Membaca Kembali Hamka
“Islam adalah agama ilmu dan akal”
Membaca Kembali Hamka
“Islam adalah agama ilmu dan akal”

Oleh: Frial Supratman
Saya sangat senang ketika ditugaskan untuk menyampaikan materi mengenai Buya Hamka untuk Kelas Literasi Klasika, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sebagai seorang pustakawan, tentu saja, ini sangat menantang. Bukan hanya karena Hamka memiliki ratusan karya, baik berupa buku maupun artikel, namun karena kualitas yang bernilai tinggi dari karya-karya tersebut.
Siapa yang tidak mengenal Tafsir Al-Azhar ? Siapa juga yang tak mengenal novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck atau Di Bawah Lindungan Ka’bah? Itu adalah di antara karya-karya Hamka yang banyak dikenal luas oleh masyarakat. Buku Tafsir Al-Azhar yang legendaris tersebut ditulis saat dia dipenjara karena melawan otoritarianisme rezim Orde Lama. Sedangkan novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Kabah pada awalnya merupakan kumpulan cerita bersambung yang diterbitkan di dalam majalah Pedoman Masjarakat pada tahun 1936 dan 1938 ketika Hamka tinggal di Medan.
Meskipun tidak ada yang meragukan kehebatan dan kebesaran Hamka melalui karya-karyanya, namun kritik hingga ejekan pun tidak pernah lepas dari kehidupannya. Dia tidak ambil pusing ketika ada yang mengejeknya dengan panggilan “Ulama van Der Wijck” atau “Ulama Merantau ke Deli.” Toh, ejekan yang demikian tidak meruntuhkan batin dan raganya yang telah tahan uji.
Pada tahun 1962 Hamka pernah dituduh melakukan plagiat. Artikel yang berisi tuduhan tersebut diterbitkan dalam surat kabar Bintang Timur yang kental dengan ideologi komunisme. Nuansa keagamaan dalam novel-novel Hamka — wajar saja karena dia juga seorang ulama — dianggap tidak cocok dengan cara pandang para komunis yang menganggap agama hanya candu belaka. Ejekan terhadapnya justru hanya memperkokoh batin dan raganya. Imannya terlalu kuat untuk digoyahkan oleh tuduhan keji seperti itu. Bahkan, Hamka sama sekali tidak pernah menyimpan dendam terhadap lawan-lawannya. Meskipun Hamka pernah dipenjarakan oleh Sukarno, namun dia dengan hati yang lapang dan ikhlas rela menjadi imam saat menyolatkan jenazah Sang Proklamator tersebut.
Hari ini terdapat upaya-upaya untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran mulia yang pernah disampaikan oleh Buya Hamka melalui karya-karyanya. Karya-karya Hamka terus dicetak ulang oleh berbagai penerbit di Indonesia. Hal ini membuktikan adanya kebutuhan untuk melahap pemikiran-pemikiran Hamka di tengah zaman yang serba tidak pasti, zaman yang menggoyahkan keyakinan dan iman terhadap Tuhan, zaman yang menuntut kita berpikir serba materi. Deru industrialisasi yang tiada henti hingga kemunculan konflik sektarianisme dan ekstremisme — baik ekstrem kiri maupun kanan — memaksa kita untuk kembali mencari panduan hidup yang cocok dan selaras dengan iman pada Tuhan dan kepribadian bangsa. Tentu saja perpustakaan merupakan tempat pertama yang harus dikunjungi untuk menemukan kembali mutiara hikmah dari Buya Hamka.
Antara Akal dan Wahyu
Hari ini kita sudah dihadapkan dengan berbagai kemudahan dalam mengakses pengetahuan. Ponsel yang ada dalam genggaman kita dapat dipakai untuk mengakses berbagai pengetahuan. Dengan sekali “klik” saja, kita langsung dihantarkan kepada informasi yang kita inginkan. Namun saya sendiri tidak puas dengan informasi-informasi yang bertebaran di internet. Ketika saya ingin memahami Hamka, maka banyak sekali artikel-artikel online — baik yang berkualitas maupun yang buruk — yang memuat informasi mengenai ulama dan sastrawan asal Sumatra Barat tersebut. Akhirnya, saya pun tetap lebih percaya pada perpustakaan. Tentu saja Perpustakaan Nasional adalah yang paling lengkap di antara banyaknya perpustakaan yang ada di Indonesia. Hampir seluruh karya intelektual bangsa ada di sana.
