← Back to list

Guru Favorit

Di suatu kelas pada sebuah sekolah SD yang berada di perkotaan. Sebuah kelas 5 SD yang pada

Muhammad Fajrin M · 2026-06-01 15:01 · 0 claps · 12.0 min read
#schools #drama #regret #tudungakar #ian
Open on Medium ↗

Guru Favorit

Di suatu kelas pada sebuah sekolah SD yang berada di perkotaan. Sebuah kelas 5 SD yang pada

saat itu berada dalam jam mata pelajaran.

Suasananya yang cukup tenang, dengan sebagian besar siswa terdiam memerhatikan dan guru yang

tengah menerangkan materi.

Kediaman ini pun bukan tanpa alasan, melainkan karena guru yang berada di hadapan para murid,

yang tidak lain guru yang paling galak di satu sekolah. Pak Amir adalah nama dari guru tersebut.

Seorang guru yang mengajar mata pelajaran IPS.

Meski begitu, terlihat dari cara dirinya mengajar, menyampaikan materi, dan juga menjelaskan

segala hal, bisa dikatakan kalau Pak Amir adalah salah satu guru hebat. Seorang guru yang telah

berumur lebih 30 tahun, meski dirinya dikatakan sebagai guru galak, tapi dirinya bukanlah orang

yang tebang pilih dalam galak ke murid.

Dirinya pun juga selalu mengapresiasi muridnya kalau muridnya pintar dan benar, namun tentunya

membenarkan dan mengoreksi muridnya kalau berbuat salah. Dan tentu saja, akan menghukum

dengan keras kalau muridnya berbuat nakal dan buruk.

Sering kali memilih untuk bertanya langsung kepada murid dibanding memberikan soal tulisan,

dengan alasan agar dirinya bisa mengukur seberapa tahu para murid mengenai materi yang

diajarkannya.

Bahkan ada pun kalanya saat dirinya kehabisan materi, dirinya pun mulai menceritakan berbagai

hal. Entah itu pengalaman dirinya atau hal lainnya, namun dicerita itu pun, seolah menjadi nasehat

dan kisah inspirasional yang kadang kala membuat beberapa murid merenung sesaat setelah

pelajaran Pak Amir.

Bisa dikatakan Pak Amir adalah sosok guru idaman yang mungkin seharusnya ada di pelosok negeri

agar negara ini menjadi lebih baik.

Walau bukan berarti Pak Amir sendiri tidak ada kekurangan sama sekali dalam mengajar….

Di sisi lain, di saat yang sama dalam kelas itu, kala para murid lain fokus dengan materi yang

diajarkan oleh Pak Amir. Salah seorang murid, dengan tatapan berbinar dan wajah yang begitu

semangat memerhatikan materi yang diajarkan oleh Pak Amir.

Wawan, nama dari murid tersebut, adalah pengagum dan juga orang yang paling menghormati Pak

Amir sebagai seorang guru. Baginya, Pak Amir adalah seorang guru hebat, yang baik dari segi

mengajar dan menyampaikan materi, Wawan begitu antusias untuk ia ikuti.

Namun hal utama yang bikin Wawan mengagumi dan menghormati Pak Amir, tidak lain karena

pernah dalam suatu waktu saat Pak Amir sedang bercerita dalam sebuah pelajaran, dirinya

memberikan sebuah cerita yang memotivasi Wawan.

Sebuah cerita motivasi sederhana, yang mungkin bagi sebagian orang termasuk teman kelas

Wawan yang lain saat mendengarnya akan merasa biasa saja. Bahkan setelah beberapa saat orang

mendengarnya, mereka pasti akan melupakannya.

Motivasinya tidak lain mengenai keberanian untuk melakukan suatu hal.

