Obat Penenang untuk Dunia yang Terus Perang
Apakah manusia sama halnya dengan binatang? Apakah manusia adalah makhluk yang bejat dan keji? Apakah manusia selalu haus akan kekuasaan…
Obat Penenang untuk Dunia yang Terus Perang

Foto: Luke Jernejcic/Unsplash
Apakah manusia sama halnya dengan binatang? Apakah manusia adalah makhluk yang bejat dan keji? Apakah manusia selalu haus akan kekuasaan, harta benda, dan kepuasan seksual? Thomas Hobbes, seorang filsuf Inggris pada era renaissance, memiliki gagasan bahwa manusia dalam keadaan alamiahnya adalah egois, tamak, dan liar. Ia menganggap, tanpa adanya norma dan hukum yang mengatur masyarakat, manusia akan bertarung satu sama lain demi memperebutkan kekuasaan. Menciptakan kondisi anarkis yang ia beri nama: “perang segalanya melawan segalanya” (war of all against all). Di abad 21, kita menyaksikan bahwa perkataan Hobbes tidak pernah sebenar ini sebelumnya.
Dunia yang Sakit
Dunia yang sedang kacau ini menampakkan gejolak nafsu egois manusia segamblang-gamblangnya. Kebengisan manusia dibuktikan dengan adanya perang yang membunuh ratusan ribu anak-anak dan wanita tidak bersalah setiap harinya. Sudah terlalu banyak lembaga advokasi perdamaian, organisasi kemanusiaan, aktivis HAM yang mencoba bersuara. Semua masih saja gagal menjaga ketentraman dunia. Organisasi dengan level yang lebih tinggi, PBB, sudah sangat berhasil dalam hal ini. Berhasil mengecam peperangan, berhasil menyuarakan perdamaian, dan berhasil menyerukan keadilan. Kemudian gagal menciptakan itu menjadi sebuah kenyataan. Kekacauan dunia ini sepertinya sulit diakhiri.
Salah satu penyakit kronis yang sedang dialami dunia internasional saat ini adalah terorisme dan radikalisme. Resolusi Dewan Keamanan PBB 1566 tahun 2004 mendefinisikan terorisme sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan menciptakan ketakutan, mengancam keamanan publik, atau memengaruhi tindakan pemerintah atau masyarakat dengan cara yang ekstrem. Kamus Oxford menyebut salah satu arti dari radikal adalah mendukung perubahan politik atau sosial yang ekstrem dan lengkap. Seiring waktu, terminologi radikal berkembang dalam konteks kerangka sosial politik yang menuntut perubahan dengan tindakan ekstrem, sehingga disebut sebagai radikalisme.
Patogen Penyakit
Jika kita mencoba melakukan refleksi, terorisme dan radikalisme adalah tindakan yang benar-benar bodoh. Bagaimana mungkin seseorang secara sukarela melakukan pengeboman yang dapat membunuh dirinya sendiri? Bagaimana mungkin seseorang bisa tega meninggalkan keluarganya hanya demi mengikuti organisasi-organisasi yang tidak jelas asal-usulnya? Bagaimana mungkin seseorang bisa menormalisasi tindakan sadis terhadap sesama manusia? Terlihat jelas bahwa individu-individu yang terjebak dalam jurang terorisme dan radikalisme memiliki pikiran yang lemah dan mudah dikendalikan. Sedangkan para perekrut adalah seorang manipulator handal yang dapat berpikir cerdik. Fenomena maraknya manusia yang mudah dibodohi seharusnya menimbulkan sinyal bahaya bagi kita semua.
