Air Safir
Hari ini tepat setahun Air resmi menjadi seorang yatim piatu. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi harta kedua orangtuanya. Sepetak kebun…
Air Safir
Hari ini tepat setahun Air resmi menjadi seorang yatim piatu. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi harta kedua orangtuanya. Sepetak kebun jati, berbagai perabotan kayu, serta segumpal rumah dengan selusin pintu yang pernah terbakar.

Baskara belum hengkang dari langit ketika Air menyirami halaman rumah warisannya. Mulutnya komat-kamit, entah berucap apa. Aku memandanginya sambil ongkang-ongkang di kursi beranda. Di sebelahku, kopi hitam masih perawan sementara sekaleng biskuit sudah berkali-kali kurenggut isinya.
Setelah melihat dedaunan yang terhampar basah lencun, ia mematikan keran. Dikibasnya tangannya yang basah sambil sesekali menepuk juntai kaos besar yang ia kenakan. Air menghampiriku sambil tersenyum.
“Doa macam apa yang kamu rapalkan ketika menyiram tanaman? Doa dari agama bapak atau ibumu?” tanyaku ketika ia bergabung duduk di kursi sebelahku.
“Maksudmu?”
“Aku lihat, tadi kamu komat-kamit selama menyirami tanaman. Pradugaku, kamu menyiram tanaman sambil berdoa. Doa macam apa yang kamu baca?” jelasku, sementara Air meneguk teh tawarnya tandas.
“Oh. Aku hanya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orangtuaku,” jawabnya. “Apa?”
“Meminta maaf kepada apa-apa yang pernah mereka bakar hidup-hidup,” terang Air santai, seolah kalimat itu tak menyayat hatinya.
Sontak aku terbatuk, kusesap kopiku perlahan guna membasahi tenggorokan. Sudah dingin. Setelahnya, kami diam selama beberapa detik. Air duduk bergeming di sisiku, sementara aku menghabiskan masa diam itu untuk mengutuk diri sendiri karena tak sengaja menarik pelatuk yang memacu lukanya; luka yang mungkin sedang berupaya dikuburnya.
Diamnya Air hadir karena ia membaca diamku. Ia selalu bisa melakukan itu. Sambil memotong sekeping biskuit dengan jemarinya, ia berkata, “Tak apa, Kal. Kamu tahu sendiri, aku sudah terbiasa dengan segala yang terbakar.”
Gadis berambut legam itu terkekeh. Ia menambahkan, “Barangkali, aku juga turut terbakar bersama tanaman-tanaman ibu.”
Aku menggeleng, masih diam. Air terkekeh pelan lantas berkata, “Tapi mungkin aku sama bodohnya dengan mereka. Kupikir, air dari selang hijau itu mampu menghidupkan jagat yang sudah mati terbakar sejak lama.”
“Air,” aku menegurnya. Ia mengibaskan tangan kanannya tanpa menatapku. “Tapi tak apalah. Setidaknya, aku sudah berusaha. Aku meminta maaf, tak seperti orang tuaku,” ucapnya sambil menggedikkan bahu.
Derit ranting mengisi sunyi. Guna mengisi kecanggungan, aku melirik kopiku dan menyesap lagi dari cangkirnya.
Tak biasa Air seperti ini. Gadis berambut ikal panjang itu tak pernah bercerita. Menurutnya, membagikan apa yang mewabah dalam kepalanya sama seperti bertelanjang. Ia tak pernah sudi bertelanjang di depan orang. Namun kupikir Air sedang mabuk kecubung sore ini, sehingga ia muntahkan segala yang menggerogoti sudut sadarnya, berturut semua perkara yang mencekat kerongkongannya.
Kunjunganku kali ini adalah untuk mengantarkan kaset pita milik Air yang dua tahun lalu dititipkan padaku. Sebetulnya sudah kurencanakan pengantaran ini setahun lalu, ketika berita duka mendahuluiku.