Pak Amir pun bercerita semenjak dirinya kecil. Dirinya adalah seorang penakut yang tak berani

melakukan apa pun. Mudah gugup, dan seorang yang agak pemalu, sehingga banyak kesempatan

yang Pak Amir ingin lakukan saat kecil tetapi tidak bisa karena sifatnya tersebut.

Dan hal yang mengubah pemikirannya tersebut adalah ayah dari Pak Amir yang juga merupakan

seorang guru. Dari ayahnya pun, pak Amir belajar untuk menghadapi sifat-sifatnya tersebut dan

menjadi guru yang seperti sekarang.

Semenjak mendengar itu, Wawan yang memang adalah seseorang yang pemalu, penakut, tak

berani melakukan apa pun layaknya Pak Amir sewaktu kecil. Membuat Wawan merasa relate dengan

dirinya.

Wawan yang termotivasi untuk mencoba untuk berubah, akhirnya menjadi terus bersemangat

dengan pelajaran Pak Amir. Selalu berusaha untuk menjadi aktif, meski masih sering terkendala

dengan rasa gugup dan sifat penakutnya.

Belum lagi saat angkat tangan, saking gugupnya Wawan, pada akhirnya hanya berdiri begitu saja

dan tidak mampu menjawab.

Hal itu awalnya tidak menjadi masalah bagi Pak Amir, namun seiring Wawan yang sering

mengangkat tangan tetapi tak menjawab. Atau saat Pak Amir menunjuk Wawan untuk menjawab

pertanyaan dari Pak Amir dan tak bisa menjawab.

Menumbuhkan rasa jengkel dari Pak Amir. Dan rasa jengkel itu, lama-kelamaan makin menjadi-jadi.

Yang dimana hal itulah yang menjadi salah satu kekurangan Pak Amir.

“Bagaimana Wawan? Apa kamu bisa menjawabnya?”

Wawan hanya menggelengkan kepalanya pelan, seiring dirinya masih tidak berani berbicara.

Pak Amir menghela napasnya, dengan wajahnya yang agak mengerut menggambarkan

kekesalannya akan Wawan yang untuk ke sekian kalinya tak mampu menjawab pertanyaannya.

“Apa kamu memang benar-benar memerhatikan materi bapak?! Atau jangan-jangan kamu main

main selama pelajaran bapak?!”

Wawan sekali lagi menggelengkan kepalanya yang kali ini dengan kencang. Menegaskan akan

dirinya yang memang memerhatikan materi dari Pak Amir.

Pak Amir sekali lagi hanya menghela napas.

“Kalau memang kamu bilang begitu yah sudah. Tapi, kalau memang kamu tahu atau juga bapak

tunjuk kamu, bapak harap kamu bisa jawab pertanyaan bapak. Jangan hanya diam saja dan saat

ditanya hanya gelengkan kepala.”

Dengan wajah layu, Wawan menjawab.

“Ba-Baik pak…” dengan nada lemas.

Setelahnya, makin banyak kejadian seperti ini selama pengajaran Pak Amir di kelas Wawan. Dengan

Wawan yang setiap kali dirinya ditunjuk untuk menjawab, dirinya tidak bisa benar-benar menjawab

pertanyaan Pak Amir saking penakut dirinya meski mengetahui jawabannya.

Pak Amir menyangka kediaman Wawan itu sebagai ketidaktahuan, membuat dirinya lama

kelamaan menjadi makin jengkel, bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai

dirinya sebagai guru.

“Wawan apa kamu benar-benar perhatikan materi bapak?! Masa kamu ndak tahu jawaban dari

pertanyaan bapak ini?!”

“I-Itu…”

“Bukannya bapak sudah bilang kalau kamu memang ndak paham tanya aja! Jangan hanya diam!”

Wawan benar-benar hanya terdiam tanpa ada berusaha membalas. Kekecewaan Wawan pada

dirinya karena masih belum memiliki keberanian yang seperti diharapkannya, hingga akhirnya

membuat gurunya kecewa seperti itu.

