← Back to list

What Happens After You Get the Thing You Prayed For

I got everything I asked for — just not in the way I thought I would.

Joan Thalita · 2026-03-31 07:30 · 2 claps · 6.9 min read
#psychology #education #women #self-improvement #snmptn
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology EDU · Education & Learning 🚀 · Self Improvement

What Happens After You Get the Thing You Prayed For

I got everything I asked for — just not in the way I thought I would.

Sejak SMP, aku percaya bahwa SNBP — atau dulu orang mengenalnya sebagai SNMPTN — bukan jalur untuk orang sepertiku. Di kepalaku, SNBP adalah sesuatu yang eksklusif, hanya untuk mereka yang benar-benar pintar, yang nilainya stabil, dan yang terlihat “pantas” dari awal. Sementara aku… aku merasa biasa saja.

Mungkin karena itulah aku pernah bersikeras mau masuk ke SMA favorit di Bekasi. Dalam bayanganku, kalau aku berada di lingkungan yang “tepat,” jalanku menuju SNBP akan lebih mudah atau lebih mungkin.

Tapi ternyata, hidup nggak sesederhana itu.

Aku nggak diterima di salah satu SMA Negeri yang kumau di Bekasi. Dan tanpa banyak pilihan, hidup seperti sengaja membawaku ke arah yang sama sekali nggak pernah kurencanakan: tinggal dan bersekolah di Doloksanggul, Sumatera Utara.

Aku & teman-teman di SMA

Aku & teman-teman di SMA

Kalau kupikir-pikir sekarang, itu bukan sekadar perpindahan sekolah. Itu seperti dipindahkan ke kehidupan yang benar-benar baru. Aku harus belajar beradaptasi dengan banyak hal sekaligus — udara yang berbeda, lingkungan yang asing, bahkan hal-hal kecil seperti akses internet dan transportasi yang nggak selalu tersedia. Hal-hal yang dulu nggak pernah kukira, tiba-tiba jadi bagian dari keseharianku.

Suasana pagi di Doloksanggul (dingin banget, nggak boong)

Suasana pagi di Doloksanggul (dingin banget, nggak boong)

Di luar itu, ada juga hal-hal yang lebih sulit dijelaskan. Rindu pada rumah Bekasi, rindu Mama, dan pada momen-momen sunyi di mana aku mempertanyakan banyak hal — tentang hidupku, tentang arah yang kuambil, tentang apakah aku benar-benar mampu menjalani semua ini.

Belum lagi rutinitas bolak-balik Jakarta-Doloksanggul hampir setiap 6 bulan sekali. Capek? Ya, pastilah!

Ada banyak momen di mana aku merasa semuanya terlalu berat. Terlalu jauh dari versi hidup yang dulu kupahami. Tapi anehnya, aku tetap berjalan. Mungkin bukan karena aku selalu kuat, tapi karena aku nggak punya pilihan lain selain bertahan dan terus mencoba.

Dan tanpa kusadari, semua itu membentukku.

[Juni 2024]

Di tengah semua proses itu, aku dipertemukan kembali dengan seseorang dari masa lalu — ia adalah kakak kelasku di SMP, sebut saja Grey.

Awalnya sederhana, kami hanya saling sapa, tapi percakapan kecil itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lebih rutin. Kami mulai sering bertukar cerita lewat chat — tentang sekolah, rencana masa depan, jurusan kuliah, hingga tentang pilihan hidup yang saat itu terasa akan begitu menentukan.

Aku di Doloksanggul, sementara Grey di Bekasi. Mungkin, jarak di antara kami itulah, setiap percakapan pun terasa lebih berarti. Ada jeda, ada ruang, tapi juga ada kehadiran yang konsisten.

Memasuki kelas 12, aku mulai mengambil langkah lebih serius. Aku memutuskan untuk ikut bimbingan belajar UTBK di Ganesha Operation. Sebenarnya, aku cukup optimis dengan peluang kuota siswa eligible, tapi aku merasa perlu menyiapkan diri untuk semua kemungkinan, yang terburuk sekali pun.

Dari situ, ritme hidupku berubah.

Hari-hariku diisi dengan belajar, mengerjakan tryout, mengevaluasi hasil, lalu mengulanginya setiap hari. Ada tekanan yang meningkat, tapi juga ada tujuan yang mulai lebih jelas. Nyata. Di depan mata.

Aku mulai mengenal diriku dalam versi yang lebih disiplin, meskipun sering kali juga capek banget. Beneran.

