Capcus Menembus Kudus
#kumpulancerita_no.13
Capcus Menembus Kudus
kumpulancerita_no.13
Photo by Mufid Majnun on Unsplash
Kudus adalah kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Meski kecil, Kudus mempunyai posisi strategis yang secara geopolitik dan militer sangat diperhitungkan sejak zaman kerajaan hindu-budha dan islam berkiprah.
Terletak di perlintasan Jalur Pantura dan lokasinya yang dekat dengan dua pelabuhan dan bandara besar di Semarang dan Surabaya, posisi Kudus sangat vital sebagai jalur distribusi. Kudus dikenal luas dengan sebutan Kota Kretek karena sejarah dan banyaknya pabrik rokok yang giat berproduksi. Dalam konteks struktur ekonomi dan sosial di Indonesia, berdasarkan data BPS, rokok secara konsisten berada di urutan atas, baik sebagai pendorong inflasi maupun sebagai komponen pengeluaran rumah tangga yang sangat besar dalam faktor konsumsi. Dari sana, peran dan kedudukan Kudus bertransformasi.
Di Museum Kretek, aku mempelajari sejarah singkat industrialisasi rokok di Kudus sekaligus hubungan kasualitas antara kretek dan perkembangan demografi, khususnya tentang ketenagakerjaan.
Pertama kali diusulkan oleh Haji Soepardjo Roestam (mantan Gubernur Jawa Tengah), pembangunan museum ini dilakukan secara patungan dan sumbangan dari berbagai perusahaan.
Koleksinya mencakup diorama pembuatan rokok kretek dan klobot, gambaran era kejayaan Niti Semito (Sang Raja Rokok dari Kudus), koleksi peralatan dan mesin lawas yang digunakan untuk membuat rokok dan perkembangan terkini dari rokok itu sendiri. Museum ini diklaim sebagai museum kretek satu-satunya di planet ini.
Industri rokok di Kudus adalah akar perekonomian dan hajat hidup orang banyak—membawa berkah sekaligus dilema. Secara positif, memproduksi dan berjualan rokok dapat mendatangkan laba.
Namun sebaliknya, rokok dan para ahli hisap dipersalahkan karena dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah selalu berdalih menaikkan cukai untuk membatasi peredaraan.
Lucunya, rokok ingin dibatasi, tapi pendapatan negara dari cukai sebagian besarnya malah berasal dari cukai itu sendiri. Jika tetap beredar sesuai dengan ketentuan, dan cukai tidak dinaikkan, negara bakal “merasa rugi” karena tidak dapat memaksimalkan potensi pendapatan.
Jadi, rasanya tidak mungkin pemerintah melenyapkan industri rokok begitu saja. Secara logika, peredaran rokok memang sulit dibatasi seiring pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia yang berimplikasi pada semakin banyaknya perokok pemula/usia muda.
Naiknya cukai rokok berdampak kepada usaha rokok kecil (rumahan) yang jumlahnya ribuan di Kudus. Jangankan untuk berkembang, bertahan saja sudah bagus. Keuangan dan manajemen bisa kembang kempis atau salah urus. Jika cukai naik, maka produksi mereka berkurang dan potensi pendapatan hangus. Jika produksi berkurang, maka para buruh rokok terpaksa di-PHK massal dan lapangan kerja terhapus. Dan itu jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu orang tergerus.
Bagi perusahan rokok yang punya merk dagang nasional, kenaikan cukai rokok masih bisa disiasati dengan strategi bisnis tertentu, karena mereka mempunyai pangsa pasar yang luas dan konsumen yang loyal. Namun, bagi usaha rokok kecil tersebut, dimana pangsa pasar dan konsumennya terbatas, kenaikan cukai rokok bisa menjadi soal. Usaha mati secara perlahan menemui ajal.
Jika cukai rokok naik, maka produksi rokok ilegal akan menjamur bak cawan di musim hujan. Pemerintah dan industri rokok akan saling tuding dan menyalahkan. Itulah yang sedang marak terjadi belakangan. Usaha rokok kecil yang terlalu kreatif atau pemerintah yang tidak kreatif dalam membuat kebijakan?