Kecewa…. bagi Wawan, mendengar teguran Pak Amir membuat Wawan kecewa pada dirinya

sendiri.

“Sa-Saya… minta maaf pak…”Helaan napas yang terdengar dari Pak Amir, seolah sudah menjadi rutinitasnya kala dirinya meminta

Wawan menjawab namun tidak mendapatkan seperti yang diharapkannya.

“Lain kali usahakan kamu kalau belajar yang tekun Wawan. Kalau memang ada yang tidak kamu

mengerti tanyakan saja langsung. Paham?”

Wawan hanya mengangguk. Sifat penakutnya untuk berani bicara masih terlalu kuat meski dirinya

telah mendapatkan banyak teguran dari Pak Amir. Dan itu membuat Wawan makin lama, makin

kecewa pada dirinya.

“Dan untuk semuanya karena minggu depan sudah ujian semester, jadi bapak harap kalian belajar

dengan tekun. Bapak harap kalian dapat nilai terbaik dari usaha kalian.”

Mendengar pernyataan Pak Amir, Wawan yang seketika terpikir suatu ide langsung memancarkan

wajah yang penuh keyakinan.

Kepercayaan diri yang adalah suatu hal yang langka dirasakan olehnya, saat ini dirasakan dengan

penuh olehnya.

Sederhananya, Wawan berencana untuk mendapatkan nilai penuh di ujian semester nantinya pada

mata pelajaran yang diajarkan oleh Pak Amir. Wawan berharap kalau dirinya bisa mendapatkan nilai

sempurna, mungkin Pak Amir akan terkesannya, dan mungkin bisa bangga terhadap Wawan.

Dan lagi, karena ujian semester nanti adalah ujian tertulis, jadinya Wawan lebih yakin untuk

mendapatkan nilai sempurna karena tidak mengharuskan dirinya untuk bicara depan umum.

Dirinya benar-benar berharap, dengan membuat Pak Amir terkesan, dirinya pun perlahan-lahan bisa

berubah.

Ujian pun kemudian dimulai.

Wawan yang selama seminggu ini belajar dengan tekun terutama dalam pelajaran Pak Amir,

akhirnya bisa mengerjakan ujiannya dengan lancar. Terkhusus mata pelajaran Pak Amir.

Minggu ujian akhirnya selesai, dengan seminggu setelahnya para guru hanya datang ke kelas jadwal

mereka hanya untuk memberitahukan nilai ujian masing-masing siswa.

Hingga akhirnya, hari di saat Pak Amir mengajar di kelas Wawan datang.

Wawan yang sedaritadi hanya duduk di tempatnya dengan tersenyum antusias sembari menunggu

kedatangan Pak Amir. Namun bukannya datang dengan biasanya, Wajah Pak Amir kelihatan terbakar

kemarahan.Seolah ada sesuatu yang begitu membuatnya kesal bahkan dengan mata telanjang orang-orang bisa

melihat kemurkaannya.

Di tangan kanannya yang berupa kumpulan kertas ujian yang cukup diremasnya dan buku absen

yang berada di tangan satunya. Sesampai di kelas Wawan, Pak Amir menatap para murid, yang

membuat para murid merasa ketakutan.

Pak Amir lalu melanjutkan jalannya, dan saat berada di meja guru, Pak Amir seketika menggebrak

meja dengan kertas ujian yang berada di tangan kanannya.

“Hari ini bapak akan memberitahukan hasil ujian semester kalian.” katanya dengan nada dingin.

Semua murid benar-benar terdiam. Bahkan tak terkecuali Wawan yang sebelumnya bersemangat

dengan mata yang berbinar.

Pak Amir duduk di tempatnya, menatap semua murid yang ada di sana sembari memanggil tiap

murid satu per satu.

