Review Obsession: Ketika Cinta Menjelama Menjadi Obsesi
Sebuah review film yang mengandung spoiler. Bukan review teknis, hanya memberi sudut pandang pada ceritanya yang menarik.
Review Obsession: Ketika Cinta Menjelama Menjadi Obsesi
Sebuah review film yang mengandung spoiler. Bukan review teknis, hanya memberi sudut pandang pada ceritanya yang menarik.

Photo source: Irish Film Critic
Beberapa hari lalu, saya baru menonton film horor-supranatural psikologis yang sedang ramai dibicarakan, Obsession. Film ini merupakan garapan dari sutradara baru bernama Curry Barker, yang sebelumnya terlibat dalam film pendek The Chair dan film independen berkonsep found-footage berjudul Milk & Serial yang tayang secara gratis di YouTube.
Latar belakang sutradaranya yang sangat menarik ini semakin membuat saya penasaran dengan film layar lebar pertamanya. Apalagi, film ini juga disebut sebagai salah satu film horor terbaik di pertengahan tahun 2026. Bahkan, film ini ditaksir memperoleh keuntungan mencapai US$374 juta secara global, menjadikannya sukses besar mengingat biaya produksinya yang hanya sekitar US$750 ribu.
Premis yang Sederhana dengan Penceritaan yang Kuat

Photo source: CNN Indonesia
Film ini sebenarnya sangat sederhana, bahkan terasa dekat sekali dengan masyarakat Indonesia, yaitu tentang ‘Pelet’ hehehe.
Bear, yang diam-diam jatuh cinta kepada Nikki, rekan kerjanya, menemukan sebuah benda bernama “One Wish Willow” di sebuah toko barang antik. Konon, benda tersebut mampu mengabulkan satu permintaan. Diliputi rasa cinta yang tak terbalas, Bear pun berharap Nikki menjadi seseorang yang mencintainya sepenuh hati, bahkan lebih dari siapa pun di dunia.
Premisnya sangat sederhana: hanya membuat Nikki jatuh cinta. Namun, dari premis yang sederhana, film ini mampu menarik penonton untuk mengikuti tiap detik ceritanya. Filmnya juga memiliki cerita yang konsisten dengan alur yang cepat. Tanpa menunggu lama, setelah permintaan diucapkan, Nikki langsung jatuh hati pada Bear.
Obsesi dan Kontrol Tidak Sama dengan Cinta
Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana obsesi seringkali disalahpahami sebagai cinta. Cinta kerap kali disimpulkan sebagai kepemilikan dalam hubungan asmara. Jika aku mencintainya, maka ia harus menjadi milikku.
Perasaan ingin memiliki adalah hal yang lazim, tetapi ketika di sana ada keharusan, maka perasaan itu bisa tumbuh menjadi obsesi yang tak terkendali. Dan itu yang digambarkan dalam film ini.
Uniknya, obsesi ini bukan muncul pada karakter Nikki yang “menggila” setelah kena ‘pelet’ dari Bear, melainkan justru digambarkan dari sikap Bear terhadap Nikki. Bear tahu sikap Nikki tidak wajar, bahkan Nikki dengan segala obsesinya membuat nyawa Bear bisa terancam. Bahkan, pada beberapa adegan super creepy, saya terus heran, “Bear, sudah jelas itu Nikki tidak terkendali, bukannya kamu kabur malah balik lagi ke rumah!”
Belum lagi, ketika teman-temannya mencoba menyadarkan Bear jika ada yang aneh dengan Nikki, Bear justru mengelak. Awalnya, saya bertanya-tanya dan menganggap Bear bodoh karena punya kesempatan puluhan kali kabur tetapi justru memilih untuk tetap tinggal.
Ternyata, itu adalah gambaran bagaimana Bear begitu terobsesi dengan Nikki. Ia tak peduli dengan hubungan yang tak lagi sehat, hubungan yang mengancam dan menakutkan, selama Nikki menjadi miliknya ia tidak mempermasalahkan itu semua, meskipun Bear sendiri juga ketakutan.
