Tarian Hari Kasih Sayang
Cinta tak selalu datang dalam bentuk yang kuharapkan, tetapi sebagai yang kubutuhkan.
Tarian Hari Kasih Sayang

Siang itu di bawah rintik hujan, aku berlarian bersamanya mencari tempat untuk berteduh. Cekikikan kami berusaha menghindari air hujan yang sebenarnya tak lagi dapat kami hindari, sebab hujan terlampau lebat. Basah kuyup kami dibuatnya.
Sepatu kain merah muda hadiah ulang tahunku tak sengaja kubuat tenggelam dalam genangan air setinggi mata kaki, membuat langkahku terhenti. “Yah, basah.” Senyumku pudar karenanya.
“Namanya juga hujan, ya basah lah! Kalo kering namanya musim kemarau,” serunya diikuti tawa mengejek yang menyebalkan.
“Sialan banget sih! It’s Valentine’s Day, I don’t have a valentine, baju dan sepatu gw basah kuyup begini.” Tanpa menoleh aku memberikan tatapan sinis padanya. Sungguh hari ini benar-benar menyedihkan.
“Bitch, you have me!” Mendengar itu membuat senyumku merekah sempurna. Perlahan aku menoleh dan memamerkan senyumku itu padanya. “Oh, here we go again.” Kulihat ia memutar bola matanya jengkel.
Kuraih pergelangan tangannya, lalu kubawa ia ke tengah rintik hujan itu, dan mulai menari di sana. Awalnya ia hanya terdiam, menatapku menari dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan—aneh mungkin? Entahlah. Tapi kemudian ia turut menari setelah terpengaruh oleh rayuanku. Suara tawa kami pecah, mengalahkan suara gemuruh hujan lebat.
“Happy Galentine’s Day, La. Thank you for being my best friend.” Sisa hari itu tak lagi terasa menyedihkan. Rintik hujan memang membasahi pakaianku, tapi setidaknya tidak dengan air mata yang membasahi pipiku. Ia membalas dengan senyum ramah yang merekah di wajahnya. Ternyata cantik pula rupanya jika ia tersenyum dan menatapku begitu—kuakui selalu rupawan wajahnya.
Kami berpisah di depan halte bus ketika hendak pulang. Rambut kami sudah tak lagi jelas bentuknya, sebab hujan terlampau deras. Lewat kacamataku yang sedikit berembun, aku melihatnya melambaikan tangan padaku, masih dengan senyum yang sama. “Makasih ya, hati-hati,” ucapnya tepat sebelum ia berbalik meninggalkanku di halte yang berbeda. Aku tersenyum dan membalas, “Sama-sama, hati-hati juga ya! Itu langsung ganti baju nanti, basah soalnya.”
Kami pulang menaiki bus dengan tujuan berbeda. Udara dingin perlahan merayap lewat pakaianku yang basah, namun tak sedikitpun mampu menyentuh ruang kecil di dalam dadaku. Tawa kami masih menggema di telingaku, meninggalkan hangat yang menetap di hatiku. Sejak hari itu aku tersadar bahwa cinta tak selalu datang dalam bentuk yang kuharapkan, tetapi sebagai yang kubutuhkan. Menjadi sahabatnya adalah suatu kesempurnaan yang melengkapi hidupku.
Kamiluna, 14 Februari 2026.
[embed]Song that reminds me of her
메타데이터
- post_id
- ea8923a6c2f0
- slug
- tarian-hari-kasih-sayang-ea8923a6c2f0
- url
- https://medium.com/@kamiluna/tarian-hari-kasih-sayang-ea8923a6c2f0
- canonical_url
- https://medium.com/@kamiluna/tarian-hari-kasih-sayang-ea8923a6c2f0
- author_url
- https://medium.com/@kamiluna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 05:41:33