Pada akhirnya, gajah bertarung bersama gajah, pelanduk mati di tengah tengah (apabila ada orang-orang berkedudukan tinggi berkelahi satu sama lain, maka yang menjadi korban adalah orang-orang kecil seperti rakyat—peribahasa).
Yang menjadi korban tetaplah para konsumen yang memprotes kenaikan harga rokok dengan wajah cemberut, para buruh rokok yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, hingga para perokok pasif yang terpaksa harus menghirup asap rokok yang tidak mereka harapkan berlanjut.
Mengantisipasi dampak sistemik dari polemik industri rokok tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus telah membuat langkah antisipatif dengan mendidik masyarakat untuk berwiraswasta dan beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan, atau pengembangan UMKM yang berkelanjutan, agar masyarakat lokal tidak bekerja serabut.
Apa daya, menjadi buruh rokok tetaplah pilihan yang paling instan untuk saat ini. Namun, pemerintah pun tak berdaya untuk membuat kebijakan yang instan yang mampu merubah landskap perekonomian di Kudus saat ini.
Selain Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai Kota Santri (mendampingi Demak yang terkenal sebagai Kota Wali) karena menjadi pusat perkembangan islam pada abad pertengahan, terbukti dengan keberadaan dua makam Wali Songo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sebelum islam datang, Kudus berkiblat pada hindu sebagai pusat agama. Bukti otentiknya adalah akulturasi budaya yang ikonik dari Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsa.
Dibangun sekitar tahun 1685 ketika masa transisi dari Kerajaan Hindu Majapahit menuju periode Kerajaan Islam Demak, para ahli menyatakan bahwa Menara Kudus memiliki gaya arsitektur yang mirip dengan bangunan Candi Jago dan Candi Singosari di Malang. Dengan tujuan untuk memperkenalkan agama islam sekaligus melestarikan budaya lama yang sudah berkembang, maka dibangunlah sebuah masjid lengkap dengan menara yang memakai gaya arsitektur candi tersebut sebagai lambang.
Proses akulturasi budaya tersebut juga berpengaruh terhadap sajian kuliner lokal. Menurut cerita rakyat, suatu ketika Sunan Kudus pernah merasa haus dahaga, kemudian ditolong oleh seorang pendeta hindu dengan diberi air susu sapi sebagai bekal. Maka, sebagai rasa terima kasih, Sunan Kudus melarang masyarakat untuk menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan bagi kepercayaan lama mereka yang masih mengental. Sebagai dampak ajaran Sunan Kudus yang melarang pemotongan sapi, masyarakat kemudian menggantinya dengan binatang kebo untuk daging konsumsi massal. Sejak saat itulah, kebo digunakan untuk berbagai varian kuliner khas Kudus seperti soto kebo, pindang kebo hingga sate kebo secara tradisional.
Berabad-abad jauh sebelum kerajaan hindu-budha dan era islam berkembang, Kudus dan area di sekitarnya adalah pusat kehidupan purbakala di Tanah Jawa. Jika sedari SD kita selalu mendengar tentang Situs Sangiran di Bengawan Solo yang terkenal sebagai tempat ditemukannya fosil manusia purba di Indonesia, Kudus ternyata memiliki Situs Purbakala Patiayam yang istimewa.
Gunung Muria yang terletak di utara Kota Kudus dulunya adalah Gunung Api yang terpisah dari Pulau Jawa. Karena proses pergerakan bumi dan sedimentasi tanah, dataran Pulau Muria pada masa lampau terpisah kemudian perlahan menyatu dengan Pulau Jawa. Di titik temu kedua daratan itulah lokasi Situs Patiayam berada dan menyimpan riwayat beragam peristiwa.
Para ahli menyatakan bahwa fosil binatang purba yang ditemukan di tempat itu bersifat utuh, sementara luas daerah cakupan situs arkeologi tersebut belum diteliti secara maksimal. Oleh karena itu, mempertimbangkan potensi temuan di kemudian hari, Situs Patiayam bisa menjadi yang terbesar di Indonesia, mengalahkan Sangiran, secara kontekstual.
