when, yh
“ngumumi kancane”.
when, yh
Akhir-akhir ini, linimasaku kerap diinvasi oleh sebuah repetisi kalimat singkat yang menggelitik: “when, yh”. Sebuah frasa ringkas yang menandakan sebuah situasi di mana seseorang sedang melempar tanya, entah pada semesta atau pada dirinya sendiri, tentang sebuah pemandangan romantis yang kerap berkelabat di depan mata, namun belum juga bisa direngkuh dalam dekapan realita.
Secara kontekstual, pemaknaan “when, yh” sesungguhnya bisa melebar ke mana-mana. Namun, jika kita telusuri hilirnya, ia hampir selalu bermuara pada satu titik yang sama, yaitu hubungan kasih sayang.
Cinta.

when, yh (1)
Memang benar, tren ini utamanya dikumandangkan oleh para remaja yang baru menapak fase hidup penuh gejolak. Fase di mana mereka mulai tertarik pada lawan jenis dan tiba-tiba saja memproklamirkan dogma baru bahwa selain uang, pasangan hidup adalah fondasi yang fundamental. Katanya sih, biar ada support system. Ya, katanya banyak orang sih begitu, bukan kataku lho, ya.
Sebagai pengamat amatir dari sudut pandang personal, aku kerap menyaksikan fenomena ini bertebaran di sekitar masyarakat, bahkan di lingkaran pertemanan terdekatku. Menariknya, kalimat “when, yh” ini sering kali disematkan secara sembunyi-sembunyi di fitur Notes pada second account Instagram. Tujuannya transparan, yaitu agar tidak tampak sedang berada di fase galau oleh khalayak ramai, demi menjaga persona keren yang sudah dibangun sedemikian rupa. Uniknya, saat mereka ditanya langsung, jawabannya kerap kali pura-pura galau alias sekadar “ngumumi kancane”. Aku pribadi mencoba percaya saja, walau di balik itu, insting skeptisku langsung bekerja berat.

when, yh (2)
Lalu, bagaimana dengan aku pribadi? Apakah aku pernah melayangkan kalimat sakral ini? Jelas saja iya dong. Tapi tenang, konteksku melempar kalimat itu murni demi menghormati tren yang diagungkan masyarakat dan diikuti teman-temanku. Hitung-hitung, itu adalah bentuk solidaritas dariku untuk turut serta membantu memvalidasi perasaan temanku yang sedang kasmaran atau merana itu, hehe.
Membicarakan pasangan hidup barangkali memang membuat obrolan kita ini terasa agak ndakik-ndakik. Namun tenang saja, kita tidak perlu sekritis itu, karena perkara pasangan adalah hal yang sudah dijanjikan oleh Yang Maha Kuasa. Itu adalah janji mutlak yang tintanya telah mengering dan digariskan di Lauhul Mahfudz.
Ya, Lauhul Mahfudz, sebuah judul yang sama persis seperti lagu milik komika Y* B***. Sebuah lagu yang dengan jujur menceritakan kisah hidup dan perjuangannya bersama sang istri. Kita tentu berharap, semoga keindahan kisah nyata mereka adalah refleksi dari apa yang memang dicatatkan oleh sang Khalik di Lauhul Mahfudz yang abadi.

