Tubuh Perjuangan
Punggung ditegapkan. Lengan dikepalkan menyilang di depan tubuhnya. Pukulan dilayangkan tepat ke wajahnya dan Ia menangkisnya. Ke perutnya…
Tubuh Perjuangan
Punggung ditegapkan. Lengan dikepalkan menyilang di depan tubuhnya. Pukulan dilayangkan tepat ke wajahnya dan Ia menangkisnya. Ke perutnya, dan Ia menahannya. Ke bahunya, dan Ia menjegalnya. Pukulan datang menyerang punggungnya secara tiba-tiba tak Ia sadari dan Ia terjatuh. Ia bangkit. Kembali pada posisi siap menantang lagi. Suatu saat Ia pernah pasrah, tapi Ia selalu bangkit berjuang. Tangguh bukan kepalang. Bagi tubuh pejuang sepertinya, diperjuangkan adalah kata asing yang hanya mampir sebagai khayalan paling tinggi. Dan siapa pula yang mau memperjuangkannya? Pikiran seperti itu Ia pinggirkan setiap kali hadir ke permukaan. Suatu saat, Ia ingin berjuang bersama raga lain. Agar perlawanannya tidak selalu ditemani sepi. Tapi, Ia mengibaskan pikirannya lagi. Siapa pula yang ingin berjuang di sampingnya? Dan Ia semakin yakin bahwa Ia hanya mampu mengusahakan untuk bertarung sendiri dan tak bisa mengatur raga lain untuk bertarung untuknya ataupun dengannya. Satu hal yang jadi simpulannya sejak dulu bahwa pikiran dan raga manusia lain adalah bukan kendalinya. Tiada secuil apapun yang berada dalam kendalinya.
메타데이터
- post_id
- ebb60fb38f38
- slug
- tubuh-perjuangan-ebb60fb38f38
- url
- https://medium.com/kata-sara-fiza/tubuh-perjuangan-ebb60fb38f38
- canonical_url
- https://medium.com/kata-sara-fiza/tubuh-perjuangan-ebb60fb38f38
- author_url
- https://medium.com/@sarafiza
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 08:49:30