← Back to list

07 | KOTAK MILIK BAPAK.

Yogyakarta — Semarang, 2019

ranulys · 2026-06-16 01:02 · 0 claps · 4.4 min read
#yogyakarta #semarang #kota
Open on Medium ↗

07 | KOTAK MILIK BAPAK.

Yogyakarta — Semarang, 2019

Satu bulan setelah ulang tahunku, satu bulan setelah aku membuka isi kotak hadiah ulang tahun pemberian Bapak — kini usiaku sudah resmi menginjak 22 tahun.

Aku memilih menunggu Mas Nuga di teras rumah Eyang. Kemarin, aku sampai di rumah eyang setelah hampir setengah tahun aku habiskan hari-hariku di tahun ini dengan gemercik kota hujan.

Aku sedang mempertimbangkan diriku untuk tinggal di kota ini atau mengajak Eyang dan kehidupannya berpindah ke kota kelahiranku — kota yang beberapa bulan ini menghadirkan badai dan hujan lebat di dalam rumah kami.

Duka kehilangan Bapak membuatku sedikit terlena dengan kondisi hati Eyang. Uti kekasih hatinya — teman hidupnya yang sebelum Bapak pergi, sudah lebih dulu Tuhan panggil. Aku menjelajahi kenangan dengan Uti yang turut hadir di dalamnya — hingga tak sadar bahwa teh rempah buatannya, sudah 6 bulan ini tidak aku hirup.

Kesedihanku terlihat oleh Mas Sanna yang sudah bertengger dengan setelan santainya di samping mobil Civic berwarna hijau, keluaran tahun 1983. Itu mobil milik Bapak yang dalam isi kotak hadiah ulang tahunku, Bapak memintaku untuk membantunya memberikan mobil itu kepada Mas Sanna, kata Bapak — Mas Sanna bisa membawaku berpergian dengan mobil tersebut.

Aku mulai menerima kehadiran Mas Sanna lebih sering dalam hidupku. Kadang aku merasa tak enak hati karena kehidupan Mas Sanna mesti terganggu dengan hadirnya aku. Aku akan lebih senang jika Mas Sanna hanya menjalani ini karena permintaan terakhir Bapak, namun kenyataannya berbeda.

Pikiranku terus melaju seiring dengan putaran roda mobil yang akan membawa kami menuju kota Semarang — tepatnya menuju rumah Pakde Marinim.

Kami berencana tinggal di sana selama lima hari, entah apa yang dilakukan Mas Sanna sehingga bisa meninggalkan semua kesibukannya di Ibu Kota untuk dapat menemaniku pergi ke rumah orang tuanya.

Mas Sanna belum bertanya mengenai keputusanku yang akhirnya mau menjalani permintaan Bapak untuk menemui Pakde Marinim dan membahas lemari tua itu. Mas Sanna tahu betul bahwa dalam isi suratnya, Bapak tidak memaksaku untuk melakukan ini.

Sedikit kecanggungan ini harus aku lewati selama kurang lebih 4 jam. Sebenarnya Mas Sanna banyak memberikan topik obrolan dan aku pun merasa nyaman menerimanya, hanya saja pertemuanku dengan Mas Sanna yang jarang terjadi membuatku sedikit merasa kikuk.

“Kamu yakin Sirai, urusan lemari Bapak ini tidak akan mengganggumu mempersiapkan wisuda bulan depan?” pertanyaan Mas Sanna terdengar seperti kekhawatiran Bapak yang selalu memastikan diriku menjalani hari tanpa beban. Dulu aku menyukai pergi bersama Mas Sanna yang begitu mirip dengan cara Bapak memperhatikanku. Sekarang rasanya pelipisku selalu bergetar tiap kali merasakan perhatian Mas Sanna padaku.

“Mas — ,” panggilku.

“ — apa sebaiknya Mas Sanna tidak perlu merepotkan diri dengan menjagaku? Aku yakin Bapak tidak akan keberatan, jika memang Mas Sanna kewalahan membawaku sedikit masuk ke dalam kehidupan Mas Sanna.”

Mas Sanna menepikan mobilnya dipinggiran jalan, bisa aku lihat terdapat warung madura tidak jauh dari kami. Mungkin Mas Sanna lebih memilih membeli minum daripada menjawab ucapanku.

“Bahkan sebelum Bapak menitipkanmu pada saya — saya dengan sadar sudah meminta izin pada Bapak untuk ikut menjagamu. Apa pernyataan saya di hari ulang tahunmu kurang jelas?” kalimat itu keluar dari mulut Mas Sanna tanpa nada candaan. Bahkan wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding dengan dosen pengujiku saat sidang.

Pernyataan itu mengisi isi kepalaku, bahkan di alam bawah sadarku suara Mas Sanna terus bersuara, lalu berganti dengan panggilan dari suara yang sama. Aku menahan teriak, menahan makianku untuk meminta pemilik suara tersebut diam.

Tak kunjung redam, suara itu kian menarik diriku untuk kembali. Terperanjat — ternyata Mas Sanna sedari tadi berusaha membangunkanku yang terlihat tertidur nyenyak, namun kenyataannya suara pria itu terus mengganggu dalam tidurku.

