Kalah Telak
Perasaan baru dan adaptasi waktu di bulan Ramadhan bukan lagi menjadi hal asing bagi semua orang. Banyak perubahan personalitas yang…
Kalah Telak
Perasaan baru dan adaptasi waktu di bulan Ramadhan bukan lagi menjadi hal asing bagi semua orang. Banyak perubahan personalitas yang terjadi di bulan Ramadhan, mulai dari berubahnya jam makan, atur ulang pola jam tidur, bertambahnya jumlah ayat al-Qur’an yang dibaca, semakin takut melakukan hal-hal yang berdekatan dengan dosa, dan lain sebagainya.
Bagiku, untuk bisa mempadu-padankan kegiatan pondok dan kegiatan kampus yang saling bergesekan di bulan Ramadhan bukanlah hal yang mudah. Gampangnya begini, jumlah diri yang hanya satu dilecuti banyak cambuk kuda dalam keadaan lemas dan lapar, bagaimana rasanya? Tidak perlu dibayangkan. Di hari ke empat puasa kemarin, energiku sudah tumpah di pagi hari sebelum berangkat melaksanakan tugas kampus alias PLP di sekolah. Perpaduan antara rasa lelah yang barusan terjadi, dan rasa lelah yang akan datang seperti menggumpal dalam satu waktu. Ini tentu full keteledoranku, karena terlalu dini membayangkan kelelahan yang belum terjadi, artinya aku akan mendapatkan kelelahan dua kali lipat, yaitu lelah yang di bayangkan dan lelah yang benar-benar akan terjadi.
Pagi sampai sore dihabiskan di sekolah, menjadi pengajar amatiran dan suruhan. Berangkat nebeng motor teman, pulang berdesakan di bus transjogja yang datang se-jam-an. Kemudian berjalan menggunakan kaki sendiri dari halte menuju ke pondok, cukup melumpuhkan. Bukan melumpuhkan tenaga, tapi melumpuhkan sepatu pantofel hitam yang aku kenakan. Menjelang berbuka sampai tengah malam kenyang mengaji kitab dan tadarusan. Kegiatan berbau syurga tidak ada habisnya sampai petangnya malam benar-benar petang. Kalau bukan karena tuntutan, mungkin saja aku sudah meniup peluit dan mengangkat tangan sembari berkata, “aku menyerah”.
Aku sudah mengoceh banyak ternyata. Hai pembaca, spekulasimu benar. Aku kalah telak. Cambukan yang mungkin bagi beberapa orang diluar sana belum seberapa membuatku kalah, kalah telak. Tapi bukankah kekalahan adalah wadah besar yang berisi banyak kekuatan baru, sehingga dengan kekuatan baru itu bisa dilahirkan kemenangan. Bukankah begitu, pembaca?
메타데이터
- post_id
- e929f543e09f
- slug
- kalah-telak-e929f543e09f
- url
- https://medium.com/@byadinda/kalah-telak-e929f543e09f
- canonical_url
- https://medium.com/@byadinda/kalah-telak-e929f543e09f
- author_url
- https://medium.com/@byadinda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 05:50:58