Musik atau Al Quran?
(Baca dulu. Tulisan ini bukan dibuat dengan tujuan untuk mengharamkan musik, atapun dibuat oleh seorang anti-Musik)
Musik atau Al Quran?
(Baca dulu. Tulisan ini bukan dibuat dengan tujuan untuk mengharamkan musik, atapun dibuat oleh seorang anti-Musik)
Sudah lama saya ingin menulis hal mengenai musik terkait Islam yang selalu mengendap di salah satu pikiran saya
Dahulu saya sering mendengar mengenai peringatan dari Ahli-ahli ilmu (Ulama) yang sebagian berpendapat bahwa musik haram, dan sebagian lagi berpendapat tergantung lirik musiknya.
Sebagai (pernah) penikmat musik yang (mungkin) akut, saya sulit mempercayainya. Musik sering kali menjadi ‘narkoba telinga’ yang membuat orang tenang, atau bahagia saat mendengarnya. Apalagi lagu-lagu dengan arti lirik yang ngena. Bagaimana getaran gelombang keren dan indah yang di dengar itu dapat diharamkan oleh sebagian ulama?
Hal ini sering menjadi pertanyaan terbesar bagi saya, sampai-sampai gitar yang baru saya beli sering tidak saya mainkan karena khawatir membuang-buang waktu di dunia.
Namun semakin kita mencari tahu, semakin kita memperdalam, maka semakin kita tidak memperbodoh diri kita sendiri. Sesungguhnya keinginan untuk tidak mendengar peringatan sebenarnya adalah keinginan untuk berpaling dari Agama.
Allah SWT telah memberikan kita pendengaran dan penglihatan sebagai alat sensor di dunia ini. Pendengaran untuk mendengar dan penglihatan untuk melihat. Bentuk wujud realisasi pada dunia ini adalah telinga dan mata. Lalu apakah kita sadar bahwa ada satu lagi yang dapat mengolah hasil pendengaran dan penglihatan tersebut?
Alat tersebut adalah hati. Wujud realisasinya di dunia ini adalah bentuknya segumpal daging yang terletak di dalam dada, namun wujud sesungguhnya sendiri tidak dapat kita bayangkan, tidak saat di dunia ini. Istilah analognya, Hati adalah inti dari kita. Jika hati baik, maka diri baik. Jika hati buruk, maka diri buruk. Kalau saya menganalogikannya, hati dapat diibaratkan seperti mutiara. Mutiara tersebut dapat kita bersihkan setiap hari agar semakin jernih. Namun di lain sisi jika tidak kita bersihkan akan dinodai oleh debu, asap, dan berbagai macam polutan. Lama-lama polutan tersebut bisa menjadi tebal dan menyelimuti si mutiara ini.
Pada tahap ini saya paham, yang dimaksud ulama adalah menjaga pendengaran dari musik agar tidak mengotori hati. Namun jika musik dapat mengotori hati, maka apa yang dapat membersihkannya?
Jadi saya pernah berada di dua posisi. Posisi dimana saya sangat menggilai musik, dari pop, beat, rock, dari barat sampai jepang. Jika saya menyukai suatu musik yang sangat berkualitas dari irama sampai liriknya, musik tersebut akan saya ulang-ulang, saya print lirik dan kunci melodinya, lalu saya mainkan pada keyboard di rumah. Ibaratnya seperti musisi amatir yang ada di luar sana.
Namun saya juga pernah berada di posisi dimana saya sangat terkesima oleh suatu bacaan. Bacaan yang mengandung arti yang kuat dan dalam. Bacaan yang berasal dari perkataan seorang Tuhan, yakni Allah SWT.
Kenapa bisa saya terkesima? Apakah saya terkesima karena mendengar lantunan ayatnya?
Pada saat itu, saya ingat saya sedang membutuhkan pegangan hidup. Sumber berhijrah, bagaikan remaja-remaja zaman sekarang. Sumber semangat, agar tidak mudah hilang arah dalam hidup. Lalu saya iseng membuka Al Quran karena saya pikir apalagi yang dapat menghibur diri secara halal ketika sedang butuh-butuhnya?