Murid lalu datang satu per satu dengan perasaan gemetar dan khawatir kepada Pak Amir. Yang

entah itu mendapat nilai bagus atau nilai jelek. Perasaan takut yang mereka rasakan akan

kemungkinan kemarahan Pak Amir pada diri mereka, namun akhirnya raut wajah Pak Amir banyak

berubah.

Hingga saat nama Wawan terpanggil, dirinya yang lumayan yakin akan kemarahan Pak Amir juga

bukan kepada dirinya lalu maju ke meja Pak Amir. Wajahnya yang sekali lagi berbinar dan

bersemangat. Yakin kalau dirinya pun bukanlah orang yang membuat Pak Amir menjadi kesal, dan

berpikir dengan dirinya yang mendapat nilai sempurna di mata pelajaran Pak Amir raut wajah Pak

Amir mungkin menjadi lebih baik.

“Nilaimu Wawan seratus sempurna.”

Wajah Wawan seketika berbinar. Sesuatu yang diharapkannya benar-benar menjadi kenyataan.

Tentu hal itu menjadi sesuatu yang dibanggakan dan disyukurinya.

Akan tetapi…

Saat tangan Wawan hendak mengambil kertas ujiannya, Pak Amir seketika menghentikannya.

Tatapan kesal Pak Amir yang diarahkannya langsung kepada Wawan, seketika membuat semua

orang termasuk Wawan sendiri kalau alasan kemarahan Pak Amir tidak lain karena Wawan.

“Wawan, bapak ingin tanya sama kamu….?! Dari mana kamu menyontek ini…?!”

Wajah Wawan seketika menjadi ketakutan, yang bahkan mulut Wawan susah untuk berbicara dan

hanya bisa bergerak gemetar tanpa ada suara atau kata-kata yang keluar dari mulutnya. Wawan

hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala.

Pak Amir seketika menggebrak meja guru sekali lagi.

“Jangan kamu berani bohong Wawan?! Apa maksudmu seketika dapat nilai sempurna begini,

padahal selama bapak mengajar, kamu menjawab saja tidak tahu jawabannya?!”

“I-Itu…” Pandangan Wawan mulai ke mana-mana, dirinya yang juga mulai ikut gemetaran

ketakutan, membuat kata-kata yang ingin dikatakannya menjadi makin tidak bisa ia katakan.

Sifat penakutnya yang cukup memuncak, bahkan sudah membuat Wawan tak sanggup lagi

berpikiran apa pun.

“Padahal selama ini bapak bisa maklumi kamu karena tidak bisa menjawab pertanyaan bapak! Tapi

kali ini! Dengan nilai kamu yang tiba-tiba 100 begini! Tidak ada dugaan lain dari bapak selain kamu

nyontek!”

Wawan sekali lagi menggelengkan kepalanya untuk menafikan dugaan Pak Amir.

“Baiklah kalau kamu tidak mau mengaku! Sebagai hukumannya, nilai seratus mu ini tidak bapak

anggap! Dan kamu nya tidak mendapat nilai remedial dari bapak!”

Wawan begitu terkejut atas pernyataan Pak Amir. Mulutnya hanya bisa bergerak tetapi tanpa ada

suara yang keluar.

Hingga akhirnya, Wawan pun menyerah dan kembali ke tempat duduknya sambil tertunduk. Air

Mata yang sebenarnya ingin keluar dari Wawan, cuman tertahan karena Wawan tidak ingin

situasinya menjadi kacau.

Sesampainya Wawan di meja nya, dirinya benar-benar hanya terdiam sambil terus tertunduk dengan

kesedihan yang dirasakannya sekarang.

Semua teman kelas Wawan hanya bisa kasihan, namun tak bisa membantu banyak karena ketakutan

mereka kepada Pak Amir.