Di Perpustakaan Nasional saya menemukan beberapa karya Hamka yang legendaris, seperti Ajahku, Kenang-Kenangan Hidup, Tafsir Al-Azhar, Sedjarah Umat Islam, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Mengembalikan Tasauf ke Pangkalnya, Islam dan Demokrasi, Said Djamaluddin Al-Afghani, hingga Dibawah Lindungan Ka’bah. Buku-buku tersebut banyak mengandung pemikiran Hamka yang brilian dan penuh hikmah.
Buku-buku keagamaan tentu menjadi perhatian pertama saya karena Hamka lebih utama dikenal sebagai seorang ulama. Bila dilihat dari garis keturunannya maka Hamka memang keturunan ulama. Ayahnya bernama Dr. Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, seorang ulama pembaharu, reformis, asal Minangkabau, yang membawa cita-cita pemurnian dan pembaharuan Islam setelah menuntut ilmu di Makkah di bawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkkabawi. Sepulangnya ke Padang Panjang, Haji Rasul menyebarkan ajaran pembaharuan Islam dan menyerang “Kaum Tua” yang banyak melakukan praktik-praktik bid’ah dan khurafat (Abdullah 1971). Para ulama pembaharu saat itu cenderung mengambil posisi sebagai “anti-tasawuf.” Sungguh posisi yang ekstrem.

Buku Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Koleksi Perpustakaan Nasional (Foto pribadi penulis).
Hamka tidak menghendaki ekstremisme yang demikian. Karya-karya Hamka justru ingin menengahi pertikaian antara Kaum Muda dan Kaum Tua, antara pembaharu dan tradisionalis. Hamka mengakui bahwa telah terjadi penyelewengan terhadap ajaran tasawuf yang murni. Bagi Hamka, tasawuf merupakan ajaran Islam yang sudah dipraktikkan oleh Rasulullah itu sendiri yang tercermin dari “akhlak yang tinggi, berbudi mulia, sanggup menderita lapar dan haus, dan jika mereka beroleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu lekat ke dalam hatinya, sehingga melukakan hati itu” (Hamka 1981). Dengan demikian tasawuf merupakan upaya perjalanan spiritual secara terus menerus untuk menyucikan hati. Namun sayangnya ajaran tasawuf ini, menurut Hamka, banyak diselewengkan sehingga menarik umat Islam kepada kebekuan berpikir.
Penyelewengan terhadap ajaran tasawuf diperlihatkan dengan adanya penarikan diri dan isolasi dari kehidupan duniawi. Hamka menilai penarikan diri dari kehidupan duniawi dengan menyepi dan hanya fokus pada ibadah-ibadah ritual bukanlah esensi dari ajaran Islam. Hamka menyampaikan bahwa inti dari ajaran Islam adalah terus bekerja dan berjuang selagi masih diberi kesempatan hidup di dunia (Hamka 1981). Selain itu, Hamka juga menilai tasawuf telah diselewengkan dengan adanya ajaran tunduk patuh buta kepada para seykh, tanpa adanya upaya mengedepankan akal. Bagi Hamka ajaran tunduk patuh buta (taqlid) terhadap para syekh adalah pintu bagi kemunduran (Aljunied 2018). Peran guru atau syekh sangatlah penting sebagai pembimbing. Namun tidak berarti kita sepenuhnya menyerahkan kehidupan kepada mereka. Setelah mendapatkan ilmu dari para guru, maka kita sudah dapat menggunakan akal kita untuk menentukan baik dan benar.
Dalam hal ini Hamka menyatakan bahwa penggunaan akal harus dihidupkan kembali dalam kehidupan umat Islam. Akal memiliki fungsi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ini juga merupakan pemisah antara manusia dengan makhluk lainnya, seperti hewan. Agama Islam sangat menghormati akal. Hamka pun menyatakan “Islam adalah agama ilmu dan akal” (Hamka 1994) Meskipun begitu, Hamka menilai penggunaan akal harus dipandu dengan wahyu (revelation) yang bersumber pada Al-Quran. Inilah yang membedakannya dengan Mazhab Muktazilah yang menempatkan akal dan wahyu dengan setara (Aljunied 2018). Hamka justru menempatkan wahyu di atas akal. Dia mengkritik kaum intelektual didikan Barat yang menjadikan akal mereka sebagai Tuhan sehingga mengesampingkan kebenaran Ilahi yang luhur. Jadi, di satu sisi Hamka mengkritik kaum sufi yang taqlid buta terhadap guru-guru mereka karena merendahkan akal, namun di sisi lain Hamka juga menghendaki agar penggunaan akal tersebut dipandu oleh wahyu yang bersumber pada Al-Quran (Aljunied 2018). Selain itu Hamka juga menekankan bahwa akal juga haruslah diiringi oleh etika Islam yang baik atau akhlaqul karimah. Menurut Hamka, muara dari kemampuan akal dalam membedakan mana yang baik dan buruk adalah akhlak dari manusia itu sendiri dalam kehidupan sehari-harinya.
