Mau Memaafkan, Enggan Melupakan
Manusia kerap kali melakukan kesalahan. Selalu ada kemungkinan untuk memaafkan. Namun, apakah mereka dapat lupa?
Mau Memaafkan, Enggan Melupakan

Sumber: Pexels
Manusia kerap kali melakukan kesalahan. Selalu ada kemungkinan untuk memaafkan. Namun, apakah mereka dapat lupa?
Saya berpikir bahwa ketika setiap kali saya melakukan kesalahan, mungkin mereka memaafkan. Lalu, ada satu hal yang saya pikirkan lagi. Jika saya sudah bersalah di depan mereka, apakah mereka bisa melupakan kesalahan kita seiring berjalannya waktu?
Belum tentu.
Selama 20 tahun saya menjalani hidup, banyak orang yang sudah saya lampiaskan untuk berbuat salah. Orang tua, saudara kandung, sepupu, kerabat dan sanak saudara, teman sekolah, teman kampus, dosen, bahkan orang yang baru saya kenal dan pertama kali ketemu di suatu tempat, entah di jalan atau di gedung antah berantah. Bahkan untuk kasus seperti menyerempet atau tidak sengaja menabrak di jalan, itu pun juga termasuk bentuk dari kesalahan yang sudah dilakukan.
Tapi apakah bentuk kesalahan yang dimaksud, baik sengaja maupun tak sengaja, berbeda perlakuan untuk hal menyesal-memaafkan dan mengingat-melupakan?
Untuk kesalahan yang tak sengaja, ada kalanya kita merasa menyesal. Mengapa bisa terjadi hal seperti ini secara spontan. Kalau merasa perlu diingat, bisa dibilang ini jangka pendek. Namun untuk beberapa kasus tertentu, seperti tertabrak dengan kendaraan atau hal lainnya yang lebih fatal, bisa jadi momen-momen kesalahan tersebut tak bisa dihindarkan lagi untuk dilupakan.
Untuk kesalahan yang sengaja, rasa menyesal bisa beragam. Tergantung kondisi kejadian dan kondisi mental korban. Jika kondisinya fatal, tingkat penyesalan bisa tinggi. Begitu pula dengan kondisi mental korban yang cukup sensitif, sekalipun kejadiannya sepele, tingkat penyesalannya bisa jadi tinggi.
Lalu, untuk tingkat mengingat akan kesalahan yang disengaja tersebut bagaimana? Saya tidak bisa bilang ada kemungkinan bagi mereka untuk lupa. Hampir semua kesalahan yang sudah terjadi, sulit untuk dilupakan. Ada saja orang yang masih mengingatnya, entah dalam bentuk apa. Termasuk jika Anda menuliskan kesalahan tersebut pada Facebook. Di sana terdapat fitur yang akan memunculkan kembali apa yang sudah Anda post selama setahun lalu ke belakang. Otomatis, dari kesalahan Anda yang sudah lupa, bisa ingat lagi dong?
Dari sekian hadist yang saya baca, sangat dianjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Tapi saya tidak menemukan satu kata yang menyebut “lupakan kesalahan orang lain” pada hadist tersebut. Mungkin pada penafsirannya mewajibkan kita sebagai insan Allah untuk memaafkan insan-insan yang lain dan kemudian melupakannya. Namun rasanya begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa apa yang sudah terjadi, harus diterima apa adanya dan harus ikhlas ketika sudah tertimpa kesialan pada kita.
Dalam konteks psikologi pun ada 4 kondisi tindakan yang dilakukan seseorang jika telah menerima kesialan atau kemalangan, yaitu: mau memaafkan dan mau melupakan; mau memaafkan tetapi tidak mau melupakan; tidak mau memaafkan tetapi mau melupakan; tidak mau memaafkan dan tidak mau melupakan. Sangat sedikit sekali orang yang bergolongan pertama dan sangat banyak sekali orang yang bergolongan kedua dan ketiga. Tidak sedikit juga untuk orang yang berada pada golongan keempat. Dilihat dari dampak yang diterima dari keempat jenis orang ini, tentu paling tenang kondisi emosional orang yang di golongan pertama. Tapi apakah golongan kedua kondisi emosionalnya tidak tenang seperti golongan ketiga dan keempat? Belum tentu. Bisa jadi mereka jadi lebih bijak dalam mengambil keputusan di masa depan. Karena apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya bisa jadi pengalaman untuk mempertimbangkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Istilahnya, menjadi lebih hati-hati dalam bertindak dan berbuat.
Jadi, intinya, bila kita berbuat salah kepada orang lain, apakah bisa langsung mereka lupa dengan cepat? Tidak. Mindset ini (yang mana selama ini terkadang masih saya pegang) yang harus dibuang jauh-jauh. Karena tidak semua orang bisa melupakan, walau mereka sanggup memaafkan.
메타데이터
- post_id
- e90caca76d8b
- slug
- mau-memaafkan-enggan-melupakan-e90caca76d8b
- url
- https://medium.com/@adenaufal/mau-memaafkan-enggan-melupakan-e90caca76d8b
- canonical_url
- https://medium.com/@adenaufal/mau-memaafkan-enggan-melupakan-e90caca76d8b
- author_url
- https://medium.com/@adenaufal
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 08:49:30