Guru Favorit
Di suatu kelas pada sebuah sekolah SD yang berada di perkotaan. Sebuah kelas 5 SD yang pada
Guru Favorit

Di suatu kelas pada sebuah sekolah SD yang berada di perkotaan. Sebuah kelas 5 SD yang pada
saat itu berada dalam jam mata pelajaran.
Suasananya yang cukup tenang, dengan sebagian besar siswa terdiam memerhatikan dan guru yang
tengah menerangkan materi.
Kediaman ini pun bukan tanpa alasan, melainkan karena guru yang berada di hadapan para murid,
yang tidak lain guru yang paling galak di satu sekolah. Pak Amir adalah nama dari guru tersebut.
Seorang guru yang mengajar mata pelajaran IPS.
Meski begitu, terlihat dari cara dirinya mengajar, menyampaikan materi, dan juga menjelaskan
segala hal, bisa dikatakan kalau Pak Amir adalah salah satu guru hebat. Seorang guru yang telah
berumur lebih 30 tahun, meski dirinya dikatakan sebagai guru galak, tapi dirinya bukanlah orang
yang tebang pilih dalam galak ke murid.
Dirinya pun juga selalu mengapresiasi muridnya kalau muridnya pintar dan benar, namun tentunya
membenarkan dan mengoreksi muridnya kalau berbuat salah. Dan tentu saja, akan menghukum
dengan keras kalau muridnya berbuat nakal dan buruk.
Sering kali memilih untuk bertanya langsung kepada murid dibanding memberikan soal tulisan,
dengan alasan agar dirinya bisa mengukur seberapa tahu para murid mengenai materi yang
diajarkannya.
Bahkan ada pun kalanya saat dirinya kehabisan materi, dirinya pun mulai menceritakan berbagai
hal. Entah itu pengalaman dirinya atau hal lainnya, namun dicerita itu pun, seolah menjadi nasehat
dan kisah inspirasional yang kadang kala membuat beberapa murid merenung sesaat setelah
pelajaran Pak Amir.
Bisa dikatakan Pak Amir adalah sosok guru idaman yang mungkin seharusnya ada di pelosok negeri
agar negara ini menjadi lebih baik.
Walau bukan berarti Pak Amir sendiri tidak ada kekurangan sama sekali dalam mengajar….
Di sisi lain, di saat yang sama dalam kelas itu, kala para murid lain fokus dengan materi yang
diajarkan oleh Pak Amir. Salah seorang murid, dengan tatapan berbinar dan wajah yang begitu
semangat memerhatikan materi yang diajarkan oleh Pak Amir.
Wawan, nama dari murid tersebut, adalah pengagum dan juga orang yang paling menghormati Pak
Amir sebagai seorang guru. Baginya, Pak Amir adalah seorang guru hebat, yang baik dari segi
mengajar dan menyampaikan materi, Wawan begitu antusias untuk ia ikuti.
Namun hal utama yang bikin Wawan mengagumi dan menghormati Pak Amir, tidak lain karena
pernah dalam suatu waktu saat Pak Amir sedang bercerita dalam sebuah pelajaran, dirinya
memberikan sebuah cerita yang memotivasi Wawan.
Sebuah cerita motivasi sederhana, yang mungkin bagi sebagian orang termasuk teman kelas
Wawan yang lain saat mendengarnya akan merasa biasa saja. Bahkan setelah beberapa saat orang
mendengarnya, mereka pasti akan melupakannya.
Motivasinya tidak lain mengenai keberanian untuk melakukan suatu hal.
Pak Amir pun bercerita semenjak dirinya kecil. Dirinya adalah seorang penakut yang tak berani
melakukan apa pun. Mudah gugup, dan seorang yang agak pemalu, sehingga banyak kesempatan
yang Pak Amir ingin lakukan saat kecil tetapi tidak bisa karena sifatnya tersebut.
Dan hal yang mengubah pemikirannya tersebut adalah ayah dari Pak Amir yang juga merupakan
seorang guru. Dari ayahnya pun, pak Amir belajar untuk menghadapi sifat-sifatnya tersebut dan
menjadi guru yang seperti sekarang.
Semenjak mendengar itu, Wawan yang memang adalah seseorang yang pemalu, penakut, tak
berani melakukan apa pun layaknya Pak Amir sewaktu kecil. Membuat Wawan merasa relate dengan
dirinya.