Di sisi lain, hubunganku dengan Grey juga semakin dekat. Kami hampir selalu berbicara via WhatsApp setiap malam, mendiskusikan banyak hal — mulai dari pilihan kampus, jurusan, sampai kemungkinan-kemungkinan yang harus kupertimbangkan, termasuk soal jarak kalau aku tetap memilih kuliah di luar Jawa.

Dari percakapan itu, aku coba memetakan tujuan yang kurasa tepat untukku: Psikologi USU atau Bimbingan & Konseling UNJ. Fiks! Jurusan linear, sesuai aturan SNBP, dan achievable, lah, ya.

Ketika liburan semester ganjil tiba, aku pulang ke Bekasi, dan akhirnya bertemu langsung dengan Grey. Momen itu terasa sederhana, tapi benar-benar penuh arti. Kami berbicara tentang banyak hal, termasuk rencana kami selama “masa tenang” SNBP dan UTBK. Bahkan, kami punya satu buku catatan bersama yang kami beri nama “Buku Biru.” Biru sendiri bisa berarti manifestasi lolos SNBP atau perasaan sendu (feeling blue).

Dan entah bagaimana, di momen itu aku membuat keputusan yang sangat personal: aku mau masuk ke BK UNJ. Bagiku, BK UNJ bukan cuma soal jurusan, tapi juga apa yang diwakilinya — kedekatan dengan rumah, kemungkinan untuk mengakhiri LDR, dan masa depan yang lebih nyata dibanding sebelum-sebelumnya.

[4 Januari 2025]

Memasuki semester genap, aku kembali ke Doloksanggul dengan satu fokus utama: BK UNJ. Baik melalui SNBP maupun UTBK, aku harus dapat itu. Hari-hariku terasa padat dan terarah. Aku belajar setiap hari, mengikuti tryout rutin, dan terus mencoba memperbaiki diriku.

Buku-buku yang kuhabiskan untuk latihan soal UTBK

Buku-buku yang kuhabiskan untuk latihan soal UTBK

Ada banyak momen lelah, ya, udah pasti. Ada juga hari-hari di mana aku merasa nggak cukup baik, atau malam-malam di mana aku meragukan diriku sendiri. Tapi di antara semua itu, aku tetap berjalan. Aku bahkan sempat menjalani puasa-puasa tertentu sebagai bagian dari doaku — cara paling personal yang kutahu untuk benar-benar “menitipkan” keinginanku yang satu ini.

Di sela-sela kesibukan itu, ada hal-hal kecil yang justru terasa paling berarti. Perjalanan pulang bersama Papa setelah bimbel, misalnya, sambil makan roti cokelat di motor. Atau percakapan sederhana dengan Grey di malam hari, ketika aku berceloteh tentang keluhanku, lelahku, overthinkingku.

Hal-hal itu, yang dulu terasa biasa saja, sekarang justru terasa hangat sekali kalau diingat.

[18 Maret 2025]

Hari pengumuman SNBP tiba.

Anehnya, hari itu tetap berjalan seperti biasa, nggak seperti “hari besar” yang kubayangkan. Aku tetap pergi ke sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan referensi soal dari GO, bahkan ikut kegiatan bazar. Tapi di dalam, rasanya jauh dari biasa. Ada ketegangan, degupan yang lebih kencang, rasa melilit seperti mules, tapi… ahk! Sulit dijelaskan. Rasanya seperti menunggu sesuatu yang sudah lama kutakuti sekaligus kuharapkan.

Bazar sekolah, 18 Maret 2025

Bazar sekolah, 18 Maret 2025

Di perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, Papa sempat bilang padaku, “nggakpapa kalau nggak lolos. Nggak perlu kau jadi sedih, sampai nggak mau makan, atau nggak mau keluar kamar. Masih ada swasta, Papa harap kamu tetap kuliah tahun ini.”

Huft!

Aku mengerti maksudnya, aku sendiri pun sudah menyiapkan nama-nama kampus di Medan dan di Jakarta, yang negeri maupun swasta. Tapi… aku begitu optimis! Terlalu optimis. Ada semacam keyakinan kecil yang terus bertahan, meskipun dibarengi rasa gugup yang nggak bisa dihindari.

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk di depan laptop. Menunggu waktu yang berjalan lebih lambat dari biasanya. Dan ketika akhirnya hasil itu muncul, “Selamat! Anda dinyatakan lolos seleksi SNBP 2025.” Namaku tertera di pilihan yang selama ini kuusahakan: BK UNJ.

