← Back to list

Berdiri di Ambang Batas

Sebuah Pengingat, Bahwa Kita Memiliki Sisi Terkuat

Mikwalds. · 2026-06-15 22:01 · 0 claps · 3.9 min read
#self-improvement #self-development
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement

Berdiri di Ambang Batas

Sebuah Pengingat, Bahwa Kita Memiliki Sisi Terkuat

RSUD Abdul Aziz — Singkawang, 2023

RSUD Abdul Aziz — Singkawang, 2023

Sebuah Refleksi Harian

beberapa hari berat terakhir ini membuat ku sering mengutuk diri sendiri sebagai seorang penakut. Di kehidupan sehari-hari, aku begitu akrab dengan kecemasan yang mendera tanpa alasan, rasa tidak percaya diri yang kerap mengurung langkah, dan perasaan bahwa aku adalah orang yang paling mudah menyerah saat menghadapi tekanan. sering diriku merasa kecil di hadapan dunia. Ibarat, seluruh langkah rasanya dikurung dunia.

Namun, di tengah semua penghakiman buruk pada diri sendiri itu, ingatan ku tiba-tiba ditarik kembali pada sebuah jeda misterius yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Sebuah ruang waktu yang ganjil, di mana diriku pernah absen dan berkunjung pada ruang ambang batas dunia luar selama lima hari berturut-turut. Lima hari di mana kesadaran aku terputus. Lima hari berdiri tepat di ambang batas.

Ruang Tanpa Status

https://pin.it/5uOlEqbUi

https://pin.it/5uOlEqbUi

Antropolog Victor Turner memiliki konsep yang sangat terkenal bernama Liminalitas yakni sebuah fase "ambang batas" di mana seseorang berada di titik transisi yang ekstrem. Tidak lagi berada di ruang lama, tapi belum juga sampai di ruang yang baru (betwixt and between). Di fase liminal ini, semua identitas sosial kita runtuh. diriku bukan lagi seorang mahasiswa, bukan lagi seorang anak, bukan siapa-siapa. aku hanyalah sebuah eksistensi tanpa nama yang sedang diuji oleh takdir.

Selama lima hari itu, kedirianku lenyap. Saya berada di sebuah koridor sunyi yang menjembatani kenyataan dan ketiadaan.

Jika dipikirkan kembali dengan logika kecemasanku hari ini, bukankah ruang gelap yang tak tersentuh waktu itu adalah tempat paling sempurna untuk menyerah? Di sana tidak ada tuntutan kalender, tidak ada ekspektasi orang lain, dan tidak ada ketakutan akan masa depan. Menyerah di titik itu terasa begitu mudah dan sunyi. Namun, fakta bahwa kesadaran ini memilih untuk kembali pulang, mata ini kembali terbuka, dan tubuh ini kembali mengingat cara bernapas, membuktikan satu hal: di titik paling kritis, entitas di dalam diriku menolak untuk kalah. Ia memilih untuk kembali hidup serta terus berjalan.

Lalu, pertanyaannya: mengapa saya yang memenangkan pertarungan sebesar itu, hari ini masih sering merasa sebagai seorang pecundang yang ?

Sosiologi postmodernist punya jawabannya. Jean-François Lyotard menyebutkan bahwa masyarakat kita terlalu memuja "Narasi Besar" (Grand Narrative). Kita dibesarkan oleh narasi bahwa siapa pun yang lolos dari maut atau trauma besar pasti akan lahir kembali menjadi manusia tanpa rasa takut, tercerahkan, dan tangguh layaknya pahlawan fiksi. Ketika realitasnya diriku bangun dari lima hari itu dan tetap menjadi mikwalds yang cemas saat harus bicara di depan orang atau gemetar menghadapi tenggat waktu, aku merasa gagal. Padahal, bukan diriku yang lemah. Narasi ekspektasi masyarakat itulah yang terlalu mengada-ada.