Wawan yang termotivasi untuk mencoba untuk berubah, akhirnya menjadi terus bersemangat
dengan pelajaran Pak Amir. Selalu berusaha untuk menjadi aktif, meski masih sering terkendala
dengan rasa gugup dan sifat penakutnya.
Belum lagi saat angkat tangan, saking gugupnya Wawan, pada akhirnya hanya berdiri begitu saja
dan tidak mampu menjawab.
Hal itu awalnya tidak menjadi masalah bagi Pak Amir, namun seiring Wawan yang sering
mengangkat tangan tetapi tak menjawab. Atau saat Pak Amir menunjuk Wawan untuk menjawab
pertanyaan dari Pak Amir dan tak bisa menjawab.
Menumbuhkan rasa jengkel dari Pak Amir. Dan rasa jengkel itu, lama-kelamaan makin menjadi-jadi.
Yang dimana hal itulah yang menjadi salah satu kekurangan Pak Amir.
“Bagaimana Wawan? Apa kamu bisa menjawabnya?”
Wawan hanya menggelengkan kepalanya pelan, seiring dirinya masih tidak berani berbicara.
Pak Amir menghela napasnya, dengan wajahnya yang agak mengerut menggambarkan
kekesalannya akan Wawan yang untuk ke sekian kalinya tak mampu menjawab pertanyaannya.
“Apa kamu memang benar-benar memerhatikan materi bapak?! Atau jangan-jangan kamu main
main selama pelajaran bapak?!”
Wawan sekali lagi menggelengkan kepalanya yang kali ini dengan kencang. Menegaskan akan
dirinya yang memang memerhatikan materi dari Pak Amir.
Pak Amir sekali lagi hanya menghela napas.
“Kalau memang kamu bilang begitu yah sudah. Tapi, kalau memang kamu tahu atau juga bapak
tunjuk kamu, bapak harap kamu bisa jawab pertanyaan bapak. Jangan hanya diam saja dan saat
ditanya hanya gelengkan kepala.”
Dengan wajah layu, Wawan menjawab.
“Ba-Baik pak…” dengan nada lemas.
Setelahnya, makin banyak kejadian seperti ini selama pengajaran Pak Amir di kelas Wawan. Dengan
Wawan yang setiap kali dirinya ditunjuk untuk menjawab, dirinya tidak bisa benar-benar menjawab
pertanyaan Pak Amir saking penakut dirinya meski mengetahui jawabannya.
Pak Amir menyangka kediaman Wawan itu sebagai ketidaktahuan, membuat dirinya lama
kelamaan menjadi makin jengkel, bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai
dirinya sebagai guru.
“Wawan apa kamu benar-benar perhatikan materi bapak?! Masa kamu ndak tahu jawaban dari
pertanyaan bapak ini?!”
“I-Itu…”
“Bukannya bapak sudah bilang kalau kamu memang ndak paham tanya aja! Jangan hanya diam!”
Wawan benar-benar hanya terdiam tanpa ada berusaha membalas. Kekecewaan Wawan pada
dirinya karena masih belum memiliki keberanian yang seperti diharapkannya, hingga akhirnya
membuat gurunya kecewa seperti itu.
Kecewa…. bagi Wawan, mendengar teguran Pak Amir membuat Wawan kecewa pada dirinya
sendiri.
“Sa-Saya… minta maaf pak…”Helaan napas yang terdengar dari Pak Amir, seolah sudah menjadi rutinitasnya kala dirinya meminta
Wawan menjawab namun tidak mendapatkan seperti yang diharapkannya.
“Lain kali usahakan kamu kalau belajar yang tekun Wawan. Kalau memang ada yang tidak kamu
mengerti tanyakan saja langsung. Paham?”
Wawan hanya mengangguk. Sifat penakutnya untuk berani bicara masih terlalu kuat meski dirinya
telah mendapatkan banyak teguran dari Pak Amir. Dan itu membuat Wawan makin lama, makin
kecewa pada dirinya.
“Dan untuk semuanya karena minggu depan sudah ujian semester, jadi bapak harap kalian belajar
dengan tekun. Bapak harap kalian dapat nilai terbaik dari usaha kalian.”
Mendengar pernyataan Pak Amir, Wawan yang seketika terpikir suatu ide langsung memancarkan
wajah yang penuh keyakinan.
Kepercayaan diri yang adalah suatu hal yang langka dirasakan olehnya, saat ini dirasakan dengan
penuh olehnya.
