Jangan Cuma Baca Artikel
Mahasiswa pascasarjana umumnya menghabiskan waktunya untuk membaca atau me-review artikel ilmiah. Dua kegiatan tersebut adalah hal pokok…
Jangan Cuma Baca Artikel
Mahasiswa pascasarjana umumnya menghabiskan waktunya untuk membaca atau me-review artikel ilmiah. Dua kegiatan tersebut adalah hal pokok yang sudah setara makan, minum, dan tidur. Bahkan secara durasi bisa jadi lebih panjang.
Pada semester pertama perkuliahan, hampir setiap hari dari pagi hingga malam saya disibukkan dengan membaca artikel. Hingga suatu titik, saya merasa ada sesuatu yang kurang, sampai akhirnya saya membaca kritikan Tom Butler:
“University economics students rarely read books or articles more than 30 years old”
Kritik tersebut secara tersirat memang ditujukan kepada mahasiswa ekonomi, namun menurut saya cakupannya lebih luas untuk diinterpretasikan dan dapat dikontekstualisasikan dalam topik bahasan kali ini.
Mahasiswa umumnya membaca artikel empiris yang paling aktual, karena tuntutan tugas dan persyaratan dari pengelola jurnal yang mensyaratkan sitasi artikel dengan maksimal 5 tahun penerbitan. Membaca artikel yang paling aktual itu bagus, dan gaada yang salah, tetapi ada yang kurang.
Membaca artikel — misalnya di bidang ekonomi — memang membantu kita memahami persamaan matematis, menemukan celah penelitian, dan mungkin membuat kita ahli dalam statistik. Namun belum tentu membuat analisis kita matang. Apalagi membacanya tidak terlalu dalam, hanya sebatas memotong kalimat untuk disitasi lalu ditinggalkan.
Artikel (empiris aktual) umumnya tidak membahas hal-hal yang menjadi pondasi keilmuan, seperti sejarah, pemikiran tokoh, atau paradigma keilmuan. Padahal, aspek-aspek tersebut penting agar kita tidak hanya paham rumus, tetapi juga mengerti makna angka dan konteks di baliknya. Karena itu, membaca literatur di luar artikel menjadi sangat perlu.
Selain itu, orang awam juga tidak membutuhkan penjelasan persamaan matematis yang rumit. Mereka justru ingin memahami hal-hal yang lebih sederhana dan relevan, seperti apa itu ekonomi Islam, mengapa instrumen keuangan Islam diklaim lebih menguntungkan, lebih untung mana RDPT dibanding RDS ketika bull market atau pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya — yang jawabannya tidak cukup ditemukan hanya dari artikel.
Contoh yang menarik bisa dilihat dari Daron Acemoğlu dan James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi. Model penelitian mereka terlihat sederhana, tetapi pisau analisisnya sangat tajam. Tidak terhitung berapa literatur yang dibaca sehingga Why Nations Fail tidak hanya berisi angka dan hasil uji statistik, melainkan juga penjelasan historis, pola kasus yang diurai secara runtut, serta kesimpulan yang kuat dan teruji. Ini yang dibutuhkan di lapangan.
Karena itu, teman-teman yang sedang menempuh pascasarjana sebaiknya mengimbangi bacaan artikel dengan literatur lain. Bisa berupa buku klasik, pemikiran tokoh, opini akademisi, bahkan bacaan fiksi di luar bidang keilmuan. Ini bukan mutually exclusive, karena keduanya saling melengkapi. Saya sendiri punya rule of thumbs: Sabtu–Minggu adalah waktu khusus untuk membaca apa pun selain artikel.
Intinya, jangan terlalu terobsesi dengan jumlah publikasi sampai melupakan pondasi keilmuan. Saya paham ada tuntutan tugas untuk terus memproduksi artikel sebanyak-banyaknya. Secara pribadi, saya juga kurang sepakat dengan sistem ini. Namun, itu bahasan lain.
Jangan berhenti membaca.
메타데이터
- post_id
- e8ec48c6bc5e
- slug
- jangan-cuma-baca-artikel-e8ec48c6bc5e
- url
- https://medium.com/@azrulafril21/jangan-cuma-baca-artikel-e8ec48c6bc5e
- canonical_url
- https://medium.com/@azrulafril21/jangan-cuma-baca-artikel-e8ec48c6bc5e
- author_url
- https://medium.com/@azrulafril21
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31