← Back to list

Memperluas Cakrawala

Rekap Bulanan Berbagi & Berdampak April 2026

Muhammad Nashr Alafi in Berbagi & Berdampak · 2026-05-05 02:01 · 634 claps · 3.8 min read
#berbagi-dan-berdampak #balkon #bahasa-indonesia #community
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎮 · Gaming

#Balkon Edisi 44

Memperluas Cakrawala

Rekap Bulanan Berbagi & Berdampak April 2026

Paul Skorupkas from Unsplash

Paul Skorupkas from Unsplash

Selamat pagi, siang, atau kapanpun kalian membaca tulisan ini.

Selamat datang, kami ucapkan kepada para pembaca, penulis, ataupun keduanya di Medium. Semoga siapapun di antara kita masih mampu menyempatkan diri untuk membaca, menulis, atau siapapun yang baru saja mengetuk halaman pertama beranda.

Pertama

Selama bulan April ini, tercatat ada 55 penulis baru yang mendaftar publikasi Berbagi dan Berdampak. Hal ini editor melihat sebagai tingginya antusias terhadap tulisan yang tayang dan diterbitkan sehingga menarik perhatian dan memberikan keberanian untuk mendaftar jadi penulis.

Selanjutnya, mari melihat sedikit statistik Berbagi dan Berdampak selama Bulan April 2026:

Tangkapan Layar Statistik April 2026

Tangkapan Layar Statistik April 2026

Terlihat fluktuatif bukan?

Akan tetapi, ada satu hal yang cukup menggelembung: Naiknya tingkat views, dan reads dibanding bulan sebelumnya. Jumlah tulisan yang telah diterbitkan sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya yaitu 243 tulisan.

Terbagi dalam 49 tulisan oleh para perempuan-perempuan hebat, kemudian 193 tulisan lain berasal dari sosok laki-laki yang aktif melimpahkan isi hatinya melalui tulisan selama sebulan penuh (April 2026).

Untuk itu, apresiasi kepada 81 penulis berikut yang telah berkontribusi di bulan April;

Farhan, Dayu Rifanto, Fahrur Rizqi, Muhzinur Rizki, Dandy S. Muazar, Fiqry Thalib, Kendrick Filbert, Onotao, Michael Gabriel, Ali Nawasena, Byannakaila, Rian Mantasa Salve Prastica, keisha, Amril Taufik Gobel, Yopi Makdori, Edo, Yusuf Hermawan, Syauqi Aulade Ghifari, Rana Ida Sugatri, Lathifah Sekar Fitriarini, Atmadeva Wiranata, Wima S.Y, Made Bhela Sanji Buana, Riza Putranto, Stepanus BP, Cindiana Famelia, DyPa Dinara, Ivan Lanin, Luvanka, Ridho Ismail, lolalittlethought, Harlow., Yasir Fuadi, Khoiru Rizal, Taufik, Ahsanul Afil, Ryandi Pratama, Roslailyn, Andi Khaerul Imam, fadhilrey, Norbidjak, wildaannisaa, Alfin Laurentinus, EW Prasetyo, ANhalfengineer, Yusar Firmansyah, Jan Kristanto, Hwardahni, raina j, Maria Ceria, Story of Boy, bethanious, Anindyka Shah, Andi Natanael, DgRoncing, Siti Fatimah, thaa. 🍜🌊, AE Niko, nihilmi, Daniel Gagarin, El-Say, Butet Rsm, Sabenoe, YAS, Ratri Hiusena, Encyclopedia Celia, Dhiiiii, Erin, salwanazs, Rifky Pramana, Tiaraezki, Sera Sera, Kutipanraya, Mirza, Ratu Ifthiharfi, Ajeng Restiyani, katakanha, Azzam Ati'illah, Toat Abdaul Islami, Wahyu Amerta, Imanuel F Lawalata.

Kedua

Mari kita lihat, tiga tulisan pilihan editor di pekan peralihan bulan Maret ke April (1 April s.d. 30 April 2026)

Mari kita mulai awali bulan ini dengan rubrik Kepenulisan, dari Kak Dayu Rifanto berjudul *Mencoba Mendengar lalu Menulis*

Bermula dari keikutsertaan Beliau dalam acara **Festival Sastra Sorong *dengan menghadirkan yang disebut dengan Kikigaki *atau pendekatan berbasis mendengarkan wawancara kemudian menuliskannya.

Apakah prosesnya berjalan sempurna?

Tentu saja tidak, karena dalam tahapan Kikigaki sebelum melakukan kegiatan penelusuran diperlukan setidaknya lima fondasi dasar di antaranya.

