← Back to list

Redupnya Cahaya Puasa Kami

Dunia seperti berhenti berputar sejenak

Terry Arie in Ruang Kontemplasi · 2026-03-31 22:01 · 99 claps · 3.9 min read
#duka #kehilangan #bahasa-indonesia #ruang-kontemplasi #renungan
Open on Medium ↗

Redupnya Cahaya Puasa Kami

Saya sekeluarga memulai perjalanan mudik lebaran tahun ini dari Karawang menuju Pagaralam pada tanggal 17 Maret malam, tepat setelah buka puasa. Langit Jabodetabek begitu bersih, jalanan cukup lengang untuk ukuran Jabodetabek dan entah kenapa semuanya terasa seperti sudah diatur untuk berjalan mulus sejak awal. Dari rumah sampai ke pelabuhan, tidak ada satu pun kemacetan yang biasanya menjadi tradisi tahunan. Bahkan ketika saya tiba di pelabuhan, saya langsung mendapat giliran antrian di depan kapal. Rasanya seperti dibukakan jalan lapang, satu per satu tanpa perlu menunggu.

Tahun ini saya sengaja memilih rute nostagila, tidak keluar tol di Kayu Agung seperti biasanya, tapi keluar di Terbanggi Besar. Lalu menembus Kotabumi, Baradatu, Martapura, Baturaja, Tanjung Enim, Muara Enim, Lahat, sebelum akhirnya nanti tiba di Pagaralam. Kota-kota yang dulu pernah saya hafal kalau jalan-jalan ke Jakarta bersama bapak, tapi sudah mulai memudar dalam ingatan. Sengaja saya pilih jalan ini untuk memanggil kembali kenangan. Setiap kota seperti membuka pintu lama yang pernah saya lewati bertahun-tahun lalu. Ada rumah-rumah panggung dengan cahaya kuning remang, rumah makan persinggahan bus yang dulu ramai sekarang sudah sepi dan SPBU tua yang menolak digilas oleh waktu.

Cuaca bersahabat hampir sepanjang perjalanan. Hanya satu kali saya benar-benar harus berhenti: hujan deras di tol sekitar jam empat pagi membuat pandangan buram dan tubuh mulai letih. Saya menepi di rest area, mematikan mesin dan menarik napas panjang. Entah karena lelah dan ngantuk atau karena suasana subuh yang menyejukkan, ada hening yang begitu tebal di dalam mobil saat itu. Saya sempat tertidur sebentar atau mungkin hanya memejam cukup lama untuk kehilangan beberapa saat.

Ketika hujan mereda, saya kembali melaju. Jalanan kembali cerah dan jam enam saya sudah menyusuri jalan lintas tengah Sumatera.

Hingga kabar itu datang. Tanggal 18, setengah tujuh pagi, saat saya masih di jalan, handphone saya dihubungi oleh nomor Ibu tapi yang menyampaikan adalah adik saya, "Nenek telah berpulang."

dok. pribadi

dok. pribadi

Dunia seperti berhenti berputar sejenak. Saya mencoba mencerna pesan itu, berharap ada kesalahan dengar atau mungkin ini hanya mimpi dari tidur saya tadi pagi. Tapi ini jelas sudah, berita itu sejelas teriknya panas matahari di Lampung.

Sejak itu, perjalanan saya berubah. Setiap kilometer berikutnya bukan lagi sekadar perjalanan pulang, melainkan perjalanan duka hening kami sekeluarga. Saya menyusuri kenangan yang pelan-pelan muncul dalam riak air mata yang mulai menggenang. Setiap kota yang saya lewati bukan lagi nostalgia, tetapi mengingatkan bahwa saya terlambat.

Saya teringat masa kecil saya, saat nenek mengasuh saya ketika bapak dan ibu bekerja. Tangan tuanya yang lembut mengurutkan hari-hari saya: menyuapi, memandikan dan menidurkan

Waktu itu, dunia saya sesempit rumah kami yang beralaskan tanah tapi seluas kasih sayangnya. Pagi hingga siang bersama nenek.

Lalu saya teringat masa remaja saya. Masa yang tidak selalu terang. Ketika akhir SMA saya penuh kelam dan hampir kehilangan arah masa depan, nenek menjaga saya. Ia tidak pernah bertanya hal-hal yang sulit saya jawab. Ia hanya memastikan saya makan, tidur dan memastikan saya tiba di sekolah setiap hari.