“Apa ucapan terakhir saya membuatmu tertidur begitu nyenyak?”

Pertanyaan itu seperti sesuatu yang memalukan bagiku. Tak ingin menjawab, aku memilih untuk turun dari mobil tanpa menunggu ajakan Mas Sanna. Manusia satu itu kerap kali bertingkah menyebalkan dan aku terkadang membenci itu — karena gilanya — aku menyukai hal tersebut.

Aku menapaki teras rumah yang terasa tak jauh berbeda dengan rumah Eyang di Jogja. Suasana tradisional Jawa masih begitu kental — aku ingat kalau Pakde Marinim memang sangat mencintai budaya tempatnya dilahirkan. Ini kali keduaku berkunjung, namun bedanya aku melihat Mas Sanna hadir di rumah ini, sedangkan pada kunjungan pertamaku lima tahun yang lalu, aku tidak melihat hadirnya pria itu. Kata Pakde Marinim — Mas Sanna saat itu sedang ada kegiatan sosial bersama teman-temannya.

Matahari hampir menapaki garis hilangnya, aku lihat beberapa ekor ayam milik Pakde Marinim dengan langkah terburu-buru mulai masuk ke dalam kandangnya. Di lain sisi, Mas Sanna masih sibuk mengeluarkan barang-barang milik kami. Rasanya aku ingin membantunya, namun perasaan maluku masih aku prioritaskan.

Pintu gebyok berukir kayu berderit — itu Bude Sintho. Sudah lama aku tidak menghirup wangi melati dari tubuhnya — kali ini aku tidak lupa membawakan wewangian berbau melati yang sudah aku beli dari toko langgananku. Bude Sintho memiliki harum yang sama dengan Ibuk, mungkin lima hari di sini akan terasa seperti sehari berkat itu.

“Nduk?” suara lembut itu mengayun ditelingaku. Aku mendekap erat Bude Sintho, tangannya terasa lembut mengelus suraiku.

Kami saling bertukar senyuman juga rindu. Bude Sintho tak lupa menyampaikan bela sungkawa serta permintaan maaf karena tidak bisa hadir mengiringi kepergian Bapak.

Aku sebenarnya begitu penasaran kenapa Pakde Marinim tidak hadir saat itu, sedangkan untuk alasan Bude Sintho — aku tahu bahwa beliau sedang merawat Ibuknya yang sedang sakit. Nanti akan aku tanyakan langsung pada Pakde — oh tidak, aku berharap Pakde Marinim lebih dulu menjelaskan sebelum aku melontarkan pertanyaan.

“Biyung.” sapa Mas Sanna pada Bude Sintho.

Bude Sintho menerima kecupan kening dari Mas Sanna. “Cah bagus…,” ucap Bude Sintho seraya mengelus bahu tegap putra semata wayangnya. “Sehat Le?” aku mendengar nada kerinduan dari Bude Sintho.

“Sepertinya tidak. Mas merindukan tongseng buatan Biyung,” balas Mas Sanna yang membuatku ingin tertawa. Rupanya sangat tidak cocok dengan ucapannya barusan. Mas Sanna terlihat begitu kaku saat mengucapkan kalimat manis tadi.

“Kamu ini Mas. Malu loh didengar Sirai,” ujar Bude Sintho sedikit melirikku.

Aku sebetulnya tidak lagi terkejut dengan lelucon konyol atau gombalan garing Mas Sanna, pria itu mulai sering menunjukkannya secara terang-terangan kepadaku.

”Sirai sudah biasa Bude,” kataku akhirnya. Namun ucapan Mas Sanna selanjutnya adalah hal yang tidak biasa aku terima.

“Sirai perempuan yang bisa menerima diri saya apa adanya Biyung.”

Demi hujan di bulan ini — terkutuklah mulut pria itu. Apa yang membuat Mas Sanna semakin terus terang mengutarakan isi hati dan pikirannya?

Aku tahu dirinya sudah menyatakan perasaannya padaku di akhir bulan lalu, namun tidak bisakan omongan manisnya itu ia simpan sendiri? Seperti inikah calon suami yang Bapak pilihkan untukku? Padahal aku sudah dengan tegas menjawab — memberikan perasaannya padaku hanya akan menghabiskan banyak waktu dan tenaganya. Aku hanya tidak ingin menyakiti Mas Sanna — karena jika iya, berarti secara tidak langsung, aku turut menyakiti perasaan Bapak.

Mimpiku masih begitu banyak, usiaku masih terlalu muda, dan aku tidak ingin Mas Sanna mengorbankan dirinya untuk menuruti egoku.

Menurutku, nyaman dan cinta adalah dua hal berbeda.

Aku harap dari atas sana, Bapak dapat mengerti keputusanku ini dan akan terus mendukungku.


메타데이터
post_id
e7cfe8c649fc
slug
07-kotak-milik-bapak-e7cfe8c649fc
url
https://medium.com/@ranunculus.lys/07-kotak-milik-bapak-e7cfe8c649fc
canonical_url
https://medium.com/@ranunculus.lys/07-kotak-milik-bapak-e7cfe8c649fc
author_url
https://medium.com/@ranunculus.lys
status
ok
fetched_at
2026-06-18 00:10:23