← Back to list

After Rain

Di sebuah kota kecil yang sering diguyur hujan sore, Saint Rue, yang lebih sering dipanggil Saint, hidup dengan kebiasaan yang nyaris tidak…

Noze. · 2026-04-27 12:52 · 0 claps · 1.9 min read
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

After Rain

Di sebuah kota kecil yang sering diguyur hujan sore, Saint Rue, yang lebih sering dipanggil Saint, hidup dengan kebiasaan yang nyaris tidak berubah. Bangun, kerja, pulang, lalu duduk di depan jendela sambil mendengar suara hujan. Hidupnya tenang, tapi juga terasa… kosong.

Berbeda dengan Ester.

Ester adalah kebalikan dari Saint. Dia seperti matahari yang muncul tiba-tiba di tengah hujan deras, cerah, berisik, dan selalu punya sesuatu untuk dilakukan. Mereka bertemu secara tidak sengaja di halte bus, saat Ester panik karena ketinggalan dompetnya, dan Saint, yang kebetulan menemukannya, mengembalikannya tanpa banyak bicara.

“Lo orangnya pendiem banget ya?” kata Ester waktu itu.

Saint cuma mengangkat bahu. “Nggak juga.”

Sejak hari itu, Ester seperti memutuskan sendiri kalau mereka berteman. Tanpa izin, tanpa basa-basi. Dia sering muncul tiba-tiba, di tempat kerja Saint, di warung kopi langganannya, bahkan di depan rumahnya cuma buat ngajak jalan.

Awalnya, Saint merasa terganggu. Tapi lama-lama, dia mulai terbiasa.

Dan tanpa dia sadari, hari-harinya berubah.

Mereka mulai punya rutinitas baru, jalan sore bareng, ngobrol hal-hal random, sampai debat nggak penting tentang hal sepele. Ester selalu bawa energi yang Saint nggak pernah tahu dia butuhkan.

Sampai suatu hari, Ester nggak muncul.

Satu hari. Dua hari. Seminggu.

Saint mulai merasa ada yang hilang. Kota itu masih sama, hujan masih turun, jalanan masih sibuk, tapi rasanya beda.

Akhirnya, Saint memberanikan diri mencari tahu. Setelah bertanya ke sana-sini, dia menemukan Ester di rumahnya, sedang duduk di teras dengan wajah yang jauh lebih diam dari biasanya.

“Tumben sepi,” kata Saint.

Ester tersenyum kecil. “Lagi capek aja.”

Ternyata, Ester sedang menghadapi masalah keluarga yang cukup berat. Untuk pertama kalinya, Saint melihat sisi Ester yang rapuh, bukan yang selalu ceria dan penuh tawa.

Mereka duduk berdua tanpa banyak kata. Tapi kali ini, diamnya tidak terasa kosong.

“Gue kira… gue harus selalu kuat,” kata Ester pelan.

Saint menggeleng. “Nggak harus.”

“Kalau gue lemah?”

“Yaudah. Nggak apa-apa.”

Ester tertawa kecil, matanya sedikit berkaca-kaca. “Jawaban lo simpel banget ya.”

“Karena emang sesimpel itu.”

Hari itu jadi titik balik.

Ester pelan-pelan bangkit lagi, tapi kali ini dia nggak sendirian. Saint ada di sana, bukan sebagai orang yang banyak bicara, tapi sebagai tempat yang selalu ada.

Waktu berjalan.

Hujan masih sering turun di kota itu. Tapi sekarang, Saint nggak lagi duduk sendirian di depan jendela. Kadang dia di luar, kehujanan bareng Ester sambil ketawa tanpa alasan jelas.

Suatu sore, saat langit akhirnya cerah setelah hujan panjang, Ester berkata,

“Lo tau nggak, Saint? Hidup gue dulu rasanya kayak lagi lari terus. Capek, tapi nggak tau mau ke mana.”

Saint menoleh. “Sekarang?”

Ester tersenyum. “Sekarang gue jalan aja. Pelan-pelan. Soalnya gue tau… ada temen.”

Saint nggak langsung jawab. Tapi untuk pertama kalinya, dia tersenyum tanpa ragu.

Dan di kota kecil itu, dua orang yang awalnya hidup di dunia masing-masing akhirnya menemukan satu hal sederhana,

Bukan tujuan besar. Bukan perubahan dramatis.

Tapi kebersamaan yang cukup untuk bikin hidup terasa… utuh.

Dan untuk mereka, itu sudah lebih dari cukup.


메타데이터
post_id
ea25af0adfd9
slug
after-rain-ea25af0adfd9
url
https://medium.com/@mellomuf/after-rain-ea25af0adfd9
canonical_url
https://medium.com/@mellomuf/after-rain-ea25af0adfd9
author_url
https://medium.com/@mellomuf
status
ok
fetched_at
2026-07-10 23:37:26