← Back to list

Bukber dan Permainan Adu Gengsi

Banyak manusia beriman malah gundah gulana ketika menyambut Hari Raya yang makin dekat. Momen magis saat menunggu hari baik tersebut seakan…

Capt.Pravna · 2026-03-14 07:58 · 0 claps · 2.8 min read
#buka-puasa #bukber #kawan #gengsi #ramadhan
Open on Medium ↗

Bukber dan Permainan Adu Gengsi

Buka Bersama

Buka Bersama

Banyak manusia beriman malah gundah gulana ketika menyambut Hari Raya yang makin dekat. Momen magis saat menunggu hari baik tersebut seakan tereduksi oleh munculnya pikiran-pikiran lain. Contohnya bagaimana menyiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ajaib. Jawaban yang lugas, terkendali, ciamik, tanpa terkesan menggurui. Kerja di mana sekarang? Ngomong-ngomong gajinya berapa? Sudah ada calon? Kapan dikenalin keluarga? Atau kapan nikah? Nah kira-kira macam itu. Namun banyak orang yang sudah merasakan getarannya, bahkan jauh sebelum momen Hari Raya. Salah satunya ya, dikala bukber atau undangan buka bersama.

Karena bagi banyak orang pertanyaan nyeleneh semacam itu akan hadir di meja-meja resto atau cafe sambil menunggu bedug Maghrib. Bukber yang seyogianya bisa menjadi ajang pelepas rindu, sering kali malah berubah wujud menjadi ruang pengap tempat orang-orang yang tanpa sadar saling menunjukkan pencapaian masing-masing. Maka dari itu bersiap-siaplah dengan jawaban yang selihai mungkin, se-normatif mungkin, se-diplomatis mungkin, dan se-patriotik mungkin. Bisa ditambahi dengan ketawa karir, juga pertanyaan balik, jika sudah mulai menyerang. Misal ketika ditanya gaji berapa, jawab dengan patriotik, “Alhamdulillah, sudah cukup buat hidup dan bantu ortu.” Atau jika ditanya mengenai calon, jawab dengan menunjukkan keimanan hakiki, “Ya kalau sudah waktunya, jodoh dari Tuhan akan datang juga, doain aja.” Dan jika masih ngotot disuruh segera nikah, jawab saja dengan, “Nanti aku undang, kalau enggak lupa.”

Jawaban yang semampunya dan seikhlasnya. Sebab tidak semua pertanyaan bersumber pada kepedulian, seringkali hanya kepo. Karena kadang pertanyaan basa-basi seperti itu membuka pintu peluang pada sesuatu yang lebih absurd, dorongan untuk membanding-bandingkan kehidupan. Apalagi jika momen bukber mempertemukan kawan-kawan lama. Kan seharusnya momen bukber itu menjadi ajang reuni, berkumpul melepas kangen, cerita-cerita lucu masa lalu yang bisa dikenang. Saya sering lihat di medsos bagaimana bukber malah berubah jadi permainan adu gengsi. Saling menampilkan tunggangan terbaik dengan meletakkan kunci di meja. Menunjukkan gadget terbaru nan mewah yang sebetulnya cuma digunakan selfie/update story. Berebut membayar tagihan cuma agar terlihat seberapa tebal kantongnya.

Tanpa disadari, meja makan yang harusnya menjadi tempat bernostalgia menjelma jadi panggung kecil untuk menyuguhkan pengakuan. Mengerikan sekali. Padahal makna berbuka itu termasuk dari penyampaian rasa syukur dan berbagi kebaikan untuk sesama. Apa jadinya kalau ajang bukber malah digunakan untuk memamerkan pencapaian masing-masing? Pamer pencapaian mungkin akan terasa membanggakan bagi yang mampu melakukannya, namun bagi sebagian lainnya yang kini tengah berjuang, hal tersebut bisa menjadi luka kecil yang tidak terlihat dari luar. Bukan hanya akan menyakiti hati yang sedang berpuasa, tapi juga bisa membuat orang lain menilai dirinya gagal. Iri, dengki, cemburu berlebihan, merasa tersaingi dan lain-lain. Terlebih kemapanan yang dinilai sebatas UMR hanya membuat manusia memperbandingkan entitas yang banal.

Mapan itu enak sekali, punya materi yang banyak itu nikmat sekali, saya juga tak malu mengakuinya. Akan tetapi perlu diingat juga bahwa materi itu tak selamanya berkah, kadang ia hadir sebagai ujian dan cobaan. Bagaimana jika ada orang yang akhirnya merasa gagal setelah melihat pencapaian kawannya? Pencapaian yang ia lihat setelah dipamerkan di acara bukber. Merasa tertinggal jauh, sampai merasa semua yang ia lakukan selama ini sia-sia belaka. Perasaan gagal cenderung membuat manusia tidak lagi bertekad untuk mencoba dan berusaha. Sedangkan yang pernah diingatkan oleh Marcus Aurelius, dalam salah satu renungannya, “Jangan patah semangat bila tidak berhasil melakukan sesuatu. Jika kau gagal, kembali dan coba lagi. Cintai dirimu karena kau kembali untuk mencoba.”

Barangkali inilah yang sering dilupakan ketika bertemu kawan lama, bahwa setiap kehidupan sedang menjalani nasib dan takdirnya masing-masing. Maka akan lebih bijak jika ajang permainan adu gengsi itu diganti dengan saling menanyakan kabar, kesehatan, dan saling mendoakan dalam kebaikan. Diberkatilah saya dan kalian semua yang tidak bertemu acara bukber macam flexing dan cek saldo di atas. Beruntungnya saya sendiri memang sampai saat ini belum pernah mengalami. Pertama karena jarang mengiyakan ajakan bukber. Kedua saya punya tongkrongan jaman SMA yang masih terhitung kompak serta asyik. Geng jaman SMA bernama Lasisda (Sebelas IPS Dua) yang terkadang masih mengadakan bukber. Tentu tidak setiap tahun melihat kondisi banyak kawan yang tidak stand by di kota kami. Tapi jika diadakan pasti saya usahakan hadir. Seru sekali kalau berkumpul dengan kawan lama yang saling mengerti. Paling-paling pertanyaan yang muncul adalah, “Istrimu tau nggak kamu dulu pernah pacaran sama si Anu?”.


메타데이터
post_id
ea27eae5b535
slug
bukber-dan-permainan-adu-gengsi-ea27eae5b535
url
https://medium.com/@capt.pravna/bukber-dan-permainan-adu-gengsi-ea27eae5b535
canonical_url
https://medium.com/@capt.pravna/bukber-dan-permainan-adu-gengsi-ea27eae5b535
author_url
https://medium.com/@capt.pravna
status
ok
fetched_at
2026-07-12 00:17:29