Mengapa PAUD Masih Dipandang Sebelah Mata di Indonesia?
Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Ah, PAUD itu kan cuma tempat main.”
Mengapa PAUD Masih Dipandang Sebelah Mata di Indonesia?
Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Ah, PAUD itu kan cuma tempat main.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tetapi bagi saya, itu mencerminkan cara pandang yang masih keliru tentang pendidikan anak usia dini di negeri ini.
Banyak orang tua baru merasa pendidikan dimulai ketika anak masuk sekolah dasar. Sebelum itu dianggap masa bermain tanpa arah. Padahal justru di usia 0–6 tahunlah pondasi paling penting dibentuk — cara anak mengenal dirinya, belajar percaya pada orang lain, mengelola emosi, dan membangun rasa ingin tahu.
PAUD bukan sekadar ruang bermain. Ia adalah ruang pembentukan karakter awal.
Namun realitasnya, lembaga PAUD sering dipandang sebagai pilihan tambahan. Jika ada dana lebih, anak dimasukkan. Jika tidak, dianggap tidak masalah. Profesi guru PAUD pun sering kali kurang dihargai, baik secara sosial maupun ekonomi. Padahal mereka bekerja di fase perkembangan paling krusial dalam kehidupan manusia.
Mengapa ini bisa terjadi?
Barangkali karena kita terlalu terobsesi pada hasil akademik jangka panjang. Nilai ujian, peringkat, gelar — itu yang dianggap ukuran keberhasilan. Kita lupa bahwa kemampuan membaca dan berhitung akan jauh lebih mudah dicapai jika anak memiliki rasa aman, kepercayaan diri, dan regulasi emosi yang baik sejak dini.
Sebagai pendidik, saya melihat perbedaan yang sangat nyata antara anak yang mendapatkan stimulasi usia dini dengan yang tidak. Bukan hanya soal kemampuan kognitif, tetapi juga kesiapan mental untuk belajar.
Ketika PAUD dianggap sebelah mata, sesungguhnya yang kita abaikan adalah fondasi pembangunan manusia.
Negara-negara yang serius membangun kualitas sumber daya manusia memulai investasinya dari pendidikan usia dini. Mereka memahami bahwa intervensi paling efektif justru terjadi sebelum anak memasuki sekolah dasar.
Pertanyaannya, apakah kita juga memiliki kesadaran yang sama? Ataukah kita masih menganggap PAUD sekadar tempat bermain sambil menunggu “sekolah yang sebenarnya”?
Bagi saya, masa depan bangsa tidak dimulai di bangku kuliah. Ia dimulai dari ruang-ruang kecil tempat anak pertama kali belajar merasa aman, dihargai, dan didengar.
Selama kita belum memandang PAUD sebagai fondasi, bukan pelengkap, maka kita akan terus sibuk memperbaiki masalah di tahap berikutnya.
Dan mungkin, yang perlu kita ubah pertama kali bukan kurikulumnya — tetapi cara pandang kita.
메타데이터
- post_id
- e8efdeea3c63
- slug
- mengapa-paud-masih-dipandang-sebelah-mata-di-indonesia-e8efdeea3c63
- url
- https://medium.com/@ekawatikartika211088/mengapa-paud-masih-dipandang-sebelah-mata-di-indonesia-e8efdeea3c63
- canonical_url
- https://medium.com/@ekawatikartika211088/mengapa-paud-masih-dipandang-sebelah-mata-di-indonesia-e8efdeea3c63
- author_url
- https://medium.com/@ekawatikartika211088
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01