No Chance To Bloom
Ketika Dunia Datang Hanya untuk Meninggalkan Bekas
No Chance To Bloom
Ketika Dunia Datang Hanya untuk Meninggalkan Bekas

Hoping For a Chance to Bloom
Ada keberadaan yang sejak mula tidak pernah benar-benar diberi ruang bernapas. Ia berjalan dari hari ke hari seperti seseorang yang selalu berada di sisi waktu yang keliru: datang ketika pintu masih setengah tertutup, pergi saat cahaya belum sepenuhnya padam. Setiap perjumpaan tampak menjanjikan makna, namun selalu berakhir sebagai bekas yang menetap terlalu lama. “You said it was fate that we crossed our paths,” seolah semua telah ditulis sebelum langkah pertama diambil, tetapi tulisan itu kabur, tak pernah menjelaskan untuk apa pertemuan itu dihadirkan.
Segalanya lalu terasa seperti persoalan yang sengaja dibiarkan tanpa hasil akhir. Ada keinginan agar hidup tunduk pada hitungan yang sederhana, agar setiap sebab berhenti pada akibat yang bisa dipahami. “I wish fate just some kind of practical math,” sebab tanpa kepastian, pikiran dipaksa mengitari pertanyaan yang sama dengan suara yang makin lirih. Mengapa ada yang hadir hanya untuk pamit. Mengapa makna selalu muncul sesaat sebelum ditarik kembali. Tak ada jawaban yang turun, tak ada penjelasan yang cukup kuat untuk menutup ruang kosong yang dibiarkan terbuka.
Hari-hari bergerak tanpa memberi kesempatan untuk mereda. Satu kehilangan belum sempat diluruhkan, disusul perpisahan lain yang datang tanpa permisi. Yang tertinggal bukan sekadar rasa tertinggal, melainkan bekas yang perlahan mengubah cara memandang dunia. “Left me with these scars,” berulang bukan sebagai jeritan, melainkan sebagai pernyataan dingin tentang apa yang nyata. Bekas-bekas itu tidak memudar, ia tinggal, membentuk sudut-sudut baru dalam diri, mengajarkan kehati-hatian yang lahir dari terlalu sering ditinggalkan.
Di tengah keadaan semacam itu, gagasan tentang tumbuh terdengar asing, hampir terasa berlebihan. Tidak ada tanah yang betul-betul subur, tidak ada musim yang memberi isyarat aman. Namun di antara penumpukan bekas itulah muncul dorongan yang sulit dijelaskan. Bukan keyakinan yang lantang, bukan optimisme yang terang, melainkan kemungkinan kecil yang disimpan diam-diam. “Perhaps I’ll see her someday by and by,” sebuah bayangan yang tidak dikejar, hanya dibiarkan ada, agar hari tidak sepenuhnya runtuh ke dalam kehampaan.
Yang dilakukan kemudian bukan menunggu perubahan besar, melainkan mengulur lenyap. Setiap pagi dijalani sebagai kesepakatan sunyi dengan diri sendiri untuk tetap hadir, meski tanpa janji pemulihan. “And life will give me one more chance, one more chance to bloom,” diucapkan seperti doa yang tahu kemungkinan ditolak, namun tetap dipanjatkan. Tidak ada kemenangan yang dirayakan, tidak ada akhir yang bisa ditandai. Hanya keberlanjutan yang keras kepala, lahir dari bekas-bekas yang terus dikumpulkan. Dan mungkin, di antara semua itu, yang masih tersisa hanyalah pertanyaan tentang apakah suatu hari nanti, di celah yang tak terduga…
메타데이터
- post_id
- e8b60dc51785
- slug
- no-chance-to-bloom-e8b60dc51785
- url
- https://medium.com/@sekadar/no-chance-to-bloom-e8b60dc51785
- canonical_url
- https://medium.com/@sekadar/no-chance-to-bloom-e8b60dc51785
- author_url
- https://medium.com/@sekadar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 22:55:51