*Vini Caroline & Y* B****
[embed]
Landasan teologis dari keyakinan ini tertulis indah dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini adalah cetak biru sekaligus bukti otentik bahwa manusia akan menemukan pasangannya yang telah dijanjikan. Tuhan pula-lah yang memupuk rasa cinta dan kasih sayang tersebut di dalam dada. Tentunya, fenomena ini adalah bentuk hal yang patut disyukuri karena menjadi sebuah bukti nyata kuasa Allah. Sebab, Ialah satu-satunya Zat yang memegang kendali penuh atas perkara membolak-balikkan hati manusia.
Berangkat dari kesadaran sakral tersebut, rasanya pasangan memanglah suatu nilai tinggi yang harus kita jaga sebenar-benarnya. Manifestasi cinta kepada pasangan pun merupa banyak bentuk, mulai dari yang normal, konvensional, hingga yang sepenuhnya nyeleneh.
Menyanjung lewat untaian lagu, misalnya, sejak dulu menjadi senjata paling ampuh untuk memuji pasangan. Tengok saja apa yang dilakukan oleh John Lennon. Ia menulis lagu monumental berjudul “Woman”, yang tentu saja diperuntukkan secara khusus bagi belahan jiwanya, Yoko Ono. Walau secara personal, yang sialnya bagiku, Yoko Ono masih kuanggap sebagai salah satu faktor utama dari bubarnya band terbesar sejagat raya, The Beatles.
[embed]
Kisah Lennon dan Yoko sejatinya berakar dari sebuah tragedi romantis yang kontroversial. Pada awal pertemuan mereka, John Lennon masih berstatus sebagai suami sah dari istri pertamanya, Cynthia Powell. Namun pada akhirnya, ego cinta mereka merekah, mendominasi setiap lini dunia hiburan di era kejayaan mereka. Jodoh, membuktikan dirinya sebagai rahasia besar alam semesta yang tidak bisa didikte oleh moralitas publik.

John Lennon & Yoko Ono
Kontroversial mungkin memang pantas disematkan sebagai nama tengah mereka berdua, mengingat hubungan tersebut dinilai masyarakat kala itu cukup mengganggu norma sosial. Namun, John Lennon abai. Ia seolah berkata kepada dunia,
“Lha aku cinta dia kok walaupun kalian benci. Aku akan membenci kalian dan tetap mencintainya.”
Menariknya, transformasi John Lennon menjadi seorang aktivis kemanusiaan kabarnya diracuni oleh pemikiran-pemikiran radikal Yoko Ono dalam bukunya yang berjudul Grapefruit. Buku inilah yang di kemudian hari menjadi inspirasi utama lahirnya lagu “Imagine”, sebuah himne yang kerap kali diputar sebagai simbolisme perdamaian di seluruh penjuru bumi.

Grapefruit
Sampai akhirnya maut memisahkan mereka melalui timah panas Mark Chapman, cinta mereka tetap abadi. Walau sejujurnya hatiku pelik untuk mengakui eksistensi Yoko Ono, keangkuhanku runtuh saat melihat sebuah cuplikan video di YouTube.
[embed]
Video itu merekam sebuah penampilan ulang lagu “Woman” dalam sebuah acara perayaan ulang tahun 75 tahun dari John Lennon. Di sana, Yoko Ono hadir menyaksikan langsung. Saat lagu dinyanyikan, beberapa kali kamera menangkap momen Yoko Ono menangis dalam diam. Di titik itu, tak bisa dipungkiri, semesta tahu bahwa John Lennon begitu luar biasa mencintainya.

Yoko Ono & John Lennon
Lagu “Woman” milik Lennon ternyata tidak berhenti di sana. Lagu ini sempat dinyanyikan ulang secara magis oleh sang Prince of Darkness, Ozzy Osbourne.
[embed]
Seperti yang kita tahu, Ozzy juga memiliki sosok pasangan hidup yang tak kalah melegenda, yaitu Sharon Rachel Osbourne. Jika kita bandingkan, kisah cinta Ozzy dan Sharon terasa jauh lebih berbahaya, mematikan, dan aneh ketimbang John dan Yoko. Relasi mereka berdua membuat drama romantis punggawa Beatles tadi terlihat seperti kisah cinta cupu tingkat teri.

Ozzy Osbourne & Sharon Rachel Osbourne
Pertemuan mereka terjadi di titik nadir kehidupan Ozzy, tepat setelah ia didepak dari band pelopor heavy metal, Black Sabbath, akibat kecanduan alkohol dan narkoba yang sudah berada di luar kendali. Sharon sendiri bukan orang asing karena ia adalah anak dari Don Arden, manajer Black Sabbath saat itu.
Sharon datang bagai Dewi Fortuna di tengah kegelapan. Ia memberi Ozzy secercah harapan hidup justru di saat frontman eksentrik itu sedang mengurung diri di sebuah kamar hotel kumuh di Los Angeles, pasrah bahwa hidup, waras, dan kariernya telah berakhir. Sharon-lah yang memungut puing-puing diri Ozzy dan membantunya membangun karier solo yang kelak terbukti sukses besar lewat album ikonik Blizzard of Ozz. Dari profesionalisme yang intens inilah, benih-benih cinta yang liar tumbuh dan berkembang.