Islam dan Kesenian
Meskipun sudah memiliki nama besar, namun Hamka pernah juga mendapatkan ejekan. Dia kerap disebut sebagai “Ulama Van Der Wijck” karena bagi sebagian kalangan seorang ulama tidak sepatutnya menulis novel. Namun Hamka memang berbeda dari kebanyakan mubalig dan ulama lain. Sejak muda dia memang gemar menulis novel. Dua novelnya yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Kabah telah memulai debutnya pada tahun 1930-an, sebelum Indonesia merdeka. Keduanya pada awalnya nampak sebagai cerita bersambung yang diterbitkan dalam majalah yang diasuhnya sendiri, yaitu Pedoman Masjarakat.
Kemahiran Hamka dalam menulis roman yang indah dan menusuk hati tidak lepas dari kegemarannya dalam bidang sastra sejak kecil. Rusydi Hamka, anaknya, pernah mengisahkan kepiawaian Hamka kecil dalam mengarang. Pada saat usia 17 tahun Hamka sudah berhasil menulis buku berjudul Khatibul Umat. Dia juga pernah mengarang roman berbahasa Minangkabau berjudul Si Sabariyah (Rusydi-Hamka 2016).
Jika melihat kedua novel Hamka yang terkenal itu, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, maka kita akan mendapati simpati Hamka terhadap pemuda-pemuda miskin, namun soleh, yang berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya. Di sini terlihat posisi Hamka yang mencoba membebaskan pandangan masyarakat mengenai adat. Sosok Hamid dan Zainudin dalam kedua novel tersebut bernasib malang karena adat istiadat di Sumatra Barat pada masa itu yang membelenggunya untuk sukses, bahkan mendapatkan cinta sejatinya, yakni Zainab dan Hayati. Maka dari itu, kedua tokoh itu merantau. Hamid merantau ke Makkah, sedangkan Zainudin ke Jawa. Kesamaan dari keduanya adalah bahwa mereka ingin menghindar dari adat yang membelenggu.
Di sini terlihat posisi Hamka — juga para ulama yang tergolong Kaum Muda — dalam mengkritisi adat istiadat. Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya jika Hamka mendorong agar umat Islam mengedepankan penggunaan akal agar tidak menjadi kaum yang terbelakang. Hamka justru menilai bahwa Islam merupakan agama yang dapat membebaskan masyarakat dari kejumudan berpikir, dari adat yang mengekang kemajuan. Ajaran tauhid yang dibawa Islam mengajarkan bahwa manusia hanya tunduk kepada Allah. Jika adat istiadat cenderung menempatkan para bangsawan dan orang kaya pada hierarki yang lebih tinggi daripada orang biasa, seperti nasib Hamid dan Zainudin, maka Islam memandang semua manusia itu setara. Semangat inilah yang ingin dibangun oleh Hamka melalui novel-novelnya. Hamka hendak menyatakan bahwa adat istiadat yang bengkok haruslah diluruskan dan manusia itu setara dihadapan Allah.
Atas hal itu semua, maka kita melihat bahwa Hamka merupakan tokoh yang brilian. Dia memperlihatkan bahwa Islam dan kesenian bukanlah bagai air dan minyak. Keduanya bisa saling mengisi. Hamka pun menyisipkan pesan-pesan Islami kepada para pembaca novelnya sehingga sang pembaca merasa tidak digurui. Bahkan pesan-pesan lembut ini dapat menyentuh hati pembacanya. Tidak sedikit pembaca yang dibuat menangis, tertawa dan kagum dengan alur cerita yang dibuat oleh Hamka. Ini juga menandakan bahwa Hamka bukanlah berasal dari golongan Muslim yang anti-kesenian. Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat beberapa pendapat ulama yang terkesan anti-kesenian. Justru Hamka berdakwah dengan kesenian dan mengemasnya dengan pesan-pesan indah yang menyentuh hati. Di sini kita belajar dari Hamka bahwa sejauh apapun kehidupan sudah ditempuh, namun manusia tidak boleh kehilangan nuansa keindahan dalam hidupnya.