A: Informasi mendasar

B: Masa kecil

C: Gambaran keahlian

D: Perasaan & Pemikiran terhadap pekerjaan

E: Harapan

Semua itu memerlukan satu proses khusus yang kerap dilupakan. Proses dasar itu adalah kemauan untuk mendengar.

Kita sering merasa bangga dengan cara penyampaian diri sendiri, dan mengumumkannya secara lantang sebagai hasil akhir, namun terkadang kita melupakan kenikmatan memproses itu sendiri.

Entah dengan membaca alam sekitar atau sekadar duduk termenung mendengarkan dan membayangkan sesuatu, dan itu lebih dari cukup untuk menajamkan indra pendengaran kita.

Selanjutnya mari mengetuk pintu lebih dekat, melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam beberapa hari terakhir dikemas dalam rubrik Esai milik Kak Amril Taufik Gobel berjudul *Rel yang Retak : Pelajaran Pahit dari Tabrakan Argo Bromo dan KRL di Bekasi.*

Dari sini, setidaknya kita memahami bahwa masalah ini tidak bisa dituding atau menyerukan salah kepada satu pihak. Mari kita bedah secara perlahan

Menyalahkan perlintasan sebidang? Terdengar masuk akal, namun kurang bijak bila mengabaikan anggaran pembangunan underpass sendiri juga tidak mudah, belum lagi waktu pembuatan, dan terpenting proses tersebut sepi, tidak dihargai orang ketika ada, namun banyak diprotes ketika abai.

Menyalahkan ATP (Automatic Train Protection)? Mungkin ini yang bisa dijadikan prioritas. Namun itu semua perlu biaya, dan memerlukan pemantauan SDM yang ketat.

Menyalahkan regulasi kendaraan listrik? Ah sepertinya memang perlu ada perbaikan terkait kemudi manual yang unlock-able ketika situasi darurat.

Budaya keselamatan? Tentu perlu ada kesepakatan antar berbagai pihak. Tidak hanya operator, petugas, ataupun pengguna jalan, bahkan masyarakat di sekitar rasa-rasanya perlu bersepakat atas satu hal:

Keselamatan siapa yang perlu diprioritaskan? Masyarakat sekitar atau masyarakat terdampak? Atau sebenarnya sistem keselamatan tidak seharusnya memaksa kita memilih keduanya.

Karena apa?

Sistem sering dibangun atas dasar yang ideal, dan itu menjadikannya kuat sekaligus rapuh di titik yang sama.

Woah, rasanya berbusa-busa editor menuliskan interpretasi atas esai di atas, maka calming down sejenak membaca rubrik Refleksi melalui tulisan Kak Atmadeva Wiranata berjudul *Laki-Laki Hidup Untuk Berkorban dan Dikorbankan?*

Masih tema yang sama, namun sudut pandang berbeda. Menyoroti sosok berpendidikan, namun ternyata membuat simplifikasi berlebihan terhadap suatu gender.

Kemudian perihal pelanggaran aturan rel kereta api? Bukankah itu juga kelalaian berbagai pihak? Warga sekitar yang menjadi gerbang terakhir sebagai alternatif ketiadaan penjaga dan palang resmi tentu tidak memikirkan dampak sejauh itu sebelumnya.

Mereka tentu melihat sebelum kejadian ini, kurang lebih seperti ini.

“Selama Kereta Api belum melintas, kita maksimalkan saja kendaraan untuk melintasi rel.”

Karena mereka juga dituntut berpikir secara praktis antara keselamatan penumpang dan pengendara/ mengurangi kemacetan, yang naasnya membuat masalah sistemik ini benar-benar tak terelakkan.

Mungkin sebuah refleksi yang bisa didapatkan adalah

Kita tidak pernah tau simplifikasi ucapan kita yang berisiko, tugas kita hanyalah mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan, sembari berusaha terus memperbaikinya dari waktu ke waktu.

Menutup tulisan dengan nada pasrah/reflektif sepertinya terasa kurang pas di hati pembaca ataupun editor.

Editor dengan segala kerendahan hati memohon undur diri dari rekapan bulanan publikasi Berbagi dan Berdampak

Terima kasih kepada siapapun yang telah membaca, menuliskan pesan, dan turut termenung bersama kami, semoga di masa medatang kita masih sempat untuk berhenti sejenak dan memahami lebih jernih.

Sampai jumpa….🚀


메타데이터
post_id
eac1fed6916e
slug
memperluas-cakrawala-eac1fed6916e
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/memperluas-cakrawala-eac1fed6916e
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/memperluas-cakrawala-eac1fed6916e
author_url
https://medium.com/@imamhafis78
status
ok
fetched_at
2026-07-10 20:20:52