Sederhananya, Wawan berencana untuk mendapatkan nilai penuh di ujian semester nantinya pada
mata pelajaran yang diajarkan oleh Pak Amir. Wawan berharap kalau dirinya bisa mendapatkan nilai
sempurna, mungkin Pak Amir akan terkesannya, dan mungkin bisa bangga terhadap Wawan.
Dan lagi, karena ujian semester nanti adalah ujian tertulis, jadinya Wawan lebih yakin untuk
mendapatkan nilai sempurna karena tidak mengharuskan dirinya untuk bicara depan umum.
Dirinya benar-benar berharap, dengan membuat Pak Amir terkesan, dirinya pun perlahan-lahan bisa
berubah.
Ujian pun kemudian dimulai.
Wawan yang selama seminggu ini belajar dengan tekun terutama dalam pelajaran Pak Amir,
akhirnya bisa mengerjakan ujiannya dengan lancar. Terkhusus mata pelajaran Pak Amir.
Minggu ujian akhirnya selesai, dengan seminggu setelahnya para guru hanya datang ke kelas jadwal
mereka hanya untuk memberitahukan nilai ujian masing-masing siswa.
Hingga akhirnya, hari di saat Pak Amir mengajar di kelas Wawan datang.
Wawan yang sedaritadi hanya duduk di tempatnya dengan tersenyum antusias sembari menunggu
kedatangan Pak Amir. Namun bukannya datang dengan biasanya, Wajah Pak Amir kelihatan terbakar
kemarahan.Seolah ada sesuatu yang begitu membuatnya kesal bahkan dengan mata telanjang orang-orang bisa
melihat kemurkaannya.
Di tangan kanannya yang berupa kumpulan kertas ujian yang cukup diremasnya dan buku absen
yang berada di tangan satunya. Sesampai di kelas Wawan, Pak Amir menatap para murid, yang
membuat para murid merasa ketakutan.
Pak Amir lalu melanjutkan jalannya, dan saat berada di meja guru, Pak Amir seketika menggebrak
meja dengan kertas ujian yang berada di tangan kanannya.
“Hari ini bapak akan memberitahukan hasil ujian semester kalian.” katanya dengan nada dingin.
Semua murid benar-benar terdiam. Bahkan tak terkecuali Wawan yang sebelumnya bersemangat
dengan mata yang berbinar.
Pak Amir duduk di tempatnya, menatap semua murid yang ada di sana sembari memanggil tiap
murid satu per satu.
Murid lalu datang satu per satu dengan perasaan gemetar dan khawatir kepada Pak Amir. Yang
entah itu mendapat nilai bagus atau nilai jelek. Perasaan takut yang mereka rasakan akan
kemungkinan kemarahan Pak Amir pada diri mereka, namun akhirnya raut wajah Pak Amir banyak
berubah.
Hingga saat nama Wawan terpanggil, dirinya yang lumayan yakin akan kemarahan Pak Amir juga
bukan kepada dirinya lalu maju ke meja Pak Amir. Wajahnya yang sekali lagi berbinar dan
bersemangat. Yakin kalau dirinya pun bukanlah orang yang membuat Pak Amir menjadi kesal, dan
berpikir dengan dirinya yang mendapat nilai sempurna di mata pelajaran Pak Amir raut wajah Pak
Amir mungkin menjadi lebih baik.
“Nilaimu Wawan seratus sempurna.”
Wajah Wawan seketika berbinar. Sesuatu yang diharapkannya benar-benar menjadi kenyataan.
Tentu hal itu menjadi sesuatu yang dibanggakan dan disyukurinya.
Akan tetapi…
Saat tangan Wawan hendak mengambil kertas ujiannya, Pak Amir seketika menghentikannya.
Tatapan kesal Pak Amir yang diarahkannya langsung kepada Wawan, seketika membuat semua
orang termasuk Wawan sendiri kalau alasan kemarahan Pak Amir tidak lain karena Wawan.
“Wawan, bapak ingin tanya sama kamu….?! Dari mana kamu menyontek ini…?!”
Wajah Wawan seketika menjadi ketakutan, yang bahkan mulut Wawan susah untuk berbicara dan
hanya bisa bergerak gemetar tanpa ada suara atau kata-kata yang keluar dari mulutnya. Wawan
hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala.
Pak Amir seketika menggebrak meja guru sekali lagi.
“Jangan kamu berani bohong Wawan?! Apa maksudmu seketika dapat nilai sempurna begini,
padahal selama bapak mengajar, kamu menjawab saja tidak tahu jawabannya?!”
