← Back to list

Kendala Diskusi Antara Theis-Atheis

Sebenarnya sempat saya bukukan argumentasinya, namun beberapa teman dekat mengatakan terlalu berat dipahami

Seremonia · 2020-10-15 15:30 · 0 claps · 2.8 min read
#diskusi-theis-atheis #thei #athei #argumentasi
Open on Medium ↗

Kendala Diskusi Antara Theis-Atheis

Sebenarnya sempat saya bukukan argumentasinya, namun beberapa teman dekat mengatakan terlalu berat dipahami

Hal ini pernah saya bawa ke ranah ateis, dan bukannya mereka paham, justru mereka merasa argumen saya masuk akal tetapi terlalu dipaksakan untuk diterima penalaran mereka. Maksudnya?

Mereka mengakui masuk akal secara sepotong-sepotong tetapi ketika disambungkan menjadi satu bangun argumentasi, membentuk suatu gambar atau kesimpulan yang aneh — asing. Lalu mereka mencoba membuat (dengan merubah) dugaan (sesuai versi mereka sendiri untuk membentuk) keterhubungan yang dianggap masuk akal, tetapi justru bertumpang tindih yang mereka sadari menampakkan kontradiktif antara satu dengan lain

ARGUMENTASI KERING

Bagi saya, karena kebenaran ini belum pernah ada contohnya pada pengalaman hidup sehari-hari, lalu mereka menolak (karena terasa asing — belum dikenal).

Bukankah sebenarnya kebenaran bisa menyadarkan …

  • realita yang ada yang sebelumnya mereka tak sadari, atau bahkan
  • menemukan suatu kebenaran yang memang berada diluar pengalaman realita

Dan karena diluar realita sehari-hari, maka memang sulit untuk dinalar, kecuali dibantu menggunakan perumpamaan agar dapat dipegang realitanya.

PERMASALAHAN PERUMPAMAAN

Perumpamaan sebenarnya dipakai untuk melihat dari sudut pandang visual, agar argumentasi tidak kering seperti matematika. Agar argumentasi terasa lebih hidup, ringan, mudah dicerna, tetapi terkadang menggunakan perumpamaan justru berakibat kebingungan lagi - ambiguitas.

Itu sebabnya, saya tidak mengkhususkan untuk menyebar secara sistematis, melainkan sekedar meletakkan di suatu tempat dan biarkan saja Tuhan membimbing mereka yang telah siap secara potensi tetapi belum paham, agar tahu sendiri 🙏

Bentuk pendekatan lain adalah saya tidak memaksakan lagi argumen saya, mengingat dari awal juga ada yang sudah menolak. itu sebabnya saya mencoba masuk dari sisi metafisika - meditasi.

Tetapi inipun juga sulit, karena seolah mereka tersudut tidak mengambil peluang yang ada dan terkesan tidak intelektual — mengingat intelektualitas dasarnya adalah konsistensi, dan melalui ranah manapun (meditasi salah-satunya) selama ada konsistensi (terbukti hasilnya dari sisi ilmiah), maka harus diterima sebagai opsi. Dan ketika opsi ini begitu kuat didukung oleh penelitian ilmiah, mendadak mereka membuat pemblokiran kedua.

Jadi tuntaslah (lengkaplah) kesulitan ateis, dengan memblokir segala peluang yang ada (walau mengandung konsistensi).

PERSONALISASI DISKUSI

Pada akhirnya nampaklah hanya segelintir dari mereka yang berminat untuk lebih menggali kebenaran secara lebih terbuka (tidak protektif)

Hanya saja sebagian kecil ateis yang menerima ini juga karena dari awal ateisnya telah sedemikian skeptis, telah sedemikian terdidik mudah membantah, bahkan keateisan mereka dikarenakan bawaan dirinya yang sedemikian kuat tidak percaya, sehingga ketika mulai membuka diripun tetap mengalami kendala untuk berusaha bernalar secara utuh walau mereka merasa ada kejanggalan (hanya karena tidak ditemukan contoh di kehidupan sehari-hari).

  • Contoh sederhana, ketika mereka mulai mengakui bahwa hanya ada Tuhan yang tak diciptakan oleh lainnya, lalu mendadak pengalaman sehari-hari mereka dilibatkan dalam penalaran, bahwa selalu ada sebelum kita, terus dan terus yang berarti ada tuhan sebelum Tuhan

Jika model penalaran ini tidak diterima, akan terasa janggal (walau logikanya mengakui kesalahannya).

Disinilah ternyata permasalahan menjelaskan suatu argumentasi yang bahkan dipastikan benar atau salah, dapat diterima secara berbeda pula.

+Membentuk Kepercayaan Diri+

Lalu, harus bagaimana? Disini diperlukannya pemahaman secara mendasar tentang tipis/tebal atau lemah/kuatnya suatu kepastian dilihat dari contoh kehidupan sehari-hari pada mereka secara personal - tidak bisa secara pukul rata.

Suatu cara untuk membentuk kepercayaan diri pada mereka bahwa mereka bisa menemukan kebenaran karena memang ternyata kebenaran itu ada walau hanya secuil.

Mereka harus disadarkan secara personal tentang sesuatu kebenaran sedemikian rupa, agar mereka dapat sedemikian mudah memegang kebenaran semudah seperti memegang benda nyata yang dapat dilihat. Perlu suatu tahapan yang sistematis.

Disini mulailah tidak mudahnya kita untuk mewujudkan obsesi meraih kesadaran keberadaan Tuhan pada mereka yang ateis, mengingat diperlukan suatu pendekatan personal yang intens. Perlu suatu tatap muka (tidak sekedar membaca atau menelaah argumen).

Perlu analisa personal untuk melihat akar dari permasalahan keateisan mereka.

Hal ini sudah saya coba melalui pendekatan personal ke beberapa orang (dengan jumlah yang bisa dihitung jari), melalui pertemuan personal atau dalam komunitas kecil yang santai. dan berhasil, tetapi ada juga yang mulai terbuka.

Demikianlah mengapa saya tidak memperkuat obsesi saya untuk mengajak mereka yang ateis ke jalan yang kita yakini.

Saya tidak terlalu obsesi untuk menekan mereka yang ateis, karena saya sendiri pernah mengalami keadaan sulit sebagai ateis yang sangat-sangat tidak mudah menerima argumentasi dari siapapun.


메타데이터
post_id
eb47bbf8a99a
slug
permasalahan-diskusi-antara-theis-atheis-eb47bbf8a99a
url
https://medium.com/@seremonia/permasalahan-diskusi-antara-theis-atheis-eb47bbf8a99a
canonical_url
https://medium.com/@seremonia/permasalahan-diskusi-antara-theis-atheis-eb47bbf8a99a
author_url
https://medium.com/@seremonia
status
ok
fetched_at
2026-07-28 19:00:09