Sempat
Renjun merapatkan jaket miliknya, merematnya cukup kencang dengan harapan bisa setengah meredakan degup jantungnya yang menggila.
Sempat
Renjun merapatkan jaket miliknya, merematnya cukup kencang dengan harapan bisa setengah meredakan degup jantungnya yang menggila.
Sepanjang perjalanan, isi kepalanya dipenuhi kemungkinan terburuk. Kabar mengejutkan dari Haechan setengah jam lalu, membuat perjalanan yang hanya 20 menit itu terasa begitu lama dan mencekiknya.
Kedua alisnya bertaut dalam. Bukan sebab kesal, tapi berusaha menahan isi kepalanya yang hendak meledak. Dia abaikan keringat dingin di tangannya. Termasuk rasa lelah yang kini total menghilang.
“Jeno kecelakaan.”
Pesan yang temannya kirimkan tidak bisa menghilang dari kepalanya. Ribuan kata “seandainya” kini bersahutan, membuat riuh pada isi kepala Renjun menjadi-jadi.
Seandainya Renjun cukup berbaik hati memberi Jeno kesempatan menjelaskan dan bicara, apa keadaannya akan berbeda?
Jika dia cukup berlapang dada, apa Jeno akan mengalami hal ini?
Renjun membuang napasnya perlahan. Dadanya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat hingga dia kesulitan bersuara.
Menepuk-nepuk pelan dadanya, mata Renjun terasa panas. Dia menoleh, menatap ke mana pun, berusaha menyadarkan dirinya.
“Ren, duduk dulu.” Haechan menyentuh bahunya perlahan.
Wajah pucat milik ketua BEM itu tidak bisa disembunyikan. Sekalipun sikapnya terlihat lebih tenang, tanpa suara, tapi gerakan tangan dan dahi yang masih berkerut dalam tersebut menjadi bukti jika sesuatu disimpan dengan paksa di dalam tubuhnya.
“Ren, Jeno bakalan baik-baik aja. Dia lagi dioperasi karena rusuk sama tulang bahunya ada retakan. Gak sampai patah, jadi gue yakin proses pemulihannya juga bakal lebih cepet.”
Pria bermata rubah itu hanya mengangguk. Mereka berdua kini duduk di kursi tunggu.
Renjun merasa belum cukup mampu jika harus melihat kondisi Jeno sekarang.
Penyesalan merambat di dadanya. Merutuki dirinya sendiri yang bertindak gegabah. Rasa takut akan ejadian berulang setahun lalu, rupanya tanpa sadar menimbulkan trauma untuknya. Dia khawatir akan kecewa jika Jeno melakukan tindakan yang sama.
Rasa percayanya terhadap sang kekasih mendadak buram. Sebab dirinya lebih memilih memenangkan ego. Padahal harusnya Renjun tau jika Jeno sudah berjanji, berusaha, dan membuktikan.
Dia marah. Marah atas sikapnya yang hanya fokus pada rasa sakitnya sendiri. Saat berkali-kali dirinya bilang soal tumbuh dan belajar bersama dalam hubungan ini, Renjun justru mengkhianati ucapannya.
Matanya terpejam, menarik dan mengembuskan napas berkali-kali, berharap bisa sedikit menenangkannya.
“Ren, mau ketemu Jeno? Dia udah dipindahin.”
Mengangguk, pria itu bangkit dari tempat duduknya. Langkahnya terasa berat sampai mereka tiba di depan kamar rawat milik Jeno.
Meski gemetar, tangannya membuka pintu itu. Dia menoleh, “makasih, Chan. Lo bisa pulang buat istirahat. Makasih, ya, udah anterin gue.” Senyumnya terbit, secara tulus dia berikan pada Haechan.
Setelah memastikan Haechan pergi, barulah dia duduk di samping ranjang tempat Jeno istirahat.
Matanya kini terasa panas. Melihat napas Jeno nampak teratur.
Renjun mengulurkan tangan, mengusap jemari Jeno perlahan. Khawatir akan menyakitinya.
“Aku minta maaf,” ucap Renjun. Suaranya serak, terdekat di tenggorokan dan dalam hitungan detik, tangisnya pecah.
Bahunya terguncang dengan wajah menunduk. Rasa bersalahnya semakin besar.
Pria itu sadar jika setiap hubungan memiliki risiko dan masalah, tetapi kali ini rasanya semakin terasa menyakitkan. Renjun ketakutan. Kalau-kalau dia tidak miliki kesempatan meminta maaf dengan benar. Tidak bisa kembali bertatap muka dengan Jeno. Tidak sempat mengucapkan kalau dia begitu mencintai pria itu.
Segala pikiran buruk itu membuat isak tangis Renjun semakin kencang. Dia mendongak, mengais-ais udara, berharap dapat sedikit membantunya bernapas.
Sesekali, Renjun hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Jeno dengan tenang. Tanpa kesalahpahaman, tanpa luka, dan tanpa perdebatan.
Menggengam tangan sang kekasih, Renjun menutup wajahnya dengan punggung tangan tersebut.
“Ternyata aku belum cukup dewasa, Jeno. Apa baiknya kita jalan masing-masing dulu?”
메타데이터
- post_id
- e8ee5f1a4f3a
- slug
- sempat-e8ee5f1a4f3a
- url
- https://medium.com/@harahan979/sempat-e8ee5f1a4f3a
- canonical_url
- https://medium.com/@harahan979/sempat-e8ee5f1a4f3a
- author_url
- https://medium.com/@harahan979
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:51:24