← Back to list

Dendam-Rindu “Sesuatu dari Nurhayati”

MAKLUMLAH saya baru kelar membaca sebuah buku “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karangan Eka Kruniawan, yang dititikberat…

Fly akira · 2026-01-02 09:34 · 0 claps · 1.8 min read
#resensi-buku #peristiwa #patani
Open on Medium ↗

Dendam-Rindu “Sesuatu dari Nurhayati”

Novel Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas-Eka Kruniawan

Novel Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas-Eka Kruniawan

MAKLUMLAH saya baru kelar membaca sebuah buku “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karangan Eka Kruniawan, yang dititikberat masalah kekerasan seksual — bisa dikaitkan dengan peristiwa pembunuhan di kampung Bazalapae. Barangkali hasil pembacaan (kabanyakan genre fiksi) saya begitu — yang terlalu mengikat dengan kejadian di desa dan di tempat lahir saya. MAKLUMLAH saya benar-benar tidak bisa melepaskan benang terurai di antara fiksi dan kenyaatan; ia seolah membuka “jalan ninja” secara diam-diam menulusuri jejak kesenyapan dan kesembunyian.

Dan memang kesulitan semakin terasa ketika saya menelusuri data mengenai kronologi kematian Nurhayati. Fakta dan pemberitaan yang merekam peristiwa itu nyaris tidak dapat ditemukan secara memadai. Kalau saya meng-overclaim-kan bahwasanya Nurhayati diperkosakan sebelum pembunuhan itu terjadi yang dilakukan oleh “ninja” perinkat “Jonin” (dalam arti bukan bukan orang biasa) seperti kalimat ini;“Dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila” (SDPHDT-Eka Kruniwan), penandanya tentang kekuasaan.


Hari itu (22/05/2007) di kampung Bazalape. Berlandaskan kesaksian Dah Jeh Lelaoh (satu-satunya yang selamat dari peristiwa itu). Ia mengatakan, sekelompok pria bersenjata yang mengenakan atribut pasukan keamanan menyerbu rumah mereka dan menewaskan beberapa anggota keluarganya. Peristiwa itu berlangsung cepat, dalam suasana gelap dan penuh teror, sehingga banyak detail peristiwa seakan “kamui” yang tak pernah sepenuhnya terungkap.

Hari-hari berikutnya, pernyataan resmi mulai bermunculan. Pihak militer menegaskan bahwa hasil pemeriksaan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada tubuh Nurhayati. Namun, penegasan itu datang bersamaan dengan pengakuan bahwa pemeriksaan tersebut sejak awal tidak diarahkan untuk menyelidiki kemungkinan pemerkosaan. Seorang dokter yang diminta ikut dalam konferensi pers memilih menolak. Saya membaca ini sebagai sebuah jeda ganjil dalam kronologi; sebuah kesimpulan yang lahir tanpa proses yang lengkap.

Enam hari setelah itu, kronologi kembali bergeser ke ruang publik. Sekitar seratus perempuan dan anak-anak, termasuk ibu Nurhayati, menutup jalan di Paktae. Untuk pertama kalinya, tuduhan itu disampaikan secara terbuka. Aksi tersebut berlangsung dua hari, menyebabkan sekolah-sekolah ditutup, sebelum akhirnya dibubarkan melalui negosiasi dengan pejabat daerah. Janji disampaikan; jika warga dapat menghadirkan bukti keterlibatan aparat, maka pelaku akan dipindahkan dari wilayah tersebut.

Yang mendesiskan kepala saya, ganguan pertanyaan begini; bagaimana menulis sesuatu yang tidak pernah diakui, tetapi terasa begitu nyata? apa yang mungkin dialami Nurhayati sebelum ia dibunuh?.

Di titik inilah saya memahami keterbatasan kronologi dan arsip. Ada peristiwa yang hidup dalam kesaksian dan ingatan, tetapi gugur sebelum menjadi fakta resmi. Dan barangkali bukan untuk memastikan apa yang terjadi, tetapi untuk menolak melupakan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dibiarkan menggantung.


Seperti itulah istilah dendam-rindu dari judul novel tersebut merupakan makna hasrat untuk melakukan sesuatu. “sesuatu dari Nurhayati

-02/01/26-


메타데이터
post_id
eacb4cead5b6
slug
dendam-rindu-sesuatu-dari-nurhayati-eacb4cead5b6
url
https://medium.com/@flowerkayaedalae/dendam-rindu-sesuatu-dari-nurhayati-eacb4cead5b6
canonical_url
https://medium.com/@flowerkayaedalae/dendam-rindu-sesuatu-dari-nurhayati-eacb4cead5b6
author_url
https://medium.com/@flowerkayaedalae
status
ok
fetched_at
2026-07-13 18:14:32