Kesesatan pola pikir adalah penyebab dari gejala manusia mudah dibodohi dan dikendalikan. Salah satu contohnya adalah pemikiran yang meyakini adanya kasta/hierarki dimana kelompoknya lah yang lebih superior daripada kelompok-kelompok di luar yang ia anggap inferior. Sebenarnya, orang-orang seperti ini mencita-citakan masyarakat yang damai dan ideal. Namun, menurut kepercayaan dan ideologi mereka sendiri. Akhirnya, mereka rela melakukan segala cara demi tujuan ini tercapai. Pembunuhan dan kekerasan termasuk di dalamnya. Hal inilah yang dinamai cara pandang “kita lawan mereka” (us versus them) dalam kamus psikologi. Mereka yang memiliki cara pandang seperti ini meyakini hanya ada kelompok mereka (ingroup) dan di luar itu adalah kelompok lain (outgroup) yang dianggap berseberangan. Seluruh bagian dari outgrup, harus dimusnahkan menurut para radikal.
Kebenaran yang Kusut
Namun, kompleksitas mengenai isu ini sangatlah dalam dan tidak hanya bisa digambarkan dengan satu faktor saja. Hal ini bisa digambarkan di dalam perkataan yang sangat populer yang banyak bertebaran di berbagai media dan literatur, “teroris untuk satu orang adalah pejuang kemerdekaan bagi orang lain.” Banyak contoh yang bisa kita lihat dari seluruh belahan dunia. Siapakah yang benar-benar teroris, IDF (Israeli Defense Forces) dan Hamas? Rezim Assad atau Pemberontak di Suriah? Pemerintah Indonesia atau OPM? Satu pihak menyebut ini teroris itu pejuang, pihak lainnya bersikeras sebaliknya. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam persoalan terorisme, perang yang ada bukan hanya perang fisik menggunakan senapan, tank, dan rudal saja. Namun, perang informasi dimana kepiawaian dalam membentuk persepsi publik berbicara. Korban dapat diubah menjadi pelaku dan pelaku dapat diubah menjadi korban. Tergantung pada saluran berita mana yang kita tonton. Ketika fakta dan data bisa dipermainkan, sudah jelas ada dalang dibalik semua ini yang memainkan wayang bernama informasi.
Di dalam masyarakat digital saat ini misalnya, kita mengenal mengenal media sosial. Alat ini adalah senjata luar biasa yang dapat digunakan untuk merubah dunia. Baik dalam arti positif maupun sebaliknya. Sebuah fakta dapat “dimodifikasi” dengan adanya alat bernama media sosial. Bayangkan, sebuah kelompok dengan jaringan luas dan memiliki teknologi canggih membuat sistem penyebaran propaganda dan kebohongan. Melakukan framing jahat kepada pihak yang tidak disukai, melakukan provokasi yang menyulut sentimen, dan menggiring opini berbahaya. Dampaknya? Kericuhan, konflik, pembunuhan, dan genosida. Dengan kata lain, terorisme dan radikalisme. Dengan kemampuannya untuk mengubah kebenaran, teroris paling berbahaya justru akan menyebut diri mereka pahlawan, penyelamat, dan pembela demokrasi. Teroris jenis ini sangat berbahaya karena pergerakan mereka sulit terdeteksi.
“Jika kamu tidak berhati-hati, surat kabar akan membuatmu membenci korban kezaliman dan mencintai pelaku kezaliman” -Malcolm X
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka melakukan semua itu? Pidato Dwight D. Eisenhower dalam perpisahannya sebagai Presiden Amerika Serikat pada 17 Januari 1961 sangat cocok untuk mengupasnya. Ia memperingatkan bahaya akan adanya military industrial complex. Yaitu sistem industri yang selalu memproduksi bahan persenjataan dan amunisi untuk berjalannya perang dan pertempuran. Memang, saat itu merupakan puncak yang panas dari perang dingin. Amerika harus selalu siap untuk mempertahankan diri dari blok komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet. Akan tetapi, Eisenhower menakutkan bahwa industri perang justru tidak digunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Ia mengkhawatirkan bahwa ada pihak-pihak yang menyalahgunakan industri-industri untuk kepentingan sepihak kelompoknya. Jika perang selalu berkobar, industri dapat selalu berjalan, dan pundi-pundi uang dapat selalu mengalir ke kantong para pebisnis. Hal inilah yang menjadi salah satu dugaan kuat hal yang menyebabkan mengapa konflik-konflik di dunia selalu ada dan berlanjut.
