← Back to list

oh my sputnik, shall we run?

a choi yeonjun au

rie · 2026-05-27 17:11 · 0 claps · 4.7 min read
#yeonjun #txt #tomorrow-x-together #alternate-universe #kpop
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

oh my sputnik, shall we run?

a choi yeonjun au

Malam itu, Yuda keluar dari kosnya dan pergi menyusuri jalan. Awan-awan gelap di langit mulai berkumpul, tapi Yuda tidak sadar. Isi pikirannya saat ini hanyalah ingin menyingkirkan rasa bosan seharian di kamar, ponselnya pun tak ia bawa karena kehabisan baterai, salahkan dirinya yang lupa mengisi daya benda pipih itu siang tadi.

Ia benar-benar keluar hanya menggunakan topi dari sebuah brand, kaos hitam oblong, celana jeans (yang kemarin baru ia pakai 3 jam), sandal slop, dan berbekal dompet. Yuda berjalan santai, melihat-lihat sekeliling, dan bisa ia rasakan suasana hatinya lebih bahagia dibanding sebelumnya.

Sayangnya itu tidak berlangsung lama, karena rintik hujan perlahan turun membasahi apapun yang ada di jalannya. Yuda berlari kelabakan. Beruntung tak jauh dari sana ada tempat duduk di depan sebuah minimarket, membuat Yuda setidaknya bisa meneduh hingga hujan reda.

Malangnya lagi, di antara 6 tempat duduk yang saling berpasangan, hanya tersisa 1 pasang yang dimana salah satu kursinya telah diduduki seorang gadis yang duduk meringkuk.

Yuda agak tidak enak hati untuk bertanya, tapi dirinya sudah hampir basah kuyup dan merasa kedinginan juga, mau tidak mau ia menduduki kursi di depan gadis tersebut.

Tak sekalipun gadis itu mengangkat kepalanya sekadar untuk melihat Yuda, membuat Yuda berpikir bahwa gadis ini tertidur. Faktanya, ia tidak tidur sama sekali, hanya melamun dengan kondisi hati yang tidak karuan.

Safina namanya. Dirinya sedang merasa homesick, apalagi teman-temannya saat ini tengah pulang ke rumah masing-masing, membuat perasaan itu semakin membuncah. Merasa dirinya kini tidak sendiri, Safina mengangkat kepala, dan bersitatap dengan Yuda.

Yuda terlonjak kaget. “Eh maaf, kebangun, ya?”

“Nggak, ga tidur, kok.” Safina menggeleng.

Salah tangkap, Yuda mengusap tengkuknya malu. “Kirain tidur, maaf ya.”

“Ngga masalah.”

Suasana hening kembali. Safina baru sadar kalau sekarang tengah hujan, melihat dari baju yang dikenakan orang di depannya ini dan suasana sekitar. Terlalu larut dalam sedihnya membuat ia tidak sadar sekitar.

Kini, Safina menopang dagu di atas lututnya yang terlipat, sekadar menikmati hujan sambil menunggu reda. Di sisi lain, Yuda sadar akan sesuatu. Alisnya menukik, membuatnya membuka percakapan duluan.

“Safina, ya?”

Safina terkejut, ikut sadar, dan menurunkan kakinya dari kursi. “Loh, Yuda?”

Yuda terkekeh. “Beneran Safina, kirain salah liat.”

Safina ikut tersenyum. “Oh iya, lu di sini juga, ya. Kok ga kenal gua, si, Yud?”

“Dih, lu juga baru sadar, kan?”

“Gua, kan, baru liat lu tadi. Lu yang liat gua duluan.”

“Tapi lu nunduk gitu, ketutupan muka lu, gua mana tau.”

Safina mendecak, pura-pura mengejek. “Parah, Yud. Kita udah lama kenal, loh.”

Yuda tertawa kecil. “Diem, deh. Kenapa lu tadi? Sedih?”

Homesick, Yud.” Safina tersenyum getir.

Yuda mengangguk paham, bersimpati. “Kenapa sendiri?”

“Temen-temen gua pada pulang. Gua mau pulang juga, tapi sebentar doang ini liburannya.”

Yuda menghela napas. Ia sungguh mengerti yang dirasakan Safina. “Derita merantau ya gini.”

“Lu, Yud, kenapa sendiri?” Tanya Safina balik.

“Bosen gua di kos, hp gua juga abis batre, ngapain lagi?” Yuda mendongak menatap langit, layaknya tokoh-tokoh di film yang suka ia tonton ketika mereka sedang bersedih.

Safina tertawa melihat tingkahnya. “Lebay banget. Mati gaya, ya.”

Mendengar tawanya, Yuda kembali melihat ke arah Safina dan ikut tersenyum. “Lu ga kasian sama gua, cukup tau, Fin.” Ia menunduk, kembali berakting sedih.

Safina tertawa sedikit lebih kencang. “Baru tau, Yud?” Isengnya.

“Kok lu gitu, Fin?!”

Keduanya saling bercanda dan tertawa bersama bagaikan kisah lama. Yuda yang tidak tahu harus apa, bersyukur dapat bertemu seseorang yang ia kenal, dan Safina yang merindukan rumahnya juga bersyukur bertemu seseorang yang membuatnya kembali mengingat rumah di sana. Teman lama memang jawabannya.

Tapi tampaknya, hujan tidak kunjung reda. Yuda mulai menggigil dan Safina menyadarinya.

“Lu tadi keluar pas ujan apa gimana, Yud? Kuyup begitu.”

“Gua keluar aman, kok. Tapi di tengah jalan ujan, gua lari ke sini.” Yuda mendekap tangannya, kedinginan.