Dan dari hal itu, mengakhiri pembagian nilai ujian mata pelajaran Pak Amir di kelas Wawan. Yang

semenjak saat itu pula, minggu pembagian nilai ujian selesai dan waktu terus berlalu hingga saat

penerimaan rapor tiba.Suasana yang menjadi sangat ramai, dengan para murid dan orang tua mereka masing-masing

menemui para guru wali kelas. Pak Amir yang juga merupakan salah satu wali kelas, datang pada hari

itu dan melakukan tugasnya untuk sebagai wali kelas pada hari itu. Termasuk, Wawan yang berada

di kelas lain juga sedang melakukan penerimaan rapor.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan proses penerimaan rapor di kelasnya, Pak Amir kemudian

menuju ke ruang guru untuk berkemas sebelum pulang. Sesampai di mejanya dan saat sudah

merapikan dan mengambil semua barang yang dimilikinya, seorang guru lalu mendatangi dirinya

sambil membawa sesuatu.

“Ada yang bisa saya bantu Bu Linda?” ujar Pak Amir menyadari keberadaan si Bu Linda, seorang guru

Bahasa Indonesia.

“Ah, maaf mengganggu waktu pak. Sebenarnya ada hal yang ingin saya berikan kepada bapak.”

Mmhh.. Apa ya bu?”

Bu Linda meletakkan tas miliknya, mencoba mencari suatu hal di dalam tasnya, sembari dirinya

lanjut bercerita.

“Sebenarnya pak, sebelum ujian semester dimulai, saya berikan tugas pada anak-anak kelas 5.

Tugasnya itu menuliskan surat pribadi untuk guru-guru favorit mereka. Dan setelah mereka

selesaikan, saya pun katakan kalau surat-surat mereka akan sampai ke para guru yang mereka ingin

kasih.”

Dari dalam tasnya, Bu Linda mengeluarkan secarik surat dari dalam tasnya, yang dari surat itu

kemudian dikasihnya pada Pak Amir.

“Dan untuk Pak Amir sendiri, ada satu surat untuk bapak.”

Pak Amir menatap surat itu dengan bingung. Dirinya sendiri pun sebenarnya tidak percaya,

mendapat surat, mengingat tindakan dan sikapnya selama ini kepada murid.

“Maaf yah, pak kalau surat nya hanya satu.”

“Tidak apa-apa bu, lagipun saya kaget sendiri masih bisa mendapat surat dari para murid.”

“Kalau begitu saya permisi dulu Pak Amir, saya mau memberikan surat lainnya untuk guru yang lain

lagi.”Bu Linda lalu meninggalkan Pak Amir yang masih bingung akan secarik surat yang didapatkannya.

Namun tidak berlangsung lama, Pak Amir menyimpan surat yang didapatkannya ke dalam tas

miliknya, kemudian beranjak pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, yang merupakan rumah cukup tua layaknya rumah peninggalan belanda. Pak

Amir lalu duduk pada kursi di teras rumahnya. Menyimpan tas miliknya tepat pada meja yang berada

di samping kursi Pak Amir, kemudian menghela napas panjang seolah mengeluarkan beban yang

dirasakannya pada hari ini.

Di saat itu, Pak Amir pun teringat kembali akan surat yang diterima sebelumnya. Langsung Pak Amir

mulai mencari surat tersebut di dalam tasnya.

Setelah menemukannya, dengan perasaan yang penuh tanya.

“Siapa murid yang menuliskannya surat?” pikirnya seiring dirinya sekali lagi melihat baik-baik surat

tersebut.

Saat Pak Amir mulai membuka suratnya, tertulis di surat tersebut nama yang menulis surat tersebut.

Wawan, adalah nama yang tertulis di dalamnya.

Seketika saat melihatnya, makin banyak pertanyaan muncul dalam diri Pak Amir. Rasa kesal yang

sebelumnya dirasakannya pada muridnya tersebut sekali lagi muncul dalam dirinya, hingga

memunculkan prasangka buruk Pak Amir kepada Wawan.

Namun saat mulai membaca surat itu, perasaan Pak Amir yang awalnya sudah begitu kesal,

perlahan-lahan mulai luntur dan tergantikan dengan lain.