Perasaan itu sulit dijelaskan dengan sederhana. Tentu saja aku bahagia, sangat bahagia. Tapi bukan hanya karena aku “berhasil lolos SNBP.” Lebih dari itu. Momen itu seperti menjawab banyak hal sekaligus. Tentang usaha yang selama ini kulakukan, tentang harapan orang tuaku, tentang LDR yang akan berakhir, dan tentang keyakinan baru bahwa sesuatu yang dulu kuanggap mustahil ternyata bisa menjadi nyata.

Beberapa bulan setelah itu, aku memberi diriku waktu untuk beristirahat. Setelah melalui masa SMA yang terasa berat, akhirnya aku bisa sedikit bernapas lebih lega.

[11 Mei 2025]

Solo flight terakhir dari Doloksanggul ke Jakarta

Solo flight terakhir dari Doloksanggul ke Jakarta

Bulan Mei, aku kembali ke Bekasi. Pulang ke rumah, bertemu Mama, dan bertemu Grey. Aku bersama Grey juga sempat mengikuti workshop Impact Circle 8.0 yang diadakan di UNJ.

Grey, di depan Plaza UNJ

Grey, di depan Plaza UNJ

Sesaat, semua terasa utuh, seperti potongan-potongan yang akhirnya kembali pada tempatnya — seolah nggak ada lagi yang kurang, nggak ada lagi yang perlu kucari. LDR dengan Grey sudah selesai, jurusan impian? dapet. Harapan orang tua? aman. Mama? sudah nggak rindu, karena kini kami dekat.

Tapi ternyata, hidup nggak berhenti di titik itu. Percakapan yang dulu mengalir perlahan menjadi jarang, dan hal-hal kecil yang dulu hangat mulai kehilangan bentuknya. Sampai akhirnya… aku dan Grey berhenti berjalan di arah yang sama. Some endings don’t arrive loudly — they settle in quietly, until you realize something is no longer there. Rasanya seperti jatuh dari ketinggian. Semua yang dulu kubayangkan — masa depan yang kurancang, kebersamaan yang terasa akan pasti, pulang -pergi ngampus bareng— tiba-tiba hilang. Untuk sesaat semuanya terasa kosong. UNJ? Nggak ada artinya lagi. Semua yang sebelumnya terasa begitu berarti pun pelan-pelan memudar.

Lalu, aku memasuki masa PKKMB.

PKKMB UNJ 2025

PKKMB UNJ 2025

Aku bertemu orang-orang baru, mulai mengenal lingkungan di BK UNJ, dan perlahan menemukan kembali rasa nyaman yang sempat hilang. Ada ketenangan yang nggak instan, tapi tumbuh sedikit demi sedikit. Aku mulai merasa lebih aman, lebih stabil, dan lebih mampu memahami diriku sendiri. Meskipun, di beberapa malam tertentu, pertanyaan lama itu masih datang: bagaimana kalau semuanya berjalan seperti yang dulu kubayangkan?

Dari situ aku mulai memahami sesuatu. Bahwa hidup nggak selalu bergerak dalam satu garis lurus. Bahwa kita bisa mencapai sesuatu yang sangat kita inginkan, dan di waktu yang hampir bersamaan juga kehilangan sesuatu yang kita anggap penting. Keduanya nggak saling membatalkan.

Keberhasilan nggak menghapus kehilangan. Dan kehilangan nggak menghapus apa yang sudah kita capai.

Kalau kau sedang menunggu hasil SNBP (atau sedang persiapan UTBK), mungkin kau juga sedang berada di titik yang sama — menunggu sesuatu yang terasa sangat menentukan. Aku berharap kau mendapatkan hasil yang kau inginkan. Tapi lebih dari itu, aku harap kau tahu bahwa satu hasil nggak akan mendefinisikan seluruh hidupmu. Karena pada akhirnya, hidup nggak berhenti pada satu pencapaian. Ia akan terus berjalan, membawa hal-hal baru yang nggak selalu sesuai dengan rencana kita. Dan di situlah kita belajar — bukan cuma tentang bagaimana meraih sesuatu, tapi juga tentang bagaimana melanjutkan hidup ketika semuanya nggak berjalan seperti yang kita bayangkan.

Semoga biru, ya!

UNJ, 31 Maret 2026, Joan Thalita M.


메타데이터
post_id
e8cd8844b0ce
slug
what-happens-after-you-get-the-thing-you-prayed-for-e8cd8844b0ce
url
https://medium.com/@joanthalita.id/what-happens-after-you-get-the-thing-you-prayed-for-e8cd8844b0ce
canonical_url
https://medium.com/@joanthalita.id/what-happens-after-you-get-the-thing-you-prayed-for-e8cd8844b0ce
author_url
https://medium.com/@joanthalita.id
status
ok
fetched_at
2026-07-14 06:51:58