Sayang, Dunia Memang Kacau, Untung Saja Silampukau Merilis Stambul Rindu
(Dok. Tangkapan Layar Spotify lagu Silampukau&Natasya Elvira)
Sayang, Dunia Memang Kacau, Untung Saja Silampukau Merilis Stambul Rindu

(Dok. Tangkapan Layar Spotify lagu Silampukau&Natasya Elvira)
"Kalau begini, ya... Bisa apa kita berdua? Tapi lebih dari itu, terus terang, aku hanya punya kamu. Percayalah," kata Sekar, perempuan yang terjebak menemaniku di dunia hari ini, setelah bulan tembaga pelan-pelan tengelam jauh di mata remajanya.
Mengingat ucapan itu, selain perasan nderedek dan lesu, saya jadi teringat Stambul Rindu yang mengudara di Warung Kopi, di kawasan Ciputat, pada Jumat dini hari itu. "Terus terang yang aku punya hanya kamu," jelas Natasya Elvira dan Eki Tresnowening seraya mengakhiri lagu dengan tempo yang cepat itu.
Lagu itu, dugaan saya, mengingatkan doa, selain cerita ketakutan atas dunia hari ini, sebagai pilihan yang tepat dalam keadaan tidak berdaya. Sebagaimana diketahui, Orkes Silampukau menerbitkan single tersebut dalam keadaan gejolak geopolitik Asia Barat dan ketidakjelasan orientasi politik di dalam negeri oleh pelbagai sebab-sebab, yang merespons dan melahirkan putus asa dari sejumlah hal demikian.
Sebelum menjelaskan hal lain, ada baiknya menoleh sejenak ke perjalanan Orkes Silampukau. Melalui penjelasan banyak media massa, setelah bertahun-tahun menghidupi Surabaya sebagai ruang, dosa, cinta, sekaligus penjelasan sosial yang mencirikan identitas musikal mereka, Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening justru memilih meninggalkan kota itu sebagai pusat cerita lagu mereka. Setidaknya untuk sementara, melalui proyek "Stambul Arkipelagia", Orkes Silampukau terlihat memindahkan pandangan dari satu kota (Surabaya) menuju gugusan pengalaman yang lebih luas, singkatnya, yaitu kepulauan, sejarah, mitologi, manusia, hingga kecemasan-kecemasan yang tidak lagi mengenal batas geografis, yang sekadar Surabaya.
Saat ini, melalui keterangan resminya, mereka menyebut dirinya Orkes Silampukau, dan sebutan yang mula-mula terdengar sederhana--dengan tambahan kata "orkes"--tersebut ternyata menandai perubahan yang cukup mendasar. Formasi musiknya menjadi lebih kaya: instrumen bertambah, warna bunyi berkembang, dan tentu saja lanskap lirik yang selama ini melekat pada duo folk asal Surabaya itu ikut bergeser. Semua tahu, jika album-album sebelumnya begitu lekat dengan aroma gang-gang kota atau kehidupan kelas pekerja Surabaya, maka yang terbaru mengajak pendengarnya berlayar ke ruang yang lebih cair, lebih luas, lebih reflektif, atau lebih-kurangnya lebih berbeda.
Sebagaimana tampak dalam judul "Sejoli" maupun "In Memoriam...(Halimun Rahasia)", Orkes Silampukau masih setia pada manusia-manusia kecil yang bergulat dengan kehilangan, kesendirian, ironi, dan sejarah. Perubahan dari yang saya lihat adalah cara mereka memandang kehidupan melalui lirik mereka. Jika sebelumnya Surabaya menjadi panggung tempat manusia dipertemukan dengan nasibnya, maka kini dunia sendirilah yang dijadikan panggung. Tegasnya, kegelisahan yang dahulu bersifat lokal kini menjelma kegelisahan yang bersifat universal, dan, mungkin, atas hal demikian Stambul Rindu lahir dari perubahan cara pandang tersebut.
