← Back to list

MENUJU USIA TIGA DEKADE.

Biarkan saya memulai dengan dengan catatan, bahwa:

Johnsnaijder · 2026-02-08 10:14 · 0 claps · 9.0 min read
#perjalanan #hidup #fases #usia #30s
Open on Medium ↗

MENUJU USIA TIGA DEKADE.

Biarkan saya memulai dengan dengan catatan, bahwa:

Setiap orang menikmati waktu dengan caranya masing-masing. Ada yang merasa paling hidup ketika berada di tengah keramaian, pun ada yang merasa paling nikmat ketika sengaja menjauh dari hal-hal ramai. Apapun itu, tujuannya adalah rasa damai yang paling bisa dipertanggungjawabkan oleh isi hati masing-masing.

Dari kesadaran itulah coretan ini lahir — sebagai lembaran ketenangan yang paling bisa saya pertanggungjawabkan.

Deramga Soro,Kempo — Amsyar Setiawan, 2020

Deramga Soro,Kempo — Amsyar Setiawan, 2020


Setelah beberapa kali mengingat dan merangkai kaleidioskop hidup, saya menyadari bahwa diri saya kerap kali berubah: berpindah tempat, menata ulang mimpi, bahkan meragukan apa yang sebenarnya saya inginkan. Ada kalanya ketika pilihan yang ambil terasa tepat, namun perlahan justru membawa saya menjauh dari arah yang seharusnya saya tuju. Dari situlah saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus, dan pencarian sering kali lebih panjang daripada jawabannya.

Perkenalkan, nama saya Muhammad Faatih Zismun. Anak kedua dari pasangan yang saling mengisi satu sama lain. Sejak kecil biasa dipanggil dengan berabagai nama: Zismun, Faatih, John, Mumun dan Yo’ong. Zismun, kerap kali saya gunakan untuk berkenalanan dengan orang-orang baru — sering kali juga harus saya ulangi lantaran nama tersebut kurang familiar bagi sebagian orang. Faatih, lebih sering saya gunakan untuk memperkenalkan diri pada forum-forum resmi. Nama John, lebih tepatnya John Snaijder, nama yang saya pilih sebagai identitas di balik karya-karya visual berbasis digital yang saya ciptakan. Adapun Mumun adalah panggilan yang lahir dari kehaangatan, bisasa digunakan oleh adik adik gemezz, kwkw. Dan yang terkahir, Yo’ong, nama yang sejak kecil hanya hidup di lingkaran terdekat seperti keluarga besar dan orang-orang yang benar-benar mengenal saya secara personal.

Saya menyukai berbagai hal receh yang mungkin tampak sepele dan tidak penting untuk diinformasikan. Saya menyukai angka ganjil, bermain gitar dengan tangan kanan, menyukai puisi-puisi bernuansa mistis karya Jalaluddin Rumi, dan menonton harus berulang kali seperti serial animasi: Avatar: The Legend of Aang, Tsubasa Ozora, dan Little Krishna, serta mendengarkan lagu-lagu galau sebagai pembangkit suasana hati sebelum memulai aktivitas apa pun. Sejak kelas dua SMP telah mengenal gitar, meski tak pernah benar-benar mahir. Ketertarikan pada hal-hal grafis mulai tumbuh sejak bangku SMP, namun kedekatan yang lebih serius dengan dunia tersebut baru saya rasakan pada tahun 2017, setahun setelah lulus. Keinginan untuk mencipta lagu, menulis buku, dan membuat film kerap hadir, tetapi hingga kini belum juga terwujud. Barangkali karena saya masih belajar berdamai dengan keterbatasan diri saya sendiri.

Bukan lulusan dari Universitas tinggi terkenal melainkan hanya lulusan di salah satu SMK Negeri yang tentu saja tetap akan saya banggakan. Bekerja di dunia birokrasi sembari menekuni dunia seni visual sebagai pekerjaan sampingan. Tidak pernah meraih prestasi apapun di bidang akademik maupun non akademik, pernah satu waktu mengikuti lomba karya tulis ilmiah tingkat SMP dan lomba debat bahasa inggris sewaktu SMA tapi selalu hanya jadi peserta pelengkap — tidak ada yang bisa dibanggakan, hahaha. Sedang banyak belajar tentang ilmu tentang bagaimana menciptakan jiwa yang tenang, dunia visual/design, fotografi, cinematography, kepenulisan, dan hal-hal lain yang sifatnya mengekspresikan diri — yang kelak entah mau jadi apa.


Saat usia dipertengahan dua puluhan, saya kerap menaruh harapan pada hal-hal yang gaduh, pada rencana yang belum matang, ambisi yang berubah-ubah, serta mimpi yang bahkan belum sepenuhnya saya pahami. Banyak waktu terbuang hanya untuk mengejar sesuatu yang bahkan bentuknya belum jelas. Tanpa sadar, saya terus memaksa berjalan lebih cepat dari yang mampu saya Jalani. Hingga akhirnya, yang tersisa hanya diri saya sendiri dan ruang sunyi untuk menata ulang arah dari serpihan yang masih tersisa.