Selepas seremoni pemakaman, kuberikan Air ruang untuk berkabung. Ia memang suka mengurung diri ketika lara mendera. Kiranya aku tak pantas merangsek ruang aman yang ia ciptakan untuk melakukan pengobatan.
Kurogoh kantong jaketku yang tergeletak di sandaran kursi, mengambil kaset pita dari rengkuhnya, lalu meletakkan barang titipan itu di atas meja.
Ketika Air melihat kaset pita itu, ia tergelak selama beberapa detik. Begitu lepas, hingga matanya berair.
“Aduh. Maaf, Kal. Aku sampai lupa tujuanmu datang ke sini. Makasih, ya,” tuturnya tulus.
“Tapi tumben, Air. Kukira kamu nggak suka barang tua seperti ini.”
Ia mengembuskan napas kasar lalu meraih kaset yang tergeletak di atas meja. Dibolak-balikkannya wadah kaset bening itu, lalu ia buka isinya. Air menekuri buklet yang ada di dalamnya, membaca judul-judul lagu yang terpampang pada wajahnya.
“Lucu, ya. Betul apa yang kamu bilang, Kal. Aku memang nggak suka barang tua begini.”
Aku menyimak karena tahu kalimat itu masih ada lanjutannya.
“Tapi Bapak suka.”
Bajingan tengik! Hari ini adalah hari yang ganjil. Air telanjang loncos, atau setidaknya ia mabuk ciu, sementara aku menyemburkan belati dari mulutku. Aku jadi takut bicara. Kalimat macam apa lagi yang bisa keluar dari bibirku sore ini?
“Kupikir, aku bisa menyembuhkan diriku dengan menyukai apa yang Bapak suka. Tapi ternyata nggak, ya. Bukan nggak, sih. Rasanya lebih seperti terapi, di mana aku membiasakan diri memeluk pisau yang sejak dulu menghungjamku. Semacam membentuk sebuah kekebalan dan secara gradual meningkatkan dosisnya.” Ia memandang dedaunan yang rontok ditampar angin. “Tapi satu yang pasti, Kal. Aku ingin belajar menyukai apa yang Bapak suka, meski kesemuanya sia-sia belaka.”
Alih-alih melihatnya sebagai fenomena ganjil, aku ingin mulai mendengarkannya sebagai seorang anak kecil yang sedang bercerita dan butuh didengarkan saja. Ya, kurasa begitu lebih tepat. Mungkin itulah yang sejak dulu Air butuhkan. Hari ini, tak seperti hari yang lain, aku akan membiarkannya memuntahkan kata-kata, tanpa memaksa. Hari ini, aku hanya akan pasang telinga.
Air melirik kopiku, ia menawarkan diri untuk menggantinya dengan kopi panas yang baru. Aku berterima kasih sambil menggeleng, kubilang aku tak masalah dengan kopi dingin.
Ia berpamitan untuk mengisi tehnya sambil menawarkan kepadaku sesuatu yang lain, “Mau dengar kaset ini bareng-bareng, Kal?”
“Boleh saja,” jawabku. Air berdiri dari kursi, lalu hilang ditelan pintu.
Karena aku bosan duduk, aku mengangkat bokongku dan berjalan mondar-mandir di beranda. Rumah ini tak terlau besar, tapi akan sangat sepi jika hanya dihuni sendiri. Banyak pohon besar yang menaungi sehingga dedaunannya meranggas mengotori pelataran. Tapi kurasa meranggas adalah salah satu cara pepohonan memberi isyarat pada penghuni rumah bahwa ia masih hidup.
Aku mengalihkan pandangan untuk memandangi pintu depan. Pada kisi-kisinya terpampang beberapa coretan garis horizontal berjarak-jarak. Di sebelahnya tertulis nama dan angka-angka.
Safir 10.
Safir 9.
Safir 7.
Safir 6.
Safir 4.
Safir 3.
Safir 2.
Safir 1.