Kata demi kata, baris demi baris. Setiap tulisan yang dibaca oleh Pak Amir, perlahan-lahan mulai

mengganti perasaan Pak Amir. Setiap seruan yang ada, setiap titik yang tertulis, itu semua membuat

Pak Amir sedikit tergetar karenanya.

Dan di akhir dari surat itu, sebuah gambar wajah tersenyum terlihat dari surat itu, seketika beberapa

tetes air lalu membasahi surat tersebut.

Air mata, sebuah tangisan yang membasahi wajah Pak Amir. Yang keluar tak terkendali, dengan di

dalam air mata dan tangisan tersebut terdapat sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang dirasakan

oleh Pak Amir.

Dari dalam surat tersebut, yang jelas mencerminkan perasaan seorang murid yang begitu polos

kepada guru yang begitu dihormatinya. Namun, bukannya mendapat hal yang setimpal dengan perasaannya tersebut, si murid malah mendapat bentakan dan fitnah yang dilontarkan oleh guru

favoritnya.

Pak Amir yang sekali lagi mengingat dengan apa yang telah dilakukannya pada Wawan saat itu, tidak

bisa membayangkan perasaan Wawan pada hari itu.

Sakit… Benar-benar sakit…

Saat berpikir seperti itu, Pak Amir lalu terlungkup dengan surat tersebut, sambil mengeluarkan

ucapan yang penuh penyesalan.

“Nak Wawan, bapak-bapak minta maaf… Bapak minta maaf… Bapak seharusnya tidak berkata

seperti itu ke kamu… Bapak benar-benar minta maaf….”

Di dalam penyesalan yang dirasakannya, dengan kata-kata yang diucapkannya ingin disampaikan

kepada orang yang dituju. Namun pada akhirnya ucapan itu pun seolah menjadi ucapan kosong. Dan

perasaan penyesalan yang dirasakan oleh Pak Amir hanya terus menjadi perasaannya. Hingga

akhirnya kata-kata yang disampaikannya tersebut dikatakannya kepada orang ditujunya tersebut.

Sekitaran dua minggu telah berlalu.

Pak Amir dengan persiapan yang dilakukannya. Setelah segala penyesalan yang telah dirasakan oleh

Pak Amir selama dua minggu ini. Dirinya pun bertekad untuk mengubah sikapnya kepada Wawan,

dan berharap dirinya bisa meminta maaf kepada muridnya tersebut atas sikapnya selama ini.

Kebetulan pada awal masuk sekolah, mata pelajaran pertama di kelas Wawan pada hari itu adalah

mata pelajaran yang pak Amir ajarkan.

Berjalan ke kelas Wawan.

Namun bukannya datang dengan biasanya, Wajah Pak Amir kelihatan dengan senyum yang sedikit

lebih ceria.

Seolah ada sesuatu yang begitu membuatnya senang bahkan dengan mata telanjang orang-orang

bisa melihat keantusiasannya.

Di tangannya kanannya yang berupa surat dari Wawan yang dipegangnya dengan baik dan buku

absen yang berada di tangan satunya.

Saat sampai di kelas pandangan Pak Amir seketika mengarah kepada para murid- lebih tepatnya

dengan tujuan untuk mencari keberadaan Wawan di antara para murid.Seiring Pak Amir berjalan sembari mencari keberadaan Wawan. Hingga saat berada di meja guru,

sambil menyimpan buku absen dan surat dari Wawan.

“Selamat pagi semuanya.” sapa Pak Amir dengan nada yang agak ceria.

Semua murid benar-benar terdiam. Mungkin lebih tepatnya terkejut akan Pak Amir yang biasanya

tegas dan keras, kini menjadi sedikit ceria dan ramah. Sesuatu yang jarang atau malahan tidak

pernah mereka lihat.