Overthingking menjadi tamu spesial disetiap 1/3 malam, layaknya alarm berbunyi justru ketika saya ingin menembus ruang-ruang mimpi. Saya memikirkan banyak hal tentang langkah yang telah saya ambil, keputusan yang sempat saya sesali, kesempatan yang terlewatkan, bahkan perkara kecil yang seharusnya tak perlu saya pikirkan terlalu serius. Kadang berpikir bahwa dunia terasa bergerak begitu cepat, sementara saya tertinggal di barisan paling belakang dan berusaha mengejar garis finish yang visualnya sangat susah untuk dijangkau.

Keresahan itu makin nyata ketika saya mulai membandingkan langkah yang saya pilih dengan orang lain. Ada yang melaju jauh dengan jalur yang terasa lurus dan pasti, sementara saya harus melewati lintasan yang berkelok-kelok dan justru lama berhenti di persimpangan. Pernah takut menjadi orang yang stagnan. Namun, disaat yang sama, saya juga takut melangkah terlalu jauh. Dan itu melelahkan.

Saya kerap kali bertanya pada diri saya sendiri,

“Apakah ini langkah maju atau justru bentuk penghianatan pada perjalanan sebelumnya?”

Ada rasa takut memulai ulang, rasa canggung kerena harus belajar lagi dari awal, dan kekhawatiran bahwa pilihan ini hanya akan menambah daftar kesalahan saja. Namun, setelah memalui banyak pertimbangan, saya akhirnya memilih melanjutkan perjalanan ke tempat yang terasa asing namun jujur saya minati — ilmu tentang baiamana pada umumnya manusia berkomunikasi, menerima ataupun memaknai pesan, dan yang paling penting adalah ilmu bagaimana cara menjadi pendengar yang baik. Tentu tidak untuk mengejar siapa pun, melainkan untuk memberi ruang pada diri sendiri agar bertumbuh dengan ritme yang akhirnya berani saya akui, sebagai ritme saya sendiri.

Hari hari yang saya lalui saat itu mengajarkan bahwa hidup memang tidak pernah memberikan pegangan yang benar-benar pasti. Ada masanya saya merasa kuat, lalu tiba-tiba rapuh tanpa alasan, ada waktunya kita percaya pada arah yang kita ambil, lalu dalam sekejap merasa tersesat lagi — seperti kata Baraswara, kita kan tua dan kehilangan pegangan. Namun pada saat yang sama juga, saya sadar bahwa hidup memang tidak pernah menuntut saya untuk selalu benar. Hidup hanya meminta saya untuk terus mencoba. Lambat laun, saya mulai mengakui kesalahan yang pernah saya buat, dan akan saya jadikan catatan kaki pada perjalanan hidup saya selanjutnya. Hal-hal dulu yang saya sesali ternyata akan menjadi fondasi dari keberanian dan mudah-mudahan bertahan sampai Cahaya kenikmatan itu mucul.

Sayapun melihat bahwa hidup memang tidak bergerak sesuai dengan rencana, namun itu bukan alasan untuk berhenti merencanakan, bukan?Pasti akan ada ada revisi, komentar-komentar ekternal yang tidak bisa dikontrol. Saya belajar, beberapa jalan memang harus berliku terlebih dahulu, beberapa keputusan memang harus salah dulu, beberapa keinginan memang harus dilepaskan dahulu dan beberapa harus dikorbankan untuk mendapatkan hal-hal yang walaupun dalam bentuk yang lain. Semua itu membawa saya ke titik ini, titik ketika saya akan berkata, saya telah belajar banyak hal, meski banyak hal pula saya akan pelajari, dan saya masih disini dan akan terus berkembang.”


Tuhanku yang maha bijaksana. Kuatkan langkah kaki ku yang patah akibat kenyataan. Tujukan padaku jalan yang menarik menuju engkau. Agar aku tidak bosan dengan dongen Surga-Mu.

Fase spiritual menjadi perjalanan yang tak kalah rumit, paling sunyi, dan paling gaduh sekaligus. Banyak pertanyaan bermunculan tanpa tanda seru yang segera. Saya sering merasa tidak mampu menerjemahkan bahasa-bahasa yang dikirim oleh Sang Semesta. Ada masa ketika ego saya terlalu besar untuk tunduk, iri hati dan denki diam-diam tumbuh tanpa saya sadari, dan pada puncakanya ketika saya sibuk memabandikan hidup sendiri dengan orang lain, lalu mempertanyakan keadilan dengan nada menuntut, Astagfirullah.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kebingunan tersebut muncul dari diri saya sendiri yang telalu penuh akan keinginan — serakah akan keinginan. Terlalu ingin dipahami, terlalu ingin segera sampai, terlalu ingin hidup berjalan sesuai kehendak pribadi. Hingga pada puncaknya, saya akan menerima bahwa tidak semua hal harus diapahami saat itu juga. Semua hal butuh proses dan pada kesadaran tertentu, rencana semestalah yang paling kita butuhkan.

