Secangkir Teh Hijau untuk Bertahan
Setelah empat tahun berlalu tanpa karya baru, Tulus kembali dengan lagu baru berjudul “Teh Hijau”. Banyak yang menyambutnya sebagai pelepas…
Secangkir Teh Hijau untuk Bertahan

Credit: Teh Hijau — Tulus at Youtube https://www.youtube.com/watch?v=RO75uUZiAw0&list=RDRO75uUZiAw0&start_radio=1
Setelah empat tahun berlalu tanpa karya baru, Tulus kembali dengan lagu baru berjudul “Teh Hijau”. Banyak yang menyambutnya sebagai pelepas rindu, namun yang menarik perhatianku adalah dua kata sederhana yang dipilih menjadi judul lagunya.
Kenapa ya harus “Teh Hijau”?
Di antara begitu banyak benda yang bisa dijadikan metafora dalam sebuah lagu, Tulus justru memilih secangkir teh hijau. Bukan kopi yang akrab dengan ritme kehidupan modern, bukan pula hujan atau senja yang sudah lama menjadi simbol dalam banyak karya. Pilihan kata itu terdengar tidak biasa.
Pertanyaan itu lumayan menggangguku. Beberapa kali setelah aku mendengarkan lagunya, aku menangkap lirik ini:
“Ada yang hilang dariku belakangan Sedang tak mudah bertemu rasa senang …… Mungkin aku sedang tak bisa Tak bisa jatuh cinta Membuka hati ‘tuk apapun, siapapun”
Sepanjang lagu ini, tokoh sama sekali tidak menceritakan tentang perasaan patah hati atau perpisahan. Yang dibicarakan justru sesuatu yang jauh lebih samar: hilangnya kemampuan untuk merasakan antusiasme terhadap hidup. Kehilangan kemampuan mencintai kehidupan merupakan pengalaman yang mungkin pernah singgah pada hampir setiap orang. Jatuh cinta dan senang pada hal apa pun. Kehilangan cara mencintai kehidupan, sesuatu yang hampir semua orang rasakan.
Barangkali, rasa kehilangan ini adalah salah satu bentuk kehilangan kita yang paling sunyi. Rutinitas yang biasa kita jalani tetap berlangsung seperti sediakala. Bedanya, ia tak lagi menghadirkan makna yang sama. Kita tetap melakukannya, tapi tidak mampu lagi menikmati apa yang sebelumnya terasa menyenangkan. Kemampuan untuk mencintai kehidupan merupakan pengalaman yang kerap singgah pada hampir setiap orang, hanya saja tidak semua orang memiliki kata-kata untuk menjelaskannya.
“Tambah gerak tubuhmu, Baca buku yang baru, Ragam saran brilian yang belum kunjung jadi penawar”
Menariknya, pada lagu ini, Tulus tidak berhenti pada penggambaran kehampaan itu. Ia juga menceritakan hal yang jamak dilakukan oleh sekeliling kita: seolah-olah orang yang ada di sekitar kita merasa perlu memberikan saran. Saran-saran itu biasanya kita lakukan. Kita coba satu per satu. Mencoba mencari aktivitas apa yang kiranya bisa menumbuhkan percikan semangat dalam diri. Bukankah kita juga sering melakukannya? Saat seseorang mengaku kehilangan semangat, respons pertama yang muncul hampir selalu berupa daftar solusi. Tapi pada ujungnya, semua saran tersebut juga tidak dapat menumbuhkan kembali rasa jiwa yang hilang. Padahal, tidak semua kehampaan membutuhkan jawaban yang segera.
“Kulihat mana di kendaliku Teh hijau ini yang di tanganku Di tengah seram sedih yang menghantamku”
Di saat kita merasa kehilangan arah, merasa kehilangan rasa suka cita di dalam hidup, kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam diri kita. Barangkali, yang dimaksud Tulus yaitu masih ada hal yang dapat kita genggam di dalam kekacauan yang terjadi, hal-hal kecil yang ada dalam jangkauan.
Setelah aku mendengarkan lagu dan membaca liriknya puluhan kali, aku memahami bahwa “Teh Hijau” adalah metafora tentang bagaimana manusia bertahan ketika menjalani hidup yang terasa hampa. Menariknya, Tulus tidak mengatakan bahwa teh hijau menghapus kesedihan. Ia hanya mengatakan bahwa teh hijau ada di tangannya. Pilihan kata ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Secangkir teh tidak menyelesaikan persoalan hidup, tetapi ia menemani seseorang melewati persoalan itu. Biasanya, orang-orang akan berusaha melawan rasa hampa.
Tulus menuliskan dalam lagu ini, “Semoga segera kutemukan jawaban Tapi kini kurayakan hampa ini”
Rasa hampa dan kosong adalah sesuatu yang wajar kita rasakan . Kita tidak perlu sibuk mengusirnya, tapi untuk merayakannya.
Kata “merayakan” mungkin terdengar janggal. Bukankah kita biasanya merayakan sesuatu yang membahagiakan? Aku menangkap, merayakan di sini lebih kepada menerima dan mengakui bahwa perasaan itu ada dan sedang kita rasakan. Penerimaan terhadap perasaan-perasaan yang tidak nyaman dengan harapan esok hari akan lebih baik lagi. Kita tidak perlu terburu-buru untuk sembuh dan merasakan sukacita lagi.
Pada akhirnya, pertanyaanku di awal terjawab. Teh hijau yang dipilih bukanlah suatu sarana untuk menghapus atau menyembuhkan kehampaan. Teh hijau adalah sesuatu yang dapat kita genggam saat semuanya hilang, saat kita sedang kehilangan arah. Disitulah letak metaforanya. Di tengah semua hal yang tidak dapat kita kendalikan, masih ada sesuatu yang dapat kita genggam.
Setiap orang memiliki “teh hijau”-nya masing-masing. Ada yang berkelana di alam, menonton konser musik, atau sesederhana merawat bunga di pekarangan rumah. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang menemani kita dalam menjalani hari-hari yang berat. Sebab, pemulihan seringnya tidak datang dari sesuatu yang besar, melainkan dari hal-hal sederhana yang bisa membuat kita bertahan lebih lama.
Barangkali, yang ingin ditunjukkan oleh Tulus melalui lagu “Teh Hijau”: kita tidak perlu terlalu terburu-buru mengusir kehampaan. Ada hari-hari ketika yang paling kita perlukan bukanlah jawaban, melainkan keberanian untuk tetap menjalani hidup, ditemani hal-hal kecil yang masih ada dalam genggaman dan sampai esok benar-benar terasa lebih elok, kita hanya perlu menemukan “teh hijau” kita masing-masing.
메타데이터
- post_id
- e819ded84bcd
- slug
- secangkir-teh-hijau-untuk-bertahan-e819ded84bcd
- url
- https://medium.com/@nadyasafira/secangkir-teh-hijau-untuk-bertahan-e819ded84bcd
- canonical_url
- https://medium.com/@nadyasafira/secangkir-teh-hijau-untuk-bertahan-e819ded84bcd
- author_url
- https://medium.com/@nadyasafira
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-08 20:08:51