“Lu kedinginan gitu. Ga bawa jaket?” Safina menatapnya iba.

“Cie khawatir.” Yuda menaik-turunkan alisnya, menjahili Safina.

Safina pun mendecak. “Yaudah, kedinginan, lah sana.”

Yuda terkikik. “Main ujan, yuk, Fin.”

“Makin dingin, ga sih, Yud?!” Safina menatapnya horror.

“Justru itu, kita main ujan, kan, gerak. Dinginnya ga kerasa.”

“…Gitu?” Sepertinya Safina tergerak hatinya.

Yuda mengangguk semangat. “Ayo, deket sini ada tempat bagus.”

“Malem ujan gini liat apa? Klo ga ujan, sih, bisa liat bintang.”

“Ada, kok, bintang. Lu percaya sama gua, kan?” Yuda berdiri dari duduknya.

Safina selalu percaya kepada Yuda.

Dengan itu, ia biarkan Yuda menarik tangannya dengan lembut dan mereka berlari ke tempat yang Yuda pilih. Keduanya teringat kisah lama, dimana mereka berlarian di tengah hujan tanpa tujuan yang jelas, Yuda yang selalu memastikan Safina berada di dekatnya, dan Safina yang membiarkan Yuda berbuat sebebasnya selama tidak membahayakan.

Sekarang, Safina tersenyum tanpa Yuda sadari. Sejak dulu, melihat Yuda sebebas ini selalu berhasil membuatnya tersenyum. Tak jauh berbeda dengan Yuda. Dapat kembali menikmati waktu bersama dengan Safina juga membuatnya tak kalah bahagia.

Jika saja waktu bisa diputar, mungkin keduanya akan memutar waktu dan terus kembali ke masa itu.

Sepanjang jalan, Safina hampir tak bisa membuka mata karena takut air hujan memasuki matanya. Tapi Yuda terus meminta.

“Gapapa, Fin. Ga deres, kok!” Ucapnya setengah berteriak supaya terdengar.

“Sakit klo kena, Yuda!”

“Ujan yang ini ngga bikin sakit, tenang aja!” Yuda maju satu langkah, mendekat kepadanya.

“Lu, kan, udah biasa!”

“Percaya sama gua, serius.” Yuda mengeratkan tangan Safina dalam genggamannya, menenangkan Safina.

“Beneran?”

“Pelan-pelan aja.”

Safina perlahan membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk, juga berusaha agar air hujan tidak masuk ke matanya. Yang pertama ia lihat adalah wajah serius Yuda yang memastikan dirinya baik-baik saja, kemudian tersenyum lembut.

“Aman, kan?”

Safina masih menyesuaikan, tapi ia mengangguk.

Yuda memutar badan dan kembali berlari kecil menyesuaikan Safina, menuju suatu tempat. Sepanjang jalan, Yuda sesekali memastikan Safina aman di belakangnya, Safina sendiri mulai terbiasa dengan rintik hujan saat ini membuatnya lebih bisa menikmati suasana.

Sampailah mereka di sebuah bukit. Tempat ini memang biasa didatangi pengunjung karena pemandangan yang ditawarkan merupakan pemandangan surgawi, apalagi bagi peminat langit malam seperti Safina.

Di bawah sana, ratusan lampu dari puluhan gedung, jalanan, dan rumah membuatnya terlihat seperti bintang-bintang di langit. Memang tidak seindah yang aslinya, tapi menurut Safina ini tetap indah.

Turunnya hujan juga membuat suasana semakin damai, setidaknya untuk Safina. Lebih sedikit, malah hampir tidak ada orang yang datang ke sini saat hujan. Yuda terus memandanginya, melihat setiap ekspresi Safina, dan merasa bangga pada dirinya yang bisa membuat Safina terkagum-kagum begini.

“Ini bintang yang lu maksud, Yud?” Safina menoleh ke arahnya.

Yuda mengangguk. “Bintang dari kota, hehe.”

Safina kembali melihat hamparan lampu dari kota di bawah sana. “Bagus banget, Yuda…. Tau darimana tempat begini?”

“Yuda, nih. Gampang, lah, beginian.” Yuda tersenyum bangga.

Safina tersenyum. Yuda tidak membuka percakapan kembali, ia membiarkan Safina melihat-lihat, bahkan jika dirinya menahan dingin pun tidak masalah. Melihat Safina jauh lebih bahagia dibanding saat pertama tadi mereka bertemu sudah dapat menghangatkan hatinya.

Safina menatapnya. “Makasih, Yuda. Ga nyangka juga bisa tiba-tiba ketemu lu.”

Yuda mengangguk. “Aman aja, makasih juga udah ngasih gua kegiatan.”

“Duh, emang dasarnya ga bisa diem.” Safina memutar matanya malas.

Yuda menyenggol lengan Safina lembut. “Lu taulah gua.”

Bila setelah ini Yuda mengeratkan genggaman tangan mereka, cukup ia dan Tuhan yang tahu. Biarkan Safina menikmati hamparan “bintang”nya dengan hikmat, dan Yuda yang berpikir gadis ini lucu.


메타데이터
post_id
ea6d456bf8fb
slug
oh-my-sputnik-shall-we-run-ea6d456bf8fb
url
https://medium.com/@starienz/oh-my-sputnik-shall-we-run-ea6d456bf8fb
canonical_url
https://medium.com/@starienz/oh-my-sputnik-shall-we-run-ea6d456bf8fb
author_url
https://medium.com/@starienz
status
ok
fetched_at
2026-06-18 00:10:23