Selaras dengan nalar itu, tidak mengherankan lagu ini hadir ketika dunia dipenuhi kabar peperangan, ancaman krisis kemanusiaan, ketidakpastian ekonomi, dan kecemasan kolektif mengenai masa depan. Akan tetapi, menariknya, Orkes Silampukau tidak menjawab situasi itu melalui lagu protes, slogan politik, ataupun seruan perlawanan yang lantang. Mereka memilih sesuatu yang jauh lebih sunyi: sebuah fiksi yang, sekurang-kurangnya, erat dengan kenyataan hari ini.
Stambul--dalam tradisi musik--menyimpan selalu saja paradoks. Dugaan saya, awalnya, musik itu terdengar ringan, mengalir, bahkan akrab di telinga, tetapi, semakin didengarkan, hampir selalu membawa kesedihan yang panjang. Lagu dalam stambul bukan musik yang berteriak, tetapi suatu musik yang mengendap. Barangkali karena hal itu, Orkes Silampukau memilih gaya-bentuk semacam itu. Tegasnya, ketika dunia dipenuhi kebisingan, mereka justru melantukan kesunyian: tiga kali semoga yang menjelaskan beberapa perkara.
Pada verse pertama, lagu ini mudah dibaca sebagai balada kerinduan. Terdapat dua orang saling mencintai: ada jarak dan kecemasan, lalu lahirlah pengakuan klise, yaitu "terus terang yang aku punya hanya kamu". Pembacaan semacam itu memang tidak sepenuhnya fatal, tetapi berhenti terlalu cepat, sebab yang ditawarkan Orkes Silampukau bukan sekadar kisah asmara, melainkan suatu cara memandang cinta ketika dunia tidak lagi menyediakan kepastian.
Melalui pembacaan yang dalam--sebagaimana meminjam penjelasan Erich Fromm via The Art of Loving--persoalan terbesar manusia modern bukanlah kegagalan menemukan pasangan, melainkan kegagalan mengatasi keterpisahan (dibaca: separateness). Manusia hidup sebagai individu yang terpisah dari individu lain, dari alam, bahkan dari dirinya sendiri. Keterpisahan itu melahirkan kecemasan yang terus-menerus. Karena itu, cinta bukan sekadar fenomena emosional yang datang simsalabim, tapi suatu tindakan aktif untuk mengatasi keterasingan tersebut. Singkatnya, cinta bukan sesuatu yang terjadi kepada manusia, melainkan sesuatu yang dikerjakan manusia hingga manusia menerjemahkan makna atas itu.
Ungkapan itu membuat bait pembuka "Stambul Rindu" memperoleh makna yang selaras dengan Fromm.
"S'moga ini cerita Ini perkara Ini derita Segera nampak ujungnya Nampak jawabnya."
Melalui lirik di atas, secara gampang, kian terasa doa meliputinya verse pertama. Tetapi, jika ditilik sedikit lebih jauh, yang dominan bukanlah "cerita", "perkara", atau "derita". Kata yang terus bekerja adalab "semoga"--yang juga menjadi repitisi dalam verse berikutnya. Semua tahu, kenyataan sehari-hari, kata "semoga" hanya akan diucapkan ketika manusia menyadari batas kemampuan kehidupan dirinya. Maksudnya, tiada seorang pun berkata "semoga" terhadap sesuatu yang dapat ia kendalikan, atau kata "semoga" bisa diucapkan ketika masa depan telah keluar dari jangkauan kehendak manusia.
Melalui kata itu, Orkes Silampukau menaruh cinta di tempat yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan lagu pop. Maksudnya, cinta tidak hadir setelah persoalan selesai. Sebaliknya, cinta justru muncul ketika manusia berada pada titik paling rapuh; ketika yang tersisa hanyalah harapan yang bahkan tidak dapat dipastikan terwujud.
