu orang-orang spesial di dalamnya. — Irien XI-4
“Jalan kaki malam-malam bareng teman setelah jam CSA.”
Hal yang paling aku rindukan dari IC adalah jalan kaki bersama teman setelah jam CSA. Setelah berjam-jam tenggelam dalam tugas dan cahaya layar, berjalan ke gerbang depan untuk mengambil laundry atau sekadar ke ATM bersama teman-teman selalu terasa seperti mengambil napas panjang setelah hari yang melelahkan. Di sepanjang jalan, ada obrolan yang melompat ke mana-mana, keluhan tentang tugas yang tak kunjung usai, dan tawa yang lahir dari hal-hal paling sederhana. Mungkin yang aku rindukan bukan gerbang depan atau mesin ATM itu sendiri, melainkan jeda kecil di tengah padatnya hari. Memang, itu hanya kegiatan sederhana, namun memberikan kenangan yang bermakna. — Anis X-1
“Yang katanya sederhana.”
Di antara limpahan waktu luang yang perlahan menggantikan riuhnya kesibukan, kerap kali terdengar suara-suara yang menggema di benak. Tak ayal tak bukan, riuh tawa obrolan sederhana yang kita bagi bersama. Awalnya dikira hanyalah bayang-bayang yang sesekali datang menyapa, namun seiring waktu, tanpa sadar ia memenuhi ruang-ruang pikiran. Mungkin benar, rindu itu telah tumbuh, teman. Rindu pada canda di antara dentang jarum angka dua belas, cerita hangat tentang hari, keluhan tugas dan pelajaran yang begitu melelahkan, juga gosip yang berembus entah benar tidaknya. Teman, pada akhirnya bukan hal besar yang paling membekas, melainkan momen-momen kecil yang kita lalui bersama, menetap di hati, betapapun jauhnya liburan ini membawa kita. — Nuhaw X-6
“Makan siang hari ini apa, ya?”
Di saat bel berbunyi, mungkin pertanyaan pertama yang dilontarkan beragam, namun pertanyaan itu cukup sering didengar di sini. Berjalan bersama teman teman di siang hari sudah menjadi rutinitas untuk bertanya, apakah makan siang hari ini ayam mentega? Atau rawon? Tapi perbincangan kecil itu ternyata menghangatkan, lelah belajar di jam pelajaran sebelum istirahat pun sirna — Naura XI-5
“Vibes IC itu, si.”
Kalau ditanya apa yang paling dirindukan dari IC saat liburan, jawabannya bukan gedung atau fasilitasnya, melainkan orang-orangnya. Di IC, aku bertemu dengan orang-orang yang punya cara berpikir unik, sudut pandang yang beragam, dan pendirian yang kuat. Dari obrolan sederhana saja, selalu ada perspektif baru yang bisa dipelajari. Rasanya menyenangkan berada di lingkungan yang sehat dan saling mendukung untuk terus berkembang, sesuatu yang akhir-akhir ini tidak mudah ditemukan.
Tidak hanya belajar ilmu dunia, suasana islami di IC juga menjadi hal yang paling dirindukan. Lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan membuat kita lebih semangat untuk memperbaiki diri dan membantu menjaga diri dari hal-hal yang kurang baik. Mungkin itu yang membuat IC terasa seperti rumah kedua: bukan hanya karena tempatnya, tetapi karena orang-orang dan suasananya. — Ridho XI-5
Setiap dari kami punya isi hati yang berbeda tentang apa yang paling dirindukan, tapi satu hal yang pasti adalah semangat kami untuk terus belajar di sini dan melambung jauh setelahnya tidak akan pernah padam!
메타데이터
- post_id
- e780e265ebda
- slug
- cuitan-cendekia-yang-diangenin-dari-ic-selama-liburan-e780e265ebda
- url
- https://medium.com/cendekia-broadcasting-club/cuitan-cendekia-yang-diangenin-dari-ic-selama-liburan-e780e265ebda
- canonical_url
- https://medium.com/cendekia-broadcasting-club/cuitan-cendekia-yang-diangenin-dari-ic-selama-liburan-e780e265ebda
- author_url
- https://medium.com/@cbcartikel
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 20:12:56