seperti takdir kita yang tulis.
semua mimpi dan kenangan itu, seperti takdir kita yang tulis bukan?
seperti takdir kita yang tulis.
semua mimpi dan kenangan itu, seperti takdir kita yang tulis bukan?

https://open.spotify.com/intl-id/track/0ladq2Y2KLksoxqWUzpB1G?si=930c354524774a13
di tengah hiruk-pikuk kehidupanku sekarang, tiba-tiba saja aku teringat dengan cuplikan memori yang memunculkan dirimu. Memunculkan kita semasa muda.
kala itu, cinta masih menggoda. puja-puji masih teralun sepanjang hari. tanpa lelahnya.
kamu ternyata menjumpai aku yang penuh dengan tawa dan rasa penasaran yang membuncah.
keberadaanmu terasa seperti bunga cantik yang mekar sempurna di tengah hijau dan damainya rerumputan. kamu terasa aman, lembut, dan tidak terburu-buru.
menyenangkan bisa dapat memperhatikan itu semua.
di bawah hujan, kamu bercerita tentang mimpi-mimpimu. aku yang masih muda pun tak mungkin untuk tak bertanya,
“mimpimu itu, yang seperti apa? aku ingin tahu ya, boleh?”
selalu dibarengi dengan senyum lugu dan kekehan kecilku.
aku selalu menyukai bagaimana tatapan obsidian legam milikmu itu menatapku dengan lucu. seperti tak berhenti mempersilakanku untuk hinggap di dalam refleksinya.
tatapanmu itu, sedari dulu memang menyenangkan.
dan setiap pertanyaan keluar dari mulutku, kamu selalu saja tak pernah absen untuk menjawabnya sepenuh hati. meski mungkin saat itu sudah ribuan pertanyaan kuutarakan pun.
ketika aku bertanya seperti itu, aku mendengar untaian kalimat yang keluar lewat celah bibirmu yang bergerak lucu kala berbicara. katamu,
“aku rasanya ingin sekali bisa memiliki dua orang anak kelak. aku ingin punya keluarga kecil ketika aku selesai dengan studiku nanti. aku ingin jadi ayah yang hebat, jadi anak laki-laki yang bertanggung jawab, jadi teman yang tak pernah lupa merangkul, dan jadi murid yang membanggakan…”
ah, jawabanmu itu, membuatku terpana.
iya, ya. pikirku.
semenjak aku mendengar itu, aku memiliki keyakinan yang kuat bahwa — kau, pasti bisa mewujudkan itu semua. aku percaya denganmu, untuk membawa mimpimu menjadi kenyataan.
lho, ternyata saat itu kamu juga bilang,
“.. aku, juga ingin tumbuh bersamamu, sebenarnya. aku ingin melihatmu yang dewasa, yang memakai kemeja putih sebagai seragam formal untuk bekerja, atau dirimu versi memakai toga kampus impianmu. dan, aku juga ingin memastikan wajah ini apakah masih cantik ketika beranjak dewasa nanti?”
ucapnya seraya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga dengan pelan.
kamu itu, ya. rasanya aku ingin memohon untuk kamu berhenti buatku merona.
aku membalasnya dengan pukulan lembut pada lengannya sambil tertawa, dia pikir aku sudah tak cantik lagi saat dewasa nanti, kah?!
perbincangan perihal mimpi-mimpi kita itu, seakan-akan takdir kita yang tulis, ya?
tak apa, mari kita berpikir seperti itu saja.
kuharap, tidur dan bangunmu tidak akan pernah terjerat takut selamanya.
aku harap, aku bisa tinggal dalam potongan memori mudaku selayak-layaknya.
메타데이터
- post_id
- e8a6e1bb5c0d
- slug
- seperti-takdir-kita-yang-tulis-e8a6e1bb5c0d
- url
- https://medium.com/@curioumity/seperti-takdir-kita-yang-tulis-e8a6e1bb5c0d
- canonical_url
- https://medium.com/@curioumity/seperti-takdir-kita-yang-tulis-e8a6e1bb5c0d
- author_url
- https://medium.com/@curioumity
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13