Rasanya, ini berbeda dengan cinta sehat yang didasarkan pada rasa saling menghormati, kepercayaan, dan komunikasi. Obsesi Bear adalah contoh di mana keinginan untuk memiliki dan mengontrol jauh melampaui batas-batas cinta yang sehat.
Love Is “Cinta”, But What Is Love, Really?
Kalau melihat kelakuan Bear terhadap Nikki, lebih ke bikin mengelus dada, bukan membuat penonton mengerti kalau Bear itu cinta pada Nikki. Obsesi Bear justru lebih seram dari kelakuan Nikki-nya sendiri.
Ada satu adegan di mana Bear ini diam-diam ingin keluar rumah tengah malam di saat Nikki sedang tidur. Saat Bear mengendap-endap pergi, “The Real Nikki” terbangun dan berkata, “Bear, tolong bunuh aku, selagi ‘makhluk’ ini tidur.” Dari adegan ini, penonton bisa membayangkan betapa “The Real Nikki” tersiksa karena tubuhnya telah diambil alih makhluk lain sampai mohon untuk dibunuh saja.
Namun, respons Bear ini benar-benar bikin kepala pusing: “Apakah tinggal denganku begitu sulit? Apakah mencintaiku begitu sulit untukmu?” (Lupa kalimat persisnya, tapi intinya begitu). OMG, bayangkan betapa terobsesinya Bear terhadap Nikki. Wanita yang katanya paling dia cintai sudah tidak sanggup menanggung rasa tersiksa, tetapi yang keluar dari mulut Bear adalah keegoisan dan sikap controlling yang menakutkan. Definisi creepy yang sesungguhnya.
Cinta sejati seharusnya membebaskan, bukan memenjarakan. Bukankah cinta yang sehat melibatkan dukungan timbal balik, menghormati privasi, dan membiarkan hubungan berkembang secara alami? Sebaliknya, obsesi dalam hubungan adalah keinginan tidak sehat untuk memiliki, mengontrol, dan mendominasi orang lain secara berlebihan.
Kasus Bear menunjukkan bagaimana perasaan ingin memiliki yang dominan dapat mengubah cinta menjadi sesuatu yang menakutkan, bahkan ketika orang yang dicintai menderita.
Rasanya cinta itu harus sepaket dengan merelakan. Cinta seharusnya menjadi kegiatan memberi, bukan menuntut. Tentu saja dicintai itu menyenangkan, tapi kita tidak berhak memaksakan perasaan orang lain.
Jika memang orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama, maka dengan berat hati (tentu saja) kita harus melepaskannya dan membiarkannya menemukan kebahagiaannya sendiri. Bukan justru melakukan kontrol hanya demi menjadikannya sebagai milik kita.
Duh, repot sekali kalau sudah bicara soal perasaan yang satu ini. Kembali ke topik, film ini juga memperlihatkan bahwa cinta itu bisa tumbuh bersama orang lain, yang justru mungkin lebih match dengan kita.
Buktinya, Bear yang ternyata perasaannya juga bisa diberikan pada orang lain. Jika Bear tidak terobsesi, mungkin ia justru menemukan cinta sejatinya. Begitu pula dengan Nikki. Rasanya, memang tidak ada akhir kisah yang bahagia dari sebuah obsesi yang mengatasnamakan Cinta.
Sekian.
메타데이터
- post_id
- eb9cdfb0ee97
- slug
- review-obsession-ketika-cinta-menjelama-menjadi-obsesi-eb9cdfb0ee97
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/review-obsession-ketika-cinta-menjelama-menjadi-obsesi-eb9cdfb0ee97
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/review-obsession-ketika-cinta-menjelama-menjadi-obsesi-eb9cdfb0ee97
- author_url
- https://medium.com/@intandwiyanti23
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 10:44:48