RAFI
Ketika kekuatan kegelapan sedang mencengkeram dunia, kita wajib siapkan pusaka sakti untuk menanggulanginya. Saya menamainya RAFI. Istilah ini diambil dari kata bahasa arab rofi’ (رَفِيْع) atau dalam bentuk lain rofa’a — yarfa’u (رَفَعَ — يَرْفَعُ) yang memiliki makna menjunjung/meninggikan. Tindakan radikalisme dan terorisme adalah tindakan busuk yang menghancurkan harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu, diharapkan gerakan RAFI dapat hadir menjadi sebuah upaya untuk menjunjung dan memuliakan kembali jiwa dari peradaban manusia yang saat ini dicemari oleh terorisme dan radikalisme. Seluruh poin dari RAFI tidak hanya sesederhana sikap “saling menghargai, saling menghormati, dan toleransi antar sesama.” Sebab, harus diakui isu radikalisme dan terorisme sangatlah kompleks dan membutuhkan solusi yang dinamis, adaptif, dan rinci. RAFI hadir dengan 4 prinsip, yakni Revitalize, Authority, Further Thinking, dan Infiltrate. Keempat prinsip ini disusun dengan menyesuaikan dinamika politik global kontemporer serta melakukan pembelajaran historis dari kejadian terorisme dan radikalisme di masa lampau.
Revitalize Persatuan dan perdamaian kelompok akan runtuh kalau elemen-elemen yang menjadi bagiannya tidak merasa menjadi bagian kesatuan itu. Negara Yugoslavia pecah disebabkan sentimen-sentimen ultranasionalisme dibiarkan begitu saja. Pada akhir hayat negara tersebut, pemerintah dan rakyatnya tidak memandang individu mereka masing-masing sebagai orang Yugoslavia. Akan tetapi, mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Slovenia, Serbia, Kroasia, Bosnia, Montenegro, dan Makedonia. Semangat persatuan dan kebanggan sebagai bangsa Slavia gagal dipertahankan oleh pemerintah Yugoslavia yang seharusnya bisa menjaganya melalui institusi-institusi politik, kebudayaan, dan pendidikan yang mereka miliki.
Manusia selalu mencari arti dan identitas. Banyak anggota ISIS bergabung ke organisasi sadis itu disebabkan mereka berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sedang terpuruk. Mereka kehilangan arah hidup, mengalami trauma berat, dan tidak memiliki sesuatu untuk bersandar. Membangun semangat kolektif mengenai identitas bersama dan untuk meraih tujuan yang mulia sangatlah manjur untuk menyingkirkan pemikiran radikalisme. Kekosongan makna dalam kehidupan adalah benih-benih awal akan tibanya bencana yang mengerikan.
Revitalize berarti pembangunan atau penghidupan kembali. Dalam konteks ini, tatanan masyarakat, birokrasi pemerintahan, sistem pendidikan, institusi kebudayaan, dan kebijakan publik agar dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman. Dunia selalu mengalami perubahan, dan tantangan yang ada terus berkembang. Jangan sampai ada satu sektor yang menjadi celah masuknya terorisme dan radikalisme.
Authority Otoritas tertinggi seharusnya bisa menjaga keamanan dan ketentraman. Pemerintah yang gagal melayani rakyatnya juga merupakan salah satu gerbang depan dalam penyebaran virus radikalisme. Bukan dalam artian memaksa atau bersifat kediktatoran, melainkan sifat tegas untuk menciptakan kepatuhan masyarakat. Hobbes juga mengilhami bahwa rakyat harus menyerahkan beberapa bagian dari hak dan kebebasannya kepada pemerintah agar keamanan dan stabilitas dapat selalu terjaga. Karena jika setiap anggota masyarakat mengikuti keinginan hawa nafsu dan egonya sendiri, yang akan terjadi adalah kekacauan. Ini adalah ciri pemerintah yang tidak memiliki otoritas (authority).