Kemudian saya cari bagaimana suara ayat tersebut dibacakan oleh para Qori terkemuka. Lantunan suara dan dengungan nada yang keluar dari mulut mereka indah sekali, mengiringi makna tiap ayat yang mendalam dan penuh makna. Belahan mana di dunia yang dapat menyuarakan kalimat-kalimat Tuhan seindah ini?
Ketika saya sedang giat membaca, memahami dan mendengar Al Quran, saya tidak tertarik dengan mendengarkan Musik. Namun karena hati manusia cenderung berubah dan manusia sering tergoda oleh godaan dunia, lama-kelamaan saya kangen dengan suara alat musik beserta lirik tersebut. Dentuman drum, getaran tuts keyboard, membuat semangat dan bergairah. Awalnya sedikit-sedikit mendengarkan musik…lama kelamaan kegiatan berdekatan dengan Al Quran tergantikan oleh Musik.
Lalu ketika saya berada di posisi Musik, saya merasa ; kok ada yang hilang. Seperti ada sesuatu yang pudar dari kehidupan ini, meski musik yang saya dengarkan membuat saya semangat, tapi lama kelamaan saya jadi muak dan kehilangan arti. Beda ketika saya membaca Al Quran dan mendengarkan Murottalnya. Ada saja petunjuk yang saya dapat ketika membaca dan memahami Al Quran.
Kekosongan dari kedekatan dengan Allah SWT itu pun terasa.
Awalnya saya tidak percaya apakah memang musik yang telah membuat saya jadi ‘malas’ berdekatan dengan Al Quran. Jadi saya melaksanakan berbagai macam eksperimen dengan berbolak-balik posisi antara musik atau Quran.
Saya ingat ketika berada dekat dengan Al Quran. Kalimat-kalimat-Nya memperkuat diri, menghibur jiwa, menyemangati raga. Ketika sedang dihadapi cobaan hidup, tiba-tiba terlintas sepatah kalimat seperti “Allah bersamamu” atau “Sesungguhnya mereka dalam keraguan bertemu dengan Tuhannya” atau “Allah selalu mengawasi kegiatanmu”. Seketika diri ini langsung mendapatkan kekuatan semangat entah darimana asalnya, dalam menjalani hidup dan menghadapi rintangan di depan. Laa ilaa haillallah. Tidak ada Tuhan selain Allah.
Saya ingat ketika rajin mendengarkan musik dari band-band favorit. Berbagai dentuman irama terdengar menyemangati, dengan sejumlah lirik yang keren dan indah. Namun ketika berhadapan dengan cobaan, lirik tersebut hanya mampu memberikan penyemangat yang sesaat, lalu akhirnya kalimat-kalimat tersebut pudar maknanya, ditelan waktu. Bahkan sebagian besar dari lirik tersebut hanya menambah kegalauan.
Ya, betul. Kalimat Allah SWT menolong manusia dalam kehidupannya, sedangkan musik hanya mampu memberikan manfaat kedamaian yang sesaat. Ibaratnya Matahari dan korek api.
Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa saya mengalami kehampaan ketika menggantikan Quran dengan Musik terlepas dari sehebat apapun musik itu. Saya tidak bisa mengatakan bahwa musik haram karena ilmu saya masih terbatas, namun alangkah indahnya ketika kita perlahan-lahan menjauhi musik dan mulai mendekati Quran dengan memanfaatkan sebaik-baiknya waktu di dunia ini, selagi belum dipanggil..
Mohon maaf bila ada salah kata. Penulis sadar akan ilmunya yang masih sangat terbatas. Bila tidak suka, silakan tinggalkan. Bila menjawab pertanyaan, silakan diambil. Silakan memberikan kritikan atau tanggapan yang objektif pada komentar di bawah.
Salam, AFS
메타데이터
- post_id
- eb9e6ea821c9
- slug
- musik-atau-al-quran-eb9e6ea821c9
- url
- https://medium.com/@afadius/musik-atau-al-quran-eb9e6ea821c9
- canonical_url
- https://medium.com/@afadius/musik-atau-al-quran-eb9e6ea821c9
- author_url
- https://medium.com/@afadius
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 02:13:22