Di Patiayam, aku berkunjung ke museumnya. Aku agak shock melihat bangunannya yang tidak lebih besar daripada lapangan badminton dan fasilitas ruang penyimpanannya sama sekali tidak memadai dan seadanya. Koleksi temuan disimpan dalam kotak-kotak plastik karena ruang display-nya tidak muat lagi. Hanya fosil gading gajah purba, Stegodon Trigonochepalus yang sudah punah, diperlihatkan dengan jelas dalam sebuah kotak kaca besar yang cukup rapi. Untuk ukuran calon situs arkeologi terbesar di Indonesia, kondisi museum dan situs tersebut (secara keseluruhan) memang sungguh di luar ekspektasi.
Dari Situs Patiayam, aku melanjutkan perjalanan menuju kaki Gunung Muria, mengunjungi dua desa wisata yang menyelinap di antara perbukitan dan jauh dari hiruk pikuk industrialisasi rokok di dataran rendah Kudus. Namanya Colo dan Rahtawu, yang sama-sama berada di lereng gunung tetapi konektivitas keduanya terputus.
Colo adalah salah satu andalan pariwisata Kabupaten Kudus yang menawarkan landskap pegunungan yang indah dan udara dingin yang sejuk. Ada banyak tempat wisata di sekitar Colo, namun yang paling populer adalah wisata ziarah mengunjungi makam Sunan Muria yang terletak di sebuah bukit yang jalannya meliuk.
Baik Sunan Muria dan Sunan Kudus adalah dua di antara Wali Songo yang menyebarkan ajaran islam di Tanah Jawa. Makam mereka selalu ramai dikunjungi para peziarah dari dalam dan luar kota. Selain makam keramat tersebut, terdapat air terjun bernama Monthel yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Dengan berjalan kaki selama satu jam perjalanan, Jaraknya dari Colo adalah 4 kilometer. Melewati daerah perkebunan kopi lalu menyusuri Sungai Rejenu, barulah tiba di Monthel yang air terjunnya melewati batu-batu berjejer. Jika perjalanan terus digeber, destinasi berikutnya adalah air terjun Gonggomino dan Goa Jepang di puncak Gunung Muria yang memiliki ketinggi 1.602 meter.
Rahtawu terletak di sisi lain Gunung Muria. Tidak ada akses langsung dari Colo menuju Rahtawu atau sebaliknya. Jadi, aku harus turun gunung, melewati jalan memutar, lalu naik lagi menuju Rahtawu. Jarak tempuh dari pusat kota Kudus menuju Rahtawu adalah sekitar 20 kilometer dengan perjalanam santai dan tak terburu-buru. Jalannya mulus dan dapat dijangkau oleh mobil dan motor. Meski tidak terlalu jauh, daerah ini adalah salah satu tempat yang terisolir dengan bentang alam dan tepi jurang sebagai salah satu faktor.
Semakin ke atas, jalanannya menyempit, penuh tikungan tajam dan naik-turun, serta diapit oleh tebing vertikal dan jurang yang menganga. Saat musim hujan, sering terjadi longsor yang menyebabkan akses jalan terputus dan rusak sebelanga.
Dibandingkan dengan Colo yang ramai karena aksesnya juga terhubung hingga ke wilayah Kabupaten Pati, aku merasakan suasana pedesaan yang tenang dan damai di Rahtawu. Lokasinya dikelilingi oleh perkebunan dan sungainya jernih dipenuhi batu-batu besar dengan ukuran tak menentu.
Desa ini memiliki sejumlah petilasan yang dikeramatkan dan merupakan pintu gerbang menuju Puncak Songolikur yang merupakan puncak tertinggi di Gunung Muria. Sambil menyeruput segelas kopi di sebuah warung di tepi jurang, aku menikmati pemandangan hijau di lereng Gunung Muria dan batu-batu raksasa yang bertebaran di Sungai Gelis di bawahnya. Kuhabiskan waktu sejenak di tempat ini sambil menanti datangnya senja. Dengan Rahtawu sebagai destinasi terakhir, lengkap sudah catatan perjalananku di Kudus dan Gunung Muria.
메타데이터
- post_id
- e7ff4bdf2bae
- slug
- capcus-menembus-kudus-e7ff4bdf2bae
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/capcus-menembus-kudus-e7ff4bdf2bae
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/capcus-menembus-kudus-e7ff4bdf2bae
- author_url
- https://medium.com/@kartijelajahi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 09:11:36