Selanjutnya, dugaan saya, urutan diksi yang dipilih juga bukan tanpa alasan. "Cerita" adalah pengalaman hidup yang mula-mula netral, lalu cerita--melalui pengalaman--itu berkembang menjadi "perkara" yang menuntut penyelesaian. Dari perkara lahirlah "derita", singkatnya pengalaman afektif yang harus ditanggung manusia. Menariknya, pada lirik berikutnya lirik tersebut mengganti "derita" dengan "asmara", lalu "sengsara". Pergeseran ini memperlihatkan bahwa asmara tidak diposisikan sebagai penyebab penderitaan, tetapi sebuah asmara sedang diuji oleh penderitaan yang lebih dahulu hadir.
Inilah salah satu pembalikan paling menarik dalam Stambul Rindu, sekurangnya-kurangnya dari cara pendengaran awam saya. Lagu-lagu cinta, sependekpengetahuan saya ihwal lagu, pada umumnya menjadikan hubungan antarmanusia sebagai sumber konflik. Uniknya, Orkes Silampukau melakukan kebalikannya. Maksudnya, konflik berasal dari dunia, sedangkan cinta adalah sesuatu yang berusaha bertahan di dalam dunia yang semrawut. Dengan hal itu, asmara tidak lagi menjadi ruang pelarian dari kenyataan, melainkan ruang tempat kenyataan yang paling pahit diuji secara aktif.
Selanjutnya, melalui simbol-simbol alam yang mulai bekerja, bukan sekadar penghias suasana, Silampukau menggambarkan keadaan batin tokohnya insiden mendebar tapi kalem.
"Remang bulan remang menyinari Daratan temaram sendu."
Pada kata remang, temaram, dan sendu di atas, dapat dikatakan bukan sekadar deskripsi aksesoris belaka. Ketiga kata itu, sekurang-kurangnya, membentuk wilayah antara terang dan gelap, antara harapan dan keputusasaan, atau antara kepastian dan kehilangan arah. Bulan, secara lirik lagu itu, memang tetap menyinari, tetapi sinarnya tidak pernah penuh, remang-remang. Dan, cahaya memang hadir, meski tidak cukup untuk mengusir seluruh gelap. Barangkali melalui hal itu, cinta bekerja melalui remang yang membuat manusia tetap mampu melihat jalan beberapa langkah di depannya.
Dari hal itu, Stambul Rindu perlahan menggeser pembicaraan dari dunia menuju manusia, yaitu lewat penentuan arah keseluruhan lagu dalam akhir liriknya: "T'rus terang yang aku punya hanya rindu."
Kalimat ini kerap dibaca sebagai pengakuan kehilangan, atau biasa dipahami sebagai akibat dari ketiadaan. Padahal, jika sedikit menukil pendapat Erich Fromm, rindu dalam lagu ini justru bekerja secara paradoksal. Maksudnya, subjek bukankah kehilangan sesuatu, tapi tanda bahwa dirinya masih sanggup memberi. Ya, anggapan umum memberi berarti kehilangan. Maksudnya, memberi merupakan ekspresi paling produktif dari kehidupan. Misalnya, seseorang memberi bukan karena ia memiliki sesuatu secara berlebih, tetapi karena kehidupan di dalam dirinya cukup hidup untuk dibagikan kepada orang lain. Memberi perhatian, memberi waktu, memberi harapan, bahkan memberi kesedihan, merupakan bentuk-bentuk cinta yang paling mendasar. Dengan nalar itu, rindu tidak lagi dapat dipahami sebagai kekosongan belaka. Tetapi, rindu adalah pemberian yang terus berlangsung aktif.
Tokoh "aku" lirik tidak menuntut perjumpaan, dan tidak meminta kepastian, atau tidak pula memaksa orang yang dicintainya untuk segera datang, tetapi hanyalah terus menghadirkan dirinya melalui kerinduan. Melalui nalar tersebut, rindu berubah dari sekadar pengalaman psikologis menjadi tindakan etis. Singkatnya, upaya seseorang tetap hadir bagi orang lain, bahkan saat saat kehadiran fisik tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.
Selain hal itu, modus estetik Orkes Silampukau menjadi semakin menarik ketika pengakuan tersebut berganti. Coba lihat pada awalnya "aku" lirik berkata, "terus terang yang aku punya hanya rindu. Tetapi, "aku" lirik kemudian bergeser menjadi, "terus terang yang aku punya hanya kamu."