Pak Amir duduk di tempatnya, menatap semua murid yang ada di sana sembari mulai memanggil

tiap murid satu per satu untuk diabsen.

Murid mulai menyahut satu per satu dengan perasaan bingung dan bertanya-tanya kepada Pak

Amir. Yang entah itu apa alasan perubahan sikapnya tersebut. Perasaan heran yang mereka rasakan

akan kemungkinan alasan perubahan sikap Pak Amir pada diri mereka, namun akhirnya raut wajah

Pak Amir banyak berubah.

Hingga saat nama Wawan terpanggil, Pak Amir yang wajahnya makin berbinar dan bersemangat.

Hingga sebuah senyum terlihat di wajahnya sembari memanggil nama muridnya tersebut.

“Wawan! Apakah Wawan hadir?”

Para murid lalu menatap satu sama lain. Wajah mereka menjadi bingung, hingga akhirnya salah satu

murid lalu menyahut menanggapi panggilan hadi Pak Amir.

“Pak! Wawan sudah pindah sekolah. Dia sudah tidak bersekolah lagi di sini.”

“Huh!? Pindah sekolah?!” Pak Amir seketika kaget. “Kapan dia pindah sekolah?! Kata siapa dia

pindah?!”

Para murid menatap satu sama lain. Lalu murid yang sebelumnya menyahut kembali menanggapi

pertanyaan Pak Amir.

“Sebenarnya saat penerimaan rapor, Wawan dan orang tuanya memberitahukan kami kalau mereka

akan pindah sekolah.”

Pak Amir seketika terguncang, dengan ketidakpercayaan memenuhi dirinya terhadap kabar yang

didengarnya ini.

“Te-Terus, dia pindah ke sekolah mana? Ada yang tahu?”

Para murid seiringan menggelengkan kepala mereka.“Kami tidak tahu pak. Yang kami tahu, malahan Wawan bukan hanya pindah sekolah, tapi juga

pindah ke kota di pulau lain pak.”

Mendengar jawaban yang terakhir itu, Pak Amir perlahan mulai tertunduk ke arah meja guru.

Perasaan menyesal kembali memenuhi dirinya. Mengingat kembali tindakannya pada hari itu,

membuat perasaan bersalah Pak Amir makin menjadi-jadi hingga tanpa sadar mengeluarkan air

mata.

Dirinya pun bahkan berpikir, kalau alasan kepindahan Wawan itu mungkin saja karena tindakannya

pada hari itu. Pak Amir mulai berpikir, andaikan dirinya tidak memarahi Wawan pada hari itu.

Mungkin dirinya tidak akan pindah.

Pikiran-pikirannya yang seperti itu, yang makin memenuhi kepalanya hingga tangisan yang

dikeluarkannya makin menjadi-jadi.

Para murid yang melihat tingkah Pak Amir tersebut, makin merasa bingung. Hingga saat Pak Amir

tertunduk seketika, mereka mendatangi Pak Amir dan mengasihani beliau.

Di saat para murid mulai mendekati Pak Amir, mereka lalu mendengar dengungan Pak Amir dibalik

terlingkupnya di meja guru.

“Maafkan bapak Wawan. Maafkan Bapak….”

Mendengar itu, para murid yang mendekati Pak Amir hanya bisa berempati akan kesedihan dari Pak

Amir ini.

Kesedihan yang berisi penyesalan dan perasaan bersalah. Yang setelahnya, selalu menjadi pengingat

bagi Pak Amir akan dirinya sebagai seorang guru.


메타데이터
post_id
eaf830d62c93
slug
guru-favorit-eaf830d62c93
url
https://medium.com/@muhammadfajrinm/guru-favorit-eaf830d62c93
canonical_url
https://medium.com/@muhammadfajrinm/guru-favorit-eaf830d62c93
author_url
https://medium.com/@muhammadfajrinm
status
ok
fetched_at
2026-06-11 15:16:29