Tentang spritualitas, bagi saya sekarang adalah tentang keberanian mengakui betapa rapuh dan berisiknya batin sendiri. Saya tidak lagi sibuk menafsirkan segalanya, tidak lagi memaksa langit berbicara dengan bahasa yang saya inginkan. Saya akan belajar menata hati, menurunkan ego, dan yang paling penting mencoba mencari sudut pandang yang berbeda, ketika hal-hal yang tidak seirama dengan pemahaman saya. “Semua orang punya masing-masing waktu untuk sadar.

Ketika saya menulis catatan ini, saya sadar, bahwa hampir tiga puluh tahun hidup saya bukanlah waktu yang singkat. Banyak yang saya raih, banyak yang saya lepaskan, banyak yang saya tangisi, dan banyak pula yang saya syukuri.

Melaui coretan ini, dengan penuh kesadaran, saya ingin berterima kasih pada kedua orang tua saya yang kerap kali memberikan terjemahan intuisinya melalui doa doa yang di panjatkan. Saya bisa apa tanpa kalian.? keluarga besar, kakak, adik dan sepupu yang selalu menjadi sandaran ketika saya goyah, menjadi rumah ketika saya lelah dan menjadi pengisi daya energi.

Saya juga ingin berterima kasih kepada keluarga besar Mahameru.project dan Look’s Picture yang senantiasa memberikan kesempatan saya untuk berkembang, menciptakan karya-karya yang luar biasa dan paling penting, terima kasih karena telah menambah portofilio positf dalam perjalanan saya selama ini. Keluraga besar Balai Taman Nasional Tambora, terimakasih kerena memberikan kesempatan atas pengalaman, ilmu dan pengertian untuk terus mengasah kemampuan saya dalam menciptakan karya.

Teruntuk kedua sahabat saya: Anjas Madisha dan Surya Wardiman, yang memberikan diksi-diksi rasional hidup lewat diskusi-diskusi panjang hingga larut malam, candaan-candaan receh yang kerap kali saya respon dengan kata: bansat*! kwwkkw. Yang paling penting untuk kedua sahabat saya, terima kasih sudah meluangkan waktu dalam menyusun tugas akhir saya. ya wajar saja — satunya calon Mahasiwa S3 di negeri yang terkenal akan industri JAVnya dan satunya S2 di UGM. Akan menjadi hal benar-banar brengsek ketika mereka tidak membantu sahabatnya yang IQnya di bawah rata-rata ini. Sekali lagi terimakasih bro-bro ku. Panjang-panjang untuk kalian berdua, kwkwkw.

Saya juga ingin berterima kasih pada orang-orang yang pernah lewat, meski beberapa hanya singgah, namun tetap meninggalkan pelajaran yang berarti. Dan yang tak kalah penting, saya ingin berterima kasih pada diri saya sendiri karena sudah bertahan, karena tidak menyerah, dan kerena mau terus berkembang.

bagi sebagaian orang, perjalanan itu tidak selalu mudah. Namun pada akhirnya, kita semua akan mencari hal yang sama — mencari tempat yang terasa aman sekaligus aman untuk kita berpikir, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan yang di pilih oleh alam melalui misi jiwa kita masing-masing.

Jika suatu hari saya membaca tulisan ini lagi, saya ingin tersenyum dan berkata bahwa:

saya pernah melewati masa yang begitu membingungkan, saya pernah merasa menjadi serpiha-serpihan, namun tetap memutuskan untuk bangkit dengan caranya sendiri. Bahwa saya pernah tersesat, tetapi tetap menemukan rumah dalam diri saya sendiri.

Hidup memang tak selalu ramah. Namun, ia tetap memberikan ruang bagi kita untuk berubah, tumbuh dan menjadi seorang yang lebih berfungsi

Menjelang usia tiga dekade ini, saya ingin berkata kepada diri saya sendiri

Selamat .

Selamat menjadi versi terbaik yang bisa kamu upayakan.

Selamat menikmati hidup dengan cara yang hanya kau yang tahu.

Selamat wisuda…… semoga akan menjadi menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang yang membutuhkan telinga.

Terima kasih.

Dompu, 9 Februari 2026.

Muhammad Faatih Zismun. Anak kedua dari pasangan yang saling mengisi satu sama lain.

Muhammad Faatih Zismun. Anak kedua dari pasangan yang saling mengisi satu sama lain.


메타데이터
post_id
ea2d13ded160
slug
menuju-usia-tiga-dekade-ea2d13ded160
url
https://medium.com/@zismun.oppo/menuju-usia-tiga-dekade-ea2d13ded160
canonical_url
https://medium.com/@zismun.oppo/menuju-usia-tiga-dekade-ea2d13ded160
author_url
https://medium.com/@zismun.oppo
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39