← Back to list

EKSISTENSI US DI ASIA-PASIFIK PASCA THE RISE OF CHINA

Sebuah opini bagaimana peran dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik pasca The Rise of China.

Atha Athallah · 2024-12-28 19:26 · 0 claps · 4.3 min read
#asia-pacific #usa #the-rise-of-china #regionalism #unsoed
Open on Medium ↗

EKSISTENSI US DI ASIA-PASIFIK PASCA THE RISE OF CHINA

Sebuah opini bagaimana peran dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik pasca The Rise of China.

Abstrak

Kawasan Asia-Pasifik sebagai Region of Change merupakan kawasan yang sedang mengalami perubahan signifikan sejak 1949. “The changes today occur at all levels of the regional system.” (Rolfe, 2004). Makna “Change” sendiri ditafsirkan serupa pula oleh Joseph Nye dalam bukunya yang berjudul “The Changing Nature of World Power’, Political Science Quarterly”.

“Change, on the other hand, is a more routine or day-to-day set of occurrences.” (Nye, 1990).

Kawasan Asia-Pasifik merupakan kawasan besar yang wilayahnya mencakup semenanjung Asia, Samudera Pasifik, Australia dan Oceania, hingga Amerika Serikat. Jika kita melihat dari letak geografisnya, sesuai dengan namanya, kawasan ini meliputi beberapa sub-sub kawasan kecil, yakni; Daratan Asia, Asia Tenggara, hingga Australia dan Oceania. Lantas mengapa Amerika Serikat ada didalamnya? Dan apa yang dilakukan serta bagaimana Amerika Serikat sebagai negara hegemoni seringkali mencampuri urusan Asia-Pasifik? Artikel opini ini dibuat untuk mengetahui bagaimana peran dan pengaruh dari Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik. Amerika Serikat melihat adanya potensi munculnya kekuatan besar (The rise of great power) yang dikhawatirkan akan menjadi saingan mereka dimasa yang akan datang.

The Rise of China di Asia-Pasifik

Kawasan Asia-Pasifik merupakan pusat gravitasi keamanan global yang paling strategis di dunia (Al Syahrin, 2018). Potensi ekonomi yang besar dan didukung oleh letak geografis yang strategis menjadi kunci dari dinamisnya perubahan di kawasan Asia-Pasifik. The Rise of China sejak beberapa dekade terakhir telah mengganggu ketenangan Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang mengontrol sistem internasional saat ini. Menurut the US National Defence Department, Beijing berusaha mengamankan status sebagai kekuatan besar di kawasan. Meskipun kita ketahui bersama bahwa kebijakan luar negeri Beijing menunjukkan strategi ‘baik’ dan tidak dengan terang-terangan menentanag Amerika Serikat. Namun faktanya, Amerika Serikat khawatir dengan pengaruh Beijing yang kian hari semakin besar dikawasan.

Pasca the Cold War, sebenarnya Amerika Serikat lebih berfokus pada isu-isu perdamaian di Timur Tengah, dan sedikit mengesampingkan dinamika yang ada di Asia-Pasifik. Akibatnya, Beijing mendapatkan keleluasaan atas sikap Amerika Serikat saat itu. Bangkitnya Beijing menjadi tamparan keras bagi Amerika Serikat yang menandakan suatu saat akan berakhirnya hegemoni Amerika Serikat di kawasan, bahkan dunia. Sejak saat itulah Amerika Serikat menyatakan sikapnya untuk kembali memperhatikan dinamika Asia-Pasifik untuk menanamkan kembali kontrol dan politik campur tangannya di kawasan.

Melemahnya kekuatan Amerika Serikat (declining) di kawasan berbanding terbalik dengan kondisi meningkatnya pengaruh Beijing. Melalui klaim atas Laut China Selatan, Beijing terlihat mulai menunjukkan kekuatannya di kawasan sebagai calon negara adidaya baru yang dapat menjamin stabilitas kawasan. Hal ini ditandai dengan pembangunan pulau buatan dan pembangunan pangkalan militer Beijing di Laut China Selatan. Selain itu, dewasa ini, Beijing juga aktif dalam kerjasama-kerjasama multilateral dengan negara-negara di Pasifik. Membuktikan keseriusan Beijing untuk menggantikan posisi sentral Washington pada beberapa dekade terakhir.

Peran dan Pengaruh Amerika Serikat di kawasan

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat berhasil memainkan peran sentral sebagai negara adidaya dengan kontrol penuh atas kawasan yang ditandai dengan penjaminan stabilitas keamanan, pembinaan aliansi, dan kemitraan politik. Ditambah, kondisi ekonomi dan politik di kawasan Asia-Pasifik utamanya Oceania merupakan kawasan rawan akan ancaman isu-isu keamanan baik tradisional maupun non-tradisional seperti ancaman keamanan iklim. Perubahan iklim yang ekstrem di dunia telah menyebabkan naiknya suhu global dan berefek panjang pada kenaikan air laut. Hal ini menjadi ancaman serius bagi negara-negara kepulauan dan dataran rendah di Pasifik.