Seluruh institusi pendidikan, sistem penyebaran informasi wajib selalu diawasi untuk melawan segala bentuk ancaman. Hal ini dilakukan agar seluruh virus radikalisme dan terorisme dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Sekali hal-hal kecil tidak diawasi, akan ada risiko besar kestabilan hilang dan negara lepas kendali. Para teroris sangat licik dengan menyelinap ke dalam institusi-institusi pendidikan maupun pemerintahan. Seluruh sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah wajib digunakan untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum. Pemerintah dengan authority yang kuat juga seharusnya sangat bisa melakukan upaya Revitalize demi ketertiban umum.
Further Thinking Berpikiran jauh membuat kita bisa melihat terorisme tidak hanya dari apa yang terlihat di luarannya. Sebaliknya, pikiran yang tajam bisa memacu kita untuk terus melakukan analisis yang mendalam terhadap segala hal. Ingatlah, teroris bermain dengan sangat rapi dan tersembunyi. Mereka berusaha memutarbalikkan fakta, melakukan upaya-upaya propaganda, dan menyebarkan sentimen-sentimen provokatif. Dalam melihat segala sesuatu, gunakanlah selalu pikiran yang jernih, objektif, serta tidak ditunggangi oleh bias, sentimen, dan emosi-emosi sesaat yang kadang muncul dari tindakan manipulasi informasi para dalang terorisme.
Salah satu cara agar kita dapat memahami motif-motif dari setiap kejadian adalah dengan melakukan refleksi: siapa pihak yang akan diuntungkan dengan adanya kejadian ini? Kemudian, membaca dan mendengarkan opini dari berbagai perspektif sangatlah dianjurkan. Bahkan termasuk dengan orang-orang yang memiliki pandangan politis yang berseberangan dengan kita. Terkadang, kita terlalu nyaman di dalam pandangan-pandangan kita sendiri, sehingga takut untuk menerima pendapat atau opini lain. Akhirnya kita gagal melihat big picture dari suatu persoalan dan terjebak dalam asumsi serta perspektif kita senidir. Padahal, tidak mau menerima perbedaan pendapat bisa digolongkan sebagai hal yang ekstrem. Inilah bibit-bibit radikalisme dan terorisme.
Sudah selayaknya, pola pikir masyarakat menjadi salah satu hal yang mendapatkan proses revitalize. Karena sesungguhnya pikiranlah yang menciptakan ideologi, tindakan, kebiasaan, dan kemudian tatanan sosial. Kembali lagi, otoritas pemerintah harus digunakan semaksimal mungkin untuk peningkatan pola pikir melalui institusi-institusi pendidikan yang ada.
Infiltrate Pada 2003, Amerika dan inggris membuat keputusan yang sangat gegabah. Mereka melakukan invasi ke Irak atas dasar tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah masal dan terlibat dalam serangan 9/11. Parahnya, invasi ke Irak dieksekusi tanpa adanya restu berupa resolusi dari PBB. Bahkan, Prancis yang merupakan sekutu utama Amerika dan Inggris juga melawan keras rencana ini. Hasilnya sudah sangat terbukti. Irak menjadi kacau dan anarkis. Ironisnya, operasi yang dibilang sebagai bentuk counter-terrorism ini, malah membuat kelompok-kelompok kriminal dan radikal di Irak semakin bermekaran. Begitu kacaunya sehingga membuat warga Irak sampai merasa lebih baik hidup di rezim autokrasi Saddam Husein dibandingkan dengan Irak yang sudah “dibebaskan” bangsa barat.