“I-Itu…” Pandangan Wawan mulai ke mana-mana, dirinya yang juga mulai ikut gemetaran
ketakutan, membuat kata-kata yang ingin dikatakannya menjadi makin tidak bisa ia katakan.
Sifat penakutnya yang cukup memuncak, bahkan sudah membuat Wawan tak sanggup lagi
berpikiran apa pun.
“Padahal selama ini bapak bisa maklumi kamu karena tidak bisa menjawab pertanyaan bapak! Tapi
kali ini! Dengan nilai kamu yang tiba-tiba 100 begini! Tidak ada dugaan lain dari bapak selain kamu
nyontek!”
Wawan sekali lagi menggelengkan kepalanya untuk menafikan dugaan Pak Amir.
“Baiklah kalau kamu tidak mau mengaku! Sebagai hukumannya, nilai seratus mu ini tidak bapak
anggap! Dan kamu nya tidak mendapat nilai remedial dari bapak!”
Wawan begitu terkejut atas pernyataan Pak Amir. Mulutnya hanya bisa bergerak tetapi tanpa ada
suara yang keluar.
Hingga akhirnya, Wawan pun menyerah dan kembali ke tempat duduknya sambil tertunduk. Air
Mata yang sebenarnya ingin keluar dari Wawan, cuman tertahan karena Wawan tidak ingin
situasinya menjadi kacau.
Sesampainya Wawan di meja nya, dirinya benar-benar hanya terdiam sambil terus tertunduk dengan
kesedihan yang dirasakannya sekarang.
Semua teman kelas Wawan hanya bisa kasihan, namun tak bisa membantu banyak karena ketakutan
mereka kepada Pak Amir.
Dan dari hal itu, mengakhiri pembagian nilai ujian mata pelajaran Pak Amir di kelas Wawan. Yang
semenjak saat itu pula, minggu pembagian nilai ujian selesai dan waktu terus berlalu hingga saat
penerimaan rapor tiba.Suasana yang menjadi sangat ramai, dengan para murid dan orang tua mereka masing-masing
menemui para guru wali kelas. Pak Amir yang juga merupakan salah satu wali kelas, datang pada hari
itu dan melakukan tugasnya untuk sebagai wali kelas pada hari itu. Termasuk, Wawan yang berada
di kelas lain juga sedang melakukan penerimaan rapor.
Singkat cerita, setelah menyelesaikan proses penerimaan rapor di kelasnya, Pak Amir kemudian
menuju ke ruang guru untuk berkemas sebelum pulang. Sesampai di mejanya dan saat sudah
merapikan dan mengambil semua barang yang dimilikinya, seorang guru lalu mendatangi dirinya
sambil membawa sesuatu.
“Ada yang bisa saya bantu Bu Linda?” ujar Pak Amir menyadari keberadaan si Bu Linda, seorang guru
Bahasa Indonesia.
“Ah, maaf mengganggu waktu pak. Sebenarnya ada hal yang ingin saya berikan kepada bapak.”
Mmhh.. Apa ya bu?”
Bu Linda meletakkan tas miliknya, mencoba mencari suatu hal di dalam tasnya, sembari dirinya
lanjut bercerita.
“Sebenarnya pak, sebelum ujian semester dimulai, saya berikan tugas pada anak-anak kelas 5.
Tugasnya itu menuliskan surat pribadi untuk guru-guru favorit mereka. Dan setelah mereka
selesaikan, saya pun katakan kalau surat-surat mereka akan sampai ke para guru yang mereka ingin
kasih.”
Dari dalam tasnya, Bu Linda mengeluarkan secarik surat dari dalam tasnya, yang dari surat itu
kemudian dikasihnya pada Pak Amir.
“Dan untuk Pak Amir sendiri, ada satu surat untuk bapak.”
Pak Amir menatap surat itu dengan bingung. Dirinya sendiri pun sebenarnya tidak percaya,
mendapat surat, mengingat tindakan dan sikapnya selama ini kepada murid.
“Maaf yah, pak kalau surat nya hanya satu.”
“Tidak apa-apa bu, lagipun saya kaget sendiri masih bisa mendapat surat dari para murid.”
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak Amir, saya mau memberikan surat lainnya untuk guru yang lain
lagi.”Bu Linda lalu meninggalkan Pak Amir yang masih bingung akan secarik surat yang didapatkannya.