Blizzard of Ozz
Kisah cinta mereka berdua sering kali terasa too good to be true. Ozzy, seorang berandalan bajingan yang hidupnya merepresentasikan gaya hidup rockstar mentok, harus berhadapan dengan Sharon, seorang pasangan yang mengekang hidupnya dalam bayang-bayang aturan. Sisi liar Ozzy kerap merasa itu adalah hal yang memuakkan, namun di sisi terdalam dirinya, ia tahu betul bahwa Sharon adalah satu-satunya obat yang bisa membuatnya menanggalkan semua tabiat buruk.
Ujian paling mematikan dalam hubungan mereka terjadi saat Ozzy mencoba membunuh Sharon di bawah pengaruh delusi obat-obatan dan alkohol dosis tinggi. Ozzy berjalan dingin ke arah Sharon dan berkata,
“Kami telah memutuskan bahwa kamu harus mati,”
lalu mulai mencekik leher istrinya. Beruntung, Sharon berhasil menekan tombol darurat di rumah mereka, dan Ozzy pun diringkus polisi.
Alih-alih langsung melayangkan gugatan cerai pasca trauma mengerikan itu, Sharon mengambil langkah tak biasa. Ia setuju untuk tidak mengajukan tuntutan hukum dengan syarat mutlak bahwa Ozzy harus masuk pusat rehabilitasi selama enam bulan.
Setelah kejadian itu, Ozzy semakin mengukuhkan komitmennya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Berkali-kali ia menegaskan betapa ia sangat menyayangi Sharon. Dalam sebuah wawancara, Ozzy bahkan pernah berucap bahwa jika tidak ada Sharon di hidupnya, ia pasti sudah mati puluhan tahun yang lalu, bukan pada kematian fisiknya yang baru terjadi beberapa waktu lalu. Sharon pun turut menegaskan narasi serupa bahwa meski Ozzy memiliki sejuta kekurangan dan masa lalu yang teramat kelam, bagi Sharon, Ozzy adalah belahan jiwanya yang tak tergantikan.

Sharon Rachel Osbourne & Ozzy Osbourne
Jika kupikir-pikir kembali secara jernih, kisah dari dua punggawa band terkenal di dunia yang aku ceritakan di atas sebetulnya jauh dari potret cinta yang sempurna. Ada banyak lubang, cacat cela, dan trauma yang coba mereka tambal sendiri di sepanjang jalan. Namun bagiku, justru itulah potret pasangan yang sebenar-benarnya pasangan. Validitas itu terbukti lewat waktu, di mana Yoko Ono tidak pernah menikah lagi setelah ditinggal mati John Lennon, dan tampaknya Sharon pun tidak akan pernah menikah lagi dengan pria lain selain Ozzy.
Apakah John Lennon dan Ozzy Osbourne pernah terdiam dalam suatu fragmen waktu di masa mudanya, lalu bergumam lirih: “When, yh?”
Imajinasiku barangkali sudah terbang terlalu jauh. Namun untuk saat ini, bagiku pribadi, ada baiknya aku kembali fokus pada banyak hal produktif lain di hidup ini, seraya sesekali terus mengucap “when, yh” di media sosial. Ya, hitung-hitung untuk terus memvalidasi perasaan teman-temanku yang beneran larut dalam kubangan hopeless romantic.

when, yh (3)
Apa? Kamu berharap di akhir tulisan ini aku akan meratap dan mendiskreditkan diri sendiri sebagai orang yang cukup kalah dalam urusan asmara?
Tidak mungkin! Jodoh kita masing-masing sudah ditulis di Lauhul Mahfudz, kan?
메타데이터
- post_id
- e9380f6d5a16
- slug
- when-yh-e9380f6d5a16
- url
- https://medium.com/@m.f.ilalang/when-yh-e9380f6d5a16
- canonical_url
- https://medium.com/@m.f.ilalang/when-yh-e9380f6d5a16
- author_url
- https://medium.com/@m.f.ilalang
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30