Jika dilihat sekelebat, perubahan itu tampak hanya mengganti satu kata antara (hanya) "rindu" menjelma (hanya) "kamu". Namun. Sesungguhnya, perubahan tersebut menggeser seluruh pusat gravitasi lagu.
Pada perkara pertama, kesadaran masih berpusat pada pengalaman subjek, yakni eksistesi hanya rindu "aku" lirik. Akan tetapi, ketika "rindu" berubah menjadi "kamu", pusat lagu berpindah kepada orang lain. Perhatian "aku" tidak lagi tersorot kepada emosinya sendiri, tetapi kepada relasi yang ia bangun bersama orang yang dicintainya.
Selaras dengan keterangan di atas, Fromm pernah menjelaskan having dan being. Nalar having, manusia memahami dunia melalui kepemilikan. Pertanyaan yang diajukan selalu sama: apa yang aku miliki? Sebaliknya, dalam perkara being, manusia memahami hidup melalui relasi. Pertanyaan yang muncul bukan lagi "apa yang kumiliki", melainkan "siapa yang tetap hadir bersamaku".
Kalimat "yang aku punya hanya kamu" sering kali disalahpahami sebagai bentuk kepemilikan yang posesif. Padahal, dugaan saya, lagu itu sama sekali tidak mengatakan, "kamu adalah milikku", melainkan sesuatu yang sebaliknya. Dan, lagu itu seraya berkhotbah: di tengah dunia yang kehilangan pegangan, satu-satunya ruang tempat kehidupan masih mungkin bertahan adalah hubungan antarmanusia sebisa-semampunya.
Pembacaan ini menjadi semakin bergeser ketika kita memperluas cakupan persoalannya melalui lirik berikut:
"S'moga huru-hara Perang dunia terus tertunda Semoga masa-masa Marabahaya lekas sirna."
Pertanyan lirik di atas: kenapa lagu yang sejak awal berbicara mengenai asmara mendadak menyebut perang dunia? Pertanyaan tersebut penting, sebab, mungkin, justru dari sana Stambul Rindu membedakan dirinya dari sebagian besar lagu cinta mutakhir. Dan semua tahu, sebab terbitnya single itu didasarkan oleh hal demikian. Ketika perang hadir, yang terancam bukan hanya bangunan-bangunan yang runtuh atau nyawa yang hilang. Yang ikut terancam adalah kemungkinan manusia untuk tetap saling mencintai. Katakanlah begini: asmara tidak pernah dipisahkan dari sejarah, dan hubungan dua manusia tidak pernah dipisahkan dari dunia tempat hubungan itu tumbuh.
Melanjutkan pembahasan alinea di atas, menukil penjelasan Fromm, masalah paling mendasar manusia bukanlah kesendirian, melainkan keterpisahan. Melalui argumen itu, perang kita tahu, adalah bentuk keterpisahan yang paling brutal dan terus terang. Perang pasti akan memutus hubungan manusia dengan manusia lain, memutus keluarga, memutus kampung halaman, bahkan memutus kemungkinan masa depan. Maka ketika "aku" lirik berdoa agar perang terus tertunda, doa tersebut tidak berhenti sebagai komentar politik, tetapi, menjadi syarat bagi keberlangsungan cinta itu sendiri. Dengan kata lain, dugaan saya, doa melalui Stambul Rindu bukan pelarian dari kenyataan, tetapi upaya keberanian untuk tetap mengafirmasi kehidupan ketika kenyataan bergerak ke arah sebaliknya dan di luar keinginan sepasang kekasih tersebut.
Hal tersebut dapat dibaca melalui perubahan lirik yang dibangun Silampukau. Di awal lagu, ruang yang hadir adalah "daratan temaram sendu", kemudian "daratan temaram pilu". Setelah itu, daratan perlahan menghilang menjadi "lautan temaram syahdu" dan "lautan berderu-deru."
