← Back to list

Dari Kasus Hilangnya Dompet

Kisah melankolis dramatis tapi tertampar fakta yang membuat hidup harus realistis

Nurulazza · 2026-08-17 11:09 · 0 claps · 2.4 min read
#better-humans #good-soul #wiser
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

Dari Kasus Hilangnya Dompet

Kisah melankolis dramatis tapi tertampar fakta yang membuat hidup harus realistis

Beberapa minggu lalu aku kehilangan dompet. Baru tersadarkan dini hari pukul 3 pagi karena waktu itu aku butuh KTP untuk melakukan pemberkasan demi melamar pekerjaan. Namun saat aku membuka jok motor dimana disana terdapat dompet untuk menaruh KTP, SIM, dan STNK lenyap.

Dengan keadaan seperti itu, aku seolah mendapat sambaran petir bagaimana itu bisa terjadi. Wira-wiri mengurus 3 barang penting itu yang hilang. Dan part tersulit adalah membuat STNK karena harus pintar cari celah supaya petugas mau membuat nya hari itu juga.

Usai semua sudah. Beberapa minggu kemudian tiba-tiba mendapat info bahwa dompetku ditemukan di daerah ku sendiri yang aku tidak pernah lewat sama sekali. Ternyata yang menghilangkannya itu bapakku sendiri. Sempat marahlah aku, sudah keluar uang banyak dan harus menghadapi pungutan pemberkasan yang ga masuk akal.

Dan secara bersamaan teman dari SMP tiba-tiba menghubungi bahwa KTP yang NIK-nya disensor itu kelihatan punyaku. Sebenarnya posisi waktu itu dompet sudah ada diambil dari tetangga. Tapi karena sudah terlanjur viral, saya bilang makasih aja karena sudah menginfokan.

Waktu itu tidak terlalu kupikirkan, itu hal biasa seorang teman yang baik seharusnya menginfokan kejadian itu. Lalu selang beberapa minggu kemudian, ada satu teman lagi dari SMP yang menginfokan dia dicari teman satunya lagi. Waktu itu aku sangat tidak nyaman. Mungkin karena teringat diriku yang karakternya tidak baik.

Aku bersedih berhari-hari kenapa temanku ini harus memberi kontakku, kenapa dia harus seperti itu. Di sisi lain, aku terpikirkan dua orang yang benar-benar kuanggap sahabat tidak terlalu membuat nyaman. Seakan masing-masing dari kita tidak lagi bisa bercerita terlalu dalam apa yang terjadi di hidup kita. Hanya bisa menunjukkan kesempurnaan masing-masing.

Bagiku sekali lagi ini dramatis. Tapi kalau aku tidak bergerak dan hanya meratapi nasibku yang jauh berbeda dengan mereka, aku hanya akan membuat diriku semakin buruk. Terkadang hidup seburuk-buruknya harus berjalan bukan. Meskipun sangat berat.

Aku malu tidak jadi ‘orang’, tapi aku lebih takut jika aku jadi orang yang gampang menyerah. Sosok ‘orang’ yang didambakan kaum sosialita, mewah, sempurna. Itulah yang kuketahui dari sosial media Instagram. Sampai saat ini aku masih menggunakan second account ku untuk hal-hal pribadiku. Semakin kesini, hubungan pertemanan tidak lagi seperti saat kita menjadi anak kecil yang bersenang-senang bersama. Kita seolah bersaing dalam diam. Untuk menghindari siapa hidupnya yang paling buruk.

Lagi-lagi kita tidak bisa terhindarkan dari penilaian orang. Serendah apapun ‘gawe’ kita yang pada aslinya kita sangat mensyukuri itu tetap akan kurang di mata orang lain. Mau jungkir balik gimana pun selalu akan kurang di mata orang yang tidak akan pernah mau menerima apa yang sudah kita capai.

Sekali lagi peristiwa hidup di atas sebenarnya tidak seberat apa yang kualami sebelumnya. Aku sudah pernah mengalami yang terberat berkali-kali. Mau kuladeni? Buang-buang energi. Mau diratapi? Hanya buang-buang waktu. Mau menyalahkan diri sendiri? Padahal waktu lah yang perlahan memberimu kesempatan untuk menjadi lebih baik dari segala aspek.

Seperti luka ku saat naik motor tahun lalu, sebulan penderitaan sangat menyiksa tidak bisa berjalan. Bagai mimpi buruk di siang bolong.

Yang tersisa hanya luka di kaki dengan bekas 2 jahitan dan masih hitam dan belum sembuh total. Tapi dari luka itu aku belajar, bahwa luka sedalam itu bisa sembuh seiringnya waktu. Meskipun sangat lama, akan sembuh sendirinya. Meski warna kulitnya berbeda dengan lainnya, tapi itu menjadi simbol “aku ini yang menutup lukamu”. Kamu sudah aman dan tidak sakit lagi. Meskipun bekas luka itu aneh bagi orang lain, tapi kamu memakluminya karena bagaimana epidermis kulitmu terbentuk menunjukkan bahwa proses penutupan luka adalah sesuatu yang berharga.

Dan setelah apa saja yang kuhadapi di dunia ini, aku sadar hanya punya diri sendiri untuk mewujudkan apa yang kumau. Menjadi mandiri, teguh, berani, tenang, disiplin, realistis, membawa diri, pandai belajar dari kesalahan, bangkit, tujuan besar yang dicapai meskipun sedih semangat bahkan keraguan.


메타데이터
post_id
ea8700bb4e70
slug
dari-kasus-hilangnya-dompet-ea8700bb4e70
url
https://medium.com/@pappusdandelion/dari-kasus-hilangnya-dompet-ea8700bb4e70
canonical_url
https://medium.com/@pappusdandelion/dari-kasus-hilangnya-dompet-ea8700bb4e70
author_url
https://medium.com/@pappusdandelion
status
ok
fetched_at
2026-08-23 17:54:53