← Back to list

Opinio #3: Orang Beriman Gagal!

Saya adalah orang beriman, tetapi apakah perilaku saya sesuai dengan ajaran iman? Sebuah pertanyaan diskursif yang menggelitik saya bahkan…

FIDES CANONICI · 2025-05-23 10:47 · 0 claps · 4.2 min read
#refleksi #examen #ignatian-spirituality #diskresi #discernment
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General 🧘 · Spirituality

Opinio #3: Orang Beriman Gagal!

Saya adalah orang beriman, tetapi apakah perilaku saya sesuai dengan ajaran iman? Sebuah pertanyaan diskursif yang menggelitik saya bahkan ibarat kata saya merasa dihajar oleh pertanyaan diskursif ini mengenai praktik keimanan yang saya lakukan selama ini. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi seorang Yesuit. Saya tidak memahami awalnya siapa itu Yesuit. Saya hanya memahami bahwa Yesuit adalah ordo para pastor belaka, tetapi ada istilah menarik di dalamnya. Ketika orang bertanya, “Siapakah Yesuit?” jawabannya adalah Yesuit adalah Pendosa yang Dipanggil. Hal ini ditegaskan kembali dalam Konggregasi Jenderal ke-35 dan usulan mengenai definisi tersebut diajukan oleh Yesuit Provinsi Filipina.

Jujur saja saya adalah pengagum Serikat Jesus bukan karena saya adalah alumni Kolese Yesuit maupun sebagai seseorang yang pernah bercita-cita menjadi Yesuit. Saya mengagumi Yesuit karena spiritualitas kerendahan hati dalam beriman bahwa dalam ketidak pantasan seorang Yesuit adalah pribadi yang siap dicintai dan mencintai bahkan rela dihina demi cinta tersebut. Saya merasa bahwa spiritualitas ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kita saat ini. Masyarakat kita yang semakin buta akan kemanusiaan membuat iman tidak ada artinya. Disini saya mencoba mengolah kembali pengalaman saya dalam melayani di Gereja yang sesungguhnya lebih banyak kedok ketimbang niat tulus. Hal ini kira-kira menjadi gambaran kita bahwa selama ini kita gagal dalam beriman atau tidak?

Kelemahan Sebagai Fakta Mutlak Manusia

Terkadang manusia lupa bahwa dirinya diciptakan sebagai pribadi yang rapuh dan tak berdaya. Banyak jalan ditempuh untuk menutupi kedok kerapuhan yang ada dalam diri manusia. Ada seseorang yang mengikuti misa sampai 2 kali sehari setiap hari dan tujuannya jelas hanya untuk mendapatkan lelaki pujaan yang sesungguhnya tidak menyukainya. Bahkan saya pun juga demikian melayani di berbagai bidang di Gereja hanya untuk mencari pamor. Terkadang dalam hal niat kita selalu berterus terang bahwa kita adalah pribadi “Tulus”, tetapi antara hati dan kata-kata adalah dua kata yang berbeda secara cara kerja. Berubah untuk menjadi lebih baik pada dasarnya adalah perjuangan yang tidak mudah. Ignatius Loyola pendiri Serikat Yesus adalah salah satu manusia yang pernah mengalami nasib yang sama dengan kita untuk menutupi kedoknya melalui praktik kesalehan yang keras.

Gerald Coleman SJ dalam bukunya “Walking With Inigo” yang merupakan komentar atas Autobiografi St. Ignatius Loyola yang ditulis oleh Luis Goncalves Da Camara SJ mengatakan bahwa Ignatius mengalami beberapa tahap praktik kesalehan yang tidak mudah. Di Manresa ia mengalami skrupel dimana ia selalu berusaha untuk menerima sakramen tobat setiap hari dari bapa pengakuannya. Sampai-sampai dia merasa depresi sendiri dan berusaha untuk bunuh diri. Padahal ia sadar bahwa bunuh diri bertentangan dengan praktik kesalehan. Dalam usaha ini Ignatius berusaha memulai segalanya melalui diskresi. Roh baik pada dasarnya tidak selalu mengarahkan kita pada pola kesalehan yang keras dan menyeramkan, tetapi juga berusaha menjaga kita melalui hal-hal yang nikmat pula. Terkadang kita terjebak pada pola kesalehan yang luar biasa keras, tetapi justru itu merupakan hal yang menjerumuskan kita dengan istilah “Mati Konyol!” karena tidak seimbangnya antara sikap iman dan perbuatan.