Kalau ada yang bilang cinta itu tidak menggunakan suara, saya yakin cinta nenek adalah salah satunya.

Dalam banyak momen bingung dan kesulitan, terutama jika masalah itu berkaitan dengan Ibu, nenek menjadi tempat saya untuk pulang. Ia tidak pernah memberikan solusi panjang. Kadang ia hanya duduk. Kadang hanya berkata satu dua kalimat pendek. Tapi dari situ saya tahu, saya tidak sendirian.

Ketika Ibu berangkat ke Taiwan, nenek juga yang menjaga Bapak dan dua adik saya. Peran besar yang ia terima tanpa keluh, seolah menjaga keluarga adalah bagian dari napasnya sendiri.

Dan sampai menjelang ajalnya, nenek masih kuat memelihara kebun kopi kami. Di usianya yang sudah sepuh, ia masih melangkah ke kebun, memeriksa daun-daun kopi, membuang tunasnya, menyingkirkan gulma dan memastikan setiap pohon tetap hidup. Seakan setiap pohon kopi itu bukan tanaman, tapi anak-anak yang ia besarkan sejak kecil.

Di mobil hari itu, antara bau aspal basah dan sisa hujan, semua kenangan itu datang satu per satu. Kenangan yang berisi kehangatan yang menyesakkan dada pelan-pelan, seperti seseorang menyalakan lampu kecil-lampu kecil dalam hati saya. Muncul seperti titik-titik cahaya kecil yang tidak bisa saya hindari. Ada kehangatan yang bercampur sesak. Ada syukur, tapi juga diikuti oleh penyesalan.

Dan saya tidak bisa berhenti memikirkan satu hal, 'apakah nenek pergi di saat saya menepi karena hujan itu?" Saat saya tertidur dalam gelap, menunggu hujan reda, apa mungkin dunia beliau juga sedang mereda?

Saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Tapi saya merasakan seakan perjalanan itu sudah dirancang dari awal bahwa saya harus merasakan hujan itu, harus berhenti, harus tertidur sebentar. Mungkin itu bentuk perpisahan paling lembut yang bisa Tuhan berikan.

Dan nenek saya sudah lebih dulu sampai, tanpa harus sakit lagi.

Di ujung perjalanan ini, ketika matahari mulai condong ke barat dan tubuh mulai lelah, satu hal terasa sangat jelas, Ramadan tahun ini mengajarkan saya arti keikhlasan lewat cara yang paling lembut sekaligus paling menusuk.

Maka biarlah tulisan ini saya tutup dengan doa untuk beliau,

"Ya Allah, terimalah pulangnya nenek kami dengan kasih sayang-Mu. Lapangkan jalannya, terangilah peristirahatannya dan jadikan setiap kebaikan yang pernah ia tabur sebagai cahaya yang mengiringinya. Ampuni segala kekurangannya, gantikan setiap lelahnya dengan kedamaian yang tak bertepi. Jadikan kebun kopi yang ia rawat, anak cucu yang ia besarkan dan kasih yang ia titipkan kepada kami sebagai amal yang terus mengalir. Dan kuatkan kami yang ditinggalkan, agar mampu melanjutkan hidup dengan hati yang sabar dan lapang."

Nama nenek saya secara harfiah adalah "Cahaya Bulan Puasa", saya yakin Beliau datang di bulan puasa dan pulang pun di bulan puasa. Seolah Allah mengembalikan cahaya itu tepat ketika bulan terbaik yang dipilih.

Selamat beristirahat, Nek Nursiam. Yang kau tinggalkan bukan hanya kenangan tapi jejak cinta yang akan kami bawa pulang sepanjang masa.

sudut dapur di rumah Nenek

sudut dapur di rumah Nenek


메타데이터
post_id
e93952abcfdc
slug
redupnya-cahaya-puasa-kami-e93952abcfdc
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/redupnya-cahaya-puasa-kami-e93952abcfdc
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/redupnya-cahaya-puasa-kami-e93952abcfdc
author_url
https://medium.com/@cipthami
status
ok
fetched_at
2026-06-17 18:52:58