← Back to list

an inheritance of hunger

suara dokter menjauh, berubah dengung lebah yang tersesat di udara.

namey · 2026-01-04 03:07 · 78 claps · 2.0 min read
#leowon #leo #sangwon #alternate-universe
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

an inheritance of hunger

[embed]

warn: mpreg

suara dokter menjauh, berubah dengung lebah yang tersesat di udara. kabur. tak nyata.

namun satu kalimat lolos dari kabut itu, menembus leo tanpa ampun, menghantam ulu hati dengan presisi maut.

anemia defisiensi besi berat. usia kandungan tujuh bulan. janin mengambil semua yang tersisa. papanya kehabisan darah untuk dirinya sendiri.

tujuh bulan. benih yang dulu hanya sebutir kacang polong lugu kini bermetamorfosis menjadi gumpalan seukuran melon, menggelayut berat, menarik tubuh ringkih sangwon semakin dekat ke bumi.

leo menatap perut itu. menyembul di balik selimut rumah sakit yang tipis. sebuah bukit kecil. yang seharusnya menjadi simbol harapan. namun terasa seperti monumen kegagalannya.

di sana, di rahim yang hangat, hidup tumbuh dengan rakus.

janin itu tak menanggung dosa. ia hanya menaati titah alam untuk bertahan.

jika kini ia merampas tulang. memeras darah. mencuri napas dari inangnya. itu bukan kejahatan.

itu adalah aku. aku yang gagal mengisi lumbung tubuh sangwon dengan gizi yang layak.

leo meremas rambutnya sendiri, menahan isak agar tak menjelma raungan. betapa ironis takdir mempermainkan mereka.

di rumah orang kaya. kehamilan tujuh bulan adalah pesta. belanja perlengkapan bayi. susu mahal berkaleng-kaleng.

tapi bagi mereka? bagi leo?

tujuh bulan adalah kronologi pembunuhan perlahan.

ia membiarkan sangwon makan nasi dengan lauk seadanya, padahal ada nyawa lain yang ikut menuntut hak.

ia membiarkan sangwon tidur di kasur tipis yang membuat punggungnya nyeri, padahal beban di perut itu kian menarik gravitasi.

dan sangwon.

tak pernah mengeluh. tak pernah sekalipun.

ketika wajahnya makin tirus. sementara perutnya membesar, ia hanya tersenyum dan berkata,

“adek kuat, leo. dia nendang terus.”

kini leo tahu. tendangan itu bukan sekadar sapaan. itu jeritan lapar dari darah dagingnya sendiri.

jari-jari sangwon bergerak lemah. kelopak matanya bergetar, lalu terbuka. manik itu keruh, kehilangan kilau hidupnya.

“leo…” bisiknya. yang selembut gesekan daun kering di musim gugur.

leo menyambar tangan itu. mencium punggungnya yang dingin, dipenuhi bekas tusukan jarum.

“aku di sini. sayang, aku di sini…”

“adek?”

“baik-baik aja. jangan kamu pikirin.” potong leo cepat, suaranya parau, basah oleh air mata yang akhirnya jatuh.

sangwon tersenyum tipis. senyum yang terlalu menyakitkan untuk ditatap. tangan satunya mengelus perut buncit itu, dengan sisa tenaga.

“jangan diomelin ayah… adeknya kan gak salah…”

kalimat itu menghancurkan leo hingga ia tinggal debu.

bagaimana bisa? sangwon masih memikirkan nyawa lain ketika nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan di meja judi kemiskinan?

leo menunduk. menyembunyikan wajah di ceruk leher sangwon yang berbau antiseptik. di sana ia menangis tanpa suara.

menangisi kemiskinan. yang mencekik leher mereka sangat erat.

menangisi kenyataan. bahwa untuk lima puluh ribu rupiah suplemen darah, ia sempat ragu kemarin.

dan karena keraguan lima puluh ribu itu. sangwon kini terbaring dengan selang oksigen di hidungnya.

cinta mereka mungkin agung. mungkin mampu menembus batas norma.

namun leo takut. teramat takut.

bahwa kemiskinan ini. akan menjadi warisan pertama. yang ia berikan pada anaknya bahkan sebelum anak itu sempat menghirup udara dunia.


메타데이터
post_id
e9e68eae6c5e
slug
an-inheritance-of-hunger-e9e68eae6c5e
url
https://medium.com/@ucinjhyuk/an-inheritance-of-hunger-e9e68eae6c5e
canonical_url
https://medium.com/@ucinjhyuk/an-inheritance-of-hunger-e9e68eae6c5e
author_url
https://medium.com/@ucinjhyuk
status
ok
fetched_at
2026-07-14 18:53:39