← Back to list

I’m tired…

Kak Khavii sampai ketika hujan mulai reda. Ketika kami sedang berbicara perihal kemungkinan yang terjadi setelahnya. Ia menjadi pusat…

𝐘𝐒. · 2023-06-16 14:05 · 2 claps · 2.0 min read
#yujin #ali #zombies #apocalypse #zb1-au
Open on Medium ↗

I’m tired…

Kak Khavii sampai ketika hujan mulai reda. Ketika kami sedang berbicara perihal kemungkinan yang terjadi setelahnya. Ia menjadi pusat perhatian dengan pergerakannya yang patah-patah dan seseorang yang ia bopong di punggungnya.

“Khavii?” Ko Hao yang menghampirinya terlebih dahulu. Dengan wajah keheranan dan khawatir yang jelas sekali tergurat di wajahnya.

Bang Khavii — Air matanya terus-menerus mengalir. Ia tak berbicara apapun, hanya fokus menggendong tubuh Kak Riki yang berlumuran darah, kemudian ia baringkan di tanah.

“Bro Riki?” Kami keheranan sekali tatkala melihat seseorang yang kami nantikan kehadirannya, tiba-tiba saja pulang dengan kondisi seperti ini.

“Khavii, apa yang terjadi dengan Riki?” Di saat Ko Hao mulai melemparkan tanya ke arah Bang Khavii, Kak Arka langsung bergegas bergerak menuju ke arah tubuh Kak Riki yang terbaring.

Bersamaan dengan gelengan lemah dan juga tangisan ratapan milik Kak Khavii, Kak Arka memeriksa denyut nadi pada tubuh Kak Riki.

“Riki, telah pergi.”

Kala kalimat itu mengudara, Ko Hao-lah yang paling terpukul. Ia jatuh terduduk, sambil berusaha menggenggam tangan Kak Riki yang telah mendingin.

Bulir tirta bening itu lolos dari pelupuk mata Ko Hao. Seluruh tubuhnya bergetar, menggigil. “Riki… Jangan bercanda. Koko tau kamu baik-baik aja.”

“Riki, jangan begini… Ayo pulang. Kamu sudah berjanji akan pulang bersama Koko akhir tahun ini.”

“Harusnya — harusnya tadi kamu nggak usah pergi. Harusnya Koko nggak kasih kamu izin untuk pergi. Harusnya — ” Ko Hao mulai menangis hebat sambil memeluk kepala Riki. Racauan itu kembali terdengar dari mulutnya. Selama aku hidup bersama Ko Hao baru kali ini aku melihat dia sekacau itu.

Tangisan lain kembali terdengar ketika Bang Ghaza baru bisa memproses apa yang terjadi. Ia baru sadar, bahwa ia telah kehilangan salah satu sahabat terbaiknya.

“Bro… Riki… Ini gue Ghaza. Gue tau lo lagi bercanda. STOP MAIN-MAIN! AYO BANGUN!!” Bang Ghaza merengek sembari menangis. Bak seorang anak yang tak ingin ditinggal oleh sang Ibu.

Semuanya menjadi kacau. Sebagaimana Ko Hao dan Bang Ghaza yang masih berlarut dalam kesedihan. Kak Arka yang sedang menenangkan Kak Khavii yang tengah menyalahkan dirinya sendiri. Bang Gerald yang menangis diam-diam karena ia tak ingin teman-temannya yang lain melihat sisi rapuhnya.

Semuanya hancur.

“Maaf, Ali.”

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Sebuah tangan yang datang entah darimana menutup mataku dan mulai memeluk erat tubuh.

“Maaf di umur kamu yang masih sangat muda kamu harus melihat hal menyedihkan seperti ini.”

Itu, Kak Tara.

“Maaf kamu harus melalui situasi yang berat seperti ini. Kamu nggak perlu berusaha untuk menjadi kuat, kamu nggak perlu menahan air mata hanya karena kamu khawatir abang-abangmu akan kesusahan karenanya. Kamu nggak perlu melakukan itu semua.”

“Menangislah, Ali. Jangan ditahan.”

Aku tidak tahu apakah kalimat milik Kak Tara memiliki arti sendiri atau bagaimana. Pasalnya setelah ia membisikkan mantra tersebut, tanpa diminta air mataku jatuh begitu saja. Dadaku mulai sakit, sesak. Aku menumpahkan segalanya, aku memeluk erat tubuh Kak Tara. Menangis di dalam pelukannya.

Karena aku sudah terlalu letih menahan semuanya sendirian.


메타데이터
post_id
e7aba1d9c7a9
slug
kak-khavii-sampai-ketika-hujan-mulai-reda-e7aba1d9c7a9
url
https://medium.com/@rockzeros/kak-khavii-sampai-ketika-hujan-mulai-reda-e7aba1d9c7a9
canonical_url
https://medium.com/@rockzeros/kak-khavii-sampai-ketika-hujan-mulai-reda-e7aba1d9c7a9
author_url
https://medium.com/@rockzeros
status
ok
fetched_at
2026-07-25 15:44:25