Optimisme atas Demokrasi
Di luar perannya sebagai ulama dan sastrawan, maka Hamka adalah seorang aktivis dan organisatoris. Tentu saja jejak langkah Hamka sebagai organisatoris dipandu oleh bacaan-bacaan yang bermutu. Hamka juga banyak menelurkan karya-karya mengenai sejarah, sosial dan politik. Buku sejarah terkenal yang pernah ditulisnya adalah Sedjarah Umat Islam. Buku ini mengisahkan perjalanan sejarah umat Islam yang panjang sejak zaman nabi Muhammad. Di sini memang Hamka tidak memperlihatkan kecanggihan metode dan metodologi sejarah. Bahkan, Abdurrahman Wahid pun memandang Hamka tidak melibatkan historiografi dalam penulisan sejarah (Wahid 1983).

Buku Sedjarah Umat Islam karya Hamka, Koleksi Perpustakaan Nasional (Foto pribadi penulis)
Memang benar, jika dalam menulis sejarah haruslah menggunakan metode dan metodologi yang khusus. Penulis sejarah pun perlu memahami historiografi. Terlepas dari itu semua, Hamka menulis sejarah dengan menyenangkan. Berbeda dari sejarawan akademik yang tulisannya lebih terkesan datar, Hamka dengan jujur memperlihatkan bahwa tujuan menulis Sedjarah Umat Islam memang untuk memberikan semangat kepada umat Islam (Hamka 2002). Di sini keberpihakan Hamka sangat jelas.
Karya-karya Hamka yang bertema sosial dan politik pun tidak dapat dilepaskan dari perspektif sejarah. Memang Hamka adalah ulama yang menyenangi sejarah. Hampir banyak dari buku-buku yang ditulisnya pasti memasukkan unsur sejarah di dalamnya. Jadi Hamka ini bagaikan “paket komplit” yang memiliki kemampuan mengenalisis dalam perspektif sejarah, keagamaan dan dipadukan dengan gaya bahasa yang “nyastra.” Namun justru “paket komplit” ini cenderung mendapatkan banyak kritik dari spesialis di bidangnya masing-masing.
Salah satu karya Hamka yang sangat menarik bagi saya adalah Islam dan Demokrasi. Buku ini tipis, namun mampu merangkum argumen Hamka mengenai demokrasi. Saya mendapatkannya di Perpustakaan Nasional. Saya pun tidak melihat tahun terbit dari buku ini. Dalam buku ini Hamka menjelaskan bahwa demokrasi bukanlah satu hal yang asing bagi Islam. Sejak era Rasulullah, maka Islam sudah mengenal sistem musyawarah (Hamka Tanpa Tahun Terbit). Kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad justru membebaskan masyarakat Timur Dekat saat itu dari kekuasaan raja-raja yang berkuasa dengan absolut. Kecenderungan Nabi Muhammad SAW untuk bermusyawarah memperlihatkan bahwa pada saat itu Islam tidak mengajarkan otoritarianisme dan absolutisme (Hamka Tanpa Tahun Terbit). Bahkan, Rasulullah pun tidak menunjuk satu sistem kenegaraan tertentu dan menyerahkan kepada umat Islam untuk memikirkan dengan akal sehatnya. Namun hal penting yang perlu dilakukan adalah dengan musyawarah. Tentu saja aspek musyawarah sangat penting dalam menunjang prinsip demokrasi yang hendak mempertimbangkan suara masyarakat.
Kepedulian Hamka terhadap nasib demokrasi di Indonesia pun ditunjukkan dengan kariernya. Hamka pernah menjadi anggota Badan Konstituante mewakili Partai Masjumi. Badan Konstituante ketika itu bertugas untuk menyusun konstitusi bagi Republik Indonesia. Meskipun demikian, Badan Konstituante dibubarkan sejak dibacakannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejak saat itu otoritarianisme pun dimulai. Sukarno diangkat sebagai presiden seumur hidup. Hamka yang gelisah atas nasib demokrasi Indonesia dengan berani memuat karangan Mohammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masjarakat. Tidak lama kemudian majalah tersebut dibredel dan Hamka dimasukkan ke dalam penjara.
Di dalam penjara yang dingin dan sunyi itu Hamka menulis mahakarya berjudul Tafsir Al-Azhar yang super tebal. Ini menandakan betapa Hamka tidak mau kehilangan waktu bersama ilmu pengetahuan. Dalam keadaan susah saja, jari jemari Hamka masih sanggup menulis sebuah tafsir Al-Quran.
