Rumah Nenek
nenek sibuk menyiapkanku secangkir susu dan pisang goreng hangat
Rumah Nenek

Photo by Ibnu Hibban on Unsplash
Dalam perbincangan sore di teras rumah, antara aku dan masa kecilku. Hal yang pertama muncul adalah rumah nenek. Rumah nenek adalah salah satu tempat masa kecilku menghabiskan waktu. Rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin yang di dalamnya beraroma rumput kering, sangat khas, hanya berwarna coklat hitam, tampak berdiri kokoh menjaga keluarga di dalamnya. Tak goyah diterpa badai, angin kencang, bahkan dahsyatnya omongan tetangga. Hampir pada setiap sisi terdapat pohon mangga, pohon jambu, pohon jeruk, juga pohon-pohon yang tidak kukenali. Kakek senang sekali jika ada buah jambu yang matang, dia pasti memetiknya untukku.
Aku mengenang-ngenang masa kecilku, ketika weekend, aku selalu nginap di rumah nenek. Saat tidur bersama nenek, kakek terpaksa tidur di tempat lain, katanya “sempit, kalau ada aku”, padahal, kakek tahu kalau nenek ingin berduaan denganku. Di sana, setiap pagi, sembari burung-burung bernyanyi di ranting-ranting pohon, kakek asyik menyiram tanaman dan pohon-pohon buahnya, sedang nenek sibuk menyiapkanku secangkir susu dan pisang goreng hangat. Bahkan, ketika dewasa, aku tetap saja disuguhi hal yang persis sama. Apa aku saja yang merasa tumbuh ya? Aku juga kepingin dibuatkan kopi, sama seperti kakek. Apa dalam dunia mereka, aku masih bocah kecil yang selalu minta digorengkan telur dadar? Apa mereka tidak melihat tubuhku telah menjuntai? Aku bahkan tidak perlu lagi kursi bantuan untuk meraba-raba hal-hal aneh di atas lemari pakian mereka. Lemari itu selalu terkunci dan selalu saja membuatku penasaran, lemari kayu tua itu bukan hanya menyimpan baju-baju, tapi juga pernak-pernik yang entah apa gunanya. Di balik pintu lemari, ada banyak foto anak-anak berseragam sekolah, salah satunya ada fotoku, mulai dari sekolah dasar sampai sarjana. Pantas, ketika aku foto ijazah, bapak memintaku untuk mengirimkan 3 lembar fotoku. Lembar pertama di dompet bapak, lembar kedua di dompet ibu, dan sekarang aku tahu lembar ketiganya ada dimana.
Jika semua cucu berkumpul, di dalam rumah, kami berlarian ke sana ke mari tanpa arah. Tiga ruang yang sengaja dibuat saling terhubung tanpa sekat, menjadikannya track yang panjang, dengan garis finish-nya adalah dapur. Pembalapnya berasal dari penjuru kota dan kabupaten yang jauh. Kadang, balapan dihentikan jika ada pembalap menyenggol bingkai foto di atas meja atau menendang gelas sirop di lantai.
Indah sekali masa-masa itu, lalu dalam lamunan, aku mempertanyakan, tentang sejauh mana kehangatan rumah nenek akan bertahan, jika penghuni tetapnya berpulang? Barang antik milik kakek akan dikemanakan? Siapa yang akan merawat cangkir-cangkir cantik nenek? Apakah pohon jambu, jeruk, dan mangga kesayangan kakek akan ikut layu dan perlahan mati? Apakah akan ada perdebatan tiada henti tentang siapa yang akan mengisi rumah mereka? Atau siapa yang paling rela, jika satu-satunya tempat kehangatan tersebut akan dijual dan dimiliki orang asing?.
Tidak sedikit orang-orang yang kehilangan sosok nenek, akan merasakan musim dingin amat panjang dalam hidupnya. Bagaimana tidak, jika masa kecil hingga tumbuh dewasa, mereka diselimuti kehangatan sikap dan angin segar dari keiinginan yang selalu dipenuhi oleh kakek dan nenek, sehingga, membuat keterikatan. itu menjelma senyawa-senyawa kehangatan, bereaksi menjadi ingatan tak terlupakan sepanjang masa. Bukan hanya kepada kedua sosok paruh bayah tersebut, tetapi juga tempat tinggal mereka yang tak tergantikan.
Dalam lamunanku juga, kurajut skenario-skenario atas pertanyaanku sendiri: Jika kakek dan nenek sudah tidak ada maka pertemuan keluarga pasti terasa kurang hangat, tidak ada lagi penengah diantara perdebatan-perdebatan. Bisa saja rumah yang sebelumnya hangat itu menjadi tempat sauna tak berpintu akibat perdebatan tentang siapa yang paling pantas memilikinya. Setelahnya apa? Rumah nenek jadi tidak terurus, lapuk, rapuh. Tegaknya tiang-tiang rumah akan keropos juga karena dimakan oleh mulut-mulut pendebat tiada henti.
Bayangkan saja, jika rumah nenek telah diisi oleh om dan tante, suasananya pasti berubah, bebauan di dalamnya sedikit berganti, track yang panjang tadi, jadi ruangan besar paling membosankan. Apalagi, jika dijual dan diisi oleh orang asing, ah! Membayangkannya saja, aku tidak mau. Menurutku, mereka yang berani membeli dan memilikinya adalah orang yang punya ketegaan tidak mendasar.
Rumah nenek adalah tempat pulang terakhir, biarkan saja seperti itu. Cukup rawat dan bersihkan. Jangan jual atau debatkan.
메타데이터
- post_id
- e85623735fad
- slug
- rumah-nenek-e85623735fad
- url
- https://medium.com/@naufalol/rumah-nenek-e85623735fad
- canonical_url
- https://medium.com/@naufalol/rumah-nenek-e85623735fad
- author_url
- https://medium.com/@naufalol
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 18:20:27