Satu hal penting yang harus kita ketahui, melakukan hal dengan gegabah dan frontal hanya akan membuat segalanya berjalan tidak mulus. Apalagi dalam melawan terorisme. Teroris bekerja dengan sangat hati-hati, diam-diam, tersembunyi. Oleh karena itu, kita harus masuk ke dalam dan menginfiltrasi jaringan radikal yang tersembunyi itu. Ingat, prinsip further thinking harus dikedepankan dalam hal ini. Kita jangan sampai hanya berhenti di pengamatan terhadap kulit luar terorisme sehingga gagal mengetahui permainan licik yang mereka lakukan di balik layar. Intrik tersembunyi terorisme sangat beragam. Penyelundupan senjata, perdagangan narkoba dan barang-barang ilegal, perekrutan anggota dan kampanye di media sosial, operasi senyap, cyber warfare, dan sebagainya. Seringkali, kejadian-kejadian yang terlihat publik adalah umpan para radikal untuk mengelabui publik mengenai rencana tersembunyi mereka. Jika berperilaku dengan gegabah tanpa melakukan banyak pertimbangan seperti dalam kasus invasi Irak, Anda akan merasakan sendiri seberapa pahitnya hal tersebut.
Bangun dan Bergerak Guru SMA saya pernah mengatakan kepada kami sekelas, “Kalau enggak ada teroris, Densus 88 gabut dong.” Mungkin terdengar seperti pernyataan yang konyol, tetapi ada pelajaran mulia yang dapat kita petik. Tanpa adanya kejahatan, orang-orang baik tidak memiliki tugas apa-apa di dunia ini, kebaikan tidak akan ada maknanya. Kita adalah manusia modern yang dihadapkan dengan isu-isu global yang semakin kompleks. Jangan sampai kita menjadi individu yang apatis atau “gabut” dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dunia. Pikiran yang kritis dan wawasan yang luas sangat dibutuhkan. Sebab sesungguhnya, banyak pihak yang ingin para masyarakat tetap bodoh agar mudah dikendalikan. Akibatnya, mereka bisa leluasa melakukan tindakan kriminal yang bengis dan tidak berperikemanusiaan. Jika mereka licik, kita harus cerdik. Jika mereka berbuat bengis, kita wajib bertindak kritis. Menyembuhkan dunia yang sedang sakit ini adalah tugas kita semua. Mari kita mulai dari bacaan-bacaan kita. Mari kita mulai dari obrolan dan diskusi-diskusi kita. Mari kita mulai dari kesadaran kita untuk mau berdampak dan membuat perubahan.
Referensi
Acemoglu, Daron dan James A.R. 2014. Mengapa Negara Gagal (Why Nations Fail): Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Bowen, Jeremy. The Making of the Modern Middle East: A Personal History. London: Picador.
Rycko, Muhammad. 2023. Memahami Ancaman Radikalisme dan Terorisme di Indonesia. Jawa Barat: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Sudiarja, A. 2018. Percakapan Politik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
YeaRimDang. 2020. Why? Leviathan (Thomas Hobbes). Jakarta: Elex Media Komputindo.
Us Versus Them Effect. (2025). Diakses pada 24 Mei 2025 dari https://dictionary.apa.org/us-versus-them-effect
Malcolm X Quotes. (2022). Diakses pada 10 Juni 2025 dari https://www.aljazeera.com/news/2022/2/21/malcolm-x-quotes
Eisenhower Warns of Military Industrial Complex. (2009). Diakses pada 10 Juni 2025 dari https://www.history.com/this-day-in-history/january-17/eisenhower-warns-of-military-industrial-complex
메타데이터
- post_id
- ea7f908c7ff5
- slug
- obat-penenang-untuk-dunia-yang-terus-perang-ea7f908c7ff5
- url
- https://medium.com/@sobatnabi67/obat-penenang-untuk-dunia-yang-terus-perang-ea7f908c7ff5
- canonical_url
- https://medium.com/@sobatnabi67/obat-penenang-untuk-dunia-yang-terus-perang-ea7f908c7ff5
- author_url
- https://medium.com/@sobatnabi67
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30