← Back to list

01. the wedding

“when you are young, they assume you know nothing — but i knew you.”

margo · 2026-04-14 12:20 · 0 claps · 3.1 min read
#fiction #alternative-universe #nolan #para
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative

01. the wedding

“when you are young, they assume you know nothing — but i knew you.”

Seperti sebuah noda di baju putih, Paras berjalan di tengah-tengah keramaian ballroom. Semua orang berpakaian ivory, pengantin di singgasana mencolok dengan gaun dan setelan putih.

“Mohon maaf, Kak, tapi dresscodenya Ivory.” sesaat sebelum ia memasuki ballroom, seseorang di depan buku tamu menghentikan Paras.

“Oh?” Paras menunjukkan raut muka bingung, menyembunyikan senyum culas yang hampir nggak bisa ia tahan. “Tapi di undangan nggak disebutkan nggak boleh masuk, kok? Saya punya undangannya,” kemudian meletakkan undangan putih dengan aksen minimal di atas meja.

Dua orang di balik meja buku tamu di depannya berpandangan, lalu dengan gugup mempersilahkannya tetap masuk.

Hari ini, Paras merasa keberaniannya menghadapi apapun berada di puncak. Ibun mungkin akan jantungan kalau tahu anak perempuannya datang kondangan dengan setelan hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, belum lagi model crop atasannya yang berhenti tepat di atas pusar.

Paras cuma berharap kalau Ibun punya cukup pengertian kalau saat ini, anak perempuannya nggak punya ketakutan lagi. Ketakutannya habis setelah tahu seseorang yang ia anggap belahan jiwanya ternyata cuma mempermainkannya.

Apa yang harus ditakutkan saat orang yang membuatnya patah hati tertawa seakan-akan ia adalah pria paling bahagia di dunia? Duduk sambil mendengarkan istri ‘baru’-nya berbisik entah apa dengan kerling mata yang membuat Paras bergidik. Ah, Paras harap ada Ayang yang bisa menemaninya bergunjing.

Karena nggak mau rugi meluangkan waktu datang ke acara Sambil mencicipi dan menilai makanan dari satu stan ke stan lain seperti juri Master Chef, Paras berusaha nggak memedulikan pandangan Oma-oma yang sedari tadi mengikuti pergerakannya.

Ia baru akan mengambil satu cupcake saat tubuhnya terdorong ke belakang. Saat punggungnya menabrak punggung lain, ia reflek menoleh, mendapati sepasang mata yang Paras nggak bisa yakini berwarna coklat atau hijau.

“Sorry,”

Keduanya berujar bersamaan, lalu seperti berbagi satu sel otak yang sama, Paras dan si Bule di depannya sama-sama memandangi setelan baju satu sama lain. Rasanya seperti bertemu dengan seseorang yang benci dengan orang yang sama, maka Paras tersenyum lebar sambil mengangkat telapak tangannya, “Tos? You know, tos?” tanya Paras sok inggris, dia nggak tahu apakah cowok di depannya ini bisa bahasa Indonesia atau nggak.

Soalnya, dia cuma balik memandangi Paras dengan senyum bingung. Tanpa mengucapkan apa-apa si cowok bermuka Bule menepuk telapak tangan Paras. Sebelum berlalu meneruskan langkah, cowok tadi menatap ke arah Paras lagi. “Cool dress, by the way.

“Nolan, gimana perasaannya?”

“Loh, kok pake jas hitam?”

“Nolan masih marah sama Mas Daru?”

Nolan paling malas kalau harus menjelaskan soal dirinya sendiri ke orang lain. Ia terbiasa membiarkan orang lain berasumsi. Mungkin karena itu banyak orang yang mudah melepaskan Nolan di hidupnya, sebagian temannya menganggap ia nggak mau memperjuangkan dirinya. Sebagian yang mengerti, memilih tetap menjadi temannya dan mewakilkannya untuk marah.

Deva, adalah salah satunya.

Sejak tadi bahkan sebelum masuk ballroom, Deva setia berdiri di sebelahnya. Mewakili Nolan menjawab pertanyaan-pertanyaan kepo dari Bude, Tante, atau Sepupunya.

“Ya, pasti happy, dong, Tante! Ih, Tante nih. Emang kenapa sih, Tanteee?”

“Iya, Bude, setelannya Nolan lagi di-laundry semua. Jadi sisa warna hitam, deh!”

“Eh, ngapain, Lan marah sama Mas Daru? Enggak, kan, yaaa?”

Semuanya dijawab dengan nada bercanda setengah serius oleh Deva. Nolan yakin Deva punya misi nggak bisa membiarkan Nolan terlihat menyedihkan di hari pernikahan Sang Mantan dengan sepupunya.

Waktu kerabatnya mulai menjauh darinya, Deva mulai mengomel. “Kenapa sih, keluargamu? Pada kepo-kepo banget?”

Nolan menaikkan kedua bahu. Sebenarnya memahami bahwa hari ini ia memang mangsa empuk di tengah ballroom ini. Mantan yang pernah ia kenalkan ke keluarga besarnya, menikah dengan sepupunya sendiri, nggak lama setelah ia putus. Setelan hitam yang dia pakai makin memperparah. Tapi Nolan bukan anak kecil yang harus terus-terusan dibela dan dilindungi. “Dev, mau ambil dessert. Mau apa, kamu?”

“Pudding, Lan.”

Sambil berjalan ke mengelilingi area dessert, Nolan memikirkan jawaban apa yang sebenarnya akan ia lontarkan ke kerabat-kerabatnya kalau Deva nggak ada.

Apakah ia bahagia hari ini? Nolan nggak mengerti apa yang ia rasakan tapi yang jelas happy bukan salah satunya.

Apakah ia marah dengan Mas Daru — sepupunya? Marah?

Ia berpikir serius tentang apa yang ia rasakan ke Mas Daru sebelum ia merasakan seseorang punggung seseorang menabrak punggungnya.

Seorang perempuan dengan mata hitam yang lebar, seperti mutiara. Cantik menghiasi kulit wajahnya yang putih. Rambutnya juga hitam legam. Saat ia mengucapkan dengan kata maaf dengan suara pelan, Nolan mulai fokus lagi.

Ia memperhatikan setelan perempuan di depannya, lalu memandangi tuksedonya sendiri. Saat ia kembali menatap ke depan, ia disambut telapak tangan yang terangkat, “Tos?”

“… Cool dress, by the way.”

Nolan lupa sebelumnya ia sedang berpikir soal apa, tapi yang pasti, Nolan nggak merasa marah.


메타데이터
post_id
e82d49874e6e
slug
01-the-wedding-e82d49874e6e
url
https://medium.com/@96-hz/01-the-wedding-e82d49874e6e
canonical_url
https://medium.com/@96-hz/01-the-wedding-e82d49874e6e
author_url
https://medium.com/@96-hz
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01