Namun tidak berlangsung lama, Pak Amir menyimpan surat yang didapatkannya ke dalam tas
miliknya, kemudian beranjak pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, yang merupakan rumah cukup tua layaknya rumah peninggalan belanda. Pak
Amir lalu duduk pada kursi di teras rumahnya. Menyimpan tas miliknya tepat pada meja yang berada
di samping kursi Pak Amir, kemudian menghela napas panjang seolah mengeluarkan beban yang
dirasakannya pada hari ini.
Di saat itu, Pak Amir pun teringat kembali akan surat yang diterima sebelumnya. Langsung Pak Amir
mulai mencari surat tersebut di dalam tasnya.
Setelah menemukannya, dengan perasaan yang penuh tanya.
“Siapa murid yang menuliskannya surat?” pikirnya seiring dirinya sekali lagi melihat baik-baik surat
tersebut.
Saat Pak Amir mulai membuka suratnya, tertulis di surat tersebut nama yang menulis surat tersebut.
Wawan, adalah nama yang tertulis di dalamnya.
Seketika saat melihatnya, makin banyak pertanyaan muncul dalam diri Pak Amir. Rasa kesal yang
sebelumnya dirasakannya pada muridnya tersebut sekali lagi muncul dalam dirinya, hingga
memunculkan prasangka buruk Pak Amir kepada Wawan.
Namun saat mulai membaca surat itu, perasaan Pak Amir yang awalnya sudah begitu kesal,
perlahan-lahan mulai luntur dan tergantikan dengan lain.
Kata demi kata, baris demi baris. Setiap tulisan yang dibaca oleh Pak Amir, perlahan-lahan mulai
mengganti perasaan Pak Amir. Setiap seruan yang ada, setiap titik yang tertulis, itu semua membuat
Pak Amir sedikit tergetar karenanya.
Dan di akhir dari surat itu, sebuah gambar wajah tersenyum terlihat dari surat itu, seketika beberapa
tetes air lalu membasahi surat tersebut.
Air mata, sebuah tangisan yang membasahi wajah Pak Amir. Yang keluar tak terkendali, dengan di
dalam air mata dan tangisan tersebut terdapat sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang dirasakan
oleh Pak Amir.
Dari dalam surat tersebut, yang jelas mencerminkan perasaan seorang murid yang begitu polos
kepada guru yang begitu dihormatinya. Namun, bukannya mendapat hal yang setimpal dengan perasaannya tersebut, si murid malah mendapat bentakan dan fitnah yang dilontarkan oleh guru
favoritnya.
Pak Amir yang sekali lagi mengingat dengan apa yang telah dilakukannya pada Wawan saat itu, tidak
bisa membayangkan perasaan Wawan pada hari itu.
Sakit… Benar-benar sakit…
Saat berpikir seperti itu, Pak Amir lalu terlungkup dengan surat tersebut, sambil mengeluarkan
ucapan yang penuh penyesalan.
“Nak Wawan, bapak-bapak minta maaf… Bapak minta maaf… Bapak seharusnya tidak berkata
seperti itu ke kamu… Bapak benar-benar minta maaf….”
Di dalam penyesalan yang dirasakannya, dengan kata-kata yang diucapkannya ingin disampaikan
kepada orang yang dituju. Namun pada akhirnya ucapan itu pun seolah menjadi ucapan kosong. Dan
perasaan penyesalan yang dirasakan oleh Pak Amir hanya terus menjadi perasaannya. Hingga
akhirnya kata-kata yang disampaikannya tersebut dikatakannya kepada orang ditujunya tersebut.
Sekitaran dua minggu telah berlalu.
Pak Amir dengan persiapan yang dilakukannya. Setelah segala penyesalan yang telah dirasakan oleh
Pak Amir selama dua minggu ini. Dirinya pun bertekad untuk mengubah sikapnya kepada Wawan,
dan berharap dirinya bisa meminta maaf kepada muridnya tersebut atas sikapnya selama ini.
Kebetulan pada awal masuk sekolah, mata pelajaran pertama di kelas Wawan pada hari itu adalah
mata pelajaran yang pak Amir ajarkan.
Berjalan ke kelas Wawan.
Namun bukannya datang dengan biasanya, Wajah Pak Amir kelihatan dengan senyum yang sedikit
lebih ceria.
Seolah ada sesuatu yang begitu membuatnya senang bahkan dengan mata telanjang orang-orang
bisa melihat keantusiasannya.
Di tangannya kanannya yang berupa surat dari Wawan yang dipegangnya dengan baik dan buku
absen yang berada di tangan satunya.