Ternyata, Air berhenti tumbuh ketika umurnya genap sepuluh.
Aku mematung beberapa lama hingga Air keluar menggenggam walkman di tangan kanan sementara tangan kirinya mencengkeram cangkir tehnya yang kedua. Menyadari ketertegunanku, si pemilik rumah bertanya, “Kal, kenapa?”
“Nggak, Air.”
Air melengos duduk dan kembali menekuri kaset pita yang tergeletak di atas meja. Gadis itu membentangkan buklet dan membaca lagi isinya. Ia meminta pendapatku apakah kami akan memutar side A atau side B terlebih dahulu. Karena aku tidak hafal isinya, aku bergabung ke meja. Aku turut menekuri kata-kata pada buklet yang terbentang di depan mata. Satu sisi menampilkan bermacam grafis wajah anggota band dan diskografi mereka, sementara sisi sebaliknya didominasi warna hijau dan menampilkan lirik lagu mulai dari Beetlebum hingga For Tomorrow.
Aku menyuarakan keinginanku untuk memutar side A terlebih dahulu. Kusampaikan bahwa ada lagu kesukaanku di dalamnya, yakni No Distance Left to Run. Air mengiyakan dan manut saja lantaran tidak mengenal Blur sama sekali.
Sambil meminta bantuanku untuk mengoperasikan alat itu melalui pertanyaan mengenai tombol ini untuk apa sedang yang itu untuk apa, Air meletakkan kaset di wadahnya, lalu menekan knop pemutar.
Beetlebum mengalun lamat, melatarbelakangi percakapan kami.
Kuceritakan padanya rentetan peristiwa hidupku dua tahun terakhir yang berjalan dengan alpanya. Kukatakan betapa si bajingan waktu bergerak begitu lamban tanpa Air di dekatku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Air memasang kedua telinga sepenuhnya, diselingi anggukan sekali-dua. Kubuat ia terkekeh dengan kegaringanku di sela-sela cerita.
Meski tergelak, matanya tak bisa menipuku. Kesedihan dan rasa sepi menggenang di sana. Aku tahu, Air menyadari bahwa aku dapat membaca netranya. Namun barangkali bagi kami kepura-puraan lebih nyaman dan menenangkan ketimbang harus bertelanjang dan menunjukkan sekujur yang telah dijaluri balur.
Kami adalah teman sekelas pada masa kuliah. Aku lupa bagaimana cerita awalnya, tetapi yang jelas, tingginya frekuensi sua mengikis jarak antara kami berdua.
Air bukan nama aslinya, melainkan Safir. Ketika ditanya, ia selalu berkata bahwa panggilan itu berasal dari kawan-kawannya ketika SMA. Belakangan, ketika kami makin dekat, baru aku tahu bahwa ia tak suka nama pemberian dari orang tuanya.
“Safir, batu permata yang amat kuat dan langka. Nama itu rasanya terlalu luhur untuk orang seperti aku, Kal. Untuk aku yang begitu biasa dan ringkih ini. Aku yang membusuk di sana-sini. Sementara Air, ya air. Lebih adaptif dan manusiawi. Itu mungkin cita-citaku: mengubah nama pemberian orang tuaku jadi sesuatu yang lebih manusiawi,” tuturnya suatu sore di selasar fakultas.
Pengakuan Air sore itu membuatku makin menempel kepadanya. Pasalnya, sedikit banyak, aku juga merasakan yang sama. Seperti Air, aku merasa terlalu kotor untuk menyandang nama tengahku.
Satu kita yang punya: sama-sama benci nama, merasa tak pantas menyandangnya. Mereka terlampau luhur, padahal diri babak belur.
Ia lupa nama tengahku, sementara aku lupa cara mengejanya. Lucu bagaimana kami enggan Aamiin-kan doa baik yang akan tersemat pada kami selamanya itu, betapa kami sibuk cari jalan pintas alih-alih upayakan pantas. Tidak juga sekilas yang lekas.