Belajar dari Hamka
Hamka wafat pada 24 Juni 1981. Jenazahnya terlebih dahulu disemayamkan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran, Jakarta Selatan. Saya mendapatkan foto koleksi saat jenazah Hamka dibawa dari Masjid Al-Azhar. Foto tersebut masih tersimpan sebagai koleksi Perpustakaan Nasional. Dari foto tersebut saya melihat begitu banyaknya masyarakat yang berkumpul di Masjid Al-Azhar untuk menyolatkan jenazah Hamka dan mengantarkannya ke tempat peristirahat terakhir.
Meskipun Hamka sudah wafat puluhan tahun lalu, namun karya-karyanya masih tetap banyak dibaca oleh masyarakat. Ketika berkunjung ke toko buku, hampir selalu saya mendapati karya-karya Hamka, terutama dalam bidang keagamaan.
Membaca kembali karya-karya Hamka tentu memiliki banyak manfaat untuk masyarakat hari ini. Pertama, Hamka mengajarkan keseimbangan hidup. Hari ini manusia, di mana pun berada, selalu menekankan penggunaan akal dalam memecahkan kehidupan sehari-hari. Itu bagus sekali dan sejalan dengan kebenaran yang diyakini Hamka sendiri. Kendati demikian, apa yang hilang dari manusia hari ini adalah panduan. Akal berhasil melakukan terobosan tanpa panduan sehingga manusia lupa fungsi akal itu sendiri. Karya-karya Hamka mengajarkan bahwa akal harus dipandu dengan sumber Ilahi dan akhlaqul karimah sehingga kemajuan yang dicapai manusia membawa manfaat, bukan membawa kehancuran.
Kedua, karya-karya Hamka, khususnya novel, mengajarkan kepada kita pentingnya seni dan keindahan. Manusia hari ini nampaknya lupa dengan keindahan. Hidup hanyalah untuk menuruti fungsi-fungsi tertentu saja. Segalanya pun berjalan dengan mekanis. Kita bagaikan baut dalam satu mesin besar yang bekerja secara permanen tanpa henti. Manusia hanya berpikir mengenai fungsi, tetapi melupakan unsur keindahan. Akibatnya hati menjadi kering. Kita pun sulit untuk merasakan empati dan simpati terhadap sesama manusia. Maka dari itu janganlah heran jika kekerasan dan perang terus berkecamuk kendati zaman terus melaju dengan berbagai temuan teknologinya. Kemunculan kembali keindahan dalam hidup manusia menjadi vital untuk kembali membawa manusia kepada jati dirinya.
Ketiga, karya-karya Hamka juga memberikan peringatan kepada kita bahwa kesetaraan sesama manusia sangatlah penting. Beberapa karya Hamka berbicara mengenai isu-isu demokrasi, hak asasi manusia hingga perdamaian. Di sini Hamka memberikan pelajaran bahwa manusia itu pada dasarnya baik, namun ada sekat-sekat hierarki yang sengaja dilanggengkan sehingga terjadilah kolonialisme dan imperialisme. Hamka yakin bahwa ajaran Islam mampu membebaskan manusia dari sekat-sekat hierarki tersebut dengan menekankan nilai kesetaraan sesama manusia. Tauhid yang menjadi inti dari ajaran Islam itu sendiri memiliki ajaran kesetaraan karena semua manusia pada dasarnya memiliki posisi yang sama dihadapan Allah. Hanyalah amal soleh yang membedakannya.
Referensi
Abdullah, Taufik. Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927–1933). Ithaca, New York: Modern Indonesia Project, Southeast Asia Porgram, Cornell University, 1971.
Aljunied, Khairudin. Hamka and Islam: Cosmopolitan Reform in the Malay World. Ithaca and London: Cornell University Press, 2018.
Hamka. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994.
— . Islam dan Demokrasi. Tanpa Tahun Terbit.
— . Sedjarah Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Singapura, 2002.
— . Tasauf Modern. Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981.
Rusydi-Hamka. Pribadi dan Martabat Buya Hamka. Jakarta Selatan: Noura, 2016.
Wahid, Abdurrahman. Kata Pengantar: Benarkah Buya Hamka Seorang Besar? 1983. https://gusdur.net/benarkah-buya-hamka-seorang-besar/ (accessed Maret 17, 2024).
메타데이터
- post_id
- eae24cd62696
- slug
- membaca-kembali-hamka-eae24cd62696
- url
- https://medium.com/@frialsupratman/membaca-kembali-hamka-eae24cd62696
- canonical_url
- https://medium.com/@frialsupratman/membaca-kembali-hamka-eae24cd62696
- author_url
- https://medium.com/@frialsupratman
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 15:35:23