← Back to list

“Memangnya apa lagi yang kurang?”

Barangkali seporsi kemenangan yang ditujukan untukku hanya sedikit kesempatan untuk tenang. kerap kali dunia menempatkanku pada tempat yang…

phebrie · 2026-05-08 16:57 · 57 claps · 1.5 min read
#life #tenang #thoughts
Open on Medium ↗

“Memangnya apa lagi yang kurang?”

pict from pinterest

pict from pinterest

Barangkali seporsi kemenangan yang ditujukan untukku hanya sedikit kesempatan untuk tenang. kerap kali dunia menempatkanku pada tempat yang jauh dari anganku. lalu, aku mencoba mengerti bahwa mungkin memang begini cara Tuhan membuatku bertahan.

Dengan berharap kehidupan pada secarik kertas, bukan sebagai tenaga tapi sebagai tempat menumpahkan segala racun di kepala. mungkin akan kau saksikan aku kehausan di sudut-sudut ruangan hampa. mungkin juga kau termenung melihatku kekenyangan oleh ilusi kepalaku sendiri.

Tengah malam nanti, aku akan mencoba merayu Tuhan agar memberikanku tenang dalam waktu dekat, singkat pun tak apa. semoga aku tidak lupa.

Atau aku harus menunggu sampai akhir nanti aku bertemu pencipta, mungkin pada saat itu aku akan menagih seporsi kemenangan untukku. itupun kalau tubuh yang hampir lebur ini berkesempatan.

“memangnya apa lagi yang kurang? syukuri yang sekarang”

Pertanyaan yang penuh kesalahpahaman. dan sayangnya aku benar-benar tak punya kuasa untuk sekedar meluruskan.

Seandainya bisa, aku akan menaruh surat di tiap-tiap pintu rumah penghuni bumi, di sudut taman, di ujung menara, di lahan tandus. atau kalau perlu di lubang tikus sekalipun.

Isinya; aku bersungguh-sungguh mengatakan bahwa aku menikmati, aku bersyukur, tak ada satu haripun aku lewati tanpa rasa syukur yang aku gaungkan di hati dan pikiranku. atas nafas, detak jantung, denyut nadi, tanpa buta, tanpa tuli, juga tidak bodoh. tapi, bukan tenang seperti ini yang aku maksud. jika pantas, mungkin sehari tanpa isi kepala, sehari tanpa menerka, sehari tanpa menilai, sehari tanpa takut dinilai.**

…betapa aku benci disalahpahami.

Tapi beruntung aku masih sadar diri, bahwa aku hanya segenggam tanah yang kebetulan diberi nyawa. siapa aku untuk banyak meminta.

Orang-orang mungkin tak pernah tahu, bahwa aku membangun semesta pada ujung kematian. sebab beberapa bulan lalu, diwaktu sore menjelang malam, aku sempat bermonolog; “atau waktunya memang bukan di dunia”.

Tapi tunggu, sepertinya berubah mulai malam ini.

Atau mungkin ini hanya perihal waktu, bisa saja beberapa hari kedepan, atau bulan, atau tahun, tenang yang aku puja-pujadatang saat kakiku masih mampu menapak tanah. mungkin saja. entah dengan bentuk tempat, pola pikir, sudut pandang atau yang lebih merujuk, seseorang.


메타데이터
post_id
e85bb3b6cf68
slug
memangnya-apa-lagi-yang-kurang-e85bb3b6cf68
url
https://medium.com/@pherie/memangnya-apa-lagi-yang-kurang-e85bb3b6cf68
canonical_url
https://medium.com/@pherie/memangnya-apa-lagi-yang-kurang-e85bb3b6cf68
author_url
https://medium.com/@pherie
status
ok
fetched_at
2026-07-14 19:34:30