Di beranda ini, meski obrolan kami secara keseluruhan hanya diisi dengan basa-basi, percakapan berjalan lancar.
Hanya, di tengah-tengah Coffee and TV, walkman mandek tiba-tiba. Sebagai pihak yang merawat kaset tua titipannya selama dua tahun belakangan, aku selalu memastikan kaset tersimpan dalam kondisi yang baik. Aku juga selalu memutarnya setidaknya dua kali sehari meski hanya selama sepuluh menit.
Air mengotak-atik walkman tuanya. Ia membuka-tutup katup, menyala-matikan barang itu beberapa kali, sebelum akhirnya menghadiahi pukulan pelan sana-sini.
Ia mendesis beberapa kali. Aku menawarkan diri untuk membantu mengeceknya. Air tidak mendengarkanku, ia terus menepuk-nepukkan alat itu dengan telapak tangannya.
Rambutnya ikalnya terjuntai, seolah ingin turut menyumbangkan tenaga guna membantu empunya. Alih-alih mempermudah, rambut panjangnya malah justru menambah pelik karena tersangkut di antara knop. Air mendesis, membanting walkman ke meja. Masih tertunduk, ia menggeram.
Dadaku terasa ngilu dan aku kaget ketika mendengar gemeletuk giginya. Napas Air terdengar begitu kasar, seperti detak bom waktu yang akan meledak dalam waktu dekat.
Alih-alih ledakan, adalah tangisnya terdengar lamat-lamat. Tiba-tiba, Air kecil yang tak pernah kukenal seolah muncul di depanku, merengek sejadi-jadinya. Makin lama, tangisnya makin keras.
“Kenapa, sih, harus kaya gini?” suaranya terdengar marah. Aku tercenung, tak bisa mengatakan apa-apa. Ingin kuraih tubuhnya dan menyeretnya ke dalam pelukku, tapi kurasa itu adalah tindakan yang terburu-buru.
“Seumur hidup. Seumur hidup, Haikal. Kupikir, ketika dua manusia itu mati, aku bakal merasa lebih baik. Kupikir, dunia bakal berhenti jahat,” protesnya sambil tersengguk-sengguk. “Tapi ternyata aku berduka. Dan ternyata duka itu nggak linear, ya, Kal.”
Seperti janjiku, hari ini aku akan memasang telinga tanpa menyela apa-apa. Kubiarkan sahabatku melecutkan raung dan serangkaian protes yang lama mengganjal ruang dadanya.
“Aku kebingungan ketika dengar kabar kepulangan mereka pagi itu. Aku nggak nangis, Kal. Aku bangun dari kasur, aku jogging, aku bikin roti panggang dan susu hangat untuk sarapan. Aku mandi. Semua seperti biasa. Tapi ketika aku mau jalan keluar, kakiku nggak mau. Aku cuma berdiri di ambang pintu kos. Rasanya… aku nggak kuat untuk menghadapi hari itu,” Air kepayahan bicara di antara sesak yang berebut menguasainya.
Gadis itu masih tertunduk, terisak. Ia mengatur napas lalu menengadah, melawan air mata yang meloloskan diri dari pelupuk meski semuanya sia-sia belaka. Kekehan hadir di sela-sela tangisnya. Tawa yang getir itu masih menguasai bibir ketika pemiliknya memandangi pemutar kaset portabel warna hitam miliknya dengan nanar.
Aku tahu belaka bahwa sejak membeli pemutar kaset itu dari pasar loak, Air tak pernah menyentuhnya. Barang itu mungkin ia sembunyikan di dasar lemarinya, bertumpuk dengan pakaian-pakaian tua.
Tangisnya berhenti selama beberapa detik sebelum bersambut deras yang lain. Bukan karena walkman yang tiba-tiba nirguna. Bukan pula ketidaktahuannya mengenai cara mengoperasikan rongsokan itu. Mungkin kubah jantungnya tak tahan lagi membendung setumpuk beling yang menggumpal akibat kegagapan orangtua dalam meng-anak-kannya, dan barang renta itu bisa jadi pretensi yang cocok untuk dikambinghitamkan.