Amnesia pada Kekuatan Sendiri

Filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard pernah menyebut kecemasan sebagai "pusingnya kebebasan" (the dizziness of freedom). Aku menyadari bahwa rasa cemas ini hadir bukan lantaran aku lemah, melainkan karena aku terlalu sadar akan luasnya hamparan kemungkinan di depan mata, dan ada ketakutan yang melumpuhkan saat harus menuntukan langkah. Segala perasaan tidak percaya diri, sifat pemalu, dan kecemasan yang menggerogotiku hari ini sejatinya hanyalah riak dari bisingnya ekspektasi sosial di luar sana. Hiruk-pikuk itu memaksaku amnesia. Aku dibikin lupa bahwa tubuh ini pernah menelan ujian yang jauh lebih kejam daripada sekadar keharusan berbicara di depan kerumunan atau meratapi kegagalan-kegagalan sepele. Aku sering kali alpa, bahwa diriku yang hari ini bisa mendadak gemetar hanya karena kecemasan banal, adalah jiwa yang sama dengan anak muda yang berhasil menemukan jalan pulang setelah lima hari penuh menyabung nyawa di batas paling pinggir dari ketiadaan.

Belajar Bertahan dari Lee Chandler

https://pin.it/RbfPKUg1Y

https://pin.it/RbfPKUg1Y

Kondisi psikologis ini selalu mengingatkanku pada tokoh Lee Chandler dalam film Manchester by the Sea. Dihantam oleh masa lalu yang menghancurkan, Lee tidak pernah memiliki redemption arc atau kebangkitan epik yang heroik. Ia tidak mendadak sembuh dari depresinya. Menjelang akhir cerita, dengan suara bergetar ia mengakui, "I can’t beat it."

Namun, keindahan yang brutal dari film itu justru terletak pada apa yang terjadi setelah kalimat tersebut. Lee memang tidak bisa mengalahkan traumanya, tapi ia memilih untuk tetap melanjutkan hidup.

Keberanian tidak melulu berwujud teriakan kemenangan di puncak gunung ataupun hal keren lainnya. Sering kali, keberanian memanifestasikan dirinya dalam bentuk yang paling sunyi: kesediaan untuk kembali membuka mata di pagi hari, menyeduh kopi, dan berjalan menghadapi runtutan hari, meskipun lutut masih bergetar dan juga rasa ngantuk masih terasa kelam

Aku dan Berdama i— I Can’t Beat It

Karimunting- Kalimantan Barat, 2023

Karimunting- Kalimantan Barat, 2023

Melalui tulisan ini, aku ingin berdamai dengan diri sendiri. aku hanya ingin mengingatkan mikwalds yang sering merasa lemah dan penakut, bahwa jauh di dalam lapisan kesadarannya, ada seorang "petarung diam" yang pernah memenangkan pertempuran di ruang yang paling sunyi. Menjadi pemalu atau pencemas bukanlah pembatalan atas seberapa kuat kita bertahan hidup. Itu hanyalah sifat manusiawi yang sedang merespons dunia. Mulai hari ini, setiap kali kecemasan itu datang dan palu hakim di kepalaku mulai mendakwa bahwa saya lemah, aku akan melihat kembali ke belakang. Ke arah lima hari yang abu-abu itu. Seperti Lee Chandler, aku mungkin tidak bisa seratus persen membunuh kecemasan (I can’t beat it). Tapi aku pernah berdiri di batas terjauh manusia, dan aku memilih untuk melangkah kembali ke sini. Dan itu, untuk selamanya, sudah lebih dari cukup.


메타데이터
post_id
ea3abc2be131
slug
berdiri-di-ambang-batas-ea3abc2be131
url
https://medium.com/@mikwalds/berdiri-di-ambang-batas-ea3abc2be131
canonical_url
https://medium.com/@mikwalds/berdiri-di-ambang-batas-ea3abc2be131
author_url
https://medium.com/@mikwalds
status
ok
fetched_at
2026-06-26 06:47:43