← Back to list

Aku Iri pada Rumah di Jalan

Dan pada manusia-manusia yang kulihat.

Inmyowl · 2026-04-12 02:58 · 37 claps · 1.8 min read
#refleksi #life
Open on Medium ↗

Aku Iri pada Rumah di Jalan

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Setiap kali bepergian, kita semua pasti suka melihat pemandangan di kanan-kiri jalan. Aku, secara khusus, suka memperhatikan rumah-rumah yang berjejer dalam berbagai bentuk ke mana pun aku pergi. Bisa dibilang, itu sudah menjadi sebuah kebiasaan.

Ketika aku memikirkannya, kukira alasan di balik kebiasaan itu adalah karena aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain secara otomatis dan kadang tanpa kusadari. Rumahnya besar, ya, pasti mereka kaya. Rumahnya sederhana, tapi elegam, sepertinya yang tinggal di sana adalah orang-orang yang punya pekerjaan bagus.

Manusia-manusia yang bergerak di sekitar rumah dan jalan pun tak luput dari atensiku. Mereka yang pergi bekerja, mereka yang pergi ke sekolah, mereka yang lari pagi, mereka yang duduk santai di teras rumah. Di mataku, mereka semua tampak hidup dan berusaha menjalani kehidupan.

Hatiku diliputi iri ketika melihat berbagai pemandangan itu. Iri dengan rumah yang cantik, iri dengan jendela kaca besar di lantai dua mereka, iri dengan manusia-manusia yang disinari cahaya kehidupan. Aku iri pada apa yang kukira tidak aku punya tapi mereka punya.

Sampai kemudian, sebuah pemahaman meresap dalam benakku, dan akhirnya aku mulai mengerti. Rumah-rumah dan manusia-manusia itu sama seperti buku: kita tidak bisa menilai mereka dari sampulnya saja. Aku tidak pernah tahu sejarah di balik berdirinya rumah yang kuanggap cantik itu. Aku tidak pernah mengenal manusia-manusia itu beserta badai yang bersemayam dalam diri mereka. Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa.

Bisa saja, atau mungkin sudah jelas, aku dan rumah-rumah beserta manusia-manusia itu punya latar belakang yang berbeda. Kalaupun ada kesamaan, kami mungkin menjalani proses yang berbeda dan punya tujuan akhir yang tak sama. Jadi, sebenarnya percuma saja aku membanding-bandingkan diriku. Tidak ada hasilnya, selain perasaan rendah diri.

Sampai detik aku menulis ini dalam perjalanan menuju rumah saudaraku, aku masih suka menatap rumah-rumah di kanan-kiriku beserta manusia-manusia yang terlihat. Akan tetapi, kali ini aku punya alasan baru. Alih-alih ingin membandingkan diri, aku ingin mencoba melihat lebih dalam.

Pagi-pagi begini pintu dan jendelanya sudah dibuka, sepertinya manusia di dalamnya suka menyambut udara pagi. Tetangga di sebelahnya masih tutupan, mungkin pekerjaan mereka baru selesai larut malam tadi, atau mungkin mereka terbiasa memulai kegiatan agak siang.

Ada banyak motor di garasi rumah itu, mungkin ada kerabat atau teman yang sedang berkunjung.

Kakak itu rapi sekali bajunya, sepertinya dia bekerja di tempat yang mementingkan penampilan, atau mungkin memang dirinya suka tampil rapi.

Kadang-kadang, aku masih suka membanding-bandingkan diriku dengan apa yang kulihat di sepanjang jalan. Akan tetapi, pelan-pelan aku mengurangi rasa iriku, dan mencoba melihat mereka apa adanya.


메타데이터
post_id
eb75506c2d40
slug
aku-iri-pada-rumah-di-jalan-eb75506c2d40
url
https://medium.com/@inmyowl/aku-iri-pada-rumah-di-jalan-eb75506c2d40
canonical_url
https://medium.com/@inmyowl/aku-iri-pada-rumah-di-jalan-eb75506c2d40
author_url
https://medium.com/@inmyowl
status
ok
fetched_at
2026-06-18 00:10:23