Dengan gamang ia tengadah, bola matanya mencari milikku. Masih sambil terisak, ia berkata, “Mereka bilang waktu adalah obat terbaik. Tapi ternyata nggak, Kal. Waktu bahkan nggak mampu jadi kawan yang baik. Nggak perduli selama apa aku menyiapkan hati untuk menghadapi duka, sakitnya akan tetap sama ketika hal itu diterima oleh kepala.”
Kusentuh lengan Air, gemetar dan dingin di tubuhnya merambat pelan di telapak tanganku. Kubantu ia mengelap air mata dari pipinya. Ia tak melawan. Mungkin pikirnya, sore itu ia akan menanggalkan harga diri dan kekeraskepalaan untuk mengalah di hadapanku.
Sambil menunjuk dada, Air merintih, “Haikal, ternyata jauh di sini masih ada durinya. Aku pikir, dia udah nggak kerasa karena sudah sembuh. Nyatanya, dia masih ada. Dia cuma sembunyi dan meradang. Aku nggak bisa ngerasain karena ternyata bagian-bagianku yang tertancap duri sudah membusuk.”
Di tengah-tengah upaya protes, Air mengambil napas panjang dengan sisa-sisa kesia-siaannya. Ia menatap langit-langit beranda, sejenak matanya beralih ke ambang pintu. Dilihatnya sekeliling rumah warisannya, masih penuh air mata. “Aku mewarisi semua ini sendiri, Kal. Berturut borok yang ditinggalkan oleh bapak dan ibuku. Semua-muanya mereka hadiahkan hanya untukku. Ah, betapa sayangnya mereka padaku.”
Air menunduk lagi, dadanya naik-turun dengan cepat. Isak terdengar, keluar lagi satu per satu dari kerongkongan. Barangkali sesak itu berasal langsung dari jantung.
“Patetis sekali, ya, Kal? Aku benci bapakku, tapi aku ingin memelihara rumahnya, mempelajari apa yang dicintainya. Meski yang dipelihara dan dicintainya itu bukan aku.”
Aku menggeser kursiku, mengikis jarak agar lebih dekat dengan Air. Kuulurkan tanganku untuk mengusap punggungnya yang bergetar. Akan tetapi, tenang belum kunjung hadir. Sedu-sedan masih menguasainya, barangkali bantu menghadirkan Air Kecil untuk merengek sepuasnya — suatu hal istimewa yang tak pernah ditawarkan orang tuanya.
“Dan berani-beraninya, seperti semesta, rongsokan ini melawan inginku juga.”
Tidak. Aku tidak berani menyuruhnya berhenti, tidak setelah ia hidup kepayahan sendiri selama ini. Kurapatkan diriku kepadanya, merengkuhnya lebih dekat. Dalam dekapku, Air terasa seperti pecahan beling yang bersepahan, sementara aku sia-sia memungutnya. Ini semua karena ibunya melahirkan sebuah botol, sedang bapaknya membesarkan pecahan kaca.
Tiba-tiba Damon Albarn mulai mengaum, ingin kusumpal mulut keparat itu dengan segenggam daun kering.
It’s over // I know it would end this way // I hope you’re with someone who makes you feel that this life is a life // One who settles down, stays around // Spends more time with you //
Lirik yang terdengar sendat itu memperparah sesak gadis yang ada dalam rengkuhku. Rengeknya makin keras. Kurenggut walkman dari meja dan melemparnya jauh hingga jatuh di bawah pohon mangga. Tak peduli yang mengalun adalah favoritku, sebab Air berhak menangis dan berduka sebebas-bebasnya, tanpa interupsi apa-apa. “Sakit sekali, Haikal. Sakit sekali rasanya,” protesnya di sela tangis.