Saat sampai di kelas pandangan Pak Amir seketika mengarah kepada para murid- lebih tepatnya
dengan tujuan untuk mencari keberadaan Wawan di antara para murid.Seiring Pak Amir berjalan sembari mencari keberadaan Wawan. Hingga saat berada di meja guru,
sambil menyimpan buku absen dan surat dari Wawan.
“Selamat pagi semuanya.” sapa Pak Amir dengan nada yang agak ceria.
Semua murid benar-benar terdiam. Mungkin lebih tepatnya terkejut akan Pak Amir yang biasanya
tegas dan keras, kini menjadi sedikit ceria dan ramah. Sesuatu yang jarang atau malahan tidak
pernah mereka lihat.
Pak Amir duduk di tempatnya, menatap semua murid yang ada di sana sembari mulai memanggil
tiap murid satu per satu untuk diabsen.
Murid mulai menyahut satu per satu dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya kepada Pak
Amir. Yang entah itu apa alasan perubahan sikapnya tersebut. Perasaan heran yang mereka rasakan
akan kemungkinan alasan perubahan sikap Pak Amir pada diri mereka, namun akhirnya raut wajah
Pak Amir banyak berubah.
Hingga saat nama Wawan terpanggil, Pak Amir yang wajahnya makin berbinar dan bersemangat.
Hingga sebuah senyum terlihat di wajahnya sembari memanggil nama muridnya tersebut.
“Wawan! Apakah Wawan hadir?”
Para murid lalu menatap satu sama lain. Wajah mereka menjadi bingung, hingga akhirnya salah satu
murid lalu menyahut menanggapi panggilan hadi Pak Amir.
“Pak! Wawan sudah pindah sekolah. Dia sudah tidak bersekolah lagi di sini.”
“Huh!? Pindah sekolah?!” Pak Amir seketika kaget. “Kapan dia pindah sekolah?! Kata siapa dia
pindah?!”
Para murid menatap satu sama lain. Lalu murid yang sebelumnya menyahut kembali menanggapi
pertanyaan Pak Amir.
“Sebenarnya saat penerimaan rapor, Wawan dan orang tuanya memberitahukan kami kalau mereka
akan pindah sekolah.”
Pak Amir seketika terguncang, dengan ketidakpercayaan memenuhi dirinya terhadap kabar yang
didengarnya ini.
“Te-Terus, dia pindah ke sekolah mana? Ada yang tahu?”
Para murid seiringan menggelengkan kepala mereka.“Kami tidak tahu pak. Yang kami tahu, malahan Wawan bukan hanya pindah sekolah, tapi juga
pindah ke kota di pulau lain pak.”
Mendengar jawaban yang terakhir itu, Pak Amir perlahan mulai tertunduk ke arah meja guru.
Perasaan menyesal kembali memenuhi dirinya. Mengingat kembali tindakannya pada hari itu,
membuat perasaan bersalah Pak Amir makin menjadi-jadi hingga tanpa sadar mengeluarkan air
mata.
Dirinya pun bahkan berpikir, kalau alasan kepindahan Wawan itu mungkin saja karena tindakannya
pada hari itu. Pak Amir mulai berpikir, andaikan dirinya tidak memarahi Wawan pada hari itu.
Mungkin dirinya tidak akan pindah.
Pikiran-pikirannya yang seperti itu, yang makin memenuhi kepalanya hingga tangisan yang
dikeluarkannya makin menjadi-jadi.
Para murid yang melihat tingkah Pak Amir tersebut, makin merasa bingung. Hingga saat Pak Amir
tertunduk seketika, mereka mendatangi Pak Amir dan mengasihani beliau.
Di saat para murid mulai mendekati Pak Amir, mereka lalu mendengar dengungan Pak Amir dibalik
terlingkupnya di meja guru.
“Maafkan bapak Wawan. Maafkan Bapak….”
Mendengar itu, para murid yang mendekati Pak Amir hanya bisa berempati akan kesedihan dari Pak
Amir ini.
Kesedihan yang berisi penyesalan dan perasaan bersalah. Yang setelahnya, selalu menjadi pengingat
bagi Pak Amir akan dirinya sebagai seorang guru.
메타데이터
- post_id
- eaf830d62c93
- slug
- guru-favorit-eaf830d62c93
- url
- https://medium.com/@muhammadfajrinm/guru-favorit-eaf830d62c93
- canonical_url
- https://medium.com/@muhammadfajrinm/guru-favorit-eaf830d62c93
- author_url
- https://medium.com/@muhammadfajrinm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 15:16:29