Pasca the Rise of China, Amerika Serikat membentuk kerangka kerja baru melalui kebijakan Institutional Balancing. Kerangka kerja baru ini memungkin Amerika Serikat untuk dapat menanamkan kembali peran dan pengaruhnya di kawasan Asia-Pasifik. Institutional Balancing sendiri merupakan strategi yang mengandalkan lembaga atau institusi multilateral untuk membatasi dan melemahkan kekuatan dan pengaruh saingannya (He, 2009). Strategi ini ditujukan untuk mengubah kekuatan relatif antara suatu negara dengan negara lain (Al Syahrin, 2018).

Terdapat 3 (tiga) jenis Institutional Balancing yang diterapkan oleh Amerika Serikat, meliputi; (1) Inclusive Institutional Balancing, dimana strategi ini memasukkan negara target kedalam institusi atau lembaga multilateral yang diharapkan dapat membatasi dan membentuk perilaku negara target tersebut, contohnya adalah Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) dimana Amerika Serikat dan China berada dalam satu institusi atau lembaga yang sama. (2) Exclusive Institutional Balancing, merupakan strategi balancing yang tidak melibatkan negara target kedalam institusi atau lembaga yang ada, contohnya adalah AUKUS dimana Amerika Serikat membentuk aliansi dengan Australia, United Kingdom, dan United States tanpa kehadiran China atau negara pro China lainnya. (3) Inter-Institutional Balancing, yang mana merupakan strategi gabungan atau kondisional. Degan begitu Amerika Serikat dapat menggunakan Inclusive Institutional Balancing ataupun Exclusive Institutional Balancing sesuai dengan kebutuhan ataupun untuk menggantikan institusi lama, contohnya adalah. East Asia Summit (EAS) dimana sebelum masuknya Amerika Serikat institusi ini dibentuk untuk mendukung strategi Exclusive Institutional Balancing dan setelah bergabungnya Amerika Serikat institusi ini kemudian menjadi Inclusive Institutional Balancing.

Opini

Kawasan Asia-Pasifik sebagai pusat gravitasi keamanan global bukan sembarang narasi yang dibentuk. Melainkan benar terbukti menjadi suatu ranah diplomasi yang sangat menjanjikan. Meskipun secara tujuan awal dibentuknya kawasan ini oleh Amerika Serikat sebagai kawasan kontrol penuh Amerika Serikat, faktanya munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti the Rise of China menjadi ancaman serius bagi eksistensi Amerika Serikat di kawasan ini.

Menurut penulis, kontrol dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan tidak harus disikapi dengan kekhawatiran akan keamanan regional. Justu hal ini berbanding sebaliknya, dimana dengan aktifnya kembali kontrol dan peran Amerika Serikat membuat dominasi China di kawasan menjadi lebih terkontrol, begitupun sebaliknya. Meskipun dampaknya ASEAN sebagai central dari Asia-Pasifik harus membagi sedikit kedaulatannya demi terciptanya stabilitas di kawasan.

The Rise of China sejatinya menjadi bukti bahwa kawasan ini adalah a Region of Change sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rolfe. Bahwasannya sebagai kawasan yang dinamis, negara manapun dapat menjadi negara yang sejahtera. Negara-negara di kawasan patut bersyukur dengan kehadiran Amerika Serikat dan China di kawasan yang dapat berdampak positif terhadap majunya ranah kerjasama multilateral di kawasan. Kemajuan ranah multilateral ini dapat dimanfaatkan sebagai pendorong pembangunan kawasan, penjamin stabilitas keamanan, terbukanya peluang-peluang ekonomi baru, dan stabilitas politik di kawasan.

Referensi Bacaan

e-Book

Rolfe, J. (2004b). The Asia-Pacific: A Region in Transition. In A Region of Change: A Region in Transition (pp. 1–10). essay, Asia-Pacific Center for Security Studies (APCSS). Retrieved 2024, from https://apps.dtic.mil/sti/citations/ADA596407.

Nye, J. S. (1990). The Changing Nature of World Power. Political Science Quarterly, 105(2), 177–192. Retrieved 2024, from https://doi.org/10.2307/2151022

Zulfqar Khan, & Fouzia Amin. (2015). ‘Pivot’ and ‘Rebalancing’: Implications for Asia-Pacific Region. Policy Perspectives, 12(2), 3–28. Retrieved 2024, from https://doi.org/10.13169/polipers.12.2.0003

Article / Journal

Al Syahrin, M. N. (2018). China Versus Amerika Serikat: Interpretasi Rivalitas Keamanan Negara Adidaya Di Kawasan Asia Pasifik. Global Strategis, 12(1), 145–163. Retrieved 2024, from https://doi.org/10.20473/jgs.12.1.2018.145-163

Juliandini, N. (2021). Strategi Institutional Balancing di Kawasan Asia Pasifik. TRANSBORDERS: International Relations Journal, 4(1), 36–46. Retrieved 2024, from https://doi.org/10.23969/transborders.v4i1.2421


메타데이터
post_id
e9cf714e54d4
slug
eksistensi-us-di-asia-pasifik-pasca-the-rise-of-china-e9cf714e54d4
url
https://medium.com/@athathallah21/eksistensi-us-di-asia-pasifik-pasca-the-rise-of-china-e9cf714e54d4
canonical_url
https://medium.com/@athathallah21/eksistensi-us-di-asia-pasifik-pasca-the-rise-of-china-e9cf714e54d4
author_url
https://medium.com/@athathallah21
status
ok
fetched_at
2026-07-21 12:21:33