Dapat kurasakan sisi kanan bahuku basah. Air mata Air menghujaniku untuk pertama kali setelah lebih dari sepuluh tahun kami saling membersamai.
Sementara itu, kering melanda tenggorokanku. Dari sudut mata, kulihat kopiku masih banyak bersisa. Akan kutandaskan nanti, ketika tangis Air sudah berhenti.
Dengan daya seadanya, kedua kepalan tangan Air memukul-mukul punggungku. Andai saja nelangsa dapat dipindahtangankan, aku akan secara sukarela menerima separuhnya, supaya Air tak perlu menanggung terlalu banyak duka dalam toraksnya.
Namun tampaknya semesta bukan raya yang murah hati. Dengan adil, ia tak-mengadili siapa saja.
Bapak dan ibu Air hidup lebih lama; berkubang pada kedua pelupuknya, lalu menderas ke pipi. Hujan menahun terjadi pada Air, dan di situlah kedua orangtuanya hadir dalam bentuk yang lebih bersahabat: tanpa teriakan, pukulan, manipulasi, juga tendangan berhadiah lebam pada sekujur badan.
Air memintal suara — setidaknya yang tersisa. Ia memanggil nama ibu dan bapaknya.
Aku tersenyum kecut ketika bibirnya meloloskan dua nama itu. Lucu, betapa hati kita akan selalu membuta; berharap diselamatkan oleh mereka yang menempatkan kita pada pucuk nelangsa. Tak terkecuali manakala mereka sudah tiada.
“Jauh di dalamku, ternyata aku tetaplah Safir, Kal. Biru. Warna lebam, warna kesedihan,” ucapnya dengan kepala yang masih tenggelam dalam dekapku. Aku mengelus kepalanya, setengah hidup berpura-pura jadi ibunya. “Tak apa. Toh lebam bisa sembuh, Air.”
Ketika mendengar jawabku, Air terisak lagi. Namun, kepalan tangannya mengendur dan mulai terbuka. Ia mendaratkan kedua tangannya di punggungku dengan kehati-hatian, lalu mengusap-usapkannya.
Tangis masih deras di pelupuknya, sementara di ujung barat, baskara mulai pamit pulang menuju dekap cakrawala.
Rasa getir sekaligus bahagia berebut menyergapku, membanjiriku. Aku merasa sesak karena menyaksikan Air mesti menanggung nelangsa semegah ini pada pundaknya yang kecil. Namun, di sisi lain, bahagia juga turut muncul sebab akhirnya ia berani melolosi pakaiannya.
Rasa-rasa yang berlawanan muncul, aku tak tahu mana yang pantas disebut terlebih dahulu. Mungkin Air lebih tahu. Mungkin juga tidak. Tetapi satu yang pasti: sungguh tak apa-apa jika kita sama-sama tak tahu. Sebab banjir bandang itu sekiranya sudah cukup untuk menenggelamkan kami, sehingga tak ada waktu untuk pikirkan borok mana yang perlu dibersihkan terlebih dahulu. Meski melahap waktu berhari-hari, banjir akan surut. Pasti.
Hari ini tepat setahun Air resmi menjadi seorang yatim piatu. Sebagai anak tunggal, ia mewarisi peninggalan kedua orangtuanya. Sepetak kebun jati, berbagai perabotan kayu, serta segumpal rumah dengan selusin pintu yang pernah terbakar. Barangkali Air juga mewarisi duka sang ibu yang tertimbun jauh dalam relungnya, berturut amarah bapak yang acap meledak dalam satu babak tandas.
메타데이터
- post_id
- eaacab1b1b79
- slug
- air-safir-eaacab1b1b79
- url
- https://medium.com/@listrikpadam/air-safir-eaacab1b1b79
- canonical_url
- https://medium.com/@listrikpadam/air-safir-eaacab1b1b79
- author_url
- https://medium.com/@listrikpadam
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21