Are U Okay, Bro? #Esai10
Sebagian orang merasa mereka normal. Sebagian bertanya, apakah ini normal?
Are U Okay, Bro? #Esai10
Sebagian orang merasa mereka normal. Sebagian bertanya, apakah ini normal?

Portrait of person suffering from hangover (freepi.com)
Saya kecanduan merokok saat SMP kelas 2. Waktu itu, banyak teman yang merokok, hampir 80%, termasuk teman dekat saya yang sudah menjadi perokok sejak SD. Suatu waktu ketika jam istirahat tiba, kami semua berkumpul di belakang sekolah, dekat kantin, merokok. Awalnya saya hanya penasaran. Bagaimana tidak, tangan saya kosong saja, tanpa memegang apa-apa, sementara yang lain memegang rokok.
“Mau coba?” kata teman di samping.
Saya mengiyakan, kemudian merokok. Saya ingat waktu itu mereknya LA-Bold. Entah, gimana tulisannya, lupa.
Kesan pertama, biasa saja. Batuk sedikit. Teman-teman tertawa. Saya hanya menyeringai, sembari mengembalikan rokok itu. Itulah sedotan pertama saya.
Dua hari berlalu, saya pikir merokok ternyata biasa saja, dan asik bisa bermain asap. Kami nongkrong lagi, dan kali ini saya sudah membeli satu batang LA-Bold. Teman-teman bersorak. Mereka menganggap ini pencapaian baru saya.
“Wih.. ngerokok sekarang, cui.” ujar beberapa dari mereka.
Kali kedua merokok menghabiskan satu batang pertama. Pun, saat itu rasanya biasa saja. Saya juga mulai menatap satu persatu merek rokok yang dipakai teman. Ada yang pakai sampoerna, surya, dan satu lagi lupa, rokok yang bisa dipencet terus ada rasa manisnya. Saya coba satu-satu. Dan, memang rasanya berbeda. Kadar nikotinnya pun berbeda. Yang punya nikotin besar, saya tak mampu dan selalu batuk-batuk.
3 hari berlalu, saya bermain warnet, lalu membeli 1 batang rokok. Entahlah, tiba-tiba rasanya ngga enak main warnet tanpa rokok. Mulut kayak ada yang kurang. Aktifitas ini terus berjalan hingga 2 bulan lamanya.
Memasuki bulan ketiga, saya ingat waktu itu sepulang sekolah, saya dengan sendirinya pergi ke warung, berniat membeli rokok. Warung sedang antre. Saya tepat di barisan paling belakang, merenung.
“Kok, aku sekarang beli rokok ya?” ucap saya dalam hati.
Saya memutuskan pergi dari warung itu sambil terus berpikir keras. “Mengapa saya kok tiap hari beli rokok? Apa ini namanya kecanduan?”
Di tengah perempatan, gerbang asrama hanya berjarak sekitar 7 meter. Saya menghentikan langkah. Tenggorokan dan bibir saya terasa sangat aneh. Ingin sekali rasanya merokok sebentar saja. Saya putar balik ke warung itu, meski jaraknya jauh, sekitar 85 meter. Kali ini langkah saya cepat. Saya putuskan, hari ini sajalah saya merokok, besok tidak lagi.
“Merokok gak sehat.” ucap batin, sambil terus melangkah cepat menuju warung.
Sampai di sana saya membeli 2 batang rokok dan korek api. Saya pulang dengan jalan lambat. Jujur, setelah membeli rokok keinginan merokok turun 25 persen. Di titik ini saya kembali berpikir jernih.
“Ngapain beli rokok?”
“Heh… anjing, ngapain jancok.”
“Gapapa, sekali aja, orang masih 2 bulan, gak bakal kena efek penyakitnya.”
“Eh, tapi udah 2 bulan, dan berjalan terus.”
Pergulatan suara hati, pikiran, dan apa lagi, sebut saja nafsu gitu, karna ini kayak rasanya mirip-mirip laper akut, tapi bibir yang ingin, bukan perut.