Perubahan itu, dugaan saya, bukan perkara kebetulan. Sebagaimana pandangan umum, daratan adalah tanda pijakan, sesuatu yang tetap atau dapat diandalkan. Sedang laut, sebaliknya, semacam sesuatu yang selalu bergerak, berubah, dan tidak pernah benar-benar dapat diprediksi. Artinya, semakin jauh lagu berjalan, semakin tidak stabil dunia yang sedang digambarkannya. Sialnya, justru ketika lautan mulai "berderu", pengakuan cintanya menjadi semakin tegas: "terus terang yang aku punya hanya kamu".
Selain itu, lagu tersebut tampaknya hendak mengatakan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mampu menghentikan badai. Barangkali karena itulah lagunya tidak pernah menawarkan penyelesaian. Hal demikian dapat dilihat dari repitisi perkara yang tidak selesai, derita yang tidak benar-benar hilang, perang yang hanya "tertunda", bukan diakhiri, marabahaya yang hanya "lekas sirna", bukan dipastikan sirna. Tegasnya, tidak ada kepastian, kecuali cara manusia memandang kenyataan, memakanai kehidupan dan menjalankannya dengan sebisa-semampunya.
Syahdan. Melalui penjelasan Fromm, cinta bukan sarana menghapus ketidakjelasan (dibaca: absurditas) kehidupan, tetapi cara manusia tetap hidup secara utuh di dalam absurditas tersebut. Gampangnya begini: dunia boleh tetap remang, lautan boleh terus berderu, dan sejarah boleh terus melahirkan kecemasan baru; tapi selama manusia masih mampu mengatakan, "yang aku punya hanya kamu", selama itu pula manusia belum sepenuhnya kehilangan dirinya sendiri.
Melalui nalar itu, dugaan saya, letak kekuatan Stambul Rindu tidak menawarkan optimisme murahan. Juga tidak menghibur pendengarnya pada janji "bahwa segala luka akan sembuh atau segala perang akan usai". Ya, dugaan saya, yang ditawarkan jauh lebih jelas, sesuatu yang lebih sukar dilakukan: tetap mencintai di tengah ketidakpastiaan itu, meski kemustahilan lebih mendominasi statistika kenyataan.
Dewasa ini, banyak ahli memaparkan, sistem dunia terbiasa mengukur hubungan melalui manfaat, efisiensi, dan kepastian. Namun, Orkes Silampukau, justru mengembalikan cinta kepada bentuknya yang paling klasik, setidaknya sebagai keberanian "kecil" untuk tetap hadir bagi orang lain, bahkan ketika seluruh dunia tidak menjanjikan apa pun. Nalar demikian, dugaan saya, Stambul Rindu melampaui dirinya sebagai lagu kebanyakan, dan Ia menjelma renungan tentang bagaimana manusia mempertahankan kemanusiaannya ketika sejarah sedang kehilangan arah.
"Aih, Sayang. Semoga yang disemogakan, entah bahagia atau duka, menjadi sesuatu yang melandasai cinta kita berdua. Karena, terus terang yang aku punya hanya kamu," gumam saya pasca mengakhiri putaran kesepuluh lagu tersebut dan mengkhotbahkan pikiran ndakik-ndakik di kepala pada Minggu subuh itu.
Daftar bacaan: -Silampukau, & Elvira, N. (2026). Stambul Rindu. Spotify. https://open.spotify.com/track/6EBVeOPcnNIJBLMsgR5Dqi
-Fromm, E. (2014). "The art of loving: Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Cetakan ke-4.
메타데이터
- post_id
- eb0af2c84bc4
- slug
- sayang-dunia-memang-kacau-untung-saja-silampukau-merilis-stambul-rindu-eb0af2c84bc4
- url
- https://medium.com/@ahrizki048/sayang-dunia-memang-kacau-untung-saja-silampukau-merilis-stambul-rindu-eb0af2c84bc4
- canonical_url
- https://medium.com/@ahrizki048/sayang-dunia-memang-kacau-untung-saja-silampukau-merilis-stambul-rindu-eb0af2c84bc4
- author_url
- https://medium.com/@ahrizki048
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-30 10:11:59