Coba kita sadari terkadang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bagi kesehatan. Tanpa terkecuali praktik kesalehan yang kelewat batas. Praktik kesalehan yang berlebihan pada dasarnya akan menimbulkan penyakit kronis dan efek yang buruk. Orang yang terlalu saleh akan sulit untuk menerima kritik. Dia merasa bahwa karena terlalu saleh dia akan selalu dilindungi Tuhan apabila dikritik. Bahkan dia pun tidak pernah merasa salah bila ditegur. Dalam hal ini terkadang orang yang tidak begitu saleh akan lebih mudah menerima kritik ketimbang orang yang sudah saleh. Dalam kesenian Ludruk di Jawa Timur ada lakon bernama Pak Sakera dimana Pak Sakera harus ditangkap Belanda dalam berjuang melawan penjajah akibat ulah temannya Yasit dan Bakri yang saleh dan akhirnya tergiur oleh tawaran uang Belanda. Terlalu saleh akan membuat kita jatuh terlalu dalam tanpa kita sadari. Maka Yesus kerap kali mengajarkan bahwa beriman adalah situasi kita sebagai manusia yang tidak layak yang masih membutuhkan bimbingan dari Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita. Beriman adalah proses diskursif yang dilakukan terus menerus dengan mendengarkan orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Izinkan Aku Pulang Sejenak

Dalam melihat diri kita lebih dalam akan iman kita ada baiknya kita berhenti sejenak. Terkadang saya merasa lelah karena jatuh pada kesalahan yang saya lakukan berkali-kali. Saya merasa bahwa sebuah kesalahan adalah pemakluman yang pada akhirnya hanya berhenti menjadi sebuah kebiasaan yang menimbulkan keresahan orang lain. Bagi saya inilah situasi dimana sesungguhnya beriman itu memerlukan proses evaluasi akan kehidupan. Hidup kita tidak akan berkembang apabila tidak di evaluasi. Maka ada sebuah renungan yang bagi saya menarik untuk dibahas dalam mengakhiri refleksi ini. Kisah anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus adalah kisah sesungguhnya Bapa sedang menunggu kita untuk berbicara sejenak melepas penat diri kita yang keruh dan kesuh karena rapuh.

Pada dasarnya seorang anak yang hilang adalah anak yang congkak dan tak mau mendengarkan orang lain. Dia mungkin pandai dan bisa juga merasa hebat diantara yang lain bahkan selalu menuntut sesuatu termasuk yang tidak masuk akal seperti mendapatkan perempuan cantik di tengah sikapnya yang menyebalkan. Bapanya hanya iya-iya saja ketika ia meminta sesuatu bahkan karena tidak mendapatkan perempuan cantik pun dia memilih melarikan diri dan mencari jalan instan pelarian entah bersama para pelacur maupun mencoba hidup ala pertapa di padang gurun karena tidak ada pilihan lain. Pilihan terakhir adalah pulang kembali kepada Bapanya. Dia tak banyak berharap akan diterima oleh Bapanya ia memilih hadir menjadi upahan Bapanya dan bekerja pada Bapanya. Sayangnya jawaban itu berbalik. Bapanya berlari keluar rumah mendapati anak yang compang-camping tanpa harga diri itu dan memeluknya dengan tangisan dan saat itu juga dia mengadakan pesta besar bahkan saudaranya sulung yang tidak pernah meninggalkan Bapa itu pun iri.

Pengalaman beriman itu adalah pengalaman diterima dan diampuni serta dimaafkan. Saya pribadi belum bisa mempraktikan itu. Saya sadar betapa Tuhan mencintai saya begitu besar ditengah segala hal kurang ajar yang saya minta selama ini. Bagi saya setiap orang tidak layak untuk dicintai dan mencintai, tetapi mengapa Tuhan menganggap kita begitu layak? Ketika kita hilang pun dia tidak berubah sikap terhadap kita? Kita adalah orang-orang gagal di mata manusia, tetapi kita tidak gagal di mata Tuhan. Sama halnya dengan seorang Yesuit bahwa kita adalah pendosa yang dipanggil tidak hanya untuk mengabdi, tetapi juga menimba ilmu melalaui pengalaman iman konkret baik yang indah maupun yang pahit. Semoga apa yang saya refleksikan menjadi pembelajaran bahwa kita terkadang gagal di mata manusia, tetapi kita tetaplah terbaik di mata Tuhan.

Christian Dion Saputra ~ Redaktur Fides Canonici


메타데이터
post_id
e7eea7834987
slug
opinio-3-orang-beriman-gagal-e7eea7834987
url
https://medium.com/@fideseclessiae05/opinio-3-orang-beriman-gagal-e7eea7834987
canonical_url
https://medium.com/@fideseclessiae05/opinio-3-orang-beriman-gagal-e7eea7834987
author_url
https://medium.com/@fideseclessiae05
status
ok
fetched_at
2026-07-19 18:50:21