Saya sampai di perempatan itu lagi, dan diam. Kali ini saya marah. Saya orangnya kalo otak gak diturutin maka emosi akan memuncak. Jadi, orang-orang melihat saya diam menatap kosong ke arah depan, tapi hati saya sedang perang dengan otak tanpa henti. Tanpa jeda. Saya berkata-kata kotor dalam hati, dan merasa dimanipulasi oleh sesuatu di luar diri. Saya marah kepada warung, pada teman saya, pada semua orang yang dengan kurang ajar memanipulasi diri saya menjadi kecanduan. Saya memaki orang-orang pabrik rokok dalam hati. Sampai akhirnya capek sendiri.
Rokok itu saya keluarkan dari saku, saya buang ke bawah lalu saya injak keras-keras. Orang-orang melihatnya. Tapi, saya tidak peduli. Saya kembali berjalan ke asrama. Di depan halaman kamar, saya berikan korek api yang telah saya beli tadi ke orang random saja secara cuma-cuma.
Tahukah kalian, kejadian ini berulang-ulang sampai 2 bulan ke depan. Saya juga sempat hampir kembali menyedot rokok, tapi tidak jadi. Di bulan ke-7 saya mencoba vape. Waktu itu tanpa nikotin, dan saya tidak merasa kecanduan. Jadi, ya sudah saya biasa saja dengan vape. Sempat berbulan-bulan pakai vape teman di kelas 3 SMP.
Okai sudah kepanjangan. Singkatnya, kelas 1 SMA saya benar-benar berhenti. Terbebas dari candu rokok.
Sekarang kelas 2 SMA, saya memandangi ponsel lamat-lamat. Berpikir keras, “Mengapa saya tidak bisa satu hari saja tanpa ponsel?” Pikiran berputar-putar seolah terjadi sesuatu yang aneh. Dulu, sebelum merasakan internet dan media sosial, hidup saya setiap harinya berwarna. Saya selalu memiliki banyak sekali ide-ide segar yang bisa saya kerjakan. Tanpa deadline, tanpa ingin diketahui orang lain. Tapi, sejak kehadiran media sosial, saya justru ingin terlihat. Terus-menerus. Saya merasa tertinggal oleh teman, oleh keadaan, oleh kesuksesan.
Mengapa? Entahlah, saya pikir ini normal.
Memasuki dunia perkuliahan. Saya mengerti, saya akan fokus menghabiskan 4 tahun ke depan untuk menekuni ilmu hukum. Tapi, saat tugas menumpuk, saya stres dan merasa semua ini berat untuk dikerjakan. Ketika liburan tiba, saya merasa kosong yang aneh. Bingung. Diam saja merasa tertinggal, dan merasa kalah oleh orang-orang lain. Merasa ingin sukses, tapi mengapa sulit sekali rasanya.
Saya tidak ingin diam atau berjalan-jalan menikmati hari. Saya ingin produktif, tapi apa? Saya pun sebenarnya bingung sendiri harus melakukan apa.
Seringkali waktu pagi sudah tidak ada. Saya bangun siang. Langsung membuka browser. Membaca berita-berita baru. Satu-dua berita sedih datang dari luar jawa, kebakaran rumah, penipuan, pembunuhan, pemerkosaan. Tiga-empat-lima berita menyenangkan, membanggakan. Tujuh-delapan-sembilan berita menginspirasi dan memotivasi. Lanjut membuka instagram, melihat pencapaian teman-teman, keren sekali. Beberapa terlihat cringe, konyol, ngga jelas. Yang lain lagi berduka. Satunya lagi pamer kemesraan dengan pasangan, membuat saya iri. Melihat influencer favorit, wah saya senang. Ada yang membuat video baru. Ada yang menunjukkan karya baru. Ada pula influencer yang tiba-tiba nongol di beranda tengah berkonflik dengan sesamanya. Saya kepo, lalu lanjut mengikuti kasusnya.
Membuka Youtube, melihat konten podcast. Mendengarkan sampai habis. Hendak lanjut konten kedua, saya melihat ada potongan video yang membahas film, saya klik. Lanjut tanpa terasa menonton video-video pendek. Video isu politik, sosial, kesehatan, konspirasi, berbagai opini terbaru tentang isu-isu nasional, hingga global.
Tiba-tiba sudah malam. Seharian saya hanya rebahan menonton video-video di internet. Berselancar di internet. Sebelum tidur, saya merasa gagal, karena tidak bisa melakukan apa-apa sebab di luar sana banyak sekali orang-orang hebat. Saya pun terpikir ke depan mungkin akan menjadi orang gagal. Ekonomi pas pasan. Tidak pernah menjuarai lomba apapun. Kemampuan public speaking pas pasan.
Saya juga terburu-buru menilai teman, orang random, dosen. Juga saya menjadi pemerhati politik yang fanatik. Saya juga seringkali cepat marah menanggapi isu-isu yang sudah menjadi bagian yang saya benci terhadapnya sejak dulu. Saya juga aktif berkomentar di internet, mendebat semua orang.
Satu Tahun menjelang perkuliahan usai. Saya hanya duduk sendirian di tepi laut. Memikirkan tentang betapa absurdnya hidup ini. Saya juga berfikir bahwa 90% masa perkuliahan saya hitam dan kosong. Semuanya adalah yapping tanpa batas. Tanpa memiliki satu hal yang bisa dibanggakan. Saya tidak pernah menabung, menghabiskan seluruh gaji yang jika ditotal berkisar 15–25 juta rupiah. Membelikan barang-barang yang kurang berguna. Saya membeli hanya karena gejolak emosi sesaat. Hanya karena gengsi.
Saya juga berpikir bahwa selama ini saya cukup terombang-ambing ke sana kemari. Saya pernah menceritakan ini kepada teman, tapi dia tidak yakin.
“Menurutku dirimu jauh lebih baik daripada mahasiswa-mahasiswa yang lain. Untuk seusiamu, pemikiranmu, sikap, dan keputusan hidupmu jauh lebih baik. Santai aja.” ujarnya, yang entah itu penyemangat atau sekedar penenang.
Sekarang perkuliahan usai. Tapi, candu media sosial dan internet belumlah usai. Saya terus dihadapkan dengan tantangan baru, masalah baru, candu-candu yang baru. Kegelisahan belum hilang. Kemalasan juga sama. Ambisi masih berkobar. Pikiran masih terdistraksi.
Kini saya paham, bahwa yang paling langka hari ini bukan uang, tapi fokus.
Beberapa kali saya ingin menyadarkan teman soal ini. Saya selalu berprasangka kalau mereka sedang mengalami kecanduan media sosial. Terbukti saat berbincang, mereka selalu terburu-buru. Atau, mereka sibuk sekali melakukan sesuatu. Kadang juga mereka tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Kadang mereka punya tatapan yang penuh keriuhan. Bola matanya memang menatap, tapi selalu bergerak-gerak sedikit. Kadang bergetar. Tangan mereka bergetar. Nafas mereka kadang teratur dan kadang tak seimbang. Mereka ingin cepat mengenal dan dikenal. Ingin segera merasakan sesuatu. Entah apa. Entah saya juga kadang berpikir terlalu berlebihan menilai. Bahwa jika saya rusak, maka penilaian saya juga dimungkinkan untuk rusak. Tapi, setidaknya saya berusaha melempar obat mujarab yang mencoba menguji kebenaran hipotesa saya, sekaligus menyuntik diri saya sendiri agar fokus. Saya berkata:
“Are you okai, Bro?”
메타데이터
- post_id
- e8226daf8fdd
- slug
- are-u-okay-bruh-esai10-e8226daf8fdd
- url
- https://medium.com/@alfian.firdauszz99/are-u-okay-bruh-esai10-e8226daf8fdd
- canonical_url
- https://medium.com/@alfian.firdauszz99/are-u-okay-bruh-esai10-e8226daf8fdd
- author_url
- https://medium.com/@alfian.firdauszz99
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13