Ucapanmu adalah doamu
Apakah kamu percaya akan hal itu?
Ucapanmu adalah doamu
Apakah kamu percaya akan hal itu?
Hal ini tidak terbayangkan oleh ku. Menurutku, doa ya doa, ia dipanjatkan biasanya setelah sholat atau waktu khusus yang kita khususkan. Kalau ucapan sendiri, konteks nya bisa bebas, kapan aja dimana aja tanpa mengenal waktu khusus.
Jadi, aku tak merasa ada kaitannya satu sama lain antara ucapan dan doa. sehingga terkadang, banyak aspek yang dilewatkan dan tanpa dipikirkan.
Hingga akhirnya, aku bertemu dengan diriku yang sekarang yang merupakan hasil dari ucapan ku sendiri di masa lalu jika direnungkan. Sadar ataupun tidak, ini lah yang terjadi saat kita mencoba untuk merefleksikan diri tentang apa yang telah kita lalui, dan apa yang telah kita dapatkan, pembelajaran apa yang kita terima.
Menurut Manggala Wiriya Tranta dan Dida Wanti, 2025 dalam (Tantra & Maharani, 2024), “Doa menjadi salah satu unsur ritual dalam masyarakat beragama”.
Dalam konteks ini, doa bukan menjadi satu-satunya cara agar sesuatu itu terwujud begitu saja, ada usaha dan nilai-nilai yang secara konsisten disadari atau tidak yang mempengaruhi tindakan seseorang untuk mewujudkannya. Hal ini semacam dengan alam bawah sadar yang bisa mengarahkan tujuan hidup seseorang, karena mempengaruhi ikatan psikologinya.
Seperti hal nya dengan hasil penelitian yang disampaikan oleh Komalasari Shanty yaitu diantaranya doa akan mampu menenangkan, menentramkan dan meyakinkan diri terhadap pilihan yang dijalani. Selain itu doa memiliki sifat mengikat, yakni dari apa isi doa yang dipanjatkan tersebut tanpa disadari menjadi self remainder bagi yang memanjatkan doa di alam bawah sadarnya untuk terus terjaga dan terarah pada doa yang dipanjatkan.
Layaknya komunikasi dengan tuhan yang di lambangkan dengan doa, penuh dengan kehati-hatian dan pendalaman diri. Dalam berkomunikasi dengan seseorang, kecenderungan bahasa yang kita gunakan juga perlu diperhatiakan, jangan sampai, apa yang terucap menjadi suatu benalu atau pisau yang menghantam hati orang lain, atau diri sendiri dengan merendahkan kemampuan kita.
Sopan santun dan tutur kata yang lembut menjadi kunci penting saat kita berbicara tidak hanya kedalam konteks BerTuhan atau dengan manusia itu sendiri seperti orang yang lebih tua, teman atau saudara.
Namun, sayangnya dengan sahabat dan temen sejawat, kecenderungan ini semakin melebar. sehingga bahasa yang dilontarkan menjadi terkadang lebih gaul dan tak jarang, bahasa yang lebih kasar terdengar, becanda yang berlebihan, tidak menutup kemungkinan menjadi bahan evaluasi diri maupun orang lain.
Cukup sulit merubah kebiasaan lama, namun tidak ada yang tidak mungkin. Langkah-langkah ini sepertinya bisa menjadi penolong bagi kita yang ingin berubah, misalnya:
- Bayangkan apa yang kita ucapkan adalah kalimat terakhir yang kita sampaikan
- Bayangkan sosok yang kita kagumi, cintai ada didepan kita, sehingga kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara
Pelan-pelan yuk kita coba perbaiki komunikasi kita dengan manusia dan tuhan.
Reference: Wiriya Tranta, Manggala dan Dida Wanti. 2024. “Apakah Masuk Akal untuk Berdoa: Kajian Filsafat Agama”. https://doi.org/10.59603/niantanasikka.v2i5.530
Shanty Komalasari. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. “Doa dalam perspektif spikologis”.
메타데이터
- post_id
- eb580c849f6a
- slug
- ucapanmu-adalah-doamu-eb580c849f6a
- url
- https://medium.com/@dnaberceritaofficial/ucapanmu-adalah-doamu-eb580c849f6a
- canonical_url
- https://medium.com/@dnaberceritaofficial/ucapanmu-adalah-doamu-eb580c849f6a
- author_url
- https://medium.